Dari Jendela Kereta

img_7400_zps0uu4yyiq

Dari dalam kereta melintasi desa-desa,

Memandang pohon-pohon berkelebatan,

Kejar – mengejar dengan tiang listrik yang berjajar di pinggir pematang,

Langit biru memanggil kenangan,

Oh, seketika rindu kembali pada ingatan.

Dari dalam kereta di tengah hiruk pikuk Jakarta,

Rumah-rumah berjejalan dengan jalan raya,

Dalam sekelebatan berganti dengan gedung-gedung yang menantang angkasa,

Mobil motor metromini kopaja,

Berjajar tak sabar menunggu kereta lewat,

Dengan klakson yang tak henti-henti memekakkan telinga,

Udara lebih berat dan pekat,

Hidup terasa sesak.

Namun, rindu tetap tinggal.

Enjoy Jakarta

Beberapa hari yang lalu, seorang kawan kurang lebih- bilang gini, “first time I came to Jakarta, I was like… what an awful city. It is so bad with the traffic and chaos. However, the more I get to know Jakarta , I start to love it. I like the contrast that this city offer to us. The people are so nice, with that bad traffic, it is still easy to find people that laughing wholeheartedly

Ah ya…

Saya akhirnya juga menyukai Jakarta. Tahun-tahun awal tinggal di Jakarta, saya menghabiskan waktu untuk mencari jalan supaya saya bisa kembali tinggal di Bandung. Saya berhasil mewujudkan keinginan saya, namun hidup membawa saya kembali ke Jakarta. Kali ini, saya tidak berusaha sekeras dulu untuk kembali ke Bandung. Saya pasrah saja menikmati Jakarta dan segala ketidak teraturannya. Ternyata betul apa kata pepatah, menemukan ketika tidak mencari. Ternyata, kota ini bisa membuat saya jatuh cinta.
Continue reading “Enjoy Jakarta”

#FF [Food on Friday]: Memori Rasa, Chronicle – Coffee & Cocktail

Mau nggak mau, saya harus mengakui bahwa saya ini lebay dan kadang suka romantis berlebihan. Mau segimana pun menjadi orang yang cuek aja, kayaknya nggak bisa, terutama jika berkaitan dengan makanan atau minuman. Kalau ada rasa yang enak, yang nempel banget di kepala, rasanya saya akan keinget sepanjang waktu.

Yang terbaru, saya kesambit sama cappuccino di warung anyar yang ada di deket kantor saya. Namanya Chronicle. Tiap pagi mau ke kantor saya selalu lewat tempat ini, penasaran juga, kok kayanya lucu… lagipula beberapa teman yang saya kenal, sudah posting foto yang cakep, saya jadi penasaran. Trus akhirnya Selasa tanggal 25 Nov. akhirnya saya punya kesempatan mampir. Dan hari itulah, saya mencicipi cappuccino terbaik dalam hidup saya, sejauh ini sih. Ya ampun, baru kali itu saya bisa merasakan tiap elemen kopi dalam secangkir cappuccino dengan sejelas dan sebaik itu. Saya bisa merasakan coklat, caramel, bau roasting kopi yang harum, berry, citrus, dan sedikit sentakan arang di belakang (percayalah, ada rasa ini) dan semua itu dibungkus dengan rasa susu yang creamy, tekstur yang lembut seperti sutra membelai lidah. Semua itu ada di secangkir cappuccino. Kopi pencerahan banget kan yaa…

Saya sampai nggak bisa tidur saking antusiasnya, saya lebay menceritakan pengalaman saya itu ke salah satu teman yang penyuka kopi, saya bilang, “this is even better than your first kiss!”

Seperti kena tenung, esok siangnya saya kembali ke Chronicle dan memesan kopi yang sama, tapi dibuat oleh barista yang berbeda, rasanya beda. Tapi masih bisa dikategorikan cappuccino yang enak. Ya gak pa-pa…

Esoknya, saya kembali lagi, dibuatkan cappuccino oleh barista yang lain lagi, dan dengan baiknya dia sampai 3x membuat cappuccino sampai kami cukup puas dengan rasanya. Tapi tetap, saya menginginkan rasa cappuccino hari Selasa. Kunjungan berikutnya, cangkir yang ketiga juga yang baru memuaskan kami. Saya tentu saja senang, barista-barista di Chronicle dengan baik dan sabar berusaha memuaskan lidah kami, jadi meskipun saya tidak merasakan lagi cappuccino hari Selasa, saya tetap puas.

