Terus Terbang ver. 2.0

fullsizerender_zpsipuj1c7a

Kupu-kupu Biru terbang melintasi nebula ungu dan awan kelabu hingga tiba di tepi hutan kebijaksanaan. Bunga-bunga gemulai berjajar berjaga di tepi hutan, Kupu-Kupu Biru bertanya, “ooo Bunga, mengapa kalian yang menjadi penjaga? Tidakkah hutan yang agung memiliki tanaman lain yang lebih perkasa untuk menjaganya?” Continue reading “Terus Terbang ver. 2.0”

Peri Hutan

Pernahkah kuceritakan kepadamu mengenai kolam di Hutan? Kolam tempat Lotus, Lily dan seribu bunga lain tumbuh? Kolam tempat kami para jiwa, bergelayut terikat pada pohon kami masing-masing. Saat malam hari, kami akan memandangi air kolam yang seperti cermin memantulkan langit penuh bintang. Saat siang tiba, udara dingin naik dari permukaan kolam, menyejukan jiwa yang terikat makin erat pada pohon-pohon kami. Continue reading “Peri Hutan”

Terus Terbang

image

Kupu-kupu Biru terbang melintasi nebula ungu dan awan kelabu hingga tiba di tepi hutan kebijaksanaan. Bunga-bunga gemulai berjajar berjaga di tepi hutan, Kupu-kupu Biru bertanya, “ooo Bunga, mengapa kalian yang menjadi penjaga? Tidakkah hutan yang agung memiliki tanaman lain yang lebih perkasa untuk menjaganya?”

image

Bunga-bunga gemulai bernyanyi, “ooo Kupu-kupu, keperkasaan tak selalu berarti mampu menjadi penjaga dan kami yang kau kira lemah tak mampu menjaga. Kami bisa membuatmu mati dalam sedetik jika kami berikan racun padamu, bukan sari untuk penghilang dahagamu. Ooo Kupu-kupu… teruslah terbang ke dalam hutan dan temukan kebijaksanaan.”

image

Kupu-kupu terus terbang dan bertemu Harimau lapar yang menyeramkan, diam dalam ketekunan, “ooo Harimau sang raja, apakah kau sedang diam mengintai mangsamu?”
Harimau menggeram, dan berkata, “aku sedang menunggu mati. Untuk apa aku sabar mengintai mangsaku dan lelah memburunya jika pada akhirnya kita semua memang akan mati? Ooo Kupu-kupu… teruslah terbang ke dalam hutan dan temukan kebijaksanaan.”

image

Dengan tergesa, Kupu-kupu terbang menjauh, terus masuk ke dalam hutan dan bertemu Koi yang berenang dengan riang di dalam kolam lotus, “ooo Koi yang cantik, tidakkah kau bosan melenggak-lenggok sepanjang hari di dalam kolam? Apakah kau tidak ingin berenang di samudera dan melihat dunia?”
Koi terkikik genit dan menyelinap lincah di antara bunga lotus, lalunmenjawabnya, “untuk apa aku ingin melihat dunia jika yang kucari semua telah berada di sini? Dan bagaimana aku bisa bosan jika aku berbahagia? Ooo Kupu-kupu… teruslah terbang ke dalam hutan dan temukan kebijaksanaan.”

image

Kupu-kupu meninggalkan Koi, terbang makin jauh dan di sudut hutan yang lain, ia bertemu Merak perkasa yang kecantikannya menyilaukan, hingga membuat sayap Kupu-kupu ikut berwarna dengan gemilang, “ooo Merak yang anggun, bagaimana mungkin kejantanan bisa begitu cantik? Apakah kau tak keliru lahir?”
Merak memalingkan kepalanya dengan anggun, “tidakkah kecantikan adalah keperkasaan? Dan untuk apa harus menjadi benar atau salah jika benar dan salah tak selamanya benar dan salah? Ooo Kupu-kupu… teruslah terbang ke dalam hutan dan temukan kebijaksanaan.”
Merak kemudian mengibaskan ekornya dengan anggun dan cahaya yang membuat sayap Kupu-kupu gemilang pun sirna.

image

Kupu-kupu terus terbang, makin jauh ke dalam hutan yang makin pekat. Lalu tiba-tiba saja ia tiba di padang bunga-bunga, dan bertemu sesamanya, Kupu-kupu. Dengan girang ia mengepakkan sayapnya mendekat pada mereka yang terbang menuju pelangi, mengatasi awan-awan, “ooo Kupu-kupu yang berwarna-warni… di manakah akan kutemukan kebijaksanaan? Sudahkah kalian menemukannya?”
Sayap kupu-kupu berkelepak dengan riuh, “oh… kami bertemu kebijaksanaan sepanjang waktu, dalam setiap pertanyaan, bahkan yang tak memiliki jawaban. Juga saat kami berhenti bertanya. Ooo Kupu-kupu… teruslah terbang, setiap kepak sayapmu adalah kebijaksanaan, saat berhenti pun kau akan menemukannya, dengarkan saja hembusan angin. Ooo Kupu-kupu… teruslah terbang.”
Dan Kupu-kupu Biru terus terbang.

Tersesat (9)

Qahwa memberikan kenikmatan lebih banyak pada ciuman.

