saving the hypocrisy

Posting ini aku copy-paste dari notenya Dhyta Purplerebel di Facebook. Karena aku nggak pernah baca itu undang-udang yang sebenarnya, jadi aku cuma bisa kopas saja. Lagipula, klo aku yang ngomong, pasti isinya cuma mengumpat, beda dengan neng Dhyta yang bisa memberikan informasi yang akurat, jadi terima jadi ajalah yaa…

Pornography bill my ass

If you are a concern citizen, you should have known that today the House of Representatives (DPR) has passed the bill on Pornography in acclamation despite the fact that many citizens have spoken up against it and that the definition of pornography itself is still debatable. Only two out of three fractions, which originally opposed the bill, were still consistent with their stand. FPDIP and FPDS walked out the room when the decision to pass the bill was taken.
Continue reading “saving the hypocrisy”

rasa hormat

Apa aku salah, kalau aku kehilangan rasa hormat ke salah satu senior di kantor, gara-gara dia tidak bisa menjadi senior yang baik?
Hm… gini, kata dia, kalau aku bertanya soal permasalahan dalam kerja, aku harus memberikan alternatif solusi untuk permasalahan tersebut. Kalau aku tidak datang dengan solusi, berarti aku tidak punya inisiatif.
Aneh nggak?
Aku bilang aneh, karena kalau aku bertanya itu disebabkan oleh 2 hal:-
1. Karena aku memang sudah tidak tahu lagi bagaimana cara memecahkan permasalahan tersebut. Semua pilihan yang aku punya, menurutku akan membawa dampak yang cukup merugikan. Makanya, aku datang ke senior untuk meminta bimbingan. Aku bukan malas berpikir tetapi memang sudah tidak bisa berpikir. Tolong dibedakan ya.
2. Karena level aku sudah tidak memungkinkan untukku mengambil keputusan, apalagi jika itu berkaitan dengan resiko uang yang akan dikeluarkan oleh perusahaan akibat keputusanku. Misal, untuk komplain di bawah / sampai dengan USD 500, aku bisa mengambil keputusan, apakah itu akan dibayar atau ditolak, apakah pembayaran komplain bisa langsung dibayarkan atau dibayarkan di order berikutnya, nah… untuk jumlah di atas USD 500, tentu saja, aku harus minta persetujuan senior untuk meminta persetujuan bukan? Ini misalnya yaa…. contoh. Dan jelas, sebelum meminta persetujuan, aku sudah mengajukan saran dan opini-ku atas suatu kasus tersebut. Tapi, lagi-lagi… bukan levelku untuk memutuskan. Aku ini kan cuma keset di perusahaan ini, cuma buruh.

Intinya, menurut dia aku tidak punya inisiatif.

Mari kita lihat siapa yang tidak punya inisiatif. Siapa yang sebenarnya amatiran.

Ketika satu calon pembeli datang, apa yang anda lakukan? Anda hanya berkata, “mereka sepertinya benar-benar mau beli ke kita ya”. Dan yang aku lakukan, sebgaia standar prosedur kerja yang aku tetapkan sendiri, adalah, segera bertanya ke jejaring sesama buruh tekstil juga paman gugle, menyelidiki latar belakang finansial, target market mereka, dan apa yang menjadi produk andalan mereka. Kemudian menyiapkan presentasi produk sesuai dengan data yang sudah dikumpulkan dan menyiapkan produk lain sebagai ‘dessert’.

Aduuuh…. aku paling benci mengungkapkan fakta-fakta yang sepertinya hebat tapi sebenarnya malah bikin aku kelihatan buruk ini.

Aku selalu menganggap, bahwa orang yang merendahkan orang lain itu adalah orang yang sedang merendahkan dirinya sendiri. Dengan mengungkapkan cerita *cuma satu contoh, tapi ada banyak hal lain sih sebenernya* yang membuat sang senior terlihat bodoh, bukankah aku sedang membodohkan diriku sendiri?!

Arrrrgh…. maaf. Tetapi, aku memang sudah kehilangan rasa hormatku kepada anda sebagai seorang senior. Maaf, aku memang masih junior, masih buruh, masih keset… tetapi aku terlanjur punya nilai-nilai, etika-etika yang seharusnya menjadi standar seorang senior-dianggap-senior itu seharusnya seperti apa.

Maafkan aku. Dan mari… kerja lagi…. ayoooo… buruh yang tak punya inisiatif, kita kerja lageeee!!!

hebat kan?!

10 tahun di Bandung, 4 kali pindah kos. Bandingkan dengan: 8 bulan di Jakarta, 3 kali pindah kos.
Hebat yaaa….
Ada yang mau bantuin aku pindahan?
*ketawa ironi* hebat banget ya Jakarta, bisa merubah aku yang pemalas ini menjadi rajin packing setiap tiga bulan, demi rupiah yang bisa dihemat.
Damn!!!
Hidup makin mahal aja… kalau gini terus ceritanya, kapan aku kawin dan beranak pinak?

….
G: “Gw kan pengen punya anak cepet-cepet Miu”
A: “Haiiyaaah… yakin lo bisa ngasih makan anak bini lo? Hari gini apa-apa mahal gini… gw juga mau punya anak, tapi ngeri kalau disuruh cepet-cepet, gak deh… gw bikinnya aje”
G: “Sebutin sepuluh alasan, elo males punya anak cepet-cepet”
A: “Pertama, mahhhal! Kedua, mahalll! Ketiga, mahaalll! Keempat, mahhaaalll!!! Kelima, maaaahhhaal! Keenam, gw masih pengen seneng-seneng, selanjutnya… gw mikir dulu deh”
G: “Gile loooo!!! Alesan looo….”
A: “Masuk akal kan?”
G: “Iya juga ya Miu, sekolahnya… makannya…”
A: “Haaa… nyadar lo, belom lagi kalo maknya tukang lenong, itung tuh lenongan maknya…”
G: “Gile looo!!! Dasar tukang lenong… banci!!”
……

Nah, bener aje kan… akan tiba masanya dimana upah sehari adalah secupak gandum. I believe that…
Tapi aku kan juga pengen beranak pinak, pengen juga seneng-seneng dan macem-macem, jangan dulu doooong… kamsudnya, jangan tiba dulu masa itu… hehehehehe nawar….

Memaaaang… memang…. Hidup ini tak melulu soal materi, soal duit… tapi kalo ada duit… setidaknya… tante kan gak perlu pindahan sampe tiga kali bejini…. *hiperbola sih emang*

Aaah… sutralah, ini kan sebenernya cuma ngomel soal pindahan kos aja.

Have a nice weekend saja eperibodeh… tante hari ini pindahan kos… angkat-angkat barang… ada yang mau bantuin? (dalam doa)