Film: Django Unchained

Film terbaru dari Quentin Tarantino. Gimana? Khas QT, komik banget.

Mengambil setting tahun 1800-an, lupa deh tepatnya kapan; di saat perbudakan belum dihapuskan, adalah seorang Dr. King Schultz yang berprofesi sebagai dokter gigi tapi sudah nggak praktek lagi trus malah jadi pemburu hadiah. Bounty hunter. Dalam salah satu misinya, dia memerlukan bantuan Django, seorang budak yang mengenali target yang dituju. Nah… Django inilah si lakon, budak yang dibeli oleh King Schultz, kemudian dibebaskan dan dijadikan partner. Bahkan si dokter kemudian membantu Django untuk menemukan istrinya yang dibeli oleh perkebunan Candyland yang dimiliki oleh Calvin Candy yang antik. Ya karena keantikan si Calvin Candy ini, membeli kembali si Broomhilda (istri Django) nggak segampang nebus budak biasa, harus pakai akal.

Nah, pokonya kurang lebih gitu sih.

Banyak yang bilang filmnya ini sadis. Ya mungkin iya sih, darah muncrat… CROT! Beneran bunyi gitu bok kalau ditembak… muncrat ke mana-mana. Trus gebuk-gebukannya kalau di komik bakal ada bunyi: PAW! JEDUG! JEGER! Kalau ada ledakan beneran yg diledakin muncrat ke semua arah… DHUAAR! Pengalaman dengan Inglourious Basterds, justru darah muncrat dan adegan lebay malah bikin kita nggak takut lagi. Tapi trus nanti bikin kita jadi pengen berbuat kekerasan? Ya kali ah 😆

Kata-kata kasar, umpatan-umpatan rasis juga berseliweran di film ini. Tapi ya masuk akal, jama wild-wild-west gitu kan memang masih rasis banget, perbudakan masih dihalalkan. Pas banget, saya nonton film ini setelah membaca buku Anthony Capella – The Various Flavours of Coffee, di situ ada cerita mengenai perbudakan gitu deh… ya jadi kebayang-bayang juga.

Yang jadi kaporit saya di film ini, Dr. King Schultz, ternyata pemerannya adalah si Christopher Waltz yang memerankan Hans Landa di Inglourious Basterds. Cara dia ngomong itu lho… charming bgt deh… Berdarah dingin, tapi nyeremin, tapi lucu, tapi ngeri… tapi baik tapi tetep aja ngeri… campur aduk deh. Sementara, yang sedang ramai dibicarakan adalah akting Leonardo DiCaprio sebagai Candy Calvin, sakit jiwa bener. Ya iya sih… antik-antik nyeremin.

Seperti biasa, soundtrack bikin drama makin greng, dan khas QT soundtracknya ya harus grande. Macam soundtrack film Voltus, atau serial tv kartun robot Jepang lain gitu plus ada sedikit koboi-koboian gitu. Keren sih.

Kalau pengambilan gambar dll, yaaa QT gitu loh! Lagi-lagi mesti ada ke-khasan dia yang pengambilan gambarnya muter gitu. Contoh, pas Calvin Candy cerita di ruang makan, kamera bisa muter liatin ekspresi semua orang di meja makan.

Secara keseluruhan, film ini sangat menghibur. Nggak perlu dipahami banget-banget soal waktu sejarah dll. Pokonya nikmati saja.

Ya meskipun hiburan banget-banget, saya tetap saja kebawa-bawa mimpi soal perbudakan ini. Ih, serem banget deh.

Udah ah… kok saya mendadak bergidik merinding disko bayangin betapa kejamnya perbudakan.

PS. Gambar sepertinya bukan poster resmi dari film ini, saya suka aja sih. Diambil dengan semena-mena dari sini

My Boyfriend Is Type B

Ini film Korea udah lamaaaa banget. Udah nonton berkali-kali juga sih… ya gimana, wong yang main film pacar nomer 5 *ih apa sih* yaitu Abang Lee Dong Gun. Ih tentu saja akika semangat dong cyiiin…

Film ini berkisah tentang hubungan asmara *tsaah* seorang cowok dengan golongan darah B dengan seorang cewek bergolongan darah A. Rupanya, golongan darah di Korea ini termasuk penting dalam menggolongkan jenis-jenis manusia.

