Tersesat (8)

Aku belum pernah mengenalnya, qahwa. Kupandangi Lelaki Kayu Manis mempersiapkan minuman pertamaku. Seperti sedang berdoa, ia membaca mantra dan membakar wewangian, lalu membasuh kaki dan tangan kami dengan air yang sejuk dari perut gua. Dari kantung kulit di punggungnya, ia menjerang kelopak bunga dan mendinginkannya, lalu menggunakannya untuk membasuh muka kami yang lelah dan tertutup debu.

”Serumit inikah untuk meminum qahwa?” tanyaku padanya, sambil menikmati harum kemenyan yang memabukkan.

”Tidak tahukah kamu, bahwa qahwa ada tanaman surga yang ditanam sendiri oleh para dewa di tanah kami, tempat semua rempah-rempah berasal. Kau perlu mempersiapkan indera terbaikmu sebelum meminumnya, menikmati aromanya”

Ia membakar qahwa hingga aromanya memenuhi gua tempat kami berteduh. Bau pahit kehidupan seketika menyerangku, namun ada selapis bau manis penuh janji di baliknya.

Aku mengamatinya menggiling biji-biji qahwa yang telah terbakar dengan serius. Alisnya bertaut, matanya tajam bersinar penuh harapan dan ia tersenyum seperti menyimpan rahasia. Rahasia qahwa. Aku menghirup harum bubuk yang menguar di udara dengan rakus, tanpa sadar aku mendesah senang. Betapa harum janji bumi yang diberikan melalui biji-biji yang baru saja kukenal ini. Lelaki Kayu Manis berpaling padaku dengan tersenyum lebar, gigi bagai mutiara berpendar dalam gua yang teduh dan dingin, ”harum ya? Sungguh baru pertama kamu mengenal qahwa?”

”Ya, dan aku tak sabar mencicipinya”

”Tunggu sebentar lagi”

Lalu seperti sebuah tarian ritual, ia menyiapkan secangkir qahwa. Rupanya, ia selalu membawa-bawa sebuah cangkir tanah liat di dalam tas perbekalannya, katanya, seorang pengembara dari negeri rempah-rempah akan selalu membawa perlengkapan minum qahwa ke mana pun mereka pergi. Aku tersenyum, sementara kami, jiwa-jiwa yang tinggal di pohon-pohon, tak pernah memikirkan perbekalan kami, sebab kami hidup dari embun pagi.

Tepat ketika kemenyan di pembakaran mulai habis dan air mawar yang membasuh mukaku meninggalkan aroma terakhirnya, ia memberikanku cangkir yang penuh dengan air qahwa. Kuputar cangkir di bawah hidungku untuk menikmati aromanya sebelum kuhirup airnya, aku seperti tersengat ketika saat cairan itu melewati lidah dan tenggorokanku. Waktu berhenti. Aku tertegun sejenak sebelum berpaling melihat pada Lelaki Kayu Manis yang mengamatiku dengan senyumnya yang paling menawan.

Cairan ini seperti sari buah dengan rasa asam yang segar, namun manis dan pekat, lalu pada sesapan berikutnya kukenali rasa kacang-kacangan yang pernah kutemukan di salah satu pohon di hutan, pada ujung lidah tertinggal rasa pahit yang anehnya menyenangkan. Berbeda dengan apa yang dikatakan Lelaki Kayu Manis padaku sebelumnya, ia memperkenalkan pahit yang datang terlebih dahulu, namun pada lidahku, pahit tertinggal di ujung lidah, meskipun demikian, pahit ini tak mengangguku sama sekali, malah membikin senang. Kini kukenal rasa baru, rasa pahit yang menyenangkan.

”Kamu menyukainya?” tanya Lelaki Kayu Manis.

”Pantas kalian menyebutnya minuman dewa”

Ia tertawa dengan nyaring, lalu rasa hangat di perutku mendorongku untuk mendekatkan diri kepadanya, menghirup lebih banyak aroma qahwa yang tertinggal di kulitnya, dan menciumnya.

