The Ravens

img_9983_zpsg3yhhkun

Ravens are smart which makes them become one of dangerous predators in the forest. Their intelligent put those as a very effective guard for the souls yet their creepiness scare us. We are the souls, whose living under the big trees afraid to them. Continue reading “The Ravens”

Peri Hutan

Pernahkah kuceritakan kepadamu mengenai kolam di Hutan? Kolam tempat Lotus, Lily dan seribu bunga lain tumbuh? Kolam tempat kami para jiwa, bergelayut terikat pada pohon kami masing-masing. Saat malam hari, kami akan memandangi air kolam yang seperti cermin memantulkan langit penuh bintang. Saat siang tiba, udara dingin naik dari permukaan kolam, menyejukan jiwa yang terikat makin erat pada pohon-pohon kami. Continue reading “Peri Hutan”

Tersesat (11)

”apakah kamu pernah mendengar tentang jatuh cinta?”

Adalah Pengembara Mimpi yang selalu menumbuhkan harapanku akan kekasih jiwa yang tersesat dan memerlukan kunang-kunang untuk menunjukkan arah mereka agar bertemu kami para jiwa di hutan-hutan. Sementara, kunang-kunang mendapatkan cahayanya dari harapan kami yang tersimpan pada pohon cinta. ”Semua hal, memiliki kaitannya, semua hal terikat satu dengan yang lainnya,” demikian Pengembara Mimpi memberitahuku. Sementara itu, ia juga terus menceritakan mengenai Dunia Manusia. Aku semakin ingin mengunjunginya.

”Jalan kembali akan lebih sulit dibandingkan perjalanan pergi,” begitu katanya. Aku gentar, tetapi tak ingin mundur. Sudahkah kukatakan kepadamu, bahwa aku ingin menemukan apa yang tak pernah kutemui di hutan?

”Ya, apakah kamu sudah menemukan apa yang kamu cari?”

Aku tersenyum; kamu yang berbau harum seperti kayu manis, juga beraroma cendana, aku belum pernah menemui yang seperti kamu di hutan.

Sepanjang hidupku di huutan, aku terikat pada Pohon Cinta, menunggu kekasih jiwa untuk segera datang, agar ikatan itu tak terasa menyesakkan. Aku mempunyai teman untuk berbagi. Aku menemui banyak hal di dalam hutan, hanya bukan kekasih jiwa.

”Karenanya kamu datang ke Dunia Manusia?”

Tidak juga. Tapi kupikir, kekasih jiwaku tak akan pernah datang. Harapanku tak cukup besar untuk membuat kunang-kunang bersinar terang. Aku tak ingin terikat selamanya pada Pohon Cinta di Hutan. Aku hanya ingin melihat hal yang lain. Aku telah menukarkan tali merah yang kupunya untuk memasuki Dunia Manusia. Jika kekasih jiwa kutemui di dalamnya, itu hal yang baik, meskipun aku tak yakin apakah aku akan mengenalinya tanpa tali merah yang mengikatkan kami. Terpisah dengan Pohon tempat kami tinggal, mengaburkan semua pengetahuan kami, tergantikan dengan pengertian yang lain. Cinta jadi tak kupahami di Dunia Manusia.

Kami mengenal cinta.

Tentu saja, kaumku juga mengenal cinta.

Lelaki Kayu Manis menatapku lalu menghela nafas, ”apakah kamu pernah mendengar tentang jatuh cinta?”

Nenek kami, selalu bercerita mengenai cinta saat senja datang. Saat api pertama mencium kayu-kayu kering yang kami kumpulkan untuk menghangatkan badan kami, ia akan memulai kisah-kisahnya dengan nyanyian yang menyayat hati. Karena sejak aku kanak-kanak, aku telah memahami bahwa cinta adalah hal yang sangat indah sekaligus memilukan, terutama bagi mereka yang terlahir sebagai pengembara. Cinta antara Nenek buyut kami kepada Kakek kami sang pengembara, membuatnya haru meninggalkan tanah kelahirannya, membawa qahwa bersamanya dan menumpahkan darah ayahnya.

Aku menghirup aroma cendana. Mungkin, cinta juga beraroma seperti cendana, kataku.

Mungkin, cinta adalah jiwa yang tersesat dan beraroma segar seperti embun pagi.

Mungkin saja, cinta telah saling menemukan.