Konon di negeri tempat qahwa pertama ditemukan, seorang kekasih akan mengambil resiko untuk mati dengan menyelipkan beberapa biji qahwa ke tangan orang yang dicintainya, Lelaki Kayu Manis memulai ceritanya. Itu yang terjadi pada buyut nenek dari nenekku. Ia jatuh cinta pada seorang pengembara dari negeri tua tempat semua aksara berasal, di mana bahasa menemukan pasangannya. Buyut nenek dari nenekku dengan berani menyelipkan beberapa biji qahwa ke dalam genggaman sang pengembara yang kuat dan halus. Itu adalah janji akan penyerahan hidup total yang tak bisa terpatahkan, katanya, aku akan mengikutimu ke negerimu, menyembah Tuhanmu, menggarap ladangmu, dan akan dengan sukarela mendengarkanmu membaca puisi seumur hidupku. Pada malam yang pekat setelah upacara minum qahwa, nenek buyut kami mendatangi kemah sang pengembara dan menyerahkan dirinya pada cinta. Ketika tiba waktunya sang pengembara akan kembali ke negerinya, nenek buyut kami mencuri biji-biji qahwa dan menyelundupkannya ke dalam keliman bajunya untuk nanti akn ditanam di negeri tua, negeri rempah-rempah. Aku meninggalkan negeriku, tetapi aku tak bisa meninggalkan qahwa maka kubawa ia supaya hidup bersamaku di negeri baru kami, begitu katanya dalam hati, yang kemudian didongengkan kepada anak-anaknya, lalu cucu-cucunya, dari generasi ke generasi hingga sampai kepada ibuku yang menceritakannya kepadaku. Ayah nenek buyutku tidak menyadari kehilangan biji-biji qahwa terbaiknya sampai beberapa hari berikutnya, ia baru menyadari kehilangannya. Lalu ia bersama budak-budak terbaiknya segera mengejar putri kesayangannya itu yang telah berjalan tiga hari sebelumnya bersama sang pengembara, lalu mengambil kembali apa yang telah dicuri oleh nenek buyutku. Ketika kemurkaan pertama itu datang kepada ayah nenek buyutku, ia merobek jubahnya dan meratap, ”mengapa harus putriku?” pencuri biasa hanya akan dipotong tangannya, tetapi pencuri biji-biji qahwa harus dibunuh di negeri asal nenek buyutku. Qahwa adalah tumbuhan surga yang harus dijaga di tanah mereka, hanya untuk kaum keturunan mereka. Jadi, meskipun nenek buyutku merupakan kesayangan ayahnya, sang ayah tak bisa mengelak untuk membunuhnya demi tugas dan kewajiban sebagai penjaga qahwa. Ayah nenek buyutku bahkan telah mengoleskan abu sebagai tanda dukacita ke atas rambutnya yang telah memutih. ”Aku kehilangan putri kesayanganku, ia telah mati di tanganku,” ratapnya. Bahkan budak-budaknya, pejuang-pejuang tangguh penjaga qahwa juga ikut meratap dan mengoleskan abu di kepala mereka. Nenek buyutku tak hanya putri tuan mereka yang cantik dan menawan, tetapi ia juga baik hati serta penuh kasih. Nyanyiannya bisa menghentikan senja sehingga Matahari yang elok dapat lebih lama menari di atas langit yang kemerahan. Tangannya yang lembut namun kuat telah mengobati luka-luka peperangan di tubuh budak-budak itu, dan menyuapi mereka dengan penuh kesabaran ketika mereka terbaring lemah karena demam malaria. Nenek buyutku, tak hanya dicintai oleh ayahnya, tetapi juga merupakan cahaya bagi para budak-budak dan keluarganya. Membunuh nenek buyutku, adalah pengabdian tertinggi mereka kepada qahwa, tumbuhan surga yang harus mereka jaga. Mereka berlari tanpa lelah dengan sangat sedikit istirahat bahkan di malam hari, mereka hanya berhenti selama dua jam setelah Matahari terbenam, karena saat itulah jiwa-jiwa yang akan memulai petualangannya dilepaskan, lalu berlari lagi dan beristirahat  lagi sesaat sebelum Matahari terbit, saat jiwa-jiwa kembali bertemu roh dan tubuh kekasihnya. Perjalanan untuk membunuh ini tak boleh berpapasan dengan jiwa, yang mungkin saja akan menggagalkan rencana mereka. Rombongan ayah nenek buyut kami juga akan berhenti ketika Matahari terik di atas kepala. Setan, yang tak takut akan gelap juga tak gentar pada siang yang terang, ia akan menunggangi Matahari dan menghisap darah manusia tepat saat Matahari bersinar di atas kepala. Setelah berhari-hari, mereka menyusul nenek buyutku yang sedang beristirahat di lembah padang gurun, berkemah di antara batu-batu sebesar rumah. Ayah nenek buyut kami, bisa saja langsung membunuh putri kesayangannya saat itu juga, tetapi ia ingin melihat putrinya bernyanyi pada senja satu kali lagi, jadi ia menyuruh budak-budaknya bersembunyi di balik batu bersamanya, mengawasi putrinya yang tertawa bahagia bersama sang pengembara. Denting tawanya bergaung indah bagai lonceng di lembah penuh batu. Ketika senja mulai turun, nenek buyut kami naik ke atas batu yang terbesar lalu mulai bernyanyi. Seluruh jagat raya serasa berhenti, ayah nenek buyut kami menangis diam-diam. Ia akan membunuh putrinya besok, ia ingin mendengarkan nyanyiannya sekali lagi. Lalu ia menyuruh budak-budaknya untuk beristirahat, ”kita akan menyelesaikan tugas ini besok. Aku akan memberi kesempatan pada putriku untuk bernyanyi pada senja sekali lagi.” Dalam hati para budak-budak itu, mereka lega karena masih ada satu hari lagi untuk menghindari tanggung jawab untuk membunuh putri tuan mereka. Jika saja, mereka bisa mengelak dari tugas itu.

Rupanya, sang pengembara menyukai lembah batu-batu itu. Ia menulis banyak puisi dan meminta nenek buyut kami untuk tetap tinggal di lembah itu menemaninya selama beberapa hari lagi. Sepanjang hari-hari itu, setiap sore nenek buyut kami naik ke atas batu besar dan bernyanyi kepada langit. Dan selama itu pula, ayahnya menunda untuk membunuh putrinya karena akan memberi kesempatan putrinya untuk bernyanyi sekali lagi.

Pada suatu senja, sesaat setelah nenek buyut kami selesai menyanyi, seekor singa gunung jantan mengendap dengan anggun dan lapar, menuju ke arahnya. Nenek buyutku tak melihatnya, karena ia membelakangi arah datangnya singa itu, namun ayah nenek buyutku yang mengawasi putrinya dari jauh melihatnya, dan tanpa berpikir lebih jauh, ia melesat ke arah singa yang lapar itu untuk menyelamatkan putrinya. Ayah nenek buyut kami, merobek pangkal lengan singa jantan itu dengan sekali tarikan, namun singa itu berhasil merobek leher ayah nenek buyutku sesaat sebelum mati. Dengan cepat budak-budak ayah nenek buyutku menarik tuannya dan menikam jantung singa gunung itu dengan sekali tombak. Darah mengucur dengan deras dari leher ayah nenek buyut kami, dengan sisa nafasnya, ia menarik tangan putrinya yang masih termangu terkejut, ”aku menjadi ganti darahmu, hiduplah dengan bahagia” lalu ayah nenek buyut kami meninggal dalam dekapan putri kesayangannya. Semua budak-budak terbelah antara kelegaan bahwa putri tuan mereka, cahaya hidup mereka tetap hidup, namun sebagai gantinya, tuan mereka yang bijak dan penuh kasih menebusnya dengan kematiannya sendiri.

bersambung

Tersesat (8)Tersesat (7)Tersesat (6)Tersesat (5)Tersesat (4)Tersesat (3)Tersesat (2)Tersesat (1)

Tersesat (7)

Percayalah, kau tak akan pernah menginginkan ciuman seorang kekasih setelah kau merasakan nikmatnya qahwa yang pertama kali kau minum.

Semburat fajar kemerahan, pagi mulai menjelang. Kami telah bercakap-cakap sepanjang malam. Biasanya, pada saat seperti inilah Pengembara Mimpi mampir. Sudah lama kami tak bertemu, terakhir kali ia mengunjungiku saat senja ketika aku akan memasuki dunia manusia. Aku membayangkan, bagaimana jika Pengembara Mimpi bertemu dengan Lelaki Kayu Manis ini? Apakah yang akan dikatakan Pengembara Mimpi kepadaku? Ia selalu melihat  apa yang bisa kulihat, tentu saja karena ia sudah mengembara sejak pohon yang pertama tumbuh. Continue reading “Tersesat (7)”

Pembisik Pohon

Sebelum aku tersesat di Dunia Manusia, Pengembara Mimpi datang mengunjungiku saat pagi menjelang, ketika roh bertemu jiwa, dan bersiap menyambut Matahari.
“Kau berhutang kisah Pohon-Pohon,” kataku padanya, “kau selalu tak pernah menuntaskan ceritanya”
“Kisah tentang Pohon tak akan pernah tuntas selama Roh dan Jiwa selalu bertemu, selama hutan masih meniupkan kehidupan”
Aku tak pernah mengerti kata-kata Pengembara Mimpi, biasanya setelah ia pergi aku baru memahami maksudnya.
Semua hal tak harus dimengerti, kata Pengembara Mimpi; seperti kau mungkin tak akan mengerti tentang jiwa pembisik pohon.
“Pembisik pohon?”
“Mereka sama seperti aku, menjaga kehidupan Pohon-Pohon”
Jika aku mengembara mengunjungi jiwa-jiwa agar tak putus harapan pada Pohon-Pohon, maka pembisik pohon bernyanyi pada dahan dan ranting agar tetap menyatu pada batang, mengalirkan cinta Bumi pada daun yang akan menyampaikannya pada Matahari.
Pembisik pohon akan bernyanyi saat embun pertama menetes di daun.

