Tersesat (5)

Waktu mulai berjalan. Langit abu-abu berubah menjadi hitam dengan taburan bintang-bintang sehingga tak membuatnya kelam.

“Aku menyukai malam, terlebih malam ini,” kata lelaki rempah-rempahku.

”Kenapa?”

”Aku selalu menyukai langit, dan langit malam tak pernah bisa ditebak, apakah berawan atau tidak. Langit malam penuh misteri”

”Kamu tak bisa mencari bintang jika langit berawan”

”Tidak selalu awan yang menutupi bintang. Terkadang, bintang-bintang memang tak ingin menampakkan dirinya”

”Mengapa?”

”Tahukah kamu kehidupan para bintang?”

Aku menggeleng, ”aku hanya mengenal pohon-pohon tempatku hidup, aku mengenal cendana, kayu manis, pala dan gaharu… sebab itu aku mengenali baumu”

Ia tertawa. Kusadari, setiap kali ia tertawa maka bau gaharu akan lebih kuat menyerangku, sementara ketika ia berkata-kata maka bau kayu manis akan mendominasi. Sementara tepat di urat nadi lehernya, di situlah paling kuat tercium bau cendana. Seperti tertarik pada bau yang memabukkan itu, aku tertarik lagi mendekat padanya, membelit lagi serupa ular pada dahan pohon kehidupan.

”Ceritakan padaku tentang kehidupan para bintang”

Ia menciumku dengan wangi daun tembakau segar, ”perlu semalaman untuk menceritakan kehidupan para bintang”

”Kita punya semalaman, aku tak punya tujuan lain malam ini selain bersamamu” bahkan, sepertinya aku rela mengubah semua tujuanku di dunia manusia untuk mengikutimu, lanjutku dalam hati.

Diam-diam, aku mengirimkan pesan pada Pohon-Pohon tempatku tinggal, kuucapkan salam perpisahan, kukatakan, mungkin aku akan mengikuti laki-laki rempah-rempah ini ke mana pun ia akan melangkah. Mungkin aku tak akan pernah kembali lagi pada kalian, lagipula Pengembara Mimpi sudah pernah mengingatkanku bahwa jalan pulang menuju hutan akan lebih sulit ditemukan ketika aku telah memutuskan untuk memasuki dunia manusia. Jadi, ya sudah… lebih baik aku tersesat bersama laki-laki rempah-rempah.

”Kamu hidup dengan pikiranmu,” laki-laki rempah-rempah menarikku kembali pada baunya, ”apa yang kamu pikirkan?”

”Pohon-pohon dan bintang-bintang”

Ia tertawa, bergemerincing seperti lonceng peri di hutan, “apa yang kamu pikirkan tentang bintang-bintang?”

”Aku melihat mereka dari pohon tempatku tinggal, berkelip-kelip jauh, aku berusaha untuk bercakap-cakap dengan mereka namun kami tak pernah bisa berkomunikasi. Aku ingin mengenal kehidupan mereka, tapi mereka terlalu jauh untuk dijangkau. Sekarang, aku bertemu kamu yang akan menceritakan tentang kehidupan para bintang, seandainya aku bisa membawamu kepada Pohon-Pohon. Ah, aku melantur…“

Ia makin terbahak, ”aku tak mengenal para bintang, leluhurku, nenek dari nenekku konon berasal dari negeri di mana bintang lahir dan bercahaya. Kami mendengar ceritanya turun temurun, tetapi aku tak mengenal para bintang“

”Kamu keturunan bintang? Ah, kamu lelaki dengan bau rempah-rempah pantas saja bercahaya seperti bintang“

”Apakah kamu mengenal kayu manis? Kamu berbicara serupa dia… bukan, aku bukan keturunan bintang. Tak semua yang berasal dari negeri para bintang terlahir seperti Matahari“

”Ceritakan padaku tentang para bintang, kita punya semalaman… bahkan sepanjang waktu hingga esok, lusa, tulat, tubin… selama yang kita perlukan”

Ia tersenyum, bau cendana menyerangku.