Qahwa memberikan kenikmatan lebih banyak pada ciuman.

Tersesat (7)Tersesat (6)Tersesat (5)Tersesat (4)Tersesat (3)Tersesat (2)Tersesat (1)

Tersesat (7)

Percayalah, kau tak akan pernah menginginkan ciuman seorang kekasih setelah kau merasakan nikmatnya qahwa yang pertama kali kau minum.

Semburat fajar kemerahan, pagi mulai menjelang. Kami telah bercakap-cakap sepanjang malam. Biasanya, pada saat seperti inilah Pengembara Mimpi mampir. Sudah lama kami tak bertemu, terakhir kali ia mengunjungiku saat senja ketika aku akan memasuki dunia manusia. Aku membayangkan, bagaimana jika Pengembara Mimpi bertemu dengan Lelaki Kayu Manis ini? Apakah yang akan dikatakan Pengembara Mimpi kepadaku? Ia selalu melihat  apa yang bisa kulihat, tentu saja karena ia sudah mengembara sejak pohon yang pertama tumbuh. Continue reading “Tersesat (7)”

Tersesat (6)

Pada mulanya adalah kegelapan, begitu lelaki rempah-rempah mulai bercerita dengan suaranya yang licin serupa kulit ular mendesir, membuatku remang dalam waspada; kegelapan yang menelan semua kehidupan, katanya. Kemudian Sang Waktu datang mengunjungi negeri para Bintang dengan membawa terang yang mengusir gelap. Namu kegelapan melawan, benturan-benturan gelap melawan terang memercik ke semua arah dan melahirkan Bintang. Sang Waktu lalu membuat perjanjian antara terang dan gelap. Ia membagi hitungan waktu yang ada dengan sama rata dan membuat keduanya berkuasa di masing-masing bagian. Selain itu, Sang Waktu juga bersabda, bahwa gelap tak boleh lagi menelan kehidupan, gelap hanya menjadi waktu peristirahatan sementara terang, juga tak bisa berkuasa atas seluruh waktu karena siang yang riang terkadang sangat melelahkan. Perjanjian itu tetap berjalan hingga kini. Sementara, Bintang-Bintang yang terlahir dari peperangan antara gelap dan terang juga makin dewasa. Cahayanya makin menyilaukan dan membakar siapa saja yang terpesona pada mereka. Bintang-Bintang yang cantik harus pergi dari negeri yang telah melahirkannya.

Aku menahan nafas, ”terusir ke mana mereka?”

Lelaki rempah-rempah tersenyum, ”mereka tak terusir, mereka mendapat tempat yang lebih luas, di langit”

Namun, meskipun telah mendapatkan tempat yang luas di langit, kerinduan akan negeri kelahiran selalu ada. Para Bintang selalu kembali mengunjungi negeri kelahiran mereka dalam wujud cantik perempuan. Sepanjang masa, manusia berusaha menangkap putri-putri Bintang untuk dirinya. Beberapa berhasil mendapatkan sang putri dengan cintanya, beberapa harus merana karena kemudian sang putri menemukan jalan kembali ke langit. Hidup di dunia manusia tak mudah setelah kau mengenal kehidupan di atas sana.

”Kenapa aku tak bisa bercakap-cakap dengan para Bintang?”

”Bahasa mereka berbeda dengan kita, nenek dari nenekku menceritakan kepada kami ketika aku masih kecil, bahwa sebelumnya, Bintang berbicara seperti kita”

”Ceritakan padaku!”

Dulu, kami sama-sama berdiam di bawah langit yang indah. Saat Bintang yang terlahir di sini belum terlalu menyilaukan. Semua bahasa terlahir di sini. Kemudian, manusia bertambah banyak dan bertambah kuat, begitu juga dengan Bintang yang makin membakar. Ruang antara bumi dan langit semakin dekat. Lalu, semua penghuni dunia manusia, kecuali kawanan Bintang bersepakat untuk bangkit untuk membuat menara yang menyentuh langit dan hendak berkuasa atasnya. Sejengkal menuju langit, Sang Waktu membuat jarak langit dan bumi semakin jauh dan menyerakkan kami hingga kami tak memahami bahasa satu dengan yang lain, dan saat itulah ketika Sang Waktu menempatkan para Bintang di langit, karena mereka tak menginginkan untuk berkuasa di sana. Lagipula, mereka akan membakar seluruh dunia dengan cahayanya. Mereka memang seharusnya terlahir sebagai mahluk langit.