Semesta merindu,
Semesta layu,
Dahan-dahan nyanyikan lagu,
Menarilah ranting-ranting kayu,
Daun-daun bergemerisik tanpa ragu,
Sebab jiwa menggantungkan hidupnya padamu.

“Kenapa aku tak pernah bertemu dengannya?”
Pembisik pohon bekerja dalam bayangan, bergerak hampir tiada dalam hembusan angin. Berlindung dari riuhnya kegelisahan jiwa-jiwa. Tapi ia selalu ada, sebab jika ia tak bernyanyi sehari saja, maka ranting dan dahan tak punya daya menempel pada batang yang kokoh, daun-daun akan gugur sebelum waktunya dan jiwa-jiwa akan kehilangan embun pagi.
Bolehkan aku bertemu pembisik pohon, untuk sekali saja?
Ia tak tahan pada kegelisahan jiwa.
Aku tidak gelisah.
Jiwa selalu gelisah selama ia hidup. Ia selalu gelisah.
Kenapa?
Pengembara Mimpi tersenyum lalu berkata sedih, “itulah imbangan semesta, kegelisahan jiwa. Kalian memang diciptakan dengan kegelisahan.”
Itu sebabnya kalian memerlukan Pohon-Pohon. Itu sebabnya Pohon-Pohon memerlukan pembisik pohon. Yang bekerja dalam bayangan, yang bernyanyi pada dahan dan ranting saat embun pertama menetes di dedaunan.

Oh, Pohon-Pohon…
Kegelisahan jiwa yang membelitmu,
Jadikan ia tali kehidupanmu,
Yang mengikat hidup pada keabadian,
Juga mengikat maut di masa depan,
Oh, Pohon-Pohon…
Bertumbuhlah kuat,
Lebih kuat daripada kegelisahan jiwa yang menggayutimu.

Tersesat (6)

Pada mulanya adalah kegelapan, begitu lelaki rempah-rempah mulai bercerita dengan suaranya yang licin serupa kulit ular mendesir, membuatku remang dalam waspada; kegelapan yang menelan semua kehidupan, katanya. Kemudian Sang Waktu datang mengunjungi negeri para Bintang dengan membawa terang yang mengusir gelap. Namu kegelapan melawan, benturan-benturan gelap melawan terang memercik ke semua arah dan melahirkan Bintang. Sang Waktu lalu membuat perjanjian antara terang dan gelap. Ia membagi hitungan waktu yang ada dengan sama rata dan membuat keduanya berkuasa di masing-masing bagian. Selain itu, Sang Waktu juga bersabda, bahwa gelap tak boleh lagi menelan kehidupan, gelap hanya menjadi waktu peristirahatan sementara terang, juga tak bisa berkuasa atas seluruh waktu karena siang yang riang terkadang sangat melelahkan. Perjanjian itu tetap berjalan hingga kini. Sementara, Bintang-Bintang yang terlahir dari peperangan antara gelap dan terang juga makin dewasa. Cahayanya makin menyilaukan dan membakar siapa saja yang terpesona pada mereka. Bintang-Bintang yang cantik harus pergi dari negeri yang telah melahirkannya.

Aku menahan nafas, ”terusir ke mana mereka?”

Lelaki rempah-rempah tersenyum, ”mereka tak terusir, mereka mendapat tempat yang lebih luas, di langit”

Namun, meskipun telah mendapatkan tempat yang luas di langit, kerinduan akan negeri kelahiran selalu ada. Para Bintang selalu kembali mengunjungi negeri kelahiran mereka dalam wujud cantik perempuan. Sepanjang masa, manusia berusaha menangkap putri-putri Bintang untuk dirinya. Beberapa berhasil mendapatkan sang putri dengan cintanya, beberapa harus merana karena kemudian sang putri menemukan jalan kembali ke langit. Hidup di dunia manusia tak mudah setelah kau mengenal kehidupan di atas sana.

”Kenapa aku tak bisa bercakap-cakap dengan para Bintang?”

”Bahasa mereka berbeda dengan kita, nenek dari nenekku menceritakan kepada kami ketika aku masih kecil, bahwa sebelumnya, Bintang berbicara seperti kita”

”Ceritakan padaku!”

Dulu, kami sama-sama berdiam di bawah langit yang indah. Saat Bintang yang terlahir di sini belum terlalu menyilaukan. Semua bahasa terlahir di sini. Kemudian, manusia bertambah banyak dan bertambah kuat, begitu juga dengan Bintang yang makin membakar. Ruang antara bumi dan langit semakin dekat. Lalu, semua penghuni dunia manusia, kecuali kawanan Bintang bersepakat untuk bangkit untuk membuat menara yang menyentuh langit dan hendak berkuasa atasnya. Sejengkal menuju langit, Sang Waktu membuat jarak langit dan bumi semakin jauh dan menyerakkan kami hingga kami tak memahami bahasa satu dengan yang lain, dan saat itulah ketika Sang Waktu menempatkan para Bintang di langit, karena mereka tak menginginkan untuk berkuasa di sana. Lagipula, mereka akan membakar seluruh dunia dengan cahayanya. Mereka memang seharusnya terlahir sebagai mahluk langit.

”Aku sudah menceritakan rahasia tentang negeriku, juga kelahiran para Bintang”

”Belum cukup, bagaimana gaharu dan cendana bisa tumbuh di negerimu?”

”Harus ada pembayaran lain untuk cerita gaharu dan cendana”

“Pembayaran selain ciuman?”

“Ya, pembayaran selain ciuman”

“Cerita tentang Pohon-Pohon?”

“Ya, cerita tentang Pohon-Pohon”

Aku mendesah, “itu cerita yang sulit. Aku sendiri masih mencari cerita mengenai Pohon-Pohon. Seorang Pengembara Mimpi yang dari waktu ke waktu menceritakan kisahnya padaku”

“Kamu boleh menceritakan padaku sebagian yang kamu tahu”

“Untuk itu aku meminta bayaran”

Lelaki rempah-rempah tertawa, ”kamu jiwa yang tersesat dalam dunia manusia”

”Demikian adanya”

bersambung

Tersesat (5)Tersesat (4)Tersesat (3)Tersesat (2)Tersesat (1)

Tersesat (5)

Waktu mulai berjalan. Langit abu-abu berubah menjadi hitam dengan taburan bintang-bintang sehingga tak membuatnya kelam.

“Aku menyukai malam, terlebih malam ini,” kata lelaki rempah-rempahku.

”Kenapa?”

”Aku selalu menyukai langit, dan langit malam tak pernah bisa ditebak, apakah berawan atau tidak. Langit malam penuh misteri”

”Kamu tak bisa mencari bintang jika langit berawan”

”Tidak selalu awan yang menutupi bintang. Terkadang, bintang-bintang memang tak ingin menampakkan dirinya”

”Mengapa?”

”Tahukah kamu kehidupan para bintang?”

Aku menggeleng, ”aku hanya mengenal pohon-pohon tempatku hidup, aku mengenal cendana, kayu manis, pala dan gaharu… sebab itu aku mengenali baumu”

Ia tertawa. Kusadari, setiap kali ia tertawa maka bau gaharu akan lebih kuat menyerangku, sementara ketika ia berkata-kata maka bau kayu manis akan mendominasi. Sementara tepat di urat nadi lehernya, di situlah paling kuat tercium bau cendana. Seperti tertarik pada bau yang memabukkan itu, aku tertarik lagi mendekat padanya, membelit lagi serupa ular pada dahan pohon kehidupan.

”Ceritakan padaku tentang kehidupan para bintang”

Ia menciumku dengan wangi daun tembakau segar, ”perlu semalaman untuk menceritakan kehidupan para bintang”

”Kita punya semalaman, aku tak punya tujuan lain malam ini selain bersamamu” bahkan, sepertinya aku rela mengubah semua tujuanku di dunia manusia untuk mengikutimu, lanjutku dalam hati.