“Cerita tentang para bintang tak gratis, maukah kamu membayarnya dengan ciuman?”

”Dengan senang hati,” kataku, ”aku tak pernah mengenal soal bayar dan gratis, kami tak pernah harus membayar apapun di hutan, namun jika dunia manusia menginginkan ciuman sebagai pembayaran, dan kamu yang meminta… dengan senang hati”

Kami berciuman lagi, kurasakan bibirnya seperti madu dan adas. Ada manis juga getir.

bersambung

Tersesat (4)Tersesat (3)Tersesat (2)Tersesat (1)

Tersesat (4)

Waktu berhenti sesaat saat kami berbagi nafas. Aroma kayu manis dan cendana memabukkanku.

“Kamu harum kayu manis dan cendana, siapa namamu?”

“Kamu berbau segar seperti embun terkena sinar Matahari pagi, dari mana asalmu?”

“Kamu belum menjawab pertanyaanku”

“Tidak semua pertanyaan harus dijawab, kamu juga tak menjawab pertanyaanku”

Aku memandangi matanya yang gelap kecoklatan, ada selapis garis emas berkilau di tengah bola matanya. Angin menghantarkan lagi bau kayu manis dan cendana yang membuatku lupa diri.

Aku hanya ada di saat ini. Melupakan pohon-pohon, melupakan dunia manusia yang penuh tipu daya dan jebakan. Seluruh perjalanan ini, kutempuh hanya untuk membauinya, dan tersihir oleh selaput keemasan di matanya.

“Kalau kamu ingin aku menjawab pertanyaanmu, katakan padaku, siapa namamu?”

“Aku tak bernama, sebab di tempat asalku kami tak memerlukan nama untuk saling mengenali”

Ia tersenyum, giginya berbaris rapi dan berwarna serupa mutiara putih. Ia menciumku lagi, “aku juga tak memerlukan nama untuk mengenali kamu, mengenali lidah serupa beludru dan berbau embun pagi. Kita akan saling mengenali meskipun tanpa nama”

“Dari mana asalmu?”

“Aku berasal dari negeri tempat para dewa menurunkan semua semua rempah-rempah. Gaharu dan cendana tumbuh di halaman belakang rumahku, aku bermain bersama pala dan kayu manis sebelum aku bisa mengeja kata-kata”

Pantas kamu berbau kayu manis, ucapku tanpa suara. Lalu kami saling terbelit seperti benalu dan pohon, saat itu waktu berhenti lagi, senja tak bergerak, langit diam dengan warna abu-abu.

“Dari mana asalmu?”

“Tempat semua jiwa terikat pada pohon-pohon”

”Di mana itu?”

”Entahlah… jika aku tahu arah, saat ini aku tak akan tersesat di duniamu”

”Apakah kamu sedang tersesat?” ia bertanya dengan mata yang semakin keemasan.

Dalam sekejab, aku berada di pusaran badai, beku. Aku melupakan semua yang harus kuingat. Juga secara ceroboh membuka diriku pada manusia yang baru saja kutemui, kusingkapkan segala rahasia jiwa yang kuketahui di dalam hutan. Semua mantra, semua doa yang harus dirapal agar jiwa selamat dari himpitan batu abu-abu dunia manusia. Ia menelannya dengan rakus, lalu membagi nafas rempah-rempahnya denganku.

”Aku menyukai bau rempah-rempah,” kataku, ”bau kehidupan”

”Kamu boleh memilikinya, aku akan memberikannya secara sukarela padamu. Aku juga menyukai baumu yang segar seperti embun. Kulitmu halus, apakah semua jiwa mempunyai kulit sehalus kulitmu? Badanmu juga menyimpan kehangatan matahari pagi, jangan pernah beranjak siang, tetaplah pagi dalam pelukanku”

”Kamu pandai berkata-kata”

”Kayu manis mengajarkan rahasia puisi padaku”

Kami tak bisa memisahkan diri. Aku tak mau memisahkan diri. Aku rela tersesat bersamanya. Bahkan mungkin kurasa aku sedang tidak tersesat. Aku telah menemukan tujuanku, manusia laki-laki dengan aroma cendana.

