Kritik Untumu!

Bahasa adalah rasa. Kata-kata tanpa arti, mereka hanya memanggil makna yang sudah tersimpan di dalam benak. Dan kita mempercayai apa yang kita ingin percayai.

Lalu selesailah semua perdebatan yang ada di kepala saya, segala omelan dan kekesalan mengenai kenyinyiran manusia. Tapi tunggu, sebelum menutup semua perdebatan (di kepala saya sendiri) saya mau ngomel dulu. Continue reading “Kritik Untumu!”

Advertisements

Seterah Elo

Peringatan: demi kenyamanan anda, saya informasiken bahwa posting ini panjaaaaaang banget (dan sangat beraura negatif), silahkan dibaca jika memang ingin tahu, tapi kalau abis baca trus ngomel-ngomel sendiri… tidak ditanggung ya…

Pernahkah kalian tidak menyukai apapun tindakan seseorang, tak peduli dia salah atau enggak? Saya?! Tentu pernah.

Ada beberapa orang yang hidupnya berpapasan dengan garis waktu saya, yang emang tergolong enak banget buat di-nggak-sukain.  Penyebab saya nggak suka, ya mungkin sepele, dia salah ngomong atau ada salah satu momen (setelah beberapa kejadian aneh, meskipun tidak langsung berkaitan dengan saya) yang tiba-tiba aja saya putuskan, saya nggak suka sama ini orang. Neneng Ijreng, Cap Siu Hok… adalah dua di antara daftar saya yang sangat pendek itu.

Continue reading “Seterah Elo”

gak guna

Pffiuuuuh….
Ada mantan yang menggoda, kamsudnya, aku yang termehe-mehe jahe lagi, dia sih mungkin gak ada kamsud selain beneran minta maap dan sekedar menjalin tali silaturahmi *halah*. Tapi kok… kok… ah, sutralah… mungkin aku yang gr.
Lalu, ada ttm *yaooolooh… perlu dinistakan lagikah?* yang gak jelas juga, mau dia apa, mau aku apa. Yang satu perlu nenggak Grand Marnier sampe muntah, yang satu lagi perlu mabuk ganjah sebelum saling mengakui perasaan masing-masing. Tauu… tauuu… ini gak lucu buat orang seumuran aku. Tapi ya pegimana lagi, udah terjadi. Teteup… dua-duanya nggak mau lebih dari temen tapi juga nggak mengurangi intensitas dan kadar flirt! Arrgh! Dua-duanya sama-sama busuk dan hobi menye-menye.
Eeeh… menambah hidup ini makin gak guna, datang lagi satu mahluk dari Indonesia timur sana, yang tiba-tiba ngajakin pacaran lalu lima hari kemudian ngelamar dan bilang, “aku serius, aku yakin aku bisa ngasih makan kamu, aku yakin aku bisa membahagiakan kamu, itu sebabnya aku berani ngomong gini. Aku juga gak nyangka bakal punya perasaan kayak gini, tapi ini bukan cuma kemarin, ini sudah sejak bertahun-tahun lalu, kalau aku nggak ngomong sama kamu sekarang, aku takut nanti aku nyesel karena kamu nikah sama orang lain dan nggak pernah tau perasaan aku. Aku yakin, kamu bisa jadi pendamping hidupku, kamu bisa support aku untuk jadi laki-laki beneran”
Mateek!!!
Kalau si mahluk ajaib itu bukan teman baik, mungkin ceritanya akan jadi lebih sederhana, dia cuma asal-asalan saja, cuma sekedar mencoba, kalo dapet ya syukur kalau nggak ya udah. Jawabannya juga akan lebih mudah. Tidak adalah tidak, nggak peduli bakal sakit hati. Nggak peduli bakal dipisuhi dan dibilang, “sok laku”. Bodo. Tapi… dia seorang teman baik, yang sudah aku kenal selama hampir 20 tahun. Aku juga tau, dia sudah berpikir panjang lebar sebelum bilang gitu ke aku. Mungkin aku salah, mungkin dia sudah berubah, bukan temanku yang dulu, tapi entahlah, aku tetap saja merasa nggak enak untuk berpikiran buruk soal dia.
Astaga….
Aku sudah sekian lama mencari cinta, sekian lama menunggu ada orang yang berani ngomong, bahwa dia mau menghabiskan sisa hidupnya dengan membangun hidup baru denganku. Tapi aku tidak mengharapkan teman baik yang benar-benar teman untuk bilang kayak gitu. Dan yang bikin semuanya makin jadi menyebalkan adalah, mahluk ajaib ini, tiap dua jam sekali sms gombale mukiyo. Hadoooh… aku pengen muntah. Tapi aku juga gak berani muntah *yaiks…* Kenapa? Ya ampuun… kenapa?! Dia teman baikku… Aku peduli sama mahluk ini! Kalau ada cewek yang berani bikin dia sebel, bikin dia nangis atau menghina temanku ini, mungkin aku orang pertama yang bakal nampar cewek itu, dan aku nggak mau jadi orang yang bikin dia sebel. Tapi… dia udah bikin aku sebel juga… huhuhuhuhu. Aku sih nggak pernah bales smsnya, abis aku bingung mau ngomong apa. Telpon juga nggak pernah aku angkat. Yaaa… yaa… aku jadi kayak pengecut, tapi ya apa boleh buat, aku belum tau aku mesti ngomong apa, daripada salah, lebih baik aku diam dulu. dalam diammu, apakah kamu mengingatku? sumpah… muntah gak baca sms yang model begitu? Astaga… ini tahun 2008 jendral!!! Puisi, lebih baik ditaroh di blog saja, jangan dikirimkan cewek gak guna model aku yang lagi gak puguh sama karirnya yang gak ada kemajuan sejauh ini, cewek gak guna yang lagi kecanduan ngelenong…
Makin bikin hidup ini kayak drama, tiga-tiganya ngajakin liburan! Yang pertama bilang, pengen nostalgila di Bandung dan mungkin ada bagusnya lanjut ke Garut, hmm… menarik. Yang kedua, yang katanya sudah punya cewek ituh, masih sibuk merayu untuk ke Bali yuuk, nggak asyik kalo pergi sendiri, katanya… hmm… menarik. Yang terakhir, mengirimkan tiket untuk ke Raja Ampat, yang konon indah banget. Katanya, ingin bertemu dan meyakinkan aku bahwa dia serius, hmm… bagian Raja Ampatnya ini sangaaat… sangaaat menggoda. Maaan… Raja Ampat maan….
Pfiuuh…
Belum lagi soal kerjaan yang makin lama makin menekan dengan rutinitas membosankan. Sumpe makdikipe… kalo nggak perlu duit buat bayar lenongan, aku sudah resign, aku nggak peduli lagi. Aku mau digaji separo dari gaji sekarang asal aku bisa bahagia, senang hati mengerjakan pekerjaan lama. Tapiiiii….. aku perlu duit buat bayar lenongan… perlu membuktikan juga kalau aku bisa bertahan dengan menjual komoditi yang aku benci! Beneran.. aku nggak suka sama produk yang aku jual sekarang. Membosankan! Aku cuma menjalankan kerjaan kayak robot, gak punya passion lagi, beda banget sama yang dulu… 😦 huhuhuhu…. aku nggak bisa lagi balik ke pekerjaan lama apalagi dengan gaji lama… tapi aku bosaaaaan….
Pfiuuuh…
Aku bener-bener gak ada guna ya? Bisanya cuma ngomel gak jelas di blog gak penting.
Sutralah.