Diam-diam, aku mengirimkan pesan pada Pohon-Pohon tempatku tinggal, kuucapkan salam perpisahan, kukatakan, mungkin aku akan mengikuti laki-laki rempah-rempah ini ke mana pun ia akan melangkah. Mungkin aku tak akan pernah kembali lagi pada kalian, lagipula Pengembara Mimpi sudah pernah mengingatkanku bahwa jalan pulang menuju hutan akan lebih sulit ditemukan ketika aku telah memutuskan untuk memasuki dunia manusia. Jadi, ya sudah… lebih baik aku tersesat bersama laki-laki rempah-rempah.

”Kamu hidup dengan pikiranmu,” laki-laki rempah-rempah menarikku kembali pada baunya, ”apa yang kamu pikirkan?”

”Pohon-pohon dan bintang-bintang”

Ia tertawa, bergemerincing seperti lonceng peri di hutan, “apa yang kamu pikirkan tentang bintang-bintang?”

”Aku melihat mereka dari pohon tempatku tinggal, berkelip-kelip jauh, aku berusaha untuk bercakap-cakap dengan mereka namun kami tak pernah bisa berkomunikasi. Aku ingin mengenal kehidupan mereka, tapi mereka terlalu jauh untuk dijangkau. Sekarang, aku bertemu kamu yang akan menceritakan tentang kehidupan para bintang, seandainya aku bisa membawamu kepada Pohon-Pohon. Ah, aku melantur…“

Ia makin terbahak, ”aku tak mengenal para bintang, leluhurku, nenek dari nenekku konon berasal dari negeri di mana bintang lahir dan bercahaya. Kami mendengar ceritanya turun temurun, tetapi aku tak mengenal para bintang“

”Kamu keturunan bintang? Ah, kamu lelaki dengan bau rempah-rempah pantas saja bercahaya seperti bintang“

”Apakah kamu mengenal kayu manis? Kamu berbicara serupa dia… bukan, aku bukan keturunan bintang. Tak semua yang berasal dari negeri para bintang terlahir seperti Matahari“

”Ceritakan padaku tentang para bintang, kita punya semalaman… bahkan sepanjang waktu hingga esok, lusa, tulat, tubin… selama yang kita perlukan”

Ia tersenyum, bau cendana menyerangku.

“Cerita tentang para bintang tak gratis, maukah kamu membayarnya dengan ciuman?”

”Dengan senang hati,” kataku, ”aku tak pernah mengenal soal bayar dan gratis, kami tak pernah harus membayar apapun di hutan, namun jika dunia manusia menginginkan ciuman sebagai pembayaran, dan kamu yang meminta… dengan senang hati”

Kami berciuman lagi, kurasakan bibirnya seperti madu dan adas. Ada manis juga getir.

bersambung

Tersesat (4)Tersesat (3)Tersesat (2)Tersesat (1)

Tersesat (4)

Waktu berhenti sesaat saat kami berbagi nafas. Aroma kayu manis dan cendana memabukkanku.

“Kamu harum kayu manis dan cendana, siapa namamu?”

“Kamu berbau segar seperti embun terkena sinar Matahari pagi, dari mana asalmu?”

“Kamu belum menjawab pertanyaanku”

“Tidak semua pertanyaan harus dijawab, kamu juga tak menjawab pertanyaanku”

Aku memandangi matanya yang gelap kecoklatan, ada selapis garis emas berkilau di tengah bola matanya. Angin menghantarkan lagi bau kayu manis dan cendana yang membuatku lupa diri.

Aku hanya ada di saat ini. Melupakan pohon-pohon, melupakan dunia manusia yang penuh tipu daya dan jebakan. Seluruh perjalanan ini, kutempuh hanya untuk membauinya, dan tersihir oleh selaput keemasan di matanya.

“Kalau kamu ingin aku menjawab pertanyaanmu, katakan padaku, siapa namamu?”

“Aku tak bernama, sebab di tempat asalku kami tak memerlukan nama untuk saling mengenali”

Ia tersenyum, giginya berbaris rapi dan berwarna serupa mutiara putih. Ia menciumku lagi, “aku juga tak memerlukan nama untuk mengenali kamu, mengenali lidah serupa beludru dan berbau embun pagi. Kita akan saling mengenali meskipun tanpa nama”

“Dari mana asalmu?”

“Aku berasal dari negeri tempat para dewa menurunkan semua semua rempah-rempah. Gaharu dan cendana tumbuh di halaman belakang rumahku, aku bermain bersama pala dan kayu manis sebelum aku bisa mengeja kata-kata”

Pantas kamu berbau kayu manis, ucapku tanpa suara. Lalu kami saling terbelit seperti benalu dan pohon, saat itu waktu berhenti lagi, senja tak bergerak, langit diam dengan warna abu-abu.

“Dari mana asalmu?”

“Tempat semua jiwa terikat pada pohon-pohon”

”Di mana itu?”

”Entahlah… jika aku tahu arah, saat ini aku tak akan tersesat di duniamu”

”Apakah kamu sedang tersesat?” ia bertanya dengan mata yang semakin keemasan.

Dalam sekejab, aku berada di pusaran badai, beku. Aku melupakan semua yang harus kuingat. Juga secara ceroboh membuka diriku pada manusia yang baru saja kutemui, kusingkapkan segala rahasia jiwa yang kuketahui di dalam hutan. Semua mantra, semua doa yang harus dirapal agar jiwa selamat dari himpitan batu abu-abu dunia manusia. Ia menelannya dengan rakus, lalu membagi nafas rempah-rempahnya denganku.

”Aku menyukai bau rempah-rempah,” kataku, ”bau kehidupan”

”Kamu boleh memilikinya, aku akan memberikannya secara sukarela padamu. Aku juga menyukai baumu yang segar seperti embun. Kulitmu halus, apakah semua jiwa mempunyai kulit sehalus kulitmu? Badanmu juga menyimpan kehangatan matahari pagi, jangan pernah beranjak siang, tetaplah pagi dalam pelukanku”

”Kamu pandai berkata-kata”

”Kayu manis mengajarkan rahasia puisi padaku”

Kami tak bisa memisahkan diri. Aku tak mau memisahkan diri. Aku rela tersesat bersamanya. Bahkan mungkin kurasa aku sedang tidak tersesat. Aku telah menemukan tujuanku, manusia laki-laki dengan aroma cendana.

(bersambung)

Tersesat (3)

Tersesat (2)

Tersesat (1)

Tersesat (3)

Pertemuanku pertama dengan manusia di pusat dunia manusia memberiku ribuan pengertian lain yang menyerang kepalaku seperti kilat. Aku melihatnya, sama sepertiku dalam bentuk lain. Ia tak mengenali jiwa pengembara, ia menyapaku dengan bersahabat, dan kemudian kami melanjutkan perjalanan bersama. Ia menertawakan kecanggunganku hidup di dunia manusia, menurutnya aku seperti baru saja hidup, seolah-olah tiba-tiba saja dilemparkan ke dunia ini. Ya, betul… aku memang baru saja melemparkan diriku ke dunia manusia.

Ia, manusia yang baru kukenal ini, terutama menertawakan kebingunganku akan waktu. Berbagai pengertian memang telah ditanamkan begitu saja di otakku, meskipun demikian ada banyak hal yang kumengerti namun sekaligus tak kumengerti. Seperti halnya, waktu. Di hutan, aku selalu protes kepada Sang Waktu yang semena-mena merubah hitungannya, namun kami tak pernah kehabisan waktu sebab hitungan kami pasti. Di dunia manusia, hitungan waktu tak pasti. Tulat, lusa, esok… hanyalah kata-kata kosong penuh janji, sama seperti petikan ‘bahagia untuk selama-lamanya’. Angka-angka di jam tangan manusia hanya seperti janji manis supaya manusia merasa mempunyai hidup yang lebih beradab karena bisa berhitung. Manusia kenalanku tertawa mendengar gerutuanku. Lalu ia menanyakan namaku, aku terdiam. Nama? Haruskah kami semua bernama?