Kenapa golongan darah ini penting, karena otak kan dialiri darah, nah unsur kimia tiap darah inilah yang akan secara nggak sadar maka perilaku dan sikap menungsa akan terpengaruh juga. Nah, ini kan menurut mereka ya book… saking percayanya, di urusan perjodohan dan pekerjaan, salah satu pertanyaan wajib adalah golongan darah. Bukan shio atau rasi bintang.

Dan dari semua golongan darah, golongan darah B ini paling nyebelin, karena dianggap seenaknya sendiri, ignorant, egois… pokoknya tipe manusia yang nggak bisa dijadiin temen, apalagi pacar. Haduuuu… gue kan golongan darah B! Nggak segitu nyebelinnya sih… tapi iya.. 😆

Sementara si golongan darah A, itu tergolong penurut, mudah ditindas oleh golongan darah B. Oleh karena itu, kisah asmara dua manusia ini ditentang keras oleh saudara si cewek yang seorang mak comblang berdasar gol darah.

Ya emang sih selama pacaran, rasaan si cewek ini yang banyak berkorban buat si cowok yang sa’enake dhewe. Keliatan banget si cewek yang banyak berkorban buat yang cowok. Tapi nggak gitu-gitu juga sih, si cowoknya ini juga ngebelain banget si cewek meski dengan cara yang ajaib.

Pernah suatu kali si cewek merasa dilecehkan oleh dosennya yang laki-laki, trus dia laporan dong ke pacarnya… tapi dicuekin gitu aja, maklum golongan darah B! Cuek bebek. Eh tiba-tiba, suatu hari si cowok dateng ke kelas si dosen itu, trus pura-pura dia jadi pacar gay si dosen yang diputusin… lha ndilalah ternyata memang ada pacar beneran si dosen di kelas itu yang akhirnya malah ngambek.

Sebenernya, cerita film ini nggak yang luar biasa berkonflik gitu, yaaaa cemen-cemen aja… pokonya cuma seputar sikap si cowok yang seenak udelnya aja. Cukup menghibur.

Kalau mau nonton, monggo bisa di meri.

My Girlfriend Is An Agent

Film ini dirilis tahun 2009, dibintangi oleh Kim Ha Neul yang lumayan sering wara-wiri di film Korea, dan terakhir nongol di serial A Gentleman’s Dignity. Kemudian lawan mainnya, adalah Kang Ji Hwan, saya baru nonton satu serial dia Lie To Me.

Ceritanya mengenai seorang cewek yang nggak bisa menceritakan ke cowoknya bahwa dia adalah seorang agen rahasia. Yang ada, si cowok sebel karena merasa dibohongi terus-terusan. Trus mereka putus. Si cewek sebenernya cinta, tapi ya gimana…kan dia agen rahasia, gak bisa cerita doooong… udah gitu, pas mutusin itu si cowok langsung pergi ke luar negari. Hiks, mau menye-menye ngajak balikan ya kagak bisa deh. Bertahun kemudian, si cowok balik, dan gak sengaja ketemu si cewek yang kini bekerja sebagai cleaning service. Ih, kaget dong dese, padahal gak tau aje, ini cewek lagi menyamar.

Ya udah deh, berantakan aje acaranya. Nah, ceritanya dimulai dari situ. Kocak sih… Ini berdua mainnya oke banget… lucu dan sangat menghibur.

Si Kang Ji Hwan, perannya jadi cowok anak mama yg agak-agak clumsy gitu, ganteng juga sih dilihat-lihat. Macam pengen menindas dia gitu boook…

Kim Ha Neul sendiri, yang terkenal sebagai hits-maker *tsaaah* bermain dengan cantik, sayangnya kok semacam agak ketuaan ya buat Kang Ji Hwan… atau si Kang-nya terlalu kekanak-kanakan? Tapi teteup cucok sih mereka.

