Terus Terbang ver. 2.0

fullsizerender_zpsipuj1c7a

Kupu-kupu Biru terbang melintasi nebula ungu dan awan kelabu hingga tiba di tepi hutan kebijaksanaan. Bunga-bunga gemulai berjajar berjaga di tepi hutan, Kupu-Kupu Biru bertanya, “ooo Bunga, mengapa kalian yang menjadi penjaga? Tidakkah hutan yang agung memiliki tanaman lain yang lebih perkasa untuk menjaganya?” Continue reading “Terus Terbang ver. 2.0”

Peri Hutan

Pernahkah kuceritakan kepadamu mengenai kolam di Hutan? Kolam tempat Lotus, Lily dan seribu bunga lain tumbuh? Kolam tempat kami para jiwa, bergelayut terikat pada pohon kami masing-masing. Saat malam hari, kami akan memandangi air kolam yang seperti cermin memantulkan langit penuh bintang. Saat siang tiba, udara dingin naik dari permukaan kolam, menyejukan jiwa yang terikat makin erat pada pohon-pohon kami. Continue reading “Peri Hutan”

Terus Terbang

image

Kupu-kupu Biru terbang melintasi nebula ungu dan awan kelabu hingga tiba di tepi hutan kebijaksanaan. Bunga-bunga gemulai berjajar berjaga di tepi hutan, Kupu-kupu Biru bertanya, “ooo Bunga, mengapa kalian yang menjadi penjaga? Tidakkah hutan yang agung memiliki tanaman lain yang lebih perkasa untuk menjaganya?”

image

Bunga-bunga gemulai bernyanyi, “ooo Kupu-kupu, keperkasaan tak selalu berarti mampu menjadi penjaga dan kami yang kau kira lemah tak mampu menjaga. Kami bisa membuatmu mati dalam sedetik jika kami berikan racun padamu, bukan sari untuk penghilang dahagamu. Ooo Kupu-kupu… teruslah terbang ke dalam hutan dan temukan kebijaksanaan.”

image

Kupu-kupu terus terbang dan bertemu Harimau lapar yang menyeramkan, diam dalam ketekunan, “ooo Harimau sang raja, apakah kau sedang diam mengintai mangsamu?”
Harimau menggeram, dan berkata, “aku sedang menunggu mati. Untuk apa aku sabar mengintai mangsaku dan lelah memburunya jika pada akhirnya kita semua memang akan mati? Ooo Kupu-kupu… teruslah terbang ke dalam hutan dan temukan kebijaksanaan.”

image

Dengan tergesa, Kupu-kupu terbang menjauh, terus masuk ke dalam hutan dan bertemu Koi yang berenang dengan riang di dalam kolam lotus, “ooo Koi yang cantik, tidakkah kau bosan melenggak-lenggok sepanjang hari di dalam kolam? Apakah kau tidak ingin berenang di samudera dan melihat dunia?”
Koi terkikik genit dan menyelinap lincah di antara bunga lotus, lalunmenjawabnya, “untuk apa aku ingin melihat dunia jika yang kucari semua telah berada di sini? Dan bagaimana aku bisa bosan jika aku berbahagia? Ooo Kupu-kupu… teruslah terbang ke dalam hutan dan temukan kebijaksanaan.”

image

Kupu-kupu meninggalkan Koi, terbang makin jauh dan di sudut hutan yang lain, ia bertemu Merak perkasa yang kecantikannya menyilaukan, hingga membuat sayap Kupu-kupu ikut berwarna dengan gemilang, “ooo Merak yang anggun, bagaimana mungkin kejantanan bisa begitu cantik? Apakah kau tak keliru lahir?”
Merak memalingkan kepalanya dengan anggun, “tidakkah kecantikan adalah keperkasaan? Dan untuk apa harus menjadi benar atau salah jika benar dan salah tak selamanya benar dan salah? Ooo Kupu-kupu… teruslah terbang ke dalam hutan dan temukan kebijaksanaan.”
Merak kemudian mengibaskan ekornya dengan anggun dan cahaya yang membuat sayap Kupu-kupu gemilang pun sirna.