“Bagaimana mungkin kamu tidak tahu namamu? Semua orang punya nama. Nama adalah sejarah seorang manusia. Aku laki-laki, dan aku mempunyai nama laki-laki yang menandai aku laki-laki meskipun manusia lain belum bertemu denganku. Dan setiap aku berkenalan, aku akan menyebutkan namaku supaya orang mengenaliku.”

Kami tak pernah punya nama. Setiap jiwa mengenali jiwa lainnya, hanya pohon yang punya nama, tetapi pohon-pohon tak pernah menyebutkan namanya namun kami tetap mengenali satu dengan yang lainnya.

”Di tempat asalku, kami tak perlu nama untuk saling mengenali”

”Lalu bagaimana kamu memanggil satu dengan yang lainnya”

Aku mengedikkan bahu, satu lagi yang kupelajari di dunia manusia, bahwa tubuh juga digunakan untuk berkomunikasi. Kedikan di bahu, berarti jawaban yang akan kuberikan sebenarnya tak terlalu penting karena aku tak yakin akan jawabanku, bisa juga berarti, aku tak tahu bagaimana mengatakan jawabanku, ”kami tahu jika dipanggil, kami tahu bagaimana cara memanggil tanpa nama. Tahu begitu saja”

”Wow! Jika kalian jatuh cinta pada seseorang, bagaimana membedakannya? Maksudku, kemudian kalian ingin menikah harus ada surat-surat yang diurus, bagaimana membubuhkan nama pada sebuah surat?”

Aku mulai bingung lagi, ”mengapa harus ada surat?”

Manusia laki-laki yang mempunyai nama seorang laki-laki memandangiku dengan tanda tanya besar di matanya. Dan aku mencoba berbicara padanya tanpa kata-kata. Di tempat asalku, kami jatuh cinta begitu saja, tak perlu nama, tak perlu asal-usul karena kami semua berasal dari hutan, cinta hanya cinta. Kami telah ditentukan akan jatuh cinta pada siapa karena masing-masing kami telah terikat pada Pohon Cinta, takdir kami bersambung meski kami belum menemukan satu dengan yang lainnya. Saat menemukannya, dia yang seharusnya kami mencintai, kami akan jatuh cinta begitu saja.

”Oh,” katanya, seolah mengerti apa yang baru saja kukatakan tanpa bahasa manusia, ”kita berasal dari dua dunia yang berbeda, aku mengerti”

Ia mengenaliku sekarang.

Di sebuah persimpangan, kami kemudian berpisah. Ia menjabat tanganku dengan hangat, ”begini cara berkenalan, begini pula kita melepaskan seseorang. Dengan jabatan tangan”

Aku tersenyum, ”ya, akan kuingat”

”Berhati-hatilah, semoga kamu menemukan apa yang kamu cari… dan carilah nama untuk dirimu”

Perjalananku selanjutnya memasuki pusat dunia manusia semakin cepat dan memusingkan, sebab setiap kali aku bertemu manusia baru, ada ribuan pengertian yang tiba-tiba saja dipaksakan masuk ke dalam memoriku. Aku berjalan dengan limbung dan agak kehilangan arah karena mabuk oleh ribuan pengertian baru. Dan saat itulah aku tersesat.

IMG_0599

Tanpa sadar, aku memasuki tebing batu abu-abu yang memunggungi laut. Ada bau asin yang mendominasi udara, dan matahari menyeruak lemah dari langit yang juga abu-abu. Lalu aku melihat sebatang pohon yang lelah, kusapa ia, tapi pohon tak menjawabku. Ah. Sedih karena kerinduanku akan hutan yang hijau dan berbau embun, aku duduk di sebuah batu di bawah pohon yang lelah itu. Saat itulah, aku melihatnya. Seorang manusia laki-laki, ia tersenyum padaku. Aku membalas senyumnya, ia kemudian mendekatiku. Semakin dekat ia, semakin kuat baunya menyerangku. Dan tiba-tiba saja aku seperti tersambar kilat, saat kuhirup udara asin bercampur baunya. Ia berbau seperti kayu manis dan cendana, ada selapis madu juga asam lemon menguar dari kulitnya yang coklat. Aku seperti kembali ke kolam kecil di hutan. Kolam itu dikelilingi oleh pohon cendana, juga gaharu. Ketika malam tiba, air memberi udara harum kehidupan ikan yang bercampur dengan cendana. Laki-laki ini memberiku bau yang mengingatkanku pada kolam kecil di hutan.

Aku menghirup baunya dengan rakus, meskipun tak mengenal namanya, aku sudah mengenali baunya dan tersihir olehnya. Lalu aku melihatnya, ke matanya dengan bola mata coklat yang jernih dan berkliau lembut, lalu lagi-lagi aku seperti dilemparkan kembali ke hutan saat menari bersama kunang-kunang. Ia lalu duduk di batu di dekatku, ”senang berjumpa mahluk hidup lainnya di tebing ini”

Suaranya tak seperti yang kuharapkan, tak ada kelembutan dan itu membuatku waspada, namun sesaat kemudian kewaspadaanku lenyap ketika ia mengulurkan tangan, kami berjabat tangan. Salam di dunia manusia.

Seperti baru melihat tubuh manusia, aku takjub pada tangannya. Tak kulepaskan dengan segera, kulupakan semua aturan dunia manusia. Dengan rasa penasaran kuamati tangannya dengan tulang panjang terbungkus kulit coklat matang dan ditumbuhi rambut-rambut bulu.

Lalu kami saling menatap dan seperti ada magnet yang menggerakkan, kami kemudian saling mendekat dan berciuman.

(Bersambung)

Tersesat 2

Tersesat 1

Tersesat (2)

Mabuk oleh kegembiraan aku setengah berlari menyeberangi padang berumput menuju bebatuan abu-abu di seberang. Aku memasuki dunia manusia. Tak kuhiraukan berbagai rasa tajam yang menusuk kulit, semua rasa itu seolah berlomba-lomba menanamkan dirinya ke dalam memoriku.

Desa pertama yang kumasuki begitu sepi. Batu abu-abu membisu tak menjawab ketika aku bertanya, mengapa desa ini begitu hening. Aku harus membiasakan diri hanya bertanya pada manusia. Di hutan, kami bisa berbicara kepada siapa saja. Bebatuan yang hijau ditumbuhi lumut, akan menjawabmu tanpa kata-kata mengenai siapa saja yang baru saja mampir dan singgah melepas penat di atasnya. Tanpa kata-kata, tanpa aksara, itulah cara kami bercakap-cakap di hutan.

Di dunia manusia, semua berbeda. Kami harus berbicara dengan bahasa. Pengertian baru ini begitu saja ditiupkan di kepalaku, aku langsung memahami bahwa aku harus berkata-kata agar manusia mengerti aku.

Tetapi, desa pertama yang kumasuki demikian sepi. Kepada siapa harus kugemakan kata-kataku?