Cerita Tersesat sebelumnya.

Lelaki Kayu Manis (2)

Aku, terutama menyukai pohon kayu manis, pohon yang rela kukupas tiap lapisannya, dan kubawa dalam lipatan baju. Kayu manis agar semua jiwa menyukaimu.

Pada saat aku masih muda, dan belum mulai menyeberang ke dunia baru, aku pernah bertanya pada nenek kami, ”seperti apa mati?”

Nenek memandangku dengan matanya yang kelabu dan selalu tertutup kabut tua, yang membuatnya seperti tak pernah melihat kami dengan sungguh-sungguh. Namun, ketika memandangku, kabut di matanya memudar dan dengan jernih aku dapat memastikan bahwa ia sedang menatapku dengan seksama, ”seperti apa mati? Aku juga sering menanyakannya pada diriku. Aku sudah tua, melihat ribuan kali Matahari terbit dan menyaksikannya tenggelam, dan sepanjang hidupku, aku telah bertanya seperti apa mati.”

”Nenek tahu segalanya! Jelaskan padaku, aku tak akan menceritakannya pada orang lain. Aku janji.”

”Pertama-tama, Nak, aku tak mengetahui segalanya. Sebagai pencerita, aku memang memiliki pengetahuan yang harus dimiliki pencerita, tetapi bahkan batu abu-abu di dunia yang baru pun tak kuketahui dengan pasti bagaimana mereka menyimpan ingatan jiwa-jiwa. Bagaimana mereka bergerak dalam bayang-bayang. Yang kuketahui hanyalah, batu-batu itu menyimpan rahasia kehidupan di dunia baru karena mereka tak pernah melupakan,” nenek menghela nafas, lalu ia melanjutkan, ”kedua, pengetahuan tentang mati tak pernah diberikan pada manusia, hanya Sang Waktu yang memegang kunci pengetahuan itu. Dan belum pernah ada yang kembali dari dunia orang mati, untuk menceritakan seperti apa mati.”

Setelah dewasa dan melewati maut beberapa kali di laut purba yang memisahkan kedua dunia, aku memahami bahwa maut menjemput dengan berbagai rasa. Namun mati itu sendiri, belum kumengerti.

Aku telah mencium maut yang terasa manis dan beraroma embun pagi. Ketika saling melepaskan diri, kulihat matanya berkilau lagi, ”senang bertemu denganmu, orang asing, kamu berbau seperti kayu manis dan cendana, siapa namamu?” tanyanya padaku, suaranya jernih dan nyaring seperti lonceng bergemerincing. Dan ia mengenali aroma dunia kami, tempat pohon – pohon rempah hidup membagikan rahasianya kepada kami. Aku, terutama menyukai pohon kayu manis, pohon yang rela kukupas tiap lapisannya, dan kubawa dalam lipatan baju. Kayu manis agar semua jiwa menyukaimu. Jiwa yang ini, telah tersihir juga oleh kayu manis. Jiwa yang beraroma embun pagi, kehidupan yang baru.

”Dari mana asalmu?” tanyanya lagi dengan seuara bergemerincing.

”Aku berasal dari negeri tempat para dewa menurunkan semua rempah-rempah. Gaharu dan cendana tumbuh di halaman belakang rumahku, aku bermain bersama pala dan kayu manis sebelum aku bisa mengeja kata-kata, kamu dari mana asalmu?”

”Tempat semua jiwa terikat pada pohon-pohon untuk hidup”

Aku memandang ke kedalaman ingatan yang tampak di matanya, aku ingin mencuri ingatannya namun aku malah membagi ingatanku dengannya. Beginikah bertemu dengan jiwa tua? Apakah ada pengembara sebelumku yang bertemu dengan jiwa yang tua?

Bagian dari Tersesat

Lelaki Kayu Manis

Pendongeng menceritakan rahasia langit kepada mahluk tengah, sementara Pengembara, hanya bisa melintasi laut dan menjelajah dunia baru untuk menemukan jiwa-jiwa yang telah melintasi hutan dan memanen ingatan mereka tentang hutan.

Sudah berkali-kali aku melintasi tebing berbatu yang berpunggungan dengan laut purba, yang memisahkan dunia lama dan dunia baru. Nenekku pernah menceritakan kematian yang berada di laut purba ketika aku masih kanak-kanak, dan seperti kebanyakan laki-laki yang dilahirkan sebagai pengembara, kami bukannya jeri mendengar kengerian yang digambarkan oleh Nenek, namun malah berjanji untuk menaklukannya suatu hari nanti.