”Aku sudah menceritakan rahasia tentang negeriku, juga kelahiran para Bintang”

”Belum cukup, bagaimana gaharu dan cendana bisa tumbuh di negerimu?”

”Harus ada pembayaran lain untuk cerita gaharu dan cendana”

“Pembayaran selain ciuman?”

“Ya, pembayaran selain ciuman”

“Cerita tentang Pohon-Pohon?”

“Ya, cerita tentang Pohon-Pohon”

Aku mendesah, “itu cerita yang sulit. Aku sendiri masih mencari cerita mengenai Pohon-Pohon. Seorang Pengembara Mimpi yang dari waktu ke waktu menceritakan kisahnya padaku”

“Kamu boleh menceritakan padaku sebagian yang kamu tahu”

“Untuk itu aku meminta bayaran”

Lelaki rempah-rempah tertawa, ”kamu jiwa yang tersesat dalam dunia manusia”

”Demikian adanya”

bersambung

Tersesat (5)Tersesat (4)Tersesat (3)Tersesat (2)Tersesat (1)

Tersesat (5)

Waktu mulai berjalan. Langit abu-abu berubah menjadi hitam dengan taburan bintang-bintang sehingga tak membuatnya kelam.

“Aku menyukai malam, terlebih malam ini,” kata lelaki rempah-rempahku.

”Kenapa?”

”Aku selalu menyukai langit, dan langit malam tak pernah bisa ditebak, apakah berawan atau tidak. Langit malam penuh misteri”

”Kamu tak bisa mencari bintang jika langit berawan”

”Tidak selalu awan yang menutupi bintang. Terkadang, bintang-bintang memang tak ingin menampakkan dirinya”

”Mengapa?”

”Tahukah kamu kehidupan para bintang?”

Aku menggeleng, ”aku hanya mengenal pohon-pohon tempatku hidup, aku mengenal cendana, kayu manis, pala dan gaharu… sebab itu aku mengenali baumu”

Ia tertawa. Kusadari, setiap kali ia tertawa maka bau gaharu akan lebih kuat menyerangku, sementara ketika ia berkata-kata maka bau kayu manis akan mendominasi. Sementara tepat di urat nadi lehernya, di situlah paling kuat tercium bau cendana. Seperti tertarik pada bau yang memabukkan itu, aku tertarik lagi mendekat padanya, membelit lagi serupa ular pada dahan pohon kehidupan.

”Ceritakan padaku tentang kehidupan para bintang”

Ia menciumku dengan wangi daun tembakau segar, ”perlu semalaman untuk menceritakan kehidupan para bintang”

”Kita punya semalaman, aku tak punya tujuan lain malam ini selain bersamamu” bahkan, sepertinya aku rela mengubah semua tujuanku di dunia manusia untuk mengikutimu, lanjutku dalam hati.

Diam-diam, aku mengirimkan pesan pada Pohon-Pohon tempatku tinggal, kuucapkan salam perpisahan, kukatakan, mungkin aku akan mengikuti laki-laki rempah-rempah ini ke mana pun ia akan melangkah. Mungkin aku tak akan pernah kembali lagi pada kalian, lagipula Pengembara Mimpi sudah pernah mengingatkanku bahwa jalan pulang menuju hutan akan lebih sulit ditemukan ketika aku telah memutuskan untuk memasuki dunia manusia. Jadi, ya sudah… lebih baik aku tersesat bersama laki-laki rempah-rempah.

”Kamu hidup dengan pikiranmu,” laki-laki rempah-rempah menarikku kembali pada baunya, ”apa yang kamu pikirkan?”