Senja hampir turun, langit sore abu-abu kemerahan. Aku menghirup udara yang beraroma kelelahan. Betul kata Pengembara Mimpi, dunia manusia melelahkan. Semua rasa tajam dan pedih. Namun aku menikmatinya. Aku merasa lebih hidup dibandingkan saat aku berada di hutan. Aku harus berjalan dan merasakan lelah pada kakiku saat menapaki tanah keras. Di hutan, aku bisa mengayun kakiku dengan ringan, dan melangkah seperti terbang, kadang kami betul-betul bisa terbang. Saat jiwa kami sedang sangat berbahagia, atau kami sedang mengembang karena cinta, cukup dengan menutup mata membayangkan tempat mana pun di hutan yang akan kami tuju, lalu ayunkan kaki dengan ringan… kami akan langsung sampai di tujuan. Dunia manusia berbeda. Aku harus berhenti sejenak, betisku mulai terasa pegal. Aku menyentuh tubuhku yang baru dan berdenyut lelah. Pengertian baru lainnya ditanamkan di kepalaku, tiba-tiba saja aku merasa aku harus mencari tempat untuk beristirahat. Dan seperti mendengar kebutuhan yang kugemakan di kepala, mataku melihat sebuah bangunan dari batu tentunya, berdiri kokoh di sebelah kiriku. Pintunya terbuka, aku segera melangkah masuk dan menyesuaikan mataku dengan kegelapan ruangan. Kubuka suara menyapa, ”halo… permisi…” aku sedikit terkejut mendengar suaraku, tidak terlalu berat seperti yang kubayangkan, namun juga tak senyaring yang kuinginkan. Sebuah pengertian menyelinap di kepala, suara perempuan yang tak merdu.

Aku meresapi pengalaman baru ini, mendengar suaraku dan mengingat dentingan nadanya. Selama ini, suaraku hanya terdengar di kepala, belum pernah beradu dengan angin.

Bangunan itu kosong. Aku berkeliling ke setiap sudut dan hanya menemukan laba-laba yang merajut kerajaannya. Kusapa dia, kami pasti pernah bertemu di hutan, tapi laba-laba betina itu tak menjawabku, hanya giginya yang berkeletuk menunggu mangsa terjebak jaringnya. Aku sedikit kecewa oleh ketidak acuhan si laba-laba, kami biasa bercakap-cakap tentang merajut jaring kehidupan di hutan, namun sekarang ia tak mengenalku. Tapi sedetik kemudian aku tersenyum oleh pengertian baru yang tiba-tiba ditanamkan di kepalaku, ini dunia manusia… kami hanya perlu bertahan hidup tak perlu lagi sibuk bercakap-cakap dengan jiwa lain. Inilah dunia manusia, hanya untuk bertahan hidup.

Hari-hari pertamaku di dunia manusia, begitu membekas. Ribuan memori baru ditanamkan di kepala. Aku tak bertemu manusia lain atau jiwa pengembara lain hingga bulan berikutnya, setelah aku makin menjauhi perbatasan dunia manusia dan hutan. Makin menuju pusat dunia manusia, batu-batu abu-abu semakin menghimpit, dan baru kutahu, bahwa batu-batu memberati mimpiku tiap malam.

Pengembara Mimpi menemuiku sesaat sebelum aku masuk ke pusat dunia manusia. Ia menyapaku saat senja tiba, di luar kebiasaannya mampir sesaat sebelum pagi.

“Mengapa datang senja?”

“Di dunia manusia, senja adalah perubahan, setiap jiwa yang masih rapuh perlu ditemani agar iblis dan setan tak mencengkeramnya”

“Apakah menurutmu aku rapuh?”

“Tidak, aku kebetulan melewatimu… jadi kupikir, aku menyapamu sekalian. Bagaimana hari-harimu di dunia manusia?”

“Hidup. Aku merasa lelah, namun pada saat yang sama merasa bersemangat karena aku merasakan hidup”

“Tidakkah kau rindu hutan?”

“Sangat rindu, tak kurasa lelah yang berdenyut-denyut di hutan. Aku juga rindu hari tanpa hitungan hari. Hanya daun-daun yang selalu menandai musim. Tapi toh aku masih bisa mengunjungi hutan dalam mimpi. Hanya saja, aku tak ringan lagi”

”Karena kau berada di dunia manusia?”

“Maksudmu?”

“Batu abu-abu akan selalu memberati langkahmu”

“Mengapa begitu?”

“Dunia manusia penuh kesulitan dan kesukaran, batu abu-abu menjadi saksi airmata serta darah yang dikorbankan oleh manusia untuk bertahan hidup. Manusia lupa, tetapi batu-batu tidak, mereka merekam semua sejarah manusia dan menyimpannya dari satu generasi manusia ke generasi berikutnya. Ingatan batu-batu lah yang memberatimu”

“Ah… bisakah kau menghilangkan ingatan batu-batu?”

“Tidak, sejarah akan selalu diingat dan aku tak bisa menghapusnya.”

“Lalu bagaimana supaya aku tetap ringan saat aku mengunjungi hutan di malam hari?”

“Terus berjalan. Terus hidup dan bergerak”

Lalu seperti kedatangannya yang tiba-tiba, Pengembara Mimpi pergi tanpa mengucapkan salam perpisahan.

Terus hidup dan bergerak, hanya itu yang menjadi peganganku saat ini. Aku berjalan makin mendekati pusat dunia manusia, di mana batu abu-abu menghimpit setiap ruang dan menyisakan hanya sedikit udara untuk kuhirup.

Bagian Pertama – (bersambung)

Tersesat (1)

Pada suatu masa, aku pernah tersesat di dunia manusia, yang dipenuhi dengan batu abu-abu di setiap sudutnya, suasana menjadi lebih monokrom karena langit pun juga abu-abu. Namun, jika cuaca sedang bersahabat, matahari akan bekerja sama dengan baik dengan rintik hujan menghiasi langit abu-abu dengan semburat pelangi yang akan terpantul juga di seluruh permukaan batu abu-abu. Indah. Continue reading “Tersesat (1)”

Apa Ini?

Apa ini, rasa nyeri yang berjalan di ulu hati? Mengiris jantung dan hati tiap kali kau mengambil nafas, sementara untuk tetap bertahan dalam hidup, kau perlu sebanyak-banyaknya bernafas.

Bukan, ini bukan kesedihan. Aku mengenal dengan baik sedih yang membekukan tulang, menekan semua udara di kepalamu hingga telinga terasa pengang.

Bukan, ini bukan rindu yang menari-nari di lubang hati, memberikan nyeri yang geli. Rindu yang ingin membuatmu menyimpan sebanyak mungkin udara di dalam dada supaya kamu bisa terbang ke langit dan bertemu kekasihmu di langit asmara.

Bukan, ini juga bukan cinta yang membuatmu menarik senyuman di bibir hanya dengan mengingat kenangan tentang sang kekasih. Aku rasanya tak akan salah mengenali cinta dan menukarnya dengan rasa nyeri di ulu hati.

Ini bukan pula kemarahan yang ingin kuledakan di kepala; tak ada bau mesiu di rasa nyeri ini. Yang ada hanya nyeri yang merambat, berjalan dengan pongah di ulu hati, mengiris jantung dan hati tiap kali kau mengambil nafas. Meninggalkan rasa karat di lidah dan membuatmu tak nikmat makan. Memutar semua kenangan yang menyenangkan maupun yang tidak, juga memutar harapan dan imajinasi tentang masa depan, masa seandainya.

Jika saja Pengembara Mimpi mau mampir pagi ini, mungkin aku bisa bertanya kepadanya mengenai nyeri yang satu ini. Karena tak kutemukan memori sakit yang sama di sepanjang ingatanku. Pohon-pohon tempatku tinggal tak memberikan jawaban, mereka tetap saja diam dengan keangkuhan, melanjutkan hidup dan tugasnya. Daun-daun tetap bergemerisik riuh, genit menyambut sinar Matahari, bercinta dalam cahaya dan melanjutkan hidup. Tapi Pengembara Mimpi tak mampir pagi ini. Aku menggigil sendiri dalam sunyi, menahan nyeri.

