Kesalahan

Sadness strikes the grey sky,

Pasti ada yang salah, jika tindakan yang kau pikir akan membebaskanmu dari kesedihan justru malah menyeretmu semakin jauh ke dalam sumur duka yang pekat. Melemparkanmu pada kedalaman tanpa oksigen sehingga membuatmu tak bisa bernafas. Continue reading “Kesalahan”

Garis – Garis Zebra

Zebra kecil menggerutu pada ibu Zebra, “mengapa aku dilahirkan sebagai zebra, bergaris-garis! Kita semua memenuhi padang dengan garis-garis yang sama! Bagaimana aku bisa dikenali kalau aku memiliki garis yang sama dengan garis – garis zebra yang lain?”

Ibu Zebra tersenyum meringkik, ”apakah kamu mengenali ibu? Bisa membedakan ketiga bibimu?”

”Ya tentu… aku mengenali ibu, juga para bibi. Aku selalu bersama kalian, aku hapal garis-garis kalian, aku melihatnya setiap hari! Tapi… tetap saja, manusia penjaga padang tak bisa mengenali aku”

”Manusia tak pernah melihat dengan seksama, mereka hanya melihat apa yang mata mereka ingin lihat saja, itu sebabnya mereka tak mengenali kita,” Ibu Zebra kemudian berlalu dan berderap menuju kolam minum.

3 Bibi Zebra

Lama Zebra kecil merenungi jawaban Ibu Zebra, lalu melihat kepada ketiga Bibi Zebra. Mengamati bentuk garis-garis mereka yang sama namun berbeda lekuk. Tiba-tiba saja, seperti ada pintu yang membuka di kepalanya. Kini Zebra kecil mengerti maksud ibunya.

Penting Untuk Berbahagia

Adakah cara lain untuk berbahagia selain dengan terus hidup, berjalan maju, melupakan dan merelakan?

Beberapa hari yang lalu, saya share posting dari linimasa di FB, sekalian pake enswei-swei… ya gitu deh, terus ngalor ngidul dan berujung pada, tolong dong doain saya supaya bahagia dalam segala hal.

Oh… well…

Seperti biasa, setelah berhari-hari… dipikir terus… diulang-ulang terus… saya jadi mikir, lama-lama kok saya jadi terobsesi sama kebahagiaan. Terobsesi menjadi bahagia. Apakah bahagia itu? Seperti apa manusia yang bahagia itu? Apakah saya berbahagia? Atau pura-pura bahagia?

Lagi-lagi ternyata… saya nggak tau apa-apa. Semua kata-kata seperti hilang makna, nggak ada artinya karena terlalu berlebihan dalam penggunaannya.

Photo 13-08-15 09.30.33Jika bahagia itu berwujud rasa syukur yang sederhana; seperti saat pagi hari menghirup udara segar dan sadar bahwa hari ini adalah hari baru, tambahan kesempatan untuk merengek pada Sang Hidup, nah…  maka saya berbahagia.

Jika bahagia itu adalah kumpulan rasa senang, dari hal-hal sepele yang tiap detik saya alami, maka saya berbahagia.

Jika bahagia juga mengandung sedih, marah, kecewa juga khawatir; rasa yang membuktikan bahwa saya merasa dan hidup, maka saya berbahagia.

Saya telah berbahagia. Sedang berbahagia. Akan berbahagia. Selalu.

Semoga semua mahluk di muka bumi ini selalu berbahagia. Selamat berakhir pekan.

Photo 14-08-15 07.13.51

Pretending Smart

Beberapa minggu terakhir, di kepala saya sedang berputar-putar topik ‘Smart City’. Jadi rasanya, saya harus menuliskannya dengan rapi (diusahakan untuk rapi) supaya nggak berputar-putar nggak penting di kepala.