image

Kupu-kupu terus terbang, makin jauh ke dalam hutan yang makin pekat. Lalu tiba-tiba saja ia tiba di padang bunga-bunga, dan bertemu sesamanya, Kupu-kupu. Dengan girang ia mengepakkan sayapnya mendekat pada mereka yang terbang menuju pelangi, mengatasi awan-awan, “ooo Kupu-kupu yang berwarna-warni… di manakah akan kutemukan kebijaksanaan? Sudahkah kalian menemukannya?”
Sayap kupu-kupu berkelepak dengan riuh, “oh… kami bertemu kebijaksanaan sepanjang waktu, dalam setiap pertanyaan, bahkan yang tak memiliki jawaban. Juga saat kami berhenti bertanya. Ooo Kupu-kupu… teruslah terbang, setiap kepak sayapmu adalah kebijaksanaan, saat berhenti pun kau akan menemukannya, dengarkan saja hembusan angin. Ooo Kupu-kupu… teruslah terbang.”
Dan Kupu-kupu Biru terus terbang.

Tersesat (9)

Qahwa memberikan kenikmatan lebih banyak pada ciuman.

Konon di negeri tempat qahwa pertama ditemukan, seorang kekasih akan mengambil resiko untuk mati dengan menyelipkan beberapa biji qahwa ke tangan orang yang dicintainya, Lelaki Kayu Manis memulai ceritanya. Itu yang terjadi pada buyut nenek dari nenekku. Ia jatuh cinta pada seorang pengembara dari negeri tua tempat semua aksara berasal, di mana bahasa menemukan pasangannya. Buyut nenek dari nenekku dengan berani menyelipkan beberapa biji qahwa ke dalam genggaman sang pengembara yang kuat dan halus. Itu adalah janji akan penyerahan hidup total yang tak bisa terpatahkan, katanya, aku akan mengikutimu ke negerimu, menyembah Tuhanmu, menggarap ladangmu, dan akan dengan sukarela mendengarkanmu membaca puisi seumur hidupku. Pada malam yang pekat setelah upacara minum qahwa, nenek buyut kami mendatangi kemah sang pengembara dan menyerahkan dirinya pada cinta. Ketika tiba waktunya sang pengembara akan kembali ke negerinya, nenek buyut kami mencuri biji-biji qahwa dan menyelundupkannya ke dalam keliman bajunya untuk nanti akn ditanam di negeri tua, negeri rempah-rempah. Aku meninggalkan negeriku, tetapi aku tak bisa meninggalkan qahwa maka kubawa ia supaya hidup bersamaku di negeri baru kami, begitu katanya dalam hati, yang kemudian didongengkan kepada anak-anaknya, lalu cucu-cucunya, dari generasi ke generasi hingga sampai kepada ibuku yang menceritakannya kepadaku. Ayah nenek buyutku tidak menyadari kehilangan biji-biji qahwa terbaiknya sampai beberapa hari berikutnya, ia baru menyadari kehilangannya. Lalu ia bersama budak-budak terbaiknya segera mengejar putri kesayangannya itu yang telah berjalan tiga hari sebelumnya bersama sang pengembara, lalu mengambil kembali apa yang telah dicuri oleh nenek buyutku. Ketika kemurkaan pertama itu datang kepada ayah nenek buyutku, ia merobek jubahnya dan meratap, ”mengapa harus putriku?” pencuri biasa hanya akan dipotong tangannya, tetapi pencuri biji-biji qahwa harus dibunuh di negeri asal nenek buyutku. Qahwa adalah tumbuhan surga yang harus dijaga di tanah mereka, hanya untuk kaum keturunan mereka. Jadi, meskipun nenek buyutku merupakan kesayangan ayahnya, sang ayah tak bisa mengelak untuk membunuhnya demi tugas dan kewajiban sebagai penjaga qahwa. Ayah nenek buyutku bahkan telah mengoleskan abu sebagai tanda dukacita ke atas rambutnya yang telah memutih. ”Aku kehilangan putri kesayanganku, ia telah mati di tanganku,” ratapnya. Bahkan budak-budaknya, pejuang-pejuang tangguh penjaga qahwa juga ikut meratap dan mengoleskan abu di kepala mereka. Nenek buyutku tak hanya putri tuan mereka yang cantik dan menawan, tetapi ia juga baik hati serta penuh kasih. Nyanyiannya bisa menghentikan senja sehingga Matahari yang elok dapat lebih lama menari di atas langit yang kemerahan. Tangannya yang lembut namun kuat telah mengobati luka-luka peperangan di tubuh budak-budak itu, dan menyuapi mereka dengan penuh kesabaran ketika mereka terbaring lemah karena demam malaria. Nenek buyutku, tak hanya dicintai oleh ayahnya, tetapi juga merupakan cahaya bagi para budak-budak dan keluarganya. Membunuh nenek buyutku, adalah pengabdian tertinggi mereka kepada qahwa, tumbuhan surga yang harus mereka jaga. Mereka berlari tanpa lelah dengan sangat sedikit istirahat bahkan di malam hari, mereka hanya berhenti selama dua jam setelah Matahari terbenam, karena saat itulah jiwa-jiwa yang akan memulai petualangannya dilepaskan, lalu berlari lagi dan beristirahat  lagi sesaat sebelum Matahari terbit, saat jiwa-jiwa kembali bertemu roh dan tubuh kekasihnya. Perjalanan untuk membunuh ini tak boleh berpapasan dengan jiwa, yang mungkin saja akan menggagalkan rencana mereka. Rombongan ayah nenek buyut kami juga akan berhenti ketika Matahari terik di atas kepala. Setan, yang tak takut akan gelap juga tak gentar pada siang yang terang, ia akan menunggangi Matahari dan menghisap darah manusia tepat saat Matahari bersinar di atas kepala. Setelah berhari-hari, mereka menyusul nenek buyutku yang sedang beristirahat di lembah padang gurun, berkemah di antara batu-batu sebesar rumah. Ayah nenek buyut kami, bisa saja langsung membunuh putri kesayangannya saat itu juga, tetapi ia ingin melihat putrinya bernyanyi pada senja satu kali lagi, jadi ia menyuruh budak-budaknya bersembunyi di balik batu bersamanya, mengawasi putrinya yang tertawa bahagia bersama sang pengembara. Denting tawanya bergaung indah bagai lonceng di lembah penuh batu. Ketika senja mulai turun, nenek buyut kami naik ke atas batu yang terbesar lalu mulai bernyanyi. Seluruh jagat raya serasa berhenti, ayah nenek buyut kami menangis diam-diam. Ia akan membunuh putrinya besok, ia ingin mendengarkan nyanyiannya sekali lagi. Lalu ia menyuruh budak-budaknya untuk beristirahat, ”kita akan menyelesaikan tugas ini besok. Aku akan memberi kesempatan pada putriku untuk bernyanyi pada senja sekali lagi.” Dalam hati para budak-budak itu, mereka lega karena masih ada satu hari lagi untuk menghindari tanggung jawab untuk membunuh putri tuan mereka. Jika saja, mereka bisa mengelak dari tugas itu.