Pengembara, menyeberangi laut purba dengan gagah berani. Mengayuh jauh meninggalkan dunia lama dan memasuki dunia baru, ketika daratan penuh harapan itu telah nampak di depan mata, mereka lena. Sebagian mati terhisap lubang neraka, sebagian lagi mati mengikuti nyanyian duyung. Tak sedikit juga yang mati karena bahagia. Mati begitu saja, berhenti berdetak ketika melihat harapan.

Aku tak bisa membayangkan mati begitu saja, namun kemudian aku memahaminya ketika menyeberang untuk ke sekian kalinya aku bertemu duyung yang menyanyi sendu. Hampir saja aku lena dibuatnya, mengikuti suaranya masuk ke dalam dunia bawah yang tak kami ketahui seperti apa keadaannya, sebab belum pernah ada yang kembali dari kematian. Ketika aku lepas dari nyanyian duyung, dan tersadar bahwa tujuanku adalah pantai harapan di depan mata, aku seperti meledak dalam rasa senang. Aku tahu sekarang, bahwa pengembara mudah meledak oleh rasa; sejak itu aku paham bahwa pengembara tak boleh memiliki rasa. Aku berusaha menjelaskannya kepada sesame pengembara dari dunia kami, untuk menghindari semua rasa agak mereka tak mati begitu saja, namun mulutku terkunci dan aku melupakan semua yang kutahu. Ketika aku mengurungkan niatku untuk mengungkapkan kebenaran, ingatan tentang rasa dikembalikan padaku. Aku belajar satu hal lagi, untuk menyimpan rahasia laut.

Bukit kapur di punggung laut, adalah tempat yang paling sering kudatangi di dunia baru. Meskipun demikian, aku tak pernah mengenali batu-batunya dengan baik. Dunia yang baru ini selalu berubah setiap kali aku kembali menapakinya. Aku tak pernah menemukan susunan batu yang sama. Nenek kami tak bisa memberitahuku, mengapa demikian keadaan di bukit kapur, karena ia belum pernah menginjakkan kakinya di dunia baru. Ia adalah seorang pendongeng, yang tumbuh besar bersama Bintang- Bintang yang membisikkan beberapa rahasia langit, untuk diceritakan kepada kaum tengah. Aku tak bisa menceritakan apapun mengenai dunia baru kepada Nenek kami, supaya ia bisa menceritakannya lagi kepada pengembara-pengembara muda, aku pengembara bukan pendongeng. Mulutku akan terkunci jika aku menceritakan rahasia.

Kali ini, bukit kapur nampak lebih abu-abu dari biasanya. Bau asin lebih pekat dari terakhir kali aku menapaki batu-batu mati di punggung tebing. Dan saat itulah aku melihatnya. Jiwa yang tua dalam tubuh manusia muda. Kami pengembara telah terlatih mengenali jiwa-jiwa. Memanen ingatan tentang hutan yang telah lama tiada di dunia kami.

Baru kali ini aku bertemu seorang jiwa yang tua, kebanyakan jiwa-jiwa yang kutemui di rumah batu di pusat dunia masih muda dan lelah. Tak pernah aku membaui hutan pada kulit mereka. Jiwa yang nampak sedih di ujung bukit ini beraroma embun pagi, ia baru saja datang ke dunia ini. Aku seperti tertarik magnet ke arahnya. Tersihir oleh aroma embun yang seperti kabut pekat, aku berjalan cepat ke arahnya. Melihat sosoknya yang semakin nyata dan seolah-olah akan menghisapku. Aku lunglai terseret pesonanya. Inikah kematian yang lain?

Semakin dekat, aku melihat ke mata kacanya yang serupa zamrud, beriak hijau seperti daun. Terpesona oleh kedalaman mata jiwa tua, aku seperti dipenuhi oleh rasa, namun pada saat yang bersamaan juga kosong karena rasa.

Inikah mati? Lalu aku mencium maut yang manis dan beraroma embun pagi.