”Pohon-pohon dan bintang-bintang”

Ia tertawa, bergemerincing seperti lonceng peri di hutan, “apa yang kamu pikirkan tentang bintang-bintang?”

”Aku melihat mereka dari pohon tempatku tinggal, berkelip-kelip jauh, aku berusaha untuk bercakap-cakap dengan mereka namun kami tak pernah bisa berkomunikasi. Aku ingin mengenal kehidupan mereka, tapi mereka terlalu jauh untuk dijangkau. Sekarang, aku bertemu kamu yang akan menceritakan tentang kehidupan para bintang, seandainya aku bisa membawamu kepada Pohon-Pohon. Ah, aku melantur…“

Ia makin terbahak, ”aku tak mengenal para bintang, leluhurku, nenek dari nenekku konon berasal dari negeri di mana bintang lahir dan bercahaya. Kami mendengar ceritanya turun temurun, tetapi aku tak mengenal para bintang“

”Kamu keturunan bintang? Ah, kamu lelaki dengan bau rempah-rempah pantas saja bercahaya seperti bintang“

”Apakah kamu mengenal kayu manis? Kamu berbicara serupa dia… bukan, aku bukan keturunan bintang. Tak semua yang berasal dari negeri para bintang terlahir seperti Matahari“

”Ceritakan padaku tentang para bintang, kita punya semalaman… bahkan sepanjang waktu hingga esok, lusa, tulat, tubin… selama yang kita perlukan”

Ia tersenyum, bau cendana menyerangku.

“Cerita tentang para bintang tak gratis, maukah kamu membayarnya dengan ciuman?”

”Dengan senang hati,” kataku, ”aku tak pernah mengenal soal bayar dan gratis, kami tak pernah harus membayar apapun di hutan, namun jika dunia manusia menginginkan ciuman sebagai pembayaran, dan kamu yang meminta… dengan senang hati”

Kami berciuman lagi, kurasakan bibirnya seperti madu dan adas. Ada manis juga getir.

bersambung

Tersesat (4)Tersesat (3)Tersesat (2)Tersesat (1)

Tersesat (4)

Waktu berhenti sesaat saat kami berbagi nafas. Aroma kayu manis dan cendana memabukkanku.

“Kamu harum kayu manis dan cendana, siapa namamu?”

“Kamu berbau segar seperti embun terkena sinar Matahari pagi, dari mana asalmu?”

“Kamu belum menjawab pertanyaanku”

“Tidak semua pertanyaan harus dijawab, kamu juga tak menjawab pertanyaanku”

Aku memandangi matanya yang gelap kecoklatan, ada selapis garis emas berkilau di tengah bola matanya. Angin menghantarkan lagi bau kayu manis dan cendana yang membuatku lupa diri.

Aku hanya ada di saat ini. Melupakan pohon-pohon, melupakan dunia manusia yang penuh tipu daya dan jebakan. Seluruh perjalanan ini, kutempuh hanya untuk membauinya, dan tersihir oleh selaput keemasan di matanya.

“Kalau kamu ingin aku menjawab pertanyaanmu, katakan padaku, siapa namamu?”

“Aku tak bernama, sebab di tempat asalku kami tak memerlukan nama untuk saling mengenali”

Ia tersenyum, giginya berbaris rapi dan berwarna serupa mutiara putih. Ia menciumku lagi, “aku juga tak memerlukan nama untuk mengenali kamu, mengenali lidah serupa beludru dan berbau embun pagi. Kita akan saling mengenali meskipun tanpa nama”

“Dari mana asalmu?”

“Aku berasal dari negeri tempat para dewa menurunkan semua semua rempah-rempah. Gaharu dan cendana tumbuh di halaman belakang rumahku, aku bermain bersama pala dan kayu manis sebelum aku bisa mengeja kata-kata”

Pantas kamu berbau kayu manis, ucapku tanpa suara. Lalu kami saling terbelit seperti benalu dan pohon, saat itu waktu berhenti lagi, senja tak bergerak, langit diam dengan warna abu-abu.