Rupanya, sang pengembara menyukai lembah batu-batu itu. Ia menulis banyak puisi dan meminta nenek buyut kami untuk tetap tinggal di lembah itu menemaninya selama beberapa hari lagi. Sepanjang hari-hari itu, setiap sore nenek buyut kami naik ke atas batu besar dan bernyanyi kepada langit. Dan selama itu pula, ayahnya menunda untuk membunuh putrinya karena akan memberi kesempatan putrinya untuk bernyanyi sekali lagi.

Pada suatu senja, sesaat setelah nenek buyut kami selesai menyanyi, seekor singa gunung jantan mengendap dengan anggun dan lapar, menuju ke arahnya. Nenek buyutku tak melihatnya, karena ia membelakangi arah datangnya singa itu, namun ayah nenek buyutku yang mengawasi putrinya dari jauh melihatnya, dan tanpa berpikir lebih jauh, ia melesat ke arah singa yang lapar itu untuk menyelamatkan putrinya. Ayah nenek buyut kami, merobek pangkal lengan singa jantan itu dengan sekali tarikan, namun singa itu berhasil merobek leher ayah nenek buyutku sesaat sebelum mati. Dengan cepat budak-budak ayah nenek buyutku menarik tuannya dan menikam jantung singa gunung itu dengan sekali tombak. Darah mengucur dengan deras dari leher ayah nenek buyut kami, dengan sisa nafasnya, ia menarik tangan putrinya yang masih termangu terkejut, ”aku menjadi ganti darahmu, hiduplah dengan bahagia” lalu ayah nenek buyut kami meninggal dalam dekapan putri kesayangannya. Semua budak-budak terbelah antara kelegaan bahwa putri tuan mereka, cahaya hidup mereka tetap hidup, namun sebagai gantinya, tuan mereka yang bijak dan penuh kasih menebusnya dengan kematiannya sendiri.

bersambung

Tersesat (8)Tersesat (7)Tersesat (6)Tersesat (5)Tersesat (4)Tersesat (3)Tersesat (2)Tersesat (1)

Tersesat (7)

Percayalah, kau tak akan pernah menginginkan ciuman seorang kekasih setelah kau merasakan nikmatnya qahwa yang pertama kali kau minum.