Konon katanya, film ini lagi dibuat serialnya dan oppa Lee Dong Gun yang menjadi pemeran prianya. Huwowowowow…

Untuk keketawaan, gak perlu mikir dan sekedar ngabisin waktu, boleh lah ditonton film ini di meri. Cerita yang khayalan belaka dan lebay ya biarin aja, itu adalah garam dan mericanya film komedi a la Korea ye… yang penting bisa keketawaan dan akhir cerita tidak menyedihkan.

Le Grand Chef 2: Kimchi Battle

Meskipun judulnya Le Grand Chef 2, tapi nggak ada hubungannya sama Le Grand Chef yang ini.

Garis besar ceritanya sama, pertandingan memasak, memperebutkan hadiah uang dan hak untuk memasarkan kimchi buatannya ke seluruh negeri. Drama keluarga, karena ini anak angkat melawan anak kandung. Mereka berebut restoran yang dikelola oleh sang Ibu. Bukan karena laris, tapi demi kenangan. Si anak kandung ingin menghancurkan restoran itu, karena menurut ia, sang ibu mengabaikannya demi mengurus restoran. Sementara si anak angkat berusaha untuk mempertahankan restoran itu, karena hanya itulah rumah yang dia kenal.

Kalau mencari drama yang nangis-nangis bombay, silahkan ditonton. Mewek abis dah pokoknya. Saya yang nonton sambil makan pilus pun nangis tapi teteup sih ngunyah; pasti penampakan saya ajaib deh… jadi ngikik sendiri ngebayangin mewek sambil makan pilus 😆

Trus, masak-masaknya banyak nggak? Ya lumayan. Kedua chef ini punya kelebihan masing-masing. Si anak kandung yang lama melalang buana di negeri orang, lebih bermain dengan masakan fusion. Sementara si anak angkat, sibuk ingin mendapatkan rasa masakan seperti masakan ibu. Huhuhuhu… sama seperti yang pertama, di sini juga ditekankan bahwa, masakan yang bisa diterima oleh semua orang adalah masakan ibu.

Kalau nggak nemu dvd-nya, bisa nonton online di sini, selamat nangis-nangis yee…
Yasud, sekian dan selamat beristirahat, semoga besok bangun dengan segar merekah seperti sekuntum bunga, siap menghadapi kemacetan hari Senin :mrgreen:

Brave – Kesempatan Untuk Merubah Takdir

If you had a chance to change your fate, would you? – Princess Merida

Setiap tahun pada bulan Juni – September, menjadi bulan-bulan yang menyenangkan bagi para penggemar nonton bioskop… banyak film bagus yang dirilis pada masa-masa itu. Musim ini, Disney – Pixar, merilis satu lagi film animasi produksi mereka yaitu, Brave.

Mengambil cerita dengan latar belakang kehidupan di Skotlandia, Brave menyoroti kehidupan Merida, yang merupakan seorang putri dari Raja pemimpin klan di Skotlandia.

Sebagai putri, Merida terkekang dengan aturan-aturan yang ditetapkan oleh Sang Ratu, ibundanya. Seperti banyak hubungan seorang anak perempuan dengan ibunya, hubungan Merida dan Elinor juga diwarnai oleh percekcokan dan adu argumentasi tingkat tinggi. Ibu tak pernah mengerti aku. Mengapa anakku selalu membantahku. Ya seperti itulah… *ngaca*

Hubungan yang genting itu makin meruncing ketika Merida harus menjalani tradisi kerajaan. Dari kemarahan yang satu merembet kepada pengambilan keputusan yang salah, Merida harus memperbaiki semuanya atau ia kehilangan sang ibu.