(bersambung)

Tersesat (3)

Tersesat (2)

Tersesat (1)

Tersesat (3)

Pertemuanku pertama dengan manusia di pusat dunia manusia memberiku ribuan pengertian lain yang menyerang kepalaku seperti kilat. Aku melihatnya, sama sepertiku dalam bentuk lain. Ia tak mengenali jiwa pengembara, ia menyapaku dengan bersahabat, dan kemudian kami melanjutkan perjalanan bersama. Ia menertawakan kecanggunganku hidup di dunia manusia, menurutnya aku seperti baru saja hidup, seolah-olah tiba-tiba saja dilemparkan ke dunia ini. Ya, betul… aku memang baru saja melemparkan diriku ke dunia manusia.

Ia, manusia yang baru kukenal ini, terutama menertawakan kebingunganku akan waktu. Berbagai pengertian memang telah ditanamkan begitu saja di otakku, meskipun demikian ada banyak hal yang kumengerti namun sekaligus tak kumengerti. Seperti halnya, waktu. Di hutan, aku selalu protes kepada Sang Waktu yang semena-mena merubah hitungannya, namun kami tak pernah kehabisan waktu sebab hitungan kami pasti. Di dunia manusia, hitungan waktu tak pasti. Tulat, lusa, esok… hanyalah kata-kata kosong penuh janji, sama seperti petikan ‘bahagia untuk selama-lamanya’. Angka-angka di jam tangan manusia hanya seperti janji manis supaya manusia merasa mempunyai hidup yang lebih beradab karena bisa berhitung. Manusia kenalanku tertawa mendengar gerutuanku. Lalu ia menanyakan namaku, aku terdiam. Nama? Haruskah kami semua bernama?

“Bagaimana mungkin kamu tidak tahu namamu? Semua orang punya nama. Nama adalah sejarah seorang manusia. Aku laki-laki, dan aku mempunyai nama laki-laki yang menandai aku laki-laki meskipun manusia lain belum bertemu denganku. Dan setiap aku berkenalan, aku akan menyebutkan namaku supaya orang mengenaliku.”

Kami tak pernah punya nama. Setiap jiwa mengenali jiwa lainnya, hanya pohon yang punya nama, tetapi pohon-pohon tak pernah menyebutkan namanya namun kami tetap mengenali satu dengan yang lainnya.

”Di tempat asalku, kami tak perlu nama untuk saling mengenali”

”Lalu bagaimana kamu memanggil satu dengan yang lainnya”

Aku mengedikkan bahu, satu lagi yang kupelajari di dunia manusia, bahwa tubuh juga digunakan untuk berkomunikasi. Kedikan di bahu, berarti jawaban yang akan kuberikan sebenarnya tak terlalu penting karena aku tak yakin akan jawabanku, bisa juga berarti, aku tak tahu bagaimana mengatakan jawabanku, ”kami tahu jika dipanggil, kami tahu bagaimana cara memanggil tanpa nama. Tahu begitu saja”

”Wow! Jika kalian jatuh cinta pada seseorang, bagaimana membedakannya? Maksudku, kemudian kalian ingin menikah harus ada surat-surat yang diurus, bagaimana membubuhkan nama pada sebuah surat?”

Aku mulai bingung lagi, ”mengapa harus ada surat?”

Manusia laki-laki yang mempunyai nama seorang laki-laki memandangiku dengan tanda tanya besar di matanya. Dan aku mencoba berbicara padanya tanpa kata-kata. Di tempat asalku, kami jatuh cinta begitu saja, tak perlu nama, tak perlu asal-usul karena kami semua berasal dari hutan, cinta hanya cinta. Kami telah ditentukan akan jatuh cinta pada siapa karena masing-masing kami telah terikat pada Pohon Cinta, takdir kami bersambung meski kami belum menemukan satu dengan yang lainnya. Saat menemukannya, dia yang seharusnya kami mencintai, kami akan jatuh cinta begitu saja.