“Dari mana asalmu?”

“Tempat semua jiwa terikat pada pohon-pohon”

”Di mana itu?”

”Entahlah… jika aku tahu arah, saat ini aku tak akan tersesat di duniamu”

”Apakah kamu sedang tersesat?” ia bertanya dengan mata yang semakin keemasan.

Dalam sekejab, aku berada di pusaran badai, beku. Aku melupakan semua yang harus kuingat. Juga secara ceroboh membuka diriku pada manusia yang baru saja kutemui, kusingkapkan segala rahasia jiwa yang kuketahui di dalam hutan. Semua mantra, semua doa yang harus dirapal agar jiwa selamat dari himpitan batu abu-abu dunia manusia. Ia menelannya dengan rakus, lalu membagi nafas rempah-rempahnya denganku.

”Aku menyukai bau rempah-rempah,” kataku, ”bau kehidupan”

”Kamu boleh memilikinya, aku akan memberikannya secara sukarela padamu. Aku juga menyukai baumu yang segar seperti embun. Kulitmu halus, apakah semua jiwa mempunyai kulit sehalus kulitmu? Badanmu juga menyimpan kehangatan matahari pagi, jangan pernah beranjak siang, tetaplah pagi dalam pelukanku”

”Kamu pandai berkata-kata”

”Kayu manis mengajarkan rahasia puisi padaku”

Kami tak bisa memisahkan diri. Aku tak mau memisahkan diri. Aku rela tersesat bersamanya. Bahkan mungkin kurasa aku sedang tidak tersesat. Aku telah menemukan tujuanku, manusia laki-laki dengan aroma cendana.

(bersambung)

Tersesat (3)

Tersesat (2)

Tersesat (1)

Tersesat (3)

Pertemuanku pertama dengan manusia di pusat dunia manusia memberiku ribuan pengertian lain yang menyerang kepalaku seperti kilat. Aku melihatnya, sama sepertiku dalam bentuk lain. Ia tak mengenali jiwa pengembara, ia menyapaku dengan bersahabat, dan kemudian kami melanjutkan perjalanan bersama. Ia menertawakan kecanggunganku hidup di dunia manusia, menurutnya aku seperti baru saja hidup, seolah-olah tiba-tiba saja dilemparkan ke dunia ini. Ya, betul… aku memang baru saja melemparkan diriku ke dunia manusia.

Ia, manusia yang baru kukenal ini, terutama menertawakan kebingunganku akan waktu. Berbagai pengertian memang telah ditanamkan begitu saja di otakku, meskipun demikian ada banyak hal yang kumengerti namun sekaligus tak kumengerti. Seperti halnya, waktu. Di hutan, aku selalu protes kepada Sang Waktu yang semena-mena merubah hitungannya, namun kami tak pernah kehabisan waktu sebab hitungan kami pasti. Di dunia manusia, hitungan waktu tak pasti. Tulat, lusa, esok… hanyalah kata-kata kosong penuh janji, sama seperti petikan ‘bahagia untuk selama-lamanya’. Angka-angka di jam tangan manusia hanya seperti janji manis supaya manusia merasa mempunyai hidup yang lebih beradab karena bisa berhitung. Manusia kenalanku tertawa mendengar gerutuanku. Lalu ia menanyakan namaku, aku terdiam. Nama? Haruskah kami semua bernama?

“Bagaimana mungkin kamu tidak tahu namamu? Semua orang punya nama. Nama adalah sejarah seorang manusia. Aku laki-laki, dan aku mempunyai nama laki-laki yang menandai aku laki-laki meskipun manusia lain belum bertemu denganku. Dan setiap aku berkenalan, aku akan menyebutkan namaku supaya orang mengenaliku.”

Kami tak pernah punya nama. Setiap jiwa mengenali jiwa lainnya, hanya pohon yang punya nama, tetapi pohon-pohon tak pernah menyebutkan namanya namun kami tetap mengenali satu dengan yang lainnya.