Jangan salah, cappuccinonya tetap nikmat, hanya saja… cappuccino hari Selasa itu luar biasa.

Tak hanya kopi-nya yang menjadikan Chronicle layak dikunjungi, ngomong-ngomong, kopi di Chronicle ini sama dengan di Common Grounds karena sama pemilik, mereka blend kopi Eithopia Sidamo, Toraja Sulotco dan Aceh Gayo. Saya belum pernah ke Common Grounds sih, iyaa… iya… saya bukan hipster 😀

Balik lagi ke Chronicle, makanan berat di warung ini pun boleh banget dicoba. Beberapa kali ke Chronicle, saya hanya sempat mencoba yang sweet potato + sosis, Belitung Noodle, Grilled Chicken with Honey Sauce. Masing-masing rasanya bener, sweet potato dan sosisnya amanlah… apa yang bisa salah dari ubi manis dipanggang dengan tambahan sosis juga telor?

Belitung Noodle

Belitung Noodle yang unik, mie Belitung aselinya menggunakan mie telor yang gendut tapi di Chronicle diganti dengan spaghetti, meskipun demikian, tone rasa yang manis gurih dari kaldu udangnya masih otentik. Kata teman saya yang orang Belitung, approved. Saya suka menambahkan banyak jeruk dan sambal, sehingga rasanya kental manis, pedas dan asam, semua nonjok. Ugh, saya menelan ludah dengan menuliskan ini, kebayang ya… lagi musim hujan gini… makan mie Belitung yang modern ditutup dengan cappuccino hari Selasa. Hidup ini indah.

Grilled Chickennya, cakep. Ayam dipanggang coklat keemasan, dicocol dengan saus madu dan banyak bawang putih, disajikan dengan salad. Ah, ayam panggang nggak pernah salah. Yang saya kurang suka dari sajian ini cuma cara penyajiannya di atas baki kayu. Menurut saya agak kurang higienis yah, soalnya si baki kayu kan dipelitur, emangnya peliturannya food grade? Kan klo makan yang pakai pisau gini, kemungkinan papannya ikut kepotong kan gede bok… Okay, saya memang riwil buat hal-hal kayak gini, tapi ini karena saya suka lho sama Chronicle… sungguh, lain kali datang saya mau kok pesan ayam ini lagi…tapi mau pake piring aja…

Selain makanan dan kopi, rupanya Chronicle juga menyajikan cocktail dengan base kopi dan wine, tapi saya belum sempat nyoba… cuma kayanya sih seru lah… soalnya tempatnya di Chronicle ini asyik, bisa buat ngobras agak lamaan dikit.

Jadi, dari skala 1 sampai 5, berapa kali koprol? 4 kali koprol!  Kopi sedap, pelayanan memuaskan, makanan oke, harga juga masuk akal dan lokasinya deket banget, depan-depanan pun sama kantor saya… sedep banget kan ya… asal orang-orang di Chronicle nggak bosan aja sama saya 😀

Kesimpulannya sih, I shall return as I am thirsty for more… *halah*

Chronicle

Jl. Wijaya 2 No. 73, Jakarta Selatan

Telp. +6282188881538

FF [Food on Friday]: Kalimati Harga Tak Mati

Semalam saya sebenarnya sedang ingin makan ayam Taliwang, tapi rute menuju lokasi sangat macet. Kami kemudian malah melipir ke Mangga Besar, hahahaha melipirnya jauh ye… Saya membayangkan Bubur Mabes, tapi kawan saya kebayang-bayang Kamseng. Okelah Joni, saya ikut saja… Sampai Kamseng, seorang teman yang lain berkata, akan bergabung dengn kami tapi dengan syarat setelah Kamseng kita harus ke warung seafood di Kalimati. Yaelah… baru juga nyuap babi merah… 😆

Demi perkawanan, kami mengiyakan ajakan nyifut di Kalimati. Catet ya, ini demi perkawanan *ya suka-suka elo lah cep*

Menuju Kalimati, bolak-balik saya tanyakan, emang beneran enak? Kaharti gak? Tentu saja, ditambah kalimat andalan saya, “gue sebenernya cuma mau ngemil” sepanjang hidup ini, kalo perlu…saya cuma mau ngemil!