Semburat fajar kemerahan, pagi mulai menjelang. Kami telah bercakap-cakap sepanjang malam. Biasanya, pada saat seperti inilah Pengembara Mimpi mampir. Sudah lama kami tak bertemu, terakhir kali ia mengunjungiku saat senja ketika aku akan memasuki dunia manusia. Aku membayangkan, bagaimana jika Pengembara Mimpi bertemu dengan Lelaki Kayu Manis ini? Apakah yang akan dikatakan Pengembara Mimpi kepadaku? Ia selalu melihat  apa yang bisa kulihat, tentu saja karena ia sudah mengembara sejak pohon yang pertama tumbuh. Continue reading “Tersesat (7)”

Pembisik Pohon

Sebelum aku tersesat di Dunia Manusia, Pengembara Mimpi datang mengunjungiku saat pagi menjelang, ketika roh bertemu jiwa, dan bersiap menyambut Matahari.
“Kau berhutang kisah Pohon-Pohon,” kataku padanya, “kau selalu tak pernah menuntaskan ceritanya”
“Kisah tentang Pohon tak akan pernah tuntas selama Roh dan Jiwa selalu bertemu, selama hutan masih meniupkan kehidupan”
Aku tak pernah mengerti kata-kata Pengembara Mimpi, biasanya setelah ia pergi aku baru memahami maksudnya.
Semua hal tak harus dimengerti, kata Pengembara Mimpi; seperti kau mungkin tak akan mengerti tentang jiwa pembisik pohon.
“Pembisik pohon?”
“Mereka sama seperti aku, menjaga kehidupan Pohon-Pohon”
Jika aku mengembara mengunjungi jiwa-jiwa agar tak putus harapan pada Pohon-Pohon, maka pembisik pohon bernyanyi pada dahan dan ranting agar tetap menyatu pada batang, mengalirkan cinta Bumi pada daun yang akan menyampaikannya pada Matahari.
Pembisik pohon akan bernyanyi saat embun pertama menetes di daun.

Semesta merindu,
Semesta layu,
Dahan-dahan nyanyikan lagu,
Menarilah ranting-ranting kayu,
Daun-daun bergemerisik tanpa ragu,
Sebab jiwa menggantungkan hidupnya padamu.

“Kenapa aku tak pernah bertemu dengannya?”
Pembisik pohon bekerja dalam bayangan, bergerak hampir tiada dalam hembusan angin. Berlindung dari riuhnya kegelisahan jiwa-jiwa. Tapi ia selalu ada, sebab jika ia tak bernyanyi sehari saja, maka ranting dan dahan tak punya daya menempel pada batang yang kokoh, daun-daun akan gugur sebelum waktunya dan jiwa-jiwa akan kehilangan embun pagi.
Bolehkan aku bertemu pembisik pohon, untuk sekali saja?
Ia tak tahan pada kegelisahan jiwa.
Aku tidak gelisah.
Jiwa selalu gelisah selama ia hidup. Ia selalu gelisah.
Kenapa?
Pengembara Mimpi tersenyum lalu berkata sedih, “itulah imbangan semesta, kegelisahan jiwa. Kalian memang diciptakan dengan kegelisahan.”
Itu sebabnya kalian memerlukan Pohon-Pohon. Itu sebabnya Pohon-Pohon memerlukan pembisik pohon. Yang bekerja dalam bayangan, yang bernyanyi pada dahan dan ranting saat embun pertama menetes di dedaunan.

Oh, Pohon-Pohon…
Kegelisahan jiwa yang membelitmu,
Jadikan ia tali kehidupanmu,
Yang mengikat hidup pada keabadian,
Juga mengikat maut di masa depan,
Oh, Pohon-Pohon…
Bertumbuhlah kuat,
Lebih kuat daripada kegelisahan jiwa yang menggayutimu.