Bagian dari Tersesat

Tersesat (10)

Tahukah kamu bagaimana jiwa-jiwa membocorkan rahasia hutan pada manusia? Mereka mengigau dalam tidurnya. Pengembara Mimpi, yang selalu mampir sesaat sebelum pagi, belum pernah mengatakan ini padaku. Mungkin, ia juga belum pernah mengungkapkannya padamu. Maka, aku berbaik hati menceritakannya sekarang.

Aku menahan nafas, dan qahwa telah dingin di cangkir yang kupegang, ”kelam sekali cerita tentang qahwa”

Lelaki Kayu Manis menatapku sayu, ”itu hanya awalnya, qahwa memberikan banyak penderitaan bagi manusia setelahnya”

”Lalu mengapa manusia masih menyukai qahwa?”

”Karena manusia menyukai penderitaan”

Aku menggeleng, ”tak bisa kupahami”

”Dalam dunia manusia, tak semua hal harus kau pahami…”

”Tetapi kami di hutan dapat memahami segala hal”

”Termasuk memahami, mengapa Pengembara Mimpi datang dan pergi sesuka hatinya? Menjelajah hutan dengan keleluasaan yang tak dimiliki oleh jiwa?”

”Kamu mengenal Pengembara Mimpi?”

Ia mengedikkan bahu, ”aku mendengar kamu mengigau dalam tidur, dan bercerita tentang Pengembara Mimpi”

Rupanya, begini rahasia diceritakan di dunia manusia. Jiwa-jiwa yang berbicara dalam tidur.

Mukaku terasa panas memerah, sebuah pengertian baru ditanamkan padaku, aku merasa malu, ”apa yang kau dengar tentang Pengembara Mimpi?”

”Tak banyak, hanya kau yang berulang kali bertanya, mengapa Pengembara Mimpi boleh datang sesuka hati, boleh mampir kapan saja ia mau”

Ah, aku mungkin merindukan hutan-hutan tempat kami berdiam dahulu, sebelum kami menyeberang ke dunia manusia.

”Ceritakan padaku tentang Pengembara Mimpi”

Aku menghela nafas, kuhirup udara kering dan berbau arang dengan selapis aroma asin laut di balik bukit. Kuhabiskan qahwa yang telah dingin di cangkirku.

Aku tak tahu dari mana asal Pengembara Mimpi. Ia telah ada di sana sejak Pohon pertama tumbuh. Ia bersama Sang Waktu ketika Ia memisahkan kegelapan dan membuat terang memberi makan pada pohon-pohon. Sejak aku pertama membuka mata, dan mendapatiku terikat pada benang merah di Pohon Cinta, aku langsung mengenali Pengembara Mimpi yang tersenyum bijak, bertengger dengan jiwa-jiwa lain di dahan tempat kami bergayut. Ia membawa cerita dari penjuru hutan, dan dari negeri-negeri yang ia kunjungi termasuk dunia manusia. Ia bisa datang dan pergi sesuka hatinya, sementara kami hanya bisa bernyanyi dan menari di sekeliling hutan. Jika ikatan kami pada pohon-pohon tempat kami hidup terlalu erat dan menyakitkan, kami berteriak memanggilnya, untuk merenggangkan sedikit ikatan kami. Terikat pada pohon kami sebenarnya tak begitu menyiksa, kami hanya perlu bernafas dengan benar supaya tali-tali kami tak saling berbelit dan pada akhirnya, kekasih jiwa akan saling menemukan. Kami memiliki seluruh hutan untuk kami jelajahi. Dalam satu helaan nafas, kami bisa meloncat dari selatan menuju ujung utara hutan, lalu pada detik berikutnya menyelam di kolam di tengah hutan. Segala sesuatu lebih ringan dan tanpa massa di hutan, namun seperti tak nyata karena kesakitan kami yang berdenyut bagai kesakitan milik jiwa lain, jiwa-jiwa sebelum kami. Kami merasakan sakit, tapi tak seperti sakit. Jika kau bisa memahami maksudku.

Hingga suatu hari, Pengembara Mimpi datang membawa cerita tentang dunia manusia, yang lebih tajam dan lebih solid dibandingkan hutan. Dan bercerita tentang jiwa-jiwa yang menyeberanginya.

Aku terpesona dan bersedia menukarkan apapun milikku di dalam hutan untuk memasuki dunia manusia. Menemukan kekasih jiwa yang mungkin ada di sana, merasakan udaranya yang berat, mendengar angin yang berhembus. Siapa tahu, aku juga akan bertemu bintang-bintang dalam perjalanan ini. Aku ingin menemukan apa yang tak pernah kutemui di hutan.