Paradigma Smart City

Dunia sedang dalam euphoria ‘smart city’ segala-gala sedang dilabeli dengan smart city; mulai dari smart living yang berawal dari smart home, smart building lalu melebar ke smart city. Jakarta Smart City, Bandung Smart City, Surabaya Smart City… pokoknya smart kabeh. Jualan lagi laris kalau pakai tag smart. Continue reading “Pretending Smart”

Dia Masih Muda

Setiap kali mendengar berita sedih, entah itu tentang sakit atau kematian yang berkaitan dengan kerabat atau kenalan, otak saya langsung menghitung umur mereka, kemudian saya terjebak ke komentar nggak penting, “ya ampun, masih muda ya…”

Padahal, sakit penyakit dan kematian nggak ada hubungan dengan usia. Itu bisa terjadi pada siapa saja dengan usia berapa pun. Tapi entahlah, saya terus menerus tidak bisa mengenyahkan faktor kemudaan dalam hal ini. Saya selalu menganggap, harusnya usia usia muda itu masih sehat dan gembira. Kalau pun sakit parah, saya punya harapan naif bahwa usia muda akan membantu mereka melawan penyakitnya… lalu sembuh. Continue reading “Dia Masih Muda”

Langit Abu-Abu 2014

Sudah tanggal 30 Desember 2014… Rasanya, baru kemarin deh tanggal 1 Januari 2014. Ih, ngapain aja saya setahun ini yak? Ngeblog doang… itu pun jarang 😆

Okay, serius… pencapaian terbesar 2014? Biasa aja semuanya. Masih bertahan hidup dengan cara bernafas dan bergerak, tak lupa tidur secukupnya. Ah bukan berarti saya tak mensyukuri apa yang sudah terjadi tahun ini lho, ada banyak hal yang saya alami dan kebangetan kalau nggak disyukuri.

Sungguh.

Makan cukup, sehat selalu sepanjang tahun. Kena flu dan sakit demam hanya 2 kali kalau nggak salah ya… Kaki nggak patah, tangan juga nggak patah. Patah hati sedikit sih boleh tahan. Hahahahaha. Berhasil menurunkan berat badan sebanyak 4 kilo berkat naik sepeda pergi-pulang kantor, yang berarti berhasil ngirit ongkos ojeg yang kemudian bisa dialokasikan ke acara minum kopi. Dengan turunnya berat badan, berarti ukuran baju juga mengecil! Lumayan banyak, semua celana saya jadi kegedean, kemudian saya jadi punya alasan untuk membeli sepatu baru… lho, kok sepatu?

Hidup di tahun 2014, penuh dengan rasa. Kemudian, di penghujung tahun… Jatuh cinta dan patah hati datang bertubi-tubi. Juara banget ya… news of the year nampaknya. Tapi itulah hidup, konon kata pepatah, “urip kuwi bungah lan susah tekane sawayah-wayah” Jadi, ya gitu… Hidup itu soal rasa, rasa gembira berlebih yang bikin hati riang juga ringan dan mengambang di udara. Rasa sedih yang menyeret-nyeret hati hingga berdarah dan bikin airmata nggak berhenti mengalir, itulah hidup. Merasakan semua itu berdenyut dan menguasai mental juga raga. Tentu saja, hanya orang sehat yang bisa merasakan ini semua, jadi ya balik lagi ya… muter ke mana pun, ujungnya teteup mensyukuri.

Tapi memang kan biasa aja 2014 ini, saya nggak tiba-tiba dapet penghargaan nobel atau apalah…seperti membuang lagi satu tahun dalam hidup saya, karena saya belum merasa berguna bagi dunia… seperti menemukan vaksin anti bokek, misalnya… Ini seperti ucapan syukur yang berbelit dengan penyesalan.

Ih, posting ini kok makin gak jelas, menye-menye sana-sini… maaf, cuaca mendukung. Langit selalu abu-abu, seperti persetujuan alam untuk saya ikut merasa kelabu. Hayah.