Ya biasa deh, kalo baru pertama kan suka norak ye… Masuk belokan Kalimati, saya sudah terlongo-longo *halah* banyak bener warung tenda yang jualan seafood, dan rame semua. Teman saya bilang, cari yang tulisan warungnya Mulyono. Okesip.

Inilah pesanan kami kemarin di Mulyono.

Cumi gorengnyaaaa… cuminya sih enak ya, masih seger dan gak alot, tapi tepungnya kurang sedap… cumi gorengnya jadi berasa cumi tempe…. tapi ya gimana, wong namanya juga warung kaki lima yee…

Ini sausnya eni deh… Kerangnya juga seger kok… nggak ada rasa amis atau rasa pasir.

Yang cukup bikin saya kaget, ternyata gede-gede juga ya udangnya… ya manis aja sih, seger juga sih. Pokonya, kalo seafood kan nomer satu kudu seger, bumbu enak belakangan. Untungnya, yang ini seafood segar dan bumbu cukup oke.

Kami cuma pesan itu plus cah kangkung sih, lupa lah gak difoto, tapi bener ca kangkungnya… masih krenyes-krenyes. Untuk minum, kami pesan es teh, es kelapa jeruk dan kelapa muda yang di batok.

Total kerusakan untuk semua itu hanyalah 96 ribu sajah! Aih gelo, saya sampai bengong trus ketawa ngakak bertiga… yang bener ini?! Masa makan seafood bertiga dengan kenyang dan puas lebih murah dibanding makan di Kamseng berdua? *perbandingannya agak salah* Ternyata beneran bok… Itu udangnya ambil di Kalimati? Kerang? Cumi? Kangkung nanam sendiri? Pegawai kerja bakti? *mulai lebay*

Tapi mungkin memang bisa sih ya jualan murah… lokasinya mungkin tidak terlalu mahal, toh kaki lima… Tapiiii… Ah sutralah, untunglah masih ada tempat makan murah begini… Semoga laris terus ya, Mulyono… dan dagang murah terus… karena saya akan kembali lagi nyicipin ikan bakar dan menu lainnya.

Berapa koprolable? 3,5 deh ya… nggak enak luar biasa, tapi ya harga cuma segitu mau gimana lagi coba?! Ha? :mrgreen:

Warung Tenda Seafood Mulyono

Kalimati – Pademangan (masuknya dari Jl. Gunung Sahari)

FF [ Food on Friday]: Mie Kucai Toge 35 – Senen

Don’t judge the books by its cover, ceu’na teh…

Itu juga mesti diaplikasikan di warung ini, kayanya gak niat gitu mau jualan…saya selalu merasa yang jualan ini tidak senang kalau saya datang *apa cuma gue doang?* semacam ada penghalang untuk berkomunikasi memesan mie yang saya mau gituh… hahahaha penting lo bok, menyampaikan pesanan makanan itu… Tapi untunglah, biar penampakan luarnya macem ogah-ogahan jualan, ternyata rasa mie-nya lumayanan!

Saya lebih suka mie polos pakai telor saja dibanding pakai ayam, b2 atau udang… nggak yakin seger aja…karena warungnya nggak ramai-ramai banget. Pernah coba pakai ayam, dan fail. Kawan saya pernah coba pakai b2, malah berhasil. Embuhlah… biar amannya saya pesan yg pakai telor aja.

Porsi besar… yang kecil aja dimakan berdua masih kekenyangan… ya gimana gak kenyang, mie-nya boleh sepiring berdua, abis itu makan ketoprak di sebelahnya sepiring trus makan nasi kapau Uni Upik… ^^

Saya selalu makan mie di sini, belum pernah coba menu lain.

Kalau dihitung kerelaan untuk koprol, berapa koprol mie ini? 1.5 koprol. Kalau pas enak beneran, saya rela 3 kali koprol depan-belakang demi mie ini, tapi tak jarang saya cuma mau 1 kali koprol aja; demi kenangan rasa nikmat yang pernah saya rasakan, jadi sekarang saya rela 1.5 kali koprol, agak nanggung sih koprol setengah… *nungging*

Menu daging babi, hanya berdasarkan request.

Mie Kucai Toge 35

Pasar Senen, sebelah Gedung Wayang Orang Bharata.