Lelaki Kayu Manis menatapku dengan bola matanya yang berbintik-bintik coklat tua, ”sudahkah kau temukan apa yang kau cari?”

Mungkin, aku mencari kamu.

Lalu kami berciuman saat senja bertemu dengan malam. Saat bulan bertukar tempat dengan Matahari di ujung langit.

bersambung

Cerita-cerita Tersesat sebelumnya

Tersesat (9)

Qahwa memberikan kenikmatan lebih banyak pada ciuman.

Konon di negeri tempat qahwa pertama ditemukan, seorang kekasih akan mengambil resiko untuk mati dengan menyelipkan beberapa biji qahwa ke tangan orang yang dicintainya, Lelaki Kayu Manis memulai ceritanya. Itu yang terjadi pada buyut nenek dari nenekku. Ia jatuh cinta pada seorang pengembara dari negeri tua tempat semua aksara berasal, di mana bahasa menemukan pasangannya. Buyut nenek dari nenekku dengan berani menyelipkan beberapa biji qahwa ke dalam genggaman sang pengembara yang kuat dan halus. Itu adalah janji akan penyerahan hidup total yang tak bisa terpatahkan, katanya, aku akan mengikutimu ke negerimu, menyembah Tuhanmu, menggarap ladangmu, dan akan dengan sukarela mendengarkanmu membaca puisi seumur hidupku. Pada malam yang pekat setelah upacara minum qahwa, nenek buyut kami mendatangi kemah sang pengembara dan menyerahkan dirinya pada cinta. Ketika tiba waktunya sang pengembara akan kembali ke negerinya, nenek buyut kami mencuri biji-biji qahwa dan menyelundupkannya ke dalam keliman bajunya untuk nanti akn ditanam di negeri tua, negeri rempah-rempah. Aku meninggalkan negeriku, tetapi aku tak bisa meninggalkan qahwa maka kubawa ia supaya hidup bersamaku di negeri baru kami, begitu katanya dalam hati, yang kemudian didongengkan kepada anak-anaknya, lalu cucu-cucunya, dari generasi ke generasi hingga sampai kepada ibuku yang menceritakannya kepadaku. Ayah nenek buyutku tidak menyadari kehilangan biji-biji qahwa terbaiknya sampai beberapa hari berikutnya, ia baru menyadari kehilangannya. Lalu ia bersama budak-budak terbaiknya segera mengejar putri kesayangannya itu yang telah berjalan tiga hari sebelumnya bersama sang pengembara, lalu mengambil kembali apa yang telah dicuri oleh nenek buyutku. Ketika kemurkaan pertama itu datang kepada ayah nenek buyutku, ia merobek jubahnya dan meratap, ”mengapa harus putriku?” pencuri biasa hanya akan dipotong tangannya, tetapi pencuri biji-biji qahwa harus dibunuh di negeri asal nenek buyutku. Qahwa adalah tumbuhan surga yang harus dijaga di tanah mereka, hanya untuk kaum keturunan mereka. Jadi, meskipun nenek buyutku merupakan kesayangan ayahnya, sang ayah tak bisa mengelak untuk membunuhnya demi tugas dan kewajiban sebagai penjaga qahwa. Ayah nenek buyutku bahkan telah mengoleskan abu sebagai tanda dukacita ke atas rambutnya yang telah memutih. ”Aku kehilangan putri kesayanganku, ia telah mati di tanganku,” ratapnya. Bahkan budak-budaknya, pejuang-pejuang tangguh penjaga qahwa juga ikut meratap dan mengoleskan abu di kepala mereka. Nenek buyutku tak hanya putri tuan mereka yang cantik dan menawan, tetapi ia juga baik hati serta penuh kasih. Nyanyiannya bisa menghentikan senja sehingga Matahari yang elok dapat lebih lama menari di atas langit yang kemerahan. Tangannya yang lembut namun kuat telah mengobati luka-luka peperangan di tubuh budak-budak itu, dan menyuapi mereka dengan penuh kesabaran ketika mereka terbaring lemah karena demam malaria. Nenek buyutku, tak hanya dicintai oleh ayahnya, tetapi juga merupakan cahaya bagi para budak-budak dan keluarganya. Membunuh nenek buyutku, adalah pengabdian tertinggi mereka kepada qahwa, tumbuhan surga yang harus mereka jaga. Mereka berlari tanpa lelah dengan sangat sedikit istirahat bahkan di malam hari, mereka hanya berhenti selama dua jam setelah Matahari terbenam, karena saat itulah jiwa-jiwa yang akan memulai petualangannya dilepaskan, lalu berlari lagi dan beristirahat  lagi sesaat sebelum Matahari terbit, saat jiwa-jiwa kembali bertemu roh dan tubuh kekasihnya. Perjalanan untuk membunuh ini tak boleh berpapasan dengan jiwa, yang mungkin saja akan menggagalkan rencana mereka. Rombongan ayah nenek buyut kami juga akan berhenti ketika Matahari terik di atas kepala. Setan, yang tak takut akan gelap juga tak gentar pada siang yang terang, ia akan menunggangi Matahari dan menghisap darah manusia tepat saat Matahari bersinar di atas kepala. Setelah berhari-hari, mereka menyusul nenek buyutku yang sedang beristirahat di lembah padang gurun, berkemah di antara batu-batu sebesar rumah. Ayah nenek buyut kami, bisa saja langsung membunuh putri kesayangannya saat itu juga, tetapi ia ingin melihat putrinya bernyanyi pada senja satu kali lagi, jadi ia menyuruh budak-budaknya bersembunyi di balik batu bersamanya, mengawasi putrinya yang tertawa bahagia bersama sang pengembara. Denting tawanya bergaung indah bagai lonceng di lembah penuh batu. Ketika senja mulai turun, nenek buyut kami naik ke atas batu yang terbesar lalu mulai bernyanyi. Seluruh jagat raya serasa berhenti, ayah nenek buyut kami menangis diam-diam. Ia akan membunuh putrinya besok, ia ingin mendengarkan nyanyiannya sekali lagi. Lalu ia menyuruh budak-budaknya untuk beristirahat, ”kita akan menyelesaikan tugas ini besok. Aku akan memberi kesempatan pada putriku untuk bernyanyi pada senja sekali lagi.” Dalam hati para budak-budak itu, mereka lega karena masih ada satu hari lagi untuk menghindari tanggung jawab untuk membunuh putri tuan mereka. Jika saja, mereka bisa mengelak dari tugas itu.