Apa ini, rasa nyeri yang berjalan di ulu hati? Membuat matamu memerah oleh darah, membuatmu melihat langit selalu berwarna abu-abu.

Sesaat aku berpikir ini adalah kematian. Maut yang telah mengintai seumur hidupmu, akhirnya menemukan caranya untuk membuatmu menyerah pada gelap tanpa cahaya yang penuh nyeri. Tetapi kemudian aku ingat, bagi kaumku, kematian akan datang seperti cahaya yang membutakan. Kematian akan datang saat pagi, dengan aroma embun yang menempel pada dedaunan… terlebih bagiku, kematian akan datang dan memutar kenangan dengan bau seperti nasi yang sedang ditanak, harum membikin lapar. Kematian seharusnya menyenangkan dan lebih mudah daripada hidup dengan nyeri.

Aku mulai lagi memindai semua rasa yang pernah kukenal dan kusimpan dalam ingatan, satu persatu kubuka dan kubaui, juga sedikit kurasakan. Makin kucari, makin tak kutemukan dan makin kurasakan nyeri yang merambat makin cepat dan mencengkeram ulu hati lebih kuat. Nafasku semakin sesak dan semakin berdarah. Di mana Pengembara Mimpi? Di mana kekasih yang seharusnya menolongku karena kami telah sama-sama terikat pada Pohon Cinta sejak masa ribuan tahun yang lalu?

Betulkan ini kematian? Jikalau pun ini adalah mati, aku tak mau menyerah pada kematian yang nyeri, tidak. Aku hanya akan menyerah pada kematian yang hangat dan menyenangkan.

Ah, apa ini rasa nyeri yang berjalan di ulu hati?

Menelan Rindu

Bisakah kita menelan rindu dan kemudian melupakannya? Seperti menelan obat pahit, rasa yang ingin kau lupakan. Rasa pahit yang membuatmu ingin segera lupa pada demam asmara yang membuat panas dingin. Makan tak enak, tidur tak nyenyak… dalam mimpi pun merasakan sakit yang sama.

Bisakah kita menelan rindu seperti menelan obat pahit yang membuat sakit segera pergi meninggalkan raga?

Aku tak bisa menelan rindu. Ia telah menelanku dalam kegelapan yang dingin. Membuatku sesak karena tak melihat cahaya. Membuatku terhimpit dalam sepi yang riuh. Rindu telah menelanku dengan rakus.

Dulu, rindu memberi inspirasi. Membuat semua rasa menjadi lebih tajam dan jelas. Menjadi magnet bagi kata-kata, juga cinta. Dulu, rindu tak berbahaya. Tetapi rupanya, memelihara rindu seperti memelihara monster, yang punya bentuk menyenangkan juga lucu ketika sedang kanak-kanak, tapi akan memangsamu dengan kejam ketika ia bertambah besar. Dan kau membiarkannya menguasaimu karena kau menyukainya. Ya, aku terlanjur suka pada rindu, yang telah membuat semua rasa menjadi lebih tajam. Tapi, aku tak bisa mengendalikan monsterku.

Aku tak bisa menelan rindu, meskipun ingin menelannya seperti obat pahit yang menyembuhkan semua demam asmara ini.

Membiasakan Cinta

“Cinta adalah kebiasaan” Pengembara Mimpi mengejutkanku, tiba-tiba saja ia datang ketika aku sudah tak mengharapkan kedatangannya. Sudah lama aku berusaha menekan keingintahuanku akan Pohon-Pohon.
Cinta adalah kebiasaan, ulangnya sekali lagi, sebab Pohon Cinta dirawat oleh rutinitas kalian, para kekasih yang tak memiliki kesabaran. Yang selalu tergesa-gesa seolah Waktu tak mau menanti kalian.
“Waktu memang tak pernah memberi kami cukup waktu, siang berkejaran dengan malam, sesaat aku berada pagi dan tiba-tiba saja aku berdiri di ujung senja, menanti rindu yang bergemerisik ditiup angin malam”
Dan bagaimana rutinitas kami merawat Pohon Cinta? Tanyaku pada Sang Pengembara Mimpi; dan katamu… kami sepasang kekasih telah terikat pada Pohon Cinta sejak masa sebelum Pohon-Pohon
Ya, kalian telah terikat, kalian telah bertaut. Dan kalian punya pilihan untuk merawatnya atau memutuskan ikatannya. Rutinitas kalian, seperti saat kalian mengasah pisau, akan menajamkannya jika terus-menerus digosok dan akan tumpul jika kalian membiarkannya.
Merindukannya, seperti merawat harapan. Memupuk kenangan agar cinta tetap hidup, tetap terikat.
“Jadi, aku tetap harus merindukannya? Kekasihku itu?”
“Keputusanmu. Cinta adalah kebiasaan… cinta tidak datang begitu saja. Dalam bahasa yang lebih tua daripada bahasa bangsamu, jatuh cinta disebut pyar ho gaya, yang diartikan, cinta akan terwujud”
Kalian telah terikat tetapi kalian bisa memutuskannya jika tak mewujudkan cinta.
“Kurasa, aku memahami kata-katamu yang berbelit-belit”
Pengembara Mimpi tertawa, “kalau begitu aku akan meninggalkanmu di sini… untuk saat ini”
“Tapi kau belum bercerita soal Pohon-Pohon”
“Akan tiba masanya, sampai jumpa”
Lalu ia pergi begitu saja, dengan tiba-tiba seperti kedatangannya. Kurasa, aku mulai terbiasa menunggu Sang Pengembara Mimpi.

Gemerisik Cinta

Jika cinta pada pandangan pertama itu ada, maka pohon itulah cinta pada pandangan pertamaku. Dari semua pohon; dari semua mahluk hidup baik yang hanya memiliki akal atau pun yang hanya memiliki pikir, atau keduanya, cinta pertamaku pada sebatang pohon.

Dengan tubuhnya yang kokoh menjulang ke langit. Dahan yang ramping namun kuat, menjadi pijakan daun-daun yang rimbun. Dan akar yang menghujam ke pusat bumi, menemukan mata air untuk menghidupi dirinya. Menyerap semua mineral tanah. Menangkap sinar matahari dan dengan adil membagi kehidupannya pada setiap inci bagian tubuhnya. Pohon, cinta pertamaku.

Kekasihku terbahak-bahak ketika kukatakan aku jatuh cinta pada pohon di halaman rumahnya. Bisakah pohon membalas cintamu, sayang? Begitu katanya mengejekku.

Cinta kadang tak perlu berbalas, kujawab ia, cinta tanpa pamrih.

Itu hanya teori, cinta adalah komunikasi, ia harus bereaksi terhadapmu, ya atau tidak. Ia tak boleh diam, tak boleh tak berbalas.

Jika kau mencintai manusia, cinta tanpa pamrih adalah teori. Jika kau mencintai hewan, kau mengharap pamrih, mengharap ia mengerti cintamu, meski tak kau harapkan balasan. Jika kau mencintai pohon, kau pasrah. Pohon akan selalu pasif. Ia tak berbahasa, tak bisa berkomunikasi. Cinta yang pasrah. Cinta yang hanya cinta.

Lama-lama aku jadi cemburu, akankah kau kawin dengan si pohon?

Cinta yang hanya cinta, tak boleh kau cemburui. Dan soal kawin, kenapa jika cinta selalu berujung pada kawin?

Kau selalu bertanya.

Dan kau yang membuatku bertanya.

Siapa kau?

Dan siapa aku?