Ini sama sekali bukan film tentang perang, judulnya memang misleading bener…etapi… memang perlu keberanian tingkat dewa sih buat menentang ibu *halo maaak…* *dadah-dadah ke si mamah* 😀

Secara cerita, Disney memang juaranya pencerita, meskipun ada ‘lubang’ cerita di sana-sini, tapi saya tetap menikmati Brave. Salah satu hal yang membuat saya masih termangu ketika film ini selesai adalah, pesan mengenai fate; takdir. Jika, Merida tak ngotot untuk merubah takdirnya, apakah hubungannya dengan sang ibu tak akan membaik? Ataukan sebenarnya sudah takdirnya bahwa ia harus ngotot untuk merubah takdirnya agar hubungannya dengan sang ibu membaik? Mumet kan kalo dibolak-balik? *soundtrack lagu takdir by Dessy Ratnasari mengalun* :mrgreen:

Secara teknologi *tsaaah* Pixar memang juaranya, ada banyak scene yang luar biasa indah… yang bisa bikin saya menahan nafas ketika melihatnya… macem kamera beneran nyorot hal-hal yang nyata gituh… hahaha

Lalu, apakah film ini cocok untuk anak-anak? Tentu saja ya, dengan pengawasan dari orang tua. Secara cerita, ini bagus banget buat ditonton remaja. Tapi kalau untuk anak-anak usia SD gitu, ya mesti harus ditemenin orang tua dan dijelaskan kenapa ini begini kenapa ini begitu.

Eh bentar, setelah dipiki-piki, yang bikin seolah-olah banyak ‘lubang’ cerita di film ini karena saya tidak terlalu familiar kebudayaan dan cerita legenda dari Skotlandia. Mungkin kalau dijelaskan semua, nggak cukup kali ya waktunya…ya sutra, telan saja semua ceritanya dan menikmati keindahan gambarnya…

Secara keseluruhan, berapa bintang buat Brave? Hmmm… 3.5 aja deh…

Madagascar 3: Europe’s Most Wanted

Film yang berhasil bikin ngakak bahagia minggu ini, Madagascar 3: Europe’s Most Wanted.

Ceritanya mah ya, secara singkat, Si Alex, Marty, Melman, dan Gloria masih kangen sama rumah mereka di New York sanah… dan berusaha untuk balik ke sono. Usaha mereka, tentu saja mengandalkan para penguin untuk menyediakan transportasi yang layak yeee… tapi kok si penguin kagak balik-balik? Gak sabar, Alex dan kawan-kawan menyusul si penguin ke Montecarlo, dan mereka akhirnya berpetualang dengan sirkus Zaragosa.

Lucu? Banget. Tapi ya nama pun nonton di bioskop rame-rame, selucu-lucunya saya cuma bisa nyengir lebar, takut ngeberisikin orang cyiiin…. tapi ternyata, tidak semua menganggap ketawa tanpa suara itu penting buat kemaslahatan bersama, cowok sebelah saya ketawanya lebay banget deh. Gak tahan suara dia yang ngganggu keseriusan nonton, saya tegur saja dia… padahal bukan ABG lo dese, mas-mas udah kerja gitu, mestinya udah paham lah yaaa etika nonton bioskop… Ih, gue rese ya? Ya biarin… sama-sama bayar cyin… kalau keganggu, ya saya bertindak, selama masih wajar, ya silahkan, sama-sama punya hak.

Lha…jadi curhat.

Ok. Balik ke Madagascar 3. Cerita, gimana cerita? Sederhana nggak neko-neko, cuma pengen pulang, trus gimana caranyalah agar bisa balik ke New York, ya kalau menurut saya sih, nggak ada cacat cerita *tsaah* tapi rasanya teteup sih, film ini buat orang dewasa, bukan anak-anak… ada banyak kiasan yang diselipkan, ya anak-anak sih pasti bakal suka dengan warna-warni dan suguhan gambar yang apik… memanglah, penonton tua macam saya aja yang kebanyakan mikir kiasan dan metafora. Contohnya, saat Alex bilang bahwa, sebenarnya sirkus itulah rumahnya, rumah dan kehidupan yang ditemukan tanpa sadar… yaaa kenapa saya jadi teringat, hidup yang sebenarnya adalah sirkus yak… macem hewan-hewan juga kita, jungkir balik sana-sini menyambung nyawa *lebay*.

