daging kambing, enak & perlu

Kemarin dan hari ini, status YM aku, pake si daging kambing ini. Ada beberapa teman yang langsung nge-buzz trus kalimat pertamanya adalah: jadi pengen tongseng. Beneran… meuni sama gitu ngobrolnya… daging kambing = tongseng.

 

Jadi, sebenernya aku hanya iseng bikin status si daging kambing ini, selain ada hidden agenda biar ditraktir sop kaki kambing sama pak bos tentunya, eh, si pak bos pernah baca blog ini loooh… sapa tau gitu beneran ntar sore langsung bacut ke sop kaki  kambing, begitu dia baca posting indang… *piiiissss booossss* :mrgreen:

Isengnya aku ini, dipacu sama tagline koran Kompas. Kompas, enak dibaca dan perlu. Masih pakai tagline itu gak sih?

Ya, emang  nyontek banget. Bukan berarti aku menyamakan Kompas dengan kambing yaaak…. iiih…. mana enak makan kertas.

 

Semoga, ada yang ngeh, ketika baca status YM-ku, bahwa kata-kata enak dan perlu itu memang milik si Kompas. Jika tidak pun, tak apa… toh provokasi daging kambing, sudah menghasilkan makna, yaitu tongseng!

Hm… nangkep gak?

Hanya melemparkan serangkaian kata-kata, daging kambing enak. Langsung makna yang keluar, adalah… ooooh…. betapa lezatnya tongseng. Jadi, kata-kata memang tanpa arti, kata-kata hanya pemicu makna yang sudah tersimpan. Tapi teteup aja, aku masih terkagum-kagum bagaimana serangkaian kata-kata yang sama, bisa memicu makna yang berbeda-beda.

Masalahnya kenapa cuma si tongseng yang diingat ya? Padahal, di deket kos, di jalan Cipaganti, dekat mesjid Cipaganti situh… ada iga kambing bakar yang endang bambang gulindang guling-gulingan loooh… cobain geura… 8) dan konon katanya, di dago deket jl. Pagergunung situh ada sop kaki kambing terenak di muka bumi *lebaaaay*.

 

Eniwei, seminggu pertama di kantor baru berlalu tak terasa, kerjaan menyita fokus dan beneran gak kerasa aja, waktu cepet banget berlalu. So far, I am happy. Eiiits… bukan cm – cari muke, karena si pak bos baca blog ini, tapi memang iya. Kan aku dah bilang, I love my job. Semoga… semogaaa…. selalu cintaaah….

Kalau ada yang penapsaran, aku kerja dimana, klik saja disini *berasa ada yg penapsaran aje*. Belum selesai uplot dan belum pinal tuh web, tapi kurleb sutra bisa dilihat.

 

Well, eperibodeh…. see you when I see you again yaak….

xoxo, moi…. *gariiiiiing tjeeep*

baik… baik… baaaiiiiiik…

Semua orang pengen dibilang orang baik, kayanyaaa sih… Aku dulu juga begitu, ngotot banget buat jadi orang baik, jadi orang yang selalu diterima di pergaulan. Itu waktu aku masih mudaaa. Untungnya, nggak sampai memaksakan diri mati-matian buat jadi orang baik, cuma memang aku berusaha terlalu keras.
Lama kelamaan aku mulai menyadari bahwa, kebaikan yang aku maksudkan, tidak sesuai dengan kebaikan yang diinginkan oleh teman-teman di lingkunganku. Apa yang aku anggap sebagai bentuk keterusterangan, merupakan komentar nyinyir. Apa yang aku anggap sebagai bantuan ikhlas, berubah makna menjadi omong basa-basi. Tentu saja, ini sempat membuat aku, yang memang pada dasarnya tipe ‘suka-suka gue’ menarik diri secara drastis dari pergaulan dan menganggap semua manusia itu munafik dan buat apa berbuat baik sama orang lain? Toh, aku juga nggak perlu minta makan sama orang-orang itu. Hmm… itu sekitar periode aku SMP lah…. Namun hidup mengajarkan banyak hal yang mengakibatkan perubahan beberapa nilai yang kuanggap benar saat itu.

Dan ada juga nila-nilai yang tetap tidak berubah, seperti… aku tetap berkomentar terus terang sekaligus jujur, meski itu dianggap nyinyir.. :mrgreeen: apa boleh buat, nyinyir sudah menjadi bagian dari karakter. Bagiku, kebaikan adalah keterusterangan meskipun itu nyinyir dan nggak enak didengar, itu jauuuuuh lebih baik daripada kebohongan yang bersuara merdu juga berlumur madu *tsaaah*. Jelas, karena terkadang aku ‘nyinyir’ maka aku juga tidak berkeberatan untuk mendapatkan ‘balasan’ nyinyir darii orang lain. 😆 . Mungkin memang dia berkamsud baik atau memang beneran bermaksud nyinyir yang negatif. Aku tidak peduli. Aku percaya karma. Ucapan, perbuatan… itu seperti bumerang yang selalu kembali pada pelemparnya. Lagipula, bukankah hidup sudah mengajarkan, bahwa kebaikan itu relatif. Kebaikan itu, abstrak ukurannya, buat aku baik, belum tentu buat yang lain baik. Ya sudah. Tidak perlu memaksakan kebaikan yang seragam, menurutku. Kalau aku niatnya baik keterima tidak baik, ya maaf. Aku tidak hendak memaksakan tindakan baik harus selalu mendapat apresiasi baik.