”Oh,” katanya, seolah mengerti apa yang baru saja kukatakan tanpa bahasa manusia, ”kita berasal dari dua dunia yang berbeda, aku mengerti”

Ia mengenaliku sekarang.

Di sebuah persimpangan, kami kemudian berpisah. Ia menjabat tanganku dengan hangat, ”begini cara berkenalan, begini pula kita melepaskan seseorang. Dengan jabatan tangan”

Aku tersenyum, ”ya, akan kuingat”

”Berhati-hatilah, semoga kamu menemukan apa yang kamu cari… dan carilah nama untuk dirimu”

Perjalananku selanjutnya memasuki pusat dunia manusia semakin cepat dan memusingkan, sebab setiap kali aku bertemu manusia baru, ada ribuan pengertian yang tiba-tiba saja dipaksakan masuk ke dalam memoriku. Aku berjalan dengan limbung dan agak kehilangan arah karena mabuk oleh ribuan pengertian baru. Dan saat itulah aku tersesat.

IMG_0599

Tanpa sadar, aku memasuki tebing batu abu-abu yang memunggungi laut. Ada bau asin yang mendominasi udara, dan matahari menyeruak lemah dari langit yang juga abu-abu. Lalu aku melihat sebatang pohon yang lelah, kusapa ia, tapi pohon tak menjawabku. Ah. Sedih karena kerinduanku akan hutan yang hijau dan berbau embun, aku duduk di sebuah batu di bawah pohon yang lelah itu. Saat itulah, aku melihatnya. Seorang manusia laki-laki, ia tersenyum padaku. Aku membalas senyumnya, ia kemudian mendekatiku. Semakin dekat ia, semakin kuat baunya menyerangku. Dan tiba-tiba saja aku seperti tersambar kilat, saat kuhirup udara asin bercampur baunya. Ia berbau seperti kayu manis dan cendana, ada selapis madu juga asam lemon menguar dari kulitnya yang coklat. Aku seperti kembali ke kolam kecil di hutan. Kolam itu dikelilingi oleh pohon cendana, juga gaharu. Ketika malam tiba, air memberi udara harum kehidupan ikan yang bercampur dengan cendana. Laki-laki ini memberiku bau yang mengingatkanku pada kolam kecil di hutan.

Aku menghirup baunya dengan rakus, meskipun tak mengenal namanya, aku sudah mengenali baunya dan tersihir olehnya. Lalu aku melihatnya, ke matanya dengan bola mata coklat yang jernih dan berkliau lembut, lalu lagi-lagi aku seperti dilemparkan kembali ke hutan saat menari bersama kunang-kunang. Ia lalu duduk di batu di dekatku, ”senang berjumpa mahluk hidup lainnya di tebing ini”

Suaranya tak seperti yang kuharapkan, tak ada kelembutan dan itu membuatku waspada, namun sesaat kemudian kewaspadaanku lenyap ketika ia mengulurkan tangan, kami berjabat tangan. Salam di dunia manusia.

Seperti baru melihat tubuh manusia, aku takjub pada tangannya. Tak kulepaskan dengan segera, kulupakan semua aturan dunia manusia. Dengan rasa penasaran kuamati tangannya dengan tulang panjang terbungkus kulit coklat matang dan ditumbuhi rambut-rambut bulu.

Lalu kami saling menatap dan seperti ada magnet yang menggerakkan, kami kemudian saling mendekat dan berciuman.

(Bersambung)

Tersesat 2

Tersesat 1

Tersesat (2)

Mabuk oleh kegembiraan aku setengah berlari menyeberangi padang berumput menuju bebatuan abu-abu di seberang. Aku memasuki dunia manusia. Tak kuhiraukan berbagai rasa tajam yang menusuk kulit, semua rasa itu seolah berlomba-lomba menanamkan dirinya ke dalam memoriku.