”Di tempat asalku, kami tak perlu nama untuk saling mengenali”

”Lalu bagaimana kamu memanggil satu dengan yang lainnya”

Aku mengedikkan bahu, satu lagi yang kupelajari di dunia manusia, bahwa tubuh juga digunakan untuk berkomunikasi. Kedikan di bahu, berarti jawaban yang akan kuberikan sebenarnya tak terlalu penting karena aku tak yakin akan jawabanku, bisa juga berarti, aku tak tahu bagaimana mengatakan jawabanku, ”kami tahu jika dipanggil, kami tahu bagaimana cara memanggil tanpa nama. Tahu begitu saja”

”Wow! Jika kalian jatuh cinta pada seseorang, bagaimana membedakannya? Maksudku, kemudian kalian ingin menikah harus ada surat-surat yang diurus, bagaimana membubuhkan nama pada sebuah surat?”

Aku mulai bingung lagi, ”mengapa harus ada surat?”

Manusia laki-laki yang mempunyai nama seorang laki-laki memandangiku dengan tanda tanya besar di matanya. Dan aku mencoba berbicara padanya tanpa kata-kata. Di tempat asalku, kami jatuh cinta begitu saja, tak perlu nama, tak perlu asal-usul karena kami semua berasal dari hutan, cinta hanya cinta. Kami telah ditentukan akan jatuh cinta pada siapa karena masing-masing kami telah terikat pada Pohon Cinta, takdir kami bersambung meski kami belum menemukan satu dengan yang lainnya. Saat menemukannya, dia yang seharusnya kami mencintai, kami akan jatuh cinta begitu saja.

”Oh,” katanya, seolah mengerti apa yang baru saja kukatakan tanpa bahasa manusia, ”kita berasal dari dua dunia yang berbeda, aku mengerti”

Ia mengenaliku sekarang.

Di sebuah persimpangan, kami kemudian berpisah. Ia menjabat tanganku dengan hangat, ”begini cara berkenalan, begini pula kita melepaskan seseorang. Dengan jabatan tangan”

Aku tersenyum, ”ya, akan kuingat”

”Berhati-hatilah, semoga kamu menemukan apa yang kamu cari… dan carilah nama untuk dirimu”

Perjalananku selanjutnya memasuki pusat dunia manusia semakin cepat dan memusingkan, sebab setiap kali aku bertemu manusia baru, ada ribuan pengertian yang tiba-tiba saja dipaksakan masuk ke dalam memoriku. Aku berjalan dengan limbung dan agak kehilangan arah karena mabuk oleh ribuan pengertian baru. Dan saat itulah aku tersesat.

IMG_0599

Tanpa sadar, aku memasuki tebing batu abu-abu yang memunggungi laut. Ada bau asin yang mendominasi udara, dan matahari menyeruak lemah dari langit yang juga abu-abu. Lalu aku melihat sebatang pohon yang lelah, kusapa ia, tapi pohon tak menjawabku. Ah. Sedih karena kerinduanku akan hutan yang hijau dan berbau embun, aku duduk di sebuah batu di bawah pohon yang lelah itu. Saat itulah, aku melihatnya. Seorang manusia laki-laki, ia tersenyum padaku. Aku membalas senyumnya, ia kemudian mendekatiku. Semakin dekat ia, semakin kuat baunya menyerangku. Dan tiba-tiba saja aku seperti tersambar kilat, saat kuhirup udara asin bercampur baunya. Ia berbau seperti kayu manis dan cendana, ada selapis madu juga asam lemon menguar dari kulitnya yang coklat. Aku seperti kembali ke kolam kecil di hutan. Kolam itu dikelilingi oleh pohon cendana, juga gaharu. Ketika malam tiba, air memberi udara harum kehidupan ikan yang bercampur dengan cendana. Laki-laki ini memberiku bau yang mengingatkanku pada kolam kecil di hutan.