Rupanya, sang pengembara menyukai lembah batu-batu itu. Ia menulis banyak puisi dan meminta nenek buyut kami untuk tetap tinggal di lembah itu menemaninya selama beberapa hari lagi. Sepanjang hari-hari itu, setiap sore nenek buyut kami naik ke atas batu besar dan bernyanyi kepada langit. Dan selama itu pula, ayahnya menunda untuk membunuh putrinya karena akan memberi kesempatan putrinya untuk bernyanyi sekali lagi.

Pada suatu senja, sesaat setelah nenek buyut kami selesai menyanyi, seekor singa gunung jantan mengendap dengan anggun dan lapar, menuju ke arahnya. Nenek buyutku tak melihatnya, karena ia membelakangi arah datangnya singa itu, namun ayah nenek buyutku yang mengawasi putrinya dari jauh melihatnya, dan tanpa berpikir lebih jauh, ia melesat ke arah singa yang lapar itu untuk menyelamatkan putrinya. Ayah nenek buyut kami, merobek pangkal lengan singa jantan itu dengan sekali tarikan, namun singa itu berhasil merobek leher ayah nenek buyutku sesaat sebelum mati. Dengan cepat budak-budak ayah nenek buyutku menarik tuannya dan menikam jantung singa gunung itu dengan sekali tombak. Darah mengucur dengan deras dari leher ayah nenek buyut kami, dengan sisa nafasnya, ia menarik tangan putrinya yang masih termangu terkejut, ”aku menjadi ganti darahmu, hiduplah dengan bahagia” lalu ayah nenek buyut kami meninggal dalam dekapan putri kesayangannya. Semua budak-budak terbelah antara kelegaan bahwa putri tuan mereka, cahaya hidup mereka tetap hidup, namun sebagai gantinya, tuan mereka yang bijak dan penuh kasih menebusnya dengan kematiannya sendiri.

bersambung

Tersesat (8)Tersesat (7)Tersesat (6)Tersesat (5)Tersesat (4)Tersesat (3)Tersesat (2)Tersesat (1)