Desa pertama yang kumasuki begitu sepi. Batu abu-abu membisu tak menjawab ketika aku bertanya, mengapa desa ini begitu hening. Aku harus membiasakan diri hanya bertanya pada manusia. Di hutan, kami bisa berbicara kepada siapa saja. Bebatuan yang hijau ditumbuhi lumut, akan menjawabmu tanpa kata-kata mengenai siapa saja yang baru saja mampir dan singgah melepas penat di atasnya. Tanpa kata-kata, tanpa aksara, itulah cara kami bercakap-cakap di hutan.

Di dunia manusia, semua berbeda. Kami harus berbicara dengan bahasa. Pengertian baru ini begitu saja ditiupkan di kepalaku, aku langsung memahami bahwa aku harus berkata-kata agar manusia mengerti aku.

Tetapi, desa pertama yang kumasuki demikian sepi. Kepada siapa harus kugemakan kata-kataku?

Senja hampir turun, langit sore abu-abu kemerahan. Aku menghirup udara yang beraroma kelelahan. Betul kata Pengembara Mimpi, dunia manusia melelahkan. Semua rasa tajam dan pedih. Namun aku menikmatinya. Aku merasa lebih hidup dibandingkan saat aku berada di hutan. Aku harus berjalan dan merasakan lelah pada kakiku saat menapaki tanah keras. Di hutan, aku bisa mengayun kakiku dengan ringan, dan melangkah seperti terbang, kadang kami betul-betul bisa terbang. Saat jiwa kami sedang sangat berbahagia, atau kami sedang mengembang karena cinta, cukup dengan menutup mata membayangkan tempat mana pun di hutan yang akan kami tuju, lalu ayunkan kaki dengan ringan… kami akan langsung sampai di tujuan. Dunia manusia berbeda. Aku harus berhenti sejenak, betisku mulai terasa pegal. Aku menyentuh tubuhku yang baru dan berdenyut lelah. Pengertian baru lainnya ditanamkan di kepalaku, tiba-tiba saja aku merasa aku harus mencari tempat untuk beristirahat. Dan seperti mendengar kebutuhan yang kugemakan di kepala, mataku melihat sebuah bangunan dari batu tentunya, berdiri kokoh di sebelah kiriku. Pintunya terbuka, aku segera melangkah masuk dan menyesuaikan mataku dengan kegelapan ruangan. Kubuka suara menyapa, ”halo… permisi…” aku sedikit terkejut mendengar suaraku, tidak terlalu berat seperti yang kubayangkan, namun juga tak senyaring yang kuinginkan. Sebuah pengertian menyelinap di kepala, suara perempuan yang tak merdu.

Aku meresapi pengalaman baru ini, mendengar suaraku dan mengingat dentingan nadanya. Selama ini, suaraku hanya terdengar di kepala, belum pernah beradu dengan angin.

Bangunan itu kosong. Aku berkeliling ke setiap sudut dan hanya menemukan laba-laba yang merajut kerajaannya. Kusapa dia, kami pasti pernah bertemu di hutan, tapi laba-laba betina itu tak menjawabku, hanya giginya yang berkeletuk menunggu mangsa terjebak jaringnya. Aku sedikit kecewa oleh ketidak acuhan si laba-laba, kami biasa bercakap-cakap tentang merajut jaring kehidupan di hutan, namun sekarang ia tak mengenalku. Tapi sedetik kemudian aku tersenyum oleh pengertian baru yang tiba-tiba ditanamkan di kepalaku, ini dunia manusia… kami hanya perlu bertahan hidup tak perlu lagi sibuk bercakap-cakap dengan jiwa lain. Inilah dunia manusia, hanya untuk bertahan hidup.

Hari-hari pertamaku di dunia manusia, begitu membekas. Ribuan memori baru ditanamkan di kepala. Aku tak bertemu manusia lain atau jiwa pengembara lain hingga bulan berikutnya, setelah aku makin menjauhi perbatasan dunia manusia dan hutan. Makin menuju pusat dunia manusia, batu-batu abu-abu semakin menghimpit, dan baru kutahu, bahwa batu-batu memberati mimpiku tiap malam.

Pengembara Mimpi menemuiku sesaat sebelum aku masuk ke pusat dunia manusia. Ia menyapaku saat senja tiba, di luar kebiasaannya mampir sesaat sebelum pagi.