Aduuh… ini kok seperti aku sedang membela diri ya? Hehehehe nggak ada apa-apa, nggak ada kasus apa-apa, ini aku cuma kepikiran sama kata-kata: baik. Seperti apa kebaikan, dan harus bagaimana untuk menjalankan kebaikan.
Tapi kebaikan saja tidak cukup untuk membeli surga juga bahagia, errr… lagi-lagi ini teori ngawurku. Emh, jadi inget Tante Kemang, “lo kate surga murah? Modal senyum doang?!”

Baiklah, daripada makin bingung, udahan aja aaaah…..

Tambahan, ini nih, pemikiran yang selalu bikin aku nggak kelar-kelar posting. Pemikiran tiba-tiba soal penggunaan kata baik dalam kalimat: baik, akan saya kerjakan – – saya kerjakan baik-baik — baiklah, saya kerjakan — errrrr….. aku dulu bolos kemana sih waktu pelajaran Bahasa Indonesia?

Baiklah, lebih baik aku mengucapkan selamat berakhir pekan sajah… terimakasih dan sampai jumpa.

rasa hormat

Apa aku salah, kalau aku kehilangan rasa hormat ke salah satu senior di kantor, gara-gara dia tidak bisa menjadi senior yang baik?
Hm… gini, kata dia, kalau aku bertanya soal permasalahan dalam kerja, aku harus memberikan alternatif solusi untuk permasalahan tersebut. Kalau aku tidak datang dengan solusi, berarti aku tidak punya inisiatif.
Aneh nggak?
Aku bilang aneh, karena kalau aku bertanya itu disebabkan oleh 2 hal:-
1. Karena aku memang sudah tidak tahu lagi bagaimana cara memecahkan permasalahan tersebut. Semua pilihan yang aku punya, menurutku akan membawa dampak yang cukup merugikan. Makanya, aku datang ke senior untuk meminta bimbingan. Aku bukan malas berpikir tetapi memang sudah tidak bisa berpikir. Tolong dibedakan ya.
2. Karena level aku sudah tidak memungkinkan untukku mengambil keputusan, apalagi jika itu berkaitan dengan resiko uang yang akan dikeluarkan oleh perusahaan akibat keputusanku. Misal, untuk komplain di bawah / sampai dengan USD 500, aku bisa mengambil keputusan, apakah itu akan dibayar atau ditolak, apakah pembayaran komplain bisa langsung dibayarkan atau dibayarkan di order berikutnya, nah… untuk jumlah di atas USD 500, tentu saja, aku harus minta persetujuan senior untuk meminta persetujuan bukan? Ini misalnya yaa…. contoh. Dan jelas, sebelum meminta persetujuan, aku sudah mengajukan saran dan opini-ku atas suatu kasus tersebut. Tapi, lagi-lagi… bukan levelku untuk memutuskan. Aku ini kan cuma keset di perusahaan ini, cuma buruh.

Intinya, menurut dia aku tidak punya inisiatif.

Mari kita lihat siapa yang tidak punya inisiatif. Siapa yang sebenarnya amatiran.

Ketika satu calon pembeli datang, apa yang anda lakukan? Anda hanya berkata, “mereka sepertinya benar-benar mau beli ke kita ya”. Dan yang aku lakukan, sebgaia standar prosedur kerja yang aku tetapkan sendiri, adalah, segera bertanya ke jejaring sesama buruh tekstil juga paman gugle, menyelidiki latar belakang finansial, target market mereka, dan apa yang menjadi produk andalan mereka. Kemudian menyiapkan presentasi produk sesuai dengan data yang sudah dikumpulkan dan menyiapkan produk lain sebagai ‘dessert’.

Aduuuh…. aku paling benci mengungkapkan fakta-fakta yang sepertinya hebat tapi sebenarnya malah bikin aku kelihatan buruk ini.

Aku selalu menganggap, bahwa orang yang merendahkan orang lain itu adalah orang yang sedang merendahkan dirinya sendiri. Dengan mengungkapkan cerita *cuma satu contoh, tapi ada banyak hal lain sih sebenernya* yang membuat sang senior terlihat bodoh, bukankah aku sedang membodohkan diriku sendiri?!

Arrrrgh…. maaf. Tetapi, aku memang sudah kehilangan rasa hormatku kepada anda sebagai seorang senior. Maaf, aku memang masih junior, masih buruh, masih keset… tetapi aku terlanjur punya nilai-nilai, etika-etika yang seharusnya menjadi standar seorang senior-dianggap-senior itu seharusnya seperti apa.