Trus gambar, teknologi animasi, gimana? Apik aja! Hahahaha… jelas, jauh lebih halus dan mantablaah… nama pun teknologi makin canggih yak… Saya cuma agak kurang puas di bagian sirkus yang tampil di London, kurang maksimal deh… rasanya terlalu banyak sinar lampu tapi ruangan kosong. Tapi ya teteup cakep kok, lagunya juga sangat mendukung :mrgreen:

Kalau dihitung bintangnyaaa….mungkin 4 bintang deh…

Aaaah…mau deh nonton lagi.

Dua Putri Salju

Dalam waktu yang berdekatan, dua putri muncul di layar perak *tsaaah* semacam putri yang tertukar gitu deh… hahaha

Kedua film ini adalah adaptasi dari dongeng Putri Salju. Keduanya, menceritakan kembali kisah mengenai Putri Salju, berbeda dari kisah kanak-kanak yang saya dengar.

Dari kedua film, daya tarik terbesarnya adalah sang ibu tiri, ya menurut saya sih… saya jauh lebih tertarik pada si ibu tiri yang lebih matang *lo kate pisang… matang segala* karakternya lebih menantang, gitu…

Film pertama, Mirror Mirror, ibu tiri, Ravenna diperankan oleh Julia Roberts. Ini pertama kalinya saya melihat dia memerankan tokoh antagonis. Ravenna di Mirror Mirror, adalah Ravenna yang jahatnya gak kelihatan, ditutupin oleh senyum Julia yang bikin orang ikutan senyum, tapi entah kenapa itu malah bikin dia jadi makin jahat yaa… semacam sakit jiwa gitu…

Putri Salju di Mirror Mirror juga cantik, sesuai gambaran yang ada di buku cerita, dengan kulit seputih susu, rambut sepekat malam. Warna-warni yang cerah berseliweran di film ini. Meskipun adaptasi ceritanya membosankan, namun saya suka eksekusi film ini. Menghibur.

Sementara, pada film kedua, Snow White and the Huntsman, Ravenna diperankan oleh Charlize Theron yang gila-cakep-banget. Saya gak abis pikir, dengan casting ibu tiri yang semodel Charlize Theron, kenapa Putri Salju diperankan oleh Kristen Stewart yang cuma bisa monyong-monyongin mulut seolah-olah sedang nahan boker? Dan itu terjadi di sepanjang film. Kenapa di film ini cermin ibu tiri kok malah bilang si Putri Salju lebih cakep daripada si ibu tiri? Kenapa? Cerminnya pasti korslet!

Untuk cerita, saya suka adaptasi cerita Snow White & The Huntsman, lebih dewasa,  gothic dan modern *halah* Meskipun banyak adegan-adegan yang cantik, secara keseluruhan saya kurang menikmati film ini, castingnya itu looo… genggeus.

Ketika Putri Salju naik tahta, putri di Mirror Mirror, menunjukan kualitas seorang putri yang benar-benar berubah dari yang gak tau apa-apa trus punya pengalaman di hutan, ada kesan: don’t mess up with this princess. Layak untuk menjadi pewaris tahta. Sementara itu, putri di SWTH, nahan boker. Wong dianugerahi mahkota, berhasil merebut tahta bapaknya lagi kok tampangnya nahan boker, semacam sakit perut abis makan ketoprak kepedesan gitu.

Dari SWTH, saya hanya menikmati ketika adegan-adegan Ravenna tampil di layar. Betul, aktor/aktris itu sangat berpengaruh besar, biar kate settingnya keren, adegannya juara, sudut pengambilan gambarnya oke… tapi klo ekspresi aktrisnya lagi sakit perut, yang nonton juga ikut mules.

Jadi mana yang lebih bagus? Tidak ada mana yang lebih bagus atau lebih jelek juga sih…tapi kalau disuruh milih, mending saya nonton ulang si Mirror Mirror ketimbang SWTH, kecuali si K.Stew diganti.