“Mengapa datang senja?”

“Di dunia manusia, senja adalah perubahan, setiap jiwa yang masih rapuh perlu ditemani agar iblis dan setan tak mencengkeramnya”

“Apakah menurutmu aku rapuh?”

“Tidak, aku kebetulan melewatimu… jadi kupikir, aku menyapamu sekalian. Bagaimana hari-harimu di dunia manusia?”

“Hidup. Aku merasa lelah, namun pada saat yang sama merasa bersemangat karena aku merasakan hidup”

“Tidakkah kau rindu hutan?”

“Sangat rindu, tak kurasa lelah yang berdenyut-denyut di hutan. Aku juga rindu hari tanpa hitungan hari. Hanya daun-daun yang selalu menandai musim. Tapi toh aku masih bisa mengunjungi hutan dalam mimpi. Hanya saja, aku tak ringan lagi”

”Karena kau berada di dunia manusia?”

“Maksudmu?”

“Batu abu-abu akan selalu memberati langkahmu”

“Mengapa begitu?”

“Dunia manusia penuh kesulitan dan kesukaran, batu abu-abu menjadi saksi airmata serta darah yang dikorbankan oleh manusia untuk bertahan hidup. Manusia lupa, tetapi batu-batu tidak, mereka merekam semua sejarah manusia dan menyimpannya dari satu generasi manusia ke generasi berikutnya. Ingatan batu-batu lah yang memberatimu”

“Ah… bisakah kau menghilangkan ingatan batu-batu?”

“Tidak, sejarah akan selalu diingat dan aku tak bisa menghapusnya.”

“Lalu bagaimana supaya aku tetap ringan saat aku mengunjungi hutan di malam hari?”

“Terus berjalan. Terus hidup dan bergerak”

Lalu seperti kedatangannya yang tiba-tiba, Pengembara Mimpi pergi tanpa mengucapkan salam perpisahan.

Terus hidup dan bergerak, hanya itu yang menjadi peganganku saat ini. Aku berjalan makin mendekati pusat dunia manusia, di mana batu abu-abu menghimpit setiap ruang dan menyisakan hanya sedikit udara untuk kuhirup.

Bagian Pertama – (bersambung)

Tersesat (1)

Pada suatu masa, aku pernah tersesat di dunia manusia, yang dipenuhi dengan batu abu-abu di setiap sudutnya, suasana menjadi lebih monokrom karena langit pun juga abu-abu. Namun, jika cuaca sedang bersahabat, matahari akan bekerja sama dengan baik dengan rintik hujan menghiasi langit abu-abu dengan semburat pelangi yang akan terpantul juga di seluruh permukaan batu abu-abu. Indah. Continue reading “Tersesat (1)”

Apa Ini?

Apa ini, rasa nyeri yang berjalan di ulu hati? Mengiris jantung dan hati tiap kali kau mengambil nafas, sementara untuk tetap bertahan dalam hidup, kau perlu sebanyak-banyaknya bernafas.

Bukan, ini bukan kesedihan. Aku mengenal dengan baik sedih yang membekukan tulang, menekan semua udara di kepalamu hingga telinga terasa pengang.

Bukan, ini bukan rindu yang menari-nari di lubang hati, memberikan nyeri yang geli. Rindu yang ingin membuatmu menyimpan sebanyak mungkin udara di dalam dada supaya kamu bisa terbang ke langit dan bertemu kekasihmu di langit asmara.

Bukan, ini juga bukan cinta yang membuatmu menarik senyuman di bibir hanya dengan mengingat kenangan tentang sang kekasih. Aku rasanya tak akan salah mengenali cinta dan menukarnya dengan rasa nyeri di ulu hati.

Ini bukan pula kemarahan yang ingin kuledakan di kepala; tak ada bau mesiu di rasa nyeri ini. Yang ada hanya nyeri yang merambat, berjalan dengan pongah di ulu hati, mengiris jantung dan hati tiap kali kau mengambil nafas. Meninggalkan rasa karat di lidah dan membuatmu tak nikmat makan. Memutar semua kenangan yang menyenangkan maupun yang tidak, juga memutar harapan dan imajinasi tentang masa depan, masa seandainya.