Aku menghirup baunya dengan rakus, meskipun tak mengenal namanya, aku sudah mengenali baunya dan tersihir olehnya. Lalu aku melihatnya, ke matanya dengan bola mata coklat yang jernih dan berkliau lembut, lalu lagi-lagi aku seperti dilemparkan kembali ke hutan saat menari bersama kunang-kunang. Ia lalu duduk di batu di dekatku, ”senang berjumpa mahluk hidup lainnya di tebing ini”

Suaranya tak seperti yang kuharapkan, tak ada kelembutan dan itu membuatku waspada, namun sesaat kemudian kewaspadaanku lenyap ketika ia mengulurkan tangan, kami berjabat tangan. Salam di dunia manusia.

Seperti baru melihat tubuh manusia, aku takjub pada tangannya. Tak kulepaskan dengan segera, kulupakan semua aturan dunia manusia. Dengan rasa penasaran kuamati tangannya dengan tulang panjang terbungkus kulit coklat matang dan ditumbuhi rambut-rambut bulu.

Lalu kami saling menatap dan seperti ada magnet yang menggerakkan, kami kemudian saling mendekat dan berciuman.

(Bersambung)

Tersesat 2

Tersesat 1

Tersesat (2)

Mabuk oleh kegembiraan aku setengah berlari menyeberangi padang berumput menuju bebatuan abu-abu di seberang. Aku memasuki dunia manusia. Tak kuhiraukan berbagai rasa tajam yang menusuk kulit, semua rasa itu seolah berlomba-lomba menanamkan dirinya ke dalam memoriku.

Desa pertama yang kumasuki begitu sepi. Batu abu-abu membisu tak menjawab ketika aku bertanya, mengapa desa ini begitu hening. Aku harus membiasakan diri hanya bertanya pada manusia. Di hutan, kami bisa berbicara kepada siapa saja. Bebatuan yang hijau ditumbuhi lumut, akan menjawabmu tanpa kata-kata mengenai siapa saja yang baru saja mampir dan singgah melepas penat di atasnya. Tanpa kata-kata, tanpa aksara, itulah cara kami bercakap-cakap di hutan.

Di dunia manusia, semua berbeda. Kami harus berbicara dengan bahasa. Pengertian baru ini begitu saja ditiupkan di kepalaku, aku langsung memahami bahwa aku harus berkata-kata agar manusia mengerti aku.

Tetapi, desa pertama yang kumasuki demikian sepi. Kepada siapa harus kugemakan kata-kataku?

Senja hampir turun, langit sore abu-abu kemerahan. Aku menghirup udara yang beraroma kelelahan. Betul kata Pengembara Mimpi, dunia manusia melelahkan. Semua rasa tajam dan pedih. Namun aku menikmatinya. Aku merasa lebih hidup dibandingkan saat aku berada di hutan. Aku harus berjalan dan merasakan lelah pada kakiku saat menapaki tanah keras. Di hutan, aku bisa mengayun kakiku dengan ringan, dan melangkah seperti terbang, kadang kami betul-betul bisa terbang. Saat jiwa kami sedang sangat berbahagia, atau kami sedang mengembang karena cinta, cukup dengan menutup mata membayangkan tempat mana pun di hutan yang akan kami tuju, lalu ayunkan kaki dengan ringan… kami akan langsung sampai di tujuan. Dunia manusia berbeda. Aku harus berhenti sejenak, betisku mulai terasa pegal. Aku menyentuh tubuhku yang baru dan berdenyut lelah. Pengertian baru lainnya ditanamkan di kepalaku, tiba-tiba saja aku merasa aku harus mencari tempat untuk beristirahat. Dan seperti mendengar kebutuhan yang kugemakan di kepala, mataku melihat sebuah bangunan dari batu tentunya, berdiri kokoh di sebelah kiriku. Pintunya terbuka, aku segera melangkah masuk dan menyesuaikan mataku dengan kegelapan ruangan. Kubuka suara menyapa, ”halo… permisi…” aku sedikit terkejut mendengar suaraku, tidak terlalu berat seperti yang kubayangkan, namun juga tak senyaring yang kuinginkan. Sebuah pengertian menyelinap di kepala, suara perempuan yang tak merdu.