Lalu sampailah saya di pemikiran, betapa tipisnya hidup kita ini, sekali bersin bisa saja nyawa terhempas dan berpisah dengan raga. Jika demikian, dan saya sedang berada di dalam rasa belum-berguna-bagi-nusa-dan-bangsa, kematian pastilah menyakitkan. Kematian penuh penyesalan. Tapi saya ingin mati dalam bahagia, juga kemudahan, mati yang lebih mudah daripada hidup. Jadi, sekali lagi…mari kita syukuri bahwa kesempatan untuk memperbaiki cara mati masih akan datang di tahun 2015. Matahari masih akan terbit esok hari, memberi harapan untuk berharap lebih banyak pada hidup.

Dan untuk menutup posting menye-menye nggak jelas ini, mari kita saksiken video Bad News dari Bastille. Ya sambil diingetin, bahwa mau sesiap apapun kita menghadapi hidup, tetap saja kita akan terkejut oleh apa yang diberikan oleh hidup. Both bad news & good news will kick you in the teeth when you least expecting!

Mari kita rayakan hidup! Selamat menyongsong tahun baru 2015, semoga langit tak lagi selalu abu-abu!

Berdenging

Suatu hari di sebuah foodcourt Jakarta.

Tini (sambil memegangi telinganya): “Aduh! Mendadak kepalaku berdenging… nggak enak banget”

Tono: “Kepala atau telinga?”

Tini: “Kepala. Mulai dari batok belakang sampai depan sini”

Tono: “Kok telinga yang dipegang? Yang mana yang benar?”

Tini: “Ya telinga kan di kepala, sama aja lah”

Tono: “Telinga bukannya kuping?”

Tini: “Kuping hidung”

Semua Salah SBY

Di suatu siang yang terik, di halte Transjak.
Tini *ngomel*: “Ini bis-nya lama gara-gara polisi tuh…mereka nilang orang di jalur bis, jadi macet ke belakangnya… Bukan dipinggirin ato buruan kek… polisi gak pernah naik transjak sih…gak tau pegelnya nunggu”
Tono: “Harusnya polisi naik bis biar gak bis-nya bisa cepet”
Tini: “Naik bis biasa aja yuk”

Laaaaamaaaaaa

Tini: “Kok lama sih, taksi aja yuk”

Laaaaaaamaaaaaa

Tini: “Kok lama semuanya sik?!?”
Tono: “Ini pasti salah polisi deh… Coba dia naik bis… Coba dia naik taksi”
Tini: “Semua salah pemerintah!”
Tono: “Bukan, semua salah SBY!”

Iga Penyet

Suatu ketika di sebuah warung iga penyet.

Tini: “Tono, lihat deh mbak-mbak pegawai  yang lagi antar piring ke situ itu, kasian yaaa…jalannya meyeyek gitu…kayak idupnya susaaaah banget… kenapa ya? Mbok yang giras gitu loh”

Tono: “Tadi iga-nya abis, trus pas dia ke dapur langsung ditarik sama juragannya, ‘ayo kamu tengkurep, mana gergaji’ langsung diblekrek punggungnya, trus digergaji iganya, trus digoreng trus dia disuruh nganterin ke meja yang pesen. Makanya dia susah…”

Tini: “Emang kasian banget yaa…”

Sinetron Sop Kambing

Suatu malam di tenda warung Sop Kaki Kambing Tiga Saudara.

Tini: “Di dekat rumah ada juga warung lumayanan, tapi dagingnya kadang masih bau kambing, yang nyegrak di tenggorokan gitu. Kuah lebih light sih… tapi aku lebih suka yang di sini, ketang; lebih gurih… tapi otaknya lebih enak daripada di sini, nama warungnya Sudi Mampir. Lucu yaa…”

Tono: “Sudi mampir, ora sudi nyekolahke (mau mampir tapi ngak mau nyekolahin)… jadi otaknya masih gurih, gak dipake mikir”

Tini: “…”

Tono: “Kalau yang di sini, sekolahnya homeschooling karena tiap hari mesti kejar tayang merumput, trus ketemu pemain bola, trus pacaran”

Tini: “Jadi, otaknya Nikita Willy gak enak?”