Jika saja Pengembara Mimpi mau mampir pagi ini, mungkin aku bisa bertanya kepadanya mengenai nyeri yang satu ini. Karena tak kutemukan memori sakit yang sama di sepanjang ingatanku. Pohon-pohon tempatku tinggal tak memberikan jawaban, mereka tetap saja diam dengan keangkuhan, melanjutkan hidup dan tugasnya. Daun-daun tetap bergemerisik riuh, genit menyambut sinar Matahari, bercinta dalam cahaya dan melanjutkan hidup. Tapi Pengembara Mimpi tak mampir pagi ini. Aku menggigil sendiri dalam sunyi, menahan nyeri.

Apa ini, rasa nyeri yang berjalan di ulu hati? Membuat matamu memerah oleh darah, membuatmu melihat langit selalu berwarna abu-abu.

Sesaat aku berpikir ini adalah kematian. Maut yang telah mengintai seumur hidupmu, akhirnya menemukan caranya untuk membuatmu menyerah pada gelap tanpa cahaya yang penuh nyeri. Tetapi kemudian aku ingat, bagi kaumku, kematian akan datang seperti cahaya yang membutakan. Kematian akan datang saat pagi, dengan aroma embun yang menempel pada dedaunan… terlebih bagiku, kematian akan datang dan memutar kenangan dengan bau seperti nasi yang sedang ditanak, harum membikin lapar. Kematian seharusnya menyenangkan dan lebih mudah daripada hidup dengan nyeri.

Aku mulai lagi memindai semua rasa yang pernah kukenal dan kusimpan dalam ingatan, satu persatu kubuka dan kubaui, juga sedikit kurasakan. Makin kucari, makin tak kutemukan dan makin kurasakan nyeri yang merambat makin cepat dan mencengkeram ulu hati lebih kuat. Nafasku semakin sesak dan semakin berdarah. Di mana Pengembara Mimpi? Di mana kekasih yang seharusnya menolongku karena kami telah sama-sama terikat pada Pohon Cinta sejak masa ribuan tahun yang lalu?

Betulkan ini kematian? Jikalau pun ini adalah mati, aku tak mau menyerah pada kematian yang nyeri, tidak. Aku hanya akan menyerah pada kematian yang hangat dan menyenangkan.

Ah, apa ini rasa nyeri yang berjalan di ulu hati?

Menelan Rindu

Bisakah kita menelan rindu dan kemudian melupakannya? Seperti menelan obat pahit, rasa yang ingin kau lupakan. Rasa pahit yang membuatmu ingin segera lupa pada demam asmara yang membuat panas dingin. Makan tak enak, tidur tak nyenyak… dalam mimpi pun merasakan sakit yang sama.

Bisakah kita menelan rindu seperti menelan obat pahit yang membuat sakit segera pergi meninggalkan raga?

Aku tak bisa menelan rindu. Ia telah menelanku dalam kegelapan yang dingin. Membuatku sesak karena tak melihat cahaya. Membuatku terhimpit dalam sepi yang riuh. Rindu telah menelanku dengan rakus.

Dulu, rindu memberi inspirasi. Membuat semua rasa menjadi lebih tajam dan jelas. Menjadi magnet bagi kata-kata, juga cinta. Dulu, rindu tak berbahaya. Tetapi rupanya, memelihara rindu seperti memelihara monster, yang punya bentuk menyenangkan juga lucu ketika sedang kanak-kanak, tapi akan memangsamu dengan kejam ketika ia bertambah besar. Dan kau membiarkannya menguasaimu karena kau menyukainya. Ya, aku terlanjur suka pada rindu, yang telah membuat semua rasa menjadi lebih tajam. Tapi, aku tak bisa mengendalikan monsterku.

Aku tak bisa menelan rindu, meskipun ingin menelannya seperti obat pahit yang menyembuhkan semua demam asmara ini.