Maafkan aku. Dan mari… kerja lagi…. ayoooo… buruh yang tak punya inisiatif, kita kerja lageeee!!!

klarifikasi gak penting

Posting pencuri-pencuri di dunia maya, mendapat tanggapan dari desiran.blogspot.com yang mengkin tersinggung dengan isi posting aku. Well, aku tidak hendak meminta maaf, hapus ya hapus aja…. dianggap nggak layak tampil juga nggak apa-apa…. aku masih bisa jadi banci tampil di blog aku sendiri kok… *meski kagak ada yang baca*
Cuma ada beberapa hal yang aku ingin jelaskan buat orang yang otaknya gak nyampe dengan gaya aku bercerita *halah*

Pertama, posting aku di pencuri-pencuri di dunia maya itu, adalah bentuk keprihatinan aku. Copy-Paste yang aku alami, sangat tidak parah dibandingkan dengan kasus copy-paste blogger yang lainnya. Ini copy paste yang sangat biasa saja, kesalahan si pengcopy-paste cuma satu, yaitu tidak mencantumkan credit atau sumber darimana dia mengambil posting itu. Silahkan saja copy-paste, tapi ingatlah untuk selalu mencantumkan sumbernya. Aku tadi berkunjung *tsaaah* ke desiran, yang sekarang cukup beradab untuk mencantumkan sumbernya. Good job om, giiituuuu dong…
Kedua, mungkin bahasa aku memang kasar dan nggak punya aturan, sehingga menimbulkan komen yang cukup panas, eeeits… bukan aku yang panas, tapi pemilik blog desiran… setiap kata mengandung umpatan dan sarkasme, halus tapi berniat marah. Yup, kerasa kook hawanya… Tapi siapa yang peduli sama bahasa kasarku? Ini blog aku, ya seterah aku kaleee mau nulis apa aja… oke, memang ini wilayah umum, tapi sah-sah saja buat aku untuk menulis apa yang menjadi keprihatinanku dengan gayaku.
Ketiga, aku tidak hendak menghakimi. Tolong diingat, dicatat, digaris bawahi sekali lagi *aduuh… gimana sih caranya edit underline?* bahwa posting di bawah ini bukanlah sarana untuk menghakimi. Ya, aku protes kenapa posting aku digunakan / ditampilkan tanpa ijinku, tapi aku tidak menghakimi anda para tukang kopas. Apa? Judul? ooh…. kalau anda baca blog ini dari jaman beheula, selalu ada ketidaknyambungan antara judul dan isi… biasa… strategi marketing, bungkusnya aje yang heboh, isinya mah… biasa aja… Posting aku, ya! Berisi protes, keprihatinan dan himbauan bagi siapa saja yang berniat copy-paste dari blog siapa saja, untuk selalu mencantumkan sumbernya. Itu saja. Ocehan lain, nggak penting. Memang belum ada aturannya, tapi itu bisa saja kita mulai dari diri kita sendiri. Menjadi penulis blog alias blogger *aduuuh… aku tuh agak malu pakai istilah blogger, kesannya kelas kakap, padahal nggak penting* yang punya manner, punya etika untuk menghargai tulisan orang lain, sekacrut apapun itu. Dan ini juga berisi himbauan untuk jangan malu menampilkan tulisan sendiri yang meskipun kacrut, tapi hasil karya diri sendiri. Siapa yang bisa melarang kekacrutan tulisan kita? wong kita nyampah di blog sendiri kok….
Keempat, well… ini agak personal… barangsiapa nggak punya logika panjang untuk mengartikan kata demi kata di semua posting nggak penting di blog ini, lebih baik… jangan baca, soalnya pasti bakal bikin kesel trus akan muncul penyesalan “halah… gak penting….” Lhoh… emang gak penting. Dan jangan mudah berburuk sangka jika anda masuk ke blog aku. Haram hukumnya. Dunia ini om, nggak ada warna hitam dan nggak ada warna putih, adanya abu-abu… sebab hitam dan putih itu bukan warna, hitam itu adalah keadaan dimana suatu bidang menyerap semua cahaya dan tidak memantulkannya lagi sedangkan putih adalah keadaan yang sebaliknya, cahaya dipantulkan seluruhnya. Dan abu-abu, bukan percampuran hitam dan putih, tapi beberapa warna… ada biru, ada merah, ada kuning juga… hm… sepertinya aku jago?! Nggak… ini guneman sok tau aja… tapi kalo penasaran aku bisa tanyain ke orang lab nanti resep bikin warna abu-abu, kasih tau warna Pantone-nya aja…

Yaaah sutralah….
Enjoy your day eperibodeh… semoga ada yang nraktir makan siang enak hari ini…. tanggal tua begini, kayanya ditraktir tuuuh…. nikmat banget…. :mrgreen: *ya iyalaaaaah… kagak tgl tua juga sedep*