Aku meresapi pengalaman baru ini, mendengar suaraku dan mengingat dentingan nadanya. Selama ini, suaraku hanya terdengar di kepala, belum pernah beradu dengan angin.

Bangunan itu kosong. Aku berkeliling ke setiap sudut dan hanya menemukan laba-laba yang merajut kerajaannya. Kusapa dia, kami pasti pernah bertemu di hutan, tapi laba-laba betina itu tak menjawabku, hanya giginya yang berkeletuk menunggu mangsa terjebak jaringnya. Aku sedikit kecewa oleh ketidak acuhan si laba-laba, kami biasa bercakap-cakap tentang merajut jaring kehidupan di hutan, namun sekarang ia tak mengenalku. Tapi sedetik kemudian aku tersenyum oleh pengertian baru yang tiba-tiba ditanamkan di kepalaku, ini dunia manusia… kami hanya perlu bertahan hidup tak perlu lagi sibuk bercakap-cakap dengan jiwa lain. Inilah dunia manusia, hanya untuk bertahan hidup.

Hari-hari pertamaku di dunia manusia, begitu membekas. Ribuan memori baru ditanamkan di kepala. Aku tak bertemu manusia lain atau jiwa pengembara lain hingga bulan berikutnya, setelah aku makin menjauhi perbatasan dunia manusia dan hutan. Makin menuju pusat dunia manusia, batu-batu abu-abu semakin menghimpit, dan baru kutahu, bahwa batu-batu memberati mimpiku tiap malam.

Pengembara Mimpi menemuiku sesaat sebelum aku masuk ke pusat dunia manusia. Ia menyapaku saat senja tiba, di luar kebiasaannya mampir sesaat sebelum pagi.

“Mengapa datang senja?”

“Di dunia manusia, senja adalah perubahan, setiap jiwa yang masih rapuh perlu ditemani agar iblis dan setan tak mencengkeramnya”

“Apakah menurutmu aku rapuh?”

“Tidak, aku kebetulan melewatimu… jadi kupikir, aku menyapamu sekalian. Bagaimana hari-harimu di dunia manusia?”

“Hidup. Aku merasa lelah, namun pada saat yang sama merasa bersemangat karena aku merasakan hidup”

“Tidakkah kau rindu hutan?”

“Sangat rindu, tak kurasa lelah yang berdenyut-denyut di hutan. Aku juga rindu hari tanpa hitungan hari. Hanya daun-daun yang selalu menandai musim. Tapi toh aku masih bisa mengunjungi hutan dalam mimpi. Hanya saja, aku tak ringan lagi”

”Karena kau berada di dunia manusia?”

“Maksudmu?”

“Batu abu-abu akan selalu memberati langkahmu”

“Mengapa begitu?”

“Dunia manusia penuh kesulitan dan kesukaran, batu abu-abu menjadi saksi airmata serta darah yang dikorbankan oleh manusia untuk bertahan hidup. Manusia lupa, tetapi batu-batu tidak, mereka merekam semua sejarah manusia dan menyimpannya dari satu generasi manusia ke generasi berikutnya. Ingatan batu-batu lah yang memberatimu”

“Ah… bisakah kau menghilangkan ingatan batu-batu?”

“Tidak, sejarah akan selalu diingat dan aku tak bisa menghapusnya.”

“Lalu bagaimana supaya aku tetap ringan saat aku mengunjungi hutan di malam hari?”

“Terus berjalan. Terus hidup dan bergerak”

Lalu seperti kedatangannya yang tiba-tiba, Pengembara Mimpi pergi tanpa mengucapkan salam perpisahan.

Terus hidup dan bergerak, hanya itu yang menjadi peganganku saat ini. Aku berjalan makin mendekati pusat dunia manusia, di mana batu abu-abu menghimpit setiap ruang dan menyisakan hanya sedikit udara untuk kuhirup.

Bagian Pertama – (bersambung)