Kembali Ke mBali

Bali tak pernah membosankan, apalagi buat saya yang tergila-gila pada masakan khas Bali yang spicy, meledak-ledak di mulut sama seperti tariannya yang dinamis. Elah banget gak sih? 😀 Tapi, Bali menyediakan semuanya, mulai dari masakan tradisional yang hardcore dan mesti antri di pasar, sampai tempat cantik yang menyediakan menu internasional yang cucok untuk lidah semua orang. Tinggal pilih.

Dan inilah beberapa tempat yang saya datangi dua minggu yang lalu ketika ke Bali, beberapa adalah tempat yang itu-itu aja, karena memang warung favorit; namun ada beberapa tempat yang saya baru datangi kemarin.

Nasi campur Ibu Made Weti – Pasar Sanur

Ini adalah warung yang wajib dikunjungi  buat saya sekarang. Buka pagi, saat sarapan. Saya sih berharap pas nyampe Men Weti lagi siap-siap buka warung, karena ritual beliau sebelum mulai jualan, saat meracik sambal dan urap itu seperti atraksi sendiri buat saya. Kemilau garam yang ditaburkan, mempesona saya. Tapi tak kesampaian dapat atraksi pun tak apa, karena pada kunjungan kemarin, Men Weti ramah sekali sama saya! Mungkin itu adalah ganjaran buat saya yang niat banget ambil flight subuh supaya sampai Bali langsung bisa sarapan di sini…. Hahaha… sudah bukan rahasia, kalau Men Weti ini agak jutek sama pengunjung, cemberuuuut aja… tapi biarpun dijutekin, saya rela kok antri, dan senyum-senyum aja kalau dijutekin sama beliau, demi sepiring nasi campur. Rasanya, tetap senikmat yang saya ingat. Oooh… Selamat datang di Bali!

Warung Khrisna – Jl. Kutat Lestari, Sanur

Ini juga salah satu yang HARUS saya datangi setiap ke Bali. Katanya sih, udah ada cabangnya di Jl. Tuban, tapi sebelah mana nggak tau. Saya selalu ke sini untuk Tipat Campur-nya. Selain Tipat Campur, di sini ada juga Nasi Campur Bali, dan Bubur Campur.

Tipat Campur Warung Khrisna

Laklak – Warung Dah Lolet, Jl. Batur Sari No. 47, Sanur Bali.

Laklak ini semacam serabi tapi nggak pakai santan, dipanggang di kuali kecil-kecil gitu… memakai pewarna daun suji. Disajikan dengan parutan kelapa dan gula merah cair. Selain Laklak, ada Es Daluman dan lupis juga di warung ini.

Kopi Bali – Jl. Bypass Ngurah Rai, Bali.

Setiap ada arah ke Sanur, saya selalu menyempatkan diri mampir di Kopi Bali Sanur ini. Memang di area Kuta juga banyak warung Kopi Bali ini, tapi entah kenapa rasanya beda. Machiato dan Latte yang di Sanur ini paling pas buat lidah saya.

Kafe Dulang – Jl. Dewi Sri No. 1A, Legian, Bali

Sungguh, sangat nggak kreatif ya… dari sekian banyak warung di Bali, baliknya ke situ lagi…situ lagi… Nah, kalau biasanya kami selalu ke Kafe Dulang di Kuta Square, kali ini, nyobain yang di Jl. Dewi Sri, sebelah hotel Pop Haris. Sayangnya, di warung yang ini nggak ada pisang bakarnya… tapi es teh sereh dan mie goreng andalam tetap ada dong… meskipun mie-nya model yang kecil-kecil, bukan mie gendut.

Vin+ – Jl. Kayu Jati No. 1, Seminyak, Bali.

Dengan pilihan wine yang banyak, penataan ruang yang menyenangkan & bagus, plus makanan yang oke, Vin+ Seminyak ini boljug deh dijadikan kunjungan tetap. Dulu-dulu dipikir, ngapain lah ke Vin+ Seminyak, di Jakarta juga ada… eh, ternyata asik juga tempatnya… gak pake rebutan pulak sama adek-adek hipster… Cheers!

Warung Eropa – Jl. Petitenget No. 9D, Kerobokan, Kuta, Bali 80361

Kami berlima ke warung ini memesan menu yang sama, bebek goreng crispy. Oh, segitu istimewa-nya kah? Oh ya… bebeknya garing, renyah dengan bumbu gurih meresap. Nggak alot dan nggak bau. Kalau pas tinggal di area selatan dan nggak mau capek-capek bermacet ria ke Ubud, warung ini sangat direkomendasikan.

Corner House – Jl. Laksamana No. 10A, Seminyak, Bali

Tadiannya, saya kekeuh nyari Revolver coffee. Menurut google maps, lokasinya di pojokan. Okay, nemunya ya Corner house ini. Antara ragu, beneran apa kagak… tapi ya tetep masuk aja, toh ni warung pakai kopi dari Revolver, sama aja deh. Pas liat menu, lhooo… kue manisnya kok dikit? Konon di Revolver banyak kue manis… ya sudahlah, kan memang mau kopi… pesan kopi dan bread pudding. Kurang berkesan buat saya. Ya nggak mengecewakan, tapi ya biasa aja. Besokannya, saya baru tau kalau warung Revolver-nya di gang belakang deket tenggongan. Wait, tenggongan sebelah mana? Ya pokoknya tenggonggan sebelah situ deh! Lain kali saya udah tau.

Cappucino & Bread Pudding

Nook – Jl. Umalas I Gg. Nook No. 1, Bali 80361, telp. (0361) 8475625

Konon, warung ini sudah ada sejak 3-4 tahun yang lalu, namun baru kali ini saya datang ke sini. Langsung suka lihat hijaunya sawah di sekeliling warung… semoga, lain kali pas datang lagi masih sawah semua ya sekelilingnya…

Di Nook, bisa pilih masakan Indonesia yang sudah matang, tinggal tunjuk macem di warteg, juga ada menu a la carte internasional dan all day breakfast. Udah, gampang deh… buat rame-rame pasti cucok… memenuhi selera semua umat.

Babi Guling Pak Malen – Jl. Sunset Road, Bali

Ke Bali nggak sah kalau nggak makan babi guling. Hari terakhir, sempet juga saya makan bigul Pak Malen…Hore! Beneran di Bali kite, cong!

Bigul ala Bali memang nggak pernah salah. Makin nikmat dengan tambahan lawar dan sambal matah yang pedas. Oh, dunia sangat indah…

Paletas Wey – Jl. Mertanadi No. 12, Kerobokan, Bali

Dari warung Pak Malen tinggal nyebrang ke Jl. Mertanadi, pas banget di pojokan. Warungnya masih gres… masih bau cat… tapi bakal jadi menyenangkan karena tempatnya luas, meskipun hanya menjual popsicle (kemarin sih gitu, nggak tau kalau bakal ada menu tambahan ya). Pilihan rasa popsicle-nya banyak… mulai dari rasa buah-buahan standar macam semangka, pisang, papaya, jambu biji, kiwi, sampai pina colada dan tequila 5%! Saking banyak pilihannya, sampe bingung, mau yang mana?!

Saya kemarin cuma nyobain chocolate orange dan kelapa. Berhubung abis makan bigul, tentu yang paling cakep jadinya ya yang kelapa dong, pas banget. Nggak terlalu manis, creamy dan