mantra anak kos

Lagi bernostalgila jaman dulu masih di Bandung dan kos di Jl Jurang, periode akhir kuliah dan awal kerja, pas keur mejeuh-mejeuhna… 😆 . Sibuk ngeceng kanan-kiri, ngelaba tanpa henti. Yaoloooh…. jaman masih muda!!
Pada masa itu, teknologi internet juga baru lucu-lucunya, chatting di mirc! Ada seorang teman yang rela nggak makan asal bisa chatting… hehehehe kalau aku kecanduannya karena bisa dapetin apa saja lewat internet, mau nyari data apapun tinggal ketik trus muncul semua… kagum banget deh tante pada masa itu… sekarang juga kok… 😛 aku malah nggak pernah chatting, nggak ngerti dan malas mengerti… Trus, waktu itu, kami juga belum punya hp, masih mengandalkan wartel, pager dan telpon rumah. Semua itu elemen-elemen penting untuk melancarkan usaha tebar pesona yang ujung-ujungnya berlanjut pada makan dan nonton bareng.

Saking gak pentingnya hidup kami pada masa itu *emang sekarang penting?* kami nggak punya ‘tujuan’ lain selain internet, leleponan, dan urusan perut. Kami, aku dan teman-teman se-kos, merasa hampa tanpa ketiganya. Mantra kami cuma: Warnet, Wartel, dan Warteg. Kami sampai menganggap, rumah kos kami di Jl. Jurang itu, stategis banget… karena cuma selemparan kolor dari tiga titik vital dalam hidup kami. 100 meter dari rumah kos, ada warnet, di sebelah warnet pas ada wartel, kemudian jalan tak sampai 10 meter, sudah bertemu warteg. Duuuh…. indahnya hidup ini…

Tapi, smalam aku berpikir bahwa mantra penting kami sepuluh tahun yang lalu itu, sudah jadi basi sekarang. Wartel sudah mati, semua orang punya hp, bahkan nggak cuma satu… ada yang punya 5! Gimana ngomongnya ya? Yang penting sekarang adalah tukang jualan pulsa! Lalu, warnet… hm… laptop mulai murah dan makin banyak wifi gratis… tinggal beli kopi segelas trus ngenet berjam-jam… ada blackberry pulak… mulai melambaikan tangan perpisahan deh sama warnet. Naaah, yang masih eksis mungkin cuma warteg… selama masih murah ya… hehehehe memang, urusan perut tuh nggak ada matinya. Satu-satunya bidang usaha yang menjanjikan keuntungan 100% adalah makanan*’pale loo… ape-ape mahal tapi gak boleh naik harga je…* apalagi ditambah dengan tren banyaknya acara mengenai gastronomi di tipi, waah… makin heboh aje tuh kesempatan untuk memanjakan perut. Hidup isinya jadi cuma makaaaaan aja. Jadi ingat pertanyaan kuno, hidup untuk makan atau makan untuk hidup?

Balik ke mantra nggak penting, aku jadi mikirin… kayanya seru tuh yaa… kalau dibikin sinetron dengan judul, cinta bersemi antara warnet, wartel dan warteg, hehehehe judulnya nggak banget yaa… tapi emang judul sinetron sekarang kan emang aneh-aneh… trus yang jadi pemerannya aku jugak

Hehehehe, sumpe, posting ini nggak penting banget yaa…*emang pernah gitu posting yang agak penting?*

Sutralah, tante balik kerja rodi dulu deeh…..

mencintai dengan setengah kepercayaan

Seringkali, orang bingung dan rancu darimana aku berasal, mengingat bahasa Sunda yang semena-mena kugunakan dengan logat Jawa Timuran yang lekoh *halah*. Dan saat ditanya lebih jauh, darimana aku berasal, aku akan menjawab, aku orang Jawa Timur, dari kota Nganjuk. Lalu ketika pertanyaan lebih spesifik tentang asal-usul orangtua dilontarkan, aku selalu menjawab, “ayah Cina dan ibu Jawa, tapi aku lebih merasa sebagai Jawa daripada Cina, karena aku nggak ngerti soal budaya Cina, lagipula aku sangat fasih berbahasa Jawa dan tidak bisa berbahasa Cina”
Aku sebenarnya, sangat membenci pengkotak-kotakan manusia berdasarkan ras, suku dan agama, tapi tanpa sadar, aku telah melakukannya dengan pembeberan asal-usul yang nggak penting banget. Mungkin, lain kali kalau ditanya, aku akan menjawab aku orang Indonesia. Tak salah kan? Meski klise dan kesannya sok nasionalis sekali. Indonesia kan memang campur-campur kan? Tak heran, sebagai orang Indonesia, aku juga kecanduan es campur 😆
Eh, aku jadi serius berpikir, kalau nanti ada orang yang bertanya, “kamu asalnya darimana?” lalu kujawab, “dari Indonesia”, kira-kira… aku bakal digaplok sama orang nggak ya? Kamsudnya, orang jadi sebel atau nggak gitu sama aku?! Hehehehe. Kenapa mesti nanya? Ya iyalah… mesti nanya masak ya iya dong? *tssaah gak penting*
Sutralah, lupakan saja ocehan anak ayam berambut nenek sihir ini. Nggak penting menelusuri asal-usulku.
Yang penting, aku memang orang Indonesia, meski sempat tidak diakui sebagai warga negara yang bertanah air Indonesia. Penting juga untuk diketahui, bahwa aku cinta sama Indonesia. Heeeiiii….. jangan ketawa meledek, meski aku masih berbahasa Indonesia dengan tidak baik dan tidak benar, teteup kok… aing bogoh ka Indonesia… hehehehehe
Ya, cuma Indonesia satu-satunya tanah air yang aku kenal, otomatis aku cinta… meski kepercayaanku pada para pemimpinnya sudah tidak ada *upsss…. aman nggak ya ‘ngomel’ gini di blog?*
Mulai serius nih. Aku tidak bermaksud mendiskreditkan para pemimpin bangsa ini, yang sudah susah payah untuk memajukan negeri ini. Aku hanya tidak bisa percaya, itu saja. Jadi, aku percaya sepenuhnya pada negeriku, tanah airku Indonesia *tsaah* tapi tidak bisa percaya pada para pemimpinnya. Maaf. Aku terlalu kasar dan nggak mikir ya? Mungkin. Tapi mau bagaimana lagi…
Tapi tenang, hai para pemimpin bangsa, kalian tetap ada dalam doaku kok. Bukankah bangsa, negara, rakyat dan pemimpin merupakan satu paket dalam setiap doa yang dipanjatkan? Semoga, dengan bertambahnya hikmat akal budi para pemimpin, maka nurani yang dimiliki beliau-beliau pun semakin tajam, sehingga bisa benar-benar merasa, melihat dan mendengar, dan kepercayaanku mulai tumbuh lagi. Aku ingin mencintai negeri ini dengan kepercayaan penuh *ya sutrah, percaya saja sekarang, gitu aja kok repot?*

Selamat Hari Kebangkitan Nasional *iyaa… iyaa… udah telat, tapi ga pa-pa kan telat neeik, daripada kagak masuk, telat potong gaji setengah hari klo gak masuk potong gaji full sehari?! 😆 *

Indonesia, aku cinta kamu, sungguh, meski cuma dengan setengah kepercayaan.