Tersesat (6)

Pada mulanya adalah kegelapan, begitu lelaki rempah-rempah mulai bercerita dengan suaranya yang licin serupa kulit ular mendesir, membuatku remang dalam waspada; kegelapan yang menelan semua kehidupan, katanya. Kemudian Sang Waktu datang mengunjungi negeri para Bintang dengan membawa terang yang mengusir gelap. Namu kegelapan melawan, benturan-benturan gelap melawan terang memercik ke semua arah dan melahirkan Bintang. Sang Waktu lalu membuat perjanjian antara terang dan gelap. Ia membagi hitungan waktu yang ada dengan sama rata dan membuat keduanya berkuasa di masing-masing bagian. Selain itu, Sang Waktu juga bersabda, bahwa gelap tak boleh lagi menelan kehidupan, gelap hanya menjadi waktu peristirahatan sementara terang, juga tak bisa berkuasa atas seluruh waktu karena siang yang riang terkadang sangat melelahkan. Perjanjian itu tetap berjalan hingga kini. Sementara, Bintang-Bintang yang terlahir dari peperangan antara gelap dan terang juga makin dewasa. Cahayanya makin menyilaukan dan membakar siapa saja yang terpesona pada mereka. Bintang-Bintang yang cantik harus pergi dari negeri yang telah melahirkannya.

Aku menahan nafas, ”terusir ke mana mereka?”

Lelaki rempah-rempah tersenyum, ”mereka tak terusir, mereka mendapat tempat yang lebih luas, di langit”

Namun, meskipun telah mendapatkan tempat yang luas di langit, kerinduan akan negeri kelahiran selalu ada. Para Bintang selalu kembali mengunjungi negeri kelahiran mereka dalam wujud cantik perempuan. Sepanjang masa, manusia berusaha menangkap putri-putri Bintang untuk dirinya. Beberapa berhasil mendapatkan sang putri dengan cintanya, beberapa harus merana karena kemudian sang putri menemukan jalan kembali ke langit. Hidup di dunia manusia tak mudah setelah kau mengenal kehidupan di atas sana.

”Kenapa aku tak bisa bercakap-cakap dengan para Bintang?”

”Bahasa mereka berbeda dengan kita, nenek dari nenekku menceritakan kepada kami ketika aku masih kecil, bahwa sebelumnya, Bintang berbicara seperti kita”

”Ceritakan padaku!”

Dulu, kami sama-sama berdiam di bawah langit yang indah. Saat Bintang yang terlahir di sini belum terlalu menyilaukan. Semua bahasa terlahir di sini. Kemudian, manusia bertambah banyak dan bertambah kuat, begitu juga dengan Bintang yang makin membakar. Ruang antara bumi dan langit semakin dekat. Lalu, semua penghuni dunia manusia, kecuali kawanan Bintang bersepakat untuk bangkit untuk membuat menara yang menyentuh langit dan hendak berkuasa atasnya. Sejengkal menuju langit, Sang Waktu membuat jarak langit dan bumi semakin jauh dan menyerakkan kami hingga kami tak memahami bahasa satu dengan yang lain, dan saat itulah ketika Sang Waktu menempatkan para Bintang di langit, karena mereka tak menginginkan untuk berkuasa di sana. Lagipula, mereka akan membakar seluruh dunia dengan cahayanya. Mereka memang seharusnya terlahir sebagai mahluk langit.

”Aku sudah menceritakan rahasia tentang negeriku, juga kelahiran para Bintang”

”Belum cukup, bagaimana gaharu dan cendana bisa tumbuh di negerimu?”

”Harus ada pembayaran lain untuk cerita gaharu dan cendana”

“Pembayaran selain ciuman?”

“Ya, pembayaran selain ciuman”

“Cerita tentang Pohon-Pohon?”

“Ya, cerita tentang Pohon-Pohon”

Aku mendesah, “itu cerita yang sulit. Aku sendiri masih mencari cerita mengenai Pohon-Pohon. Seorang Pengembara Mimpi yang dari waktu ke waktu menceritakan kisahnya padaku”

“Kamu boleh menceritakan padaku sebagian yang kamu tahu”

“Untuk itu aku meminta bayaran”

Lelaki rempah-rempah tertawa, ”kamu jiwa yang tersesat dalam dunia manusia”

”Demikian adanya”

bersambung

Tersesat (5)Tersesat (4)Tersesat (3)Tersesat (2)Tersesat (1)