Kita bercakap-cakap pada angin, yang menangkap semua kata-kata kita lalu menyembunyikannya di balik rimbun dedaunan. Itu sebabnya, ketika malam tiba, saat kegelapan dikembalikan kepada manusia, daun-daun riuh bergemerisik mengolah semua perdebatan kekasih-kekasih menjadi oksigen di pagi hari. Itu sebabnya, aku mencintai pohon, terlebih pohon di halaman rumahmu.

Aku tak pernah mengerti.

Cinta tak perlu dimengerti.

Bukan hanya soal cinta, aku tak pernah mengerti semua kata-katamu, semua ceritamu.

Kata-kata tidak pernah memiliki pengertiannya sendiri, mereka hanyalah bunyi-bunyian yang memanggil makna yang tersimpan jauh di dalam kalbumu.

Kita tak perlu berpikir untuk mengerti.

Ya, kita tak perlu berpikir untuk mengerti.

Dan kau tetap jatuh cinta pada sebatang pohon.

Ya, sebatang pohon yang selalu ada di halaman rumahmu. Sebatang pohon yang selalu akan tetap di situ tak perduli ke mana pun aku telah berkelana, ia tetap kokoh berdiri di halaman rumahmu dengan tubuhnya yang menjulang ke langit dan akarnya yang kokoh mencengkeram bumi. Cintaku akan selalu aman bersamanya.

Pengembara Mimpi, segeralah datang jika tidak aku harus membunuh semua cinta untuk pohon-pohon dan menjadikannya abu.

Sebelum Masa Pohon-Pohon

Pagi menjelang,meskipun berharap namun aku juga tak ingin berharap. Aku sudah menunggu Sang Pengembara Mimpi mampir sejak dua musim yang lalu. Pohon Cinta telah meranggas, menanggalkan daunnya yang bersemi dua musim yang lalu. Udara dipenuhi harum aroma asmara yang tertiup angin yang gelisah. Daun-daun yang pernah bergemerisik rndu dengan riuh telah melayang gugur. Mati untuk memberi kehidupan pada tanah.

Ada harapan pada kematian.

Dan saat memahaminya, tiba-tiba saja Sang Pengembara Mimpi menyapaku, “kamu pasti merindukanku, tak sabar menagih janjiku untuk bercerita soal pohon-pohon”

Aku terlonjak senang, tapi tentu saja tak kutunjukkan, “untuk apa aku merindukanmu? Aku sudah menunggumu terlalu lama, hingga hilang rasa rinduku”

“Dua musim, dan kamu menghitungnya. Satu per satu kelopak daun yang gugur pun kau hitung, melengkapi hitungan harimu”

Aku menyembunyikan malu; tentu saja ia tahu, ia Sang Pengembara Mimpi yang menjelajahi dunia penuh kabut tepat sesaat sebelum pagi.

“Aku tahu kamu menungguku, untuk bercerita mengenai pohon-pohon, namun sayangnya, aku tak bisa menceritakannya sekarang”

“Lalu untuk apa kamu datang menemuiku”

“Aku mampir untuk bercerita sebelum masa pohon-pohon”

“Adakah masa itu?”

“Ribuan tahun yang lalu, saat Sang Waktu berputar tanpa henti mengelilingi bumi yang kacau balau”

“Aku belum lahir, orang tuaku juga belum lahir… Apakah masa saat Adam dan Hawa pertama kali terbuang karena dosa?”

“Hitungan dimulai sejak sebelum masa itu. Tahukah kamu bahwa pohon-pohon bahkan lebih tua daripada Adam dan Hawa?”

Ribuan tahun yang lalu, saat semua mahluk hidup hanya ada dalam kegelapan, belum ada pohon yang menjadi pegangan. Belum ada Pohon Cinta yang memberi harapan, Pohon Rindu yang memberi kasih juga pasrah, Pohon Uang yang menjadikan segalanya tumbuh lebih cepat. Kunang – kunang belum bersinar cerah, mereka bersembunyi di balik kabut.

Apa yang terjadi, tanyaku, bagaimana kamu bisa tahu?

Aku berada di sana, bersama Sang Waktu. Mengurai cinta yang berbelit. Cinta yang mengikatmu dengan kekasihmu.

Aku terlonjak, “kami sudah saling mencintai sejak masa itu?” Sulit kupercaya, “bagaimana mungkin? Kami belum bertemu! Kami bahkan belum lahir!”

Sang Pengembara Mimpi tersenyum, “kalian tak perlu bertemu untuk saling jatuh cinta, cinta itu telah mengikat kalian dan membuat kalian menemukan satu dengan yang lain”

Aku masih tak mengerti.

“Untuk melilitkan cinta, Sang Waktu meniupkan sabdaNya dan pertama-tama menumbuhkan Pohon Cinta yang penuh harapan, supaya cinta yang telah mengikat para kekasih tak berbelit satu dengan yang lainnya, supaya kalian para kekasih akan bertemu pada saatnya. Cinta para kekasih yang membara membuat Pohon Cinta terluka, kalian para kekasih, memang tak pernah sabar, terlalu kuat mencengkeram.” Sang Pengembara Mimpi tertawa kecil, lalu katanya lagi, “tapi dari situlah Pohon Cinta mengeluarkan harapannya… Pohon Cinta tahu betapa para kekasih yang terikat cinta akan tersiksa saat belum saling menemukan”

Ah.

“Ya, kini kamu tahu, betapa berharganya Pohon Cinta, harapan yang diberikannya pada kalian… Itu sebabnya kalian perlu Pohon Cinta untuk hidup

“Supaya kami saling menemukan, cinta yang mengikat”

“Ya, cinta yang telah mengikat sejak ribuan tahun yang lalu”

“Apakah akan tetap mengikat kami hingga ribuan tahun mendatang”

“Aku tak bisa mengatakannya, tetapi Pohon Cinta akan selalu ada”

Aku tak bisa menyembunyikan rasa senangku, “jadi ketika kami bertemu, aku dan kekasihku, kami akan terikat selamanya karena kami telah terikat sejak sebelum masa pohon-pohon! Aku tak akan kehilangan dia lagi”

Pengembara Mimpi memandangku dengan senyum, “aku harus pergi.”

“Tapi ceritamu soal pohon-pohon belum selesai”

“Aku akan datang lagi”

“Kapan”

“Ketika saatnya nanti, cantik”

“Kapan itu?”

“Ia tersenyum, “bertahanlah pada harapan.”

(Pohon-Pohon)

Akibat terlalu banyak ngedengerin lagu A Thousand Years – Christina Perri 😆

Bunga Rindu

Pada masanya, rindu yang berbunga akan menjadi buah alpa, sayang.

Kini daun pada pohon cintaku telah meranggas, ia bisa saja mati atau bertahan hidup. Kalau ia mati, maka tak akan tiba masa rindu yang berbunga.

Tapi kalau ia bertahan hingga musim mendatang, ia akan lebat oleh bunga rindu.

Dan saat itulah sayang, kamu harus segera pulang, memanen bunga rindu sesaat sebelum ia berubah menjadi buah alpa.

Kemudian awetkan bunga rindu dalam ribuan pigura kaca untuk penghias hatimu. Kupastikan, mereka akan nampak luar biasa indah.

Kamu harus pulang pada masa yang tepat sayang. Pastikan itu. Sebab jika bunga rindu telah berubah menjadi buah alpa, kamu menjadi tak berarti lagi, sayang.

Yang lebih buruk sayang, pada masa itulah, waktu bukan lagi pupuk terbaik untuk pohon cintaku, ia berubah menjadi hama yang menggerogoti akarnya. Ia akan mati dengan lebih sengsara daripada mati karena tak bisa melewati musim dingin.

Atur waktumu sayang, lalu segeralah pulang, sebab pohon ini menunggumu.

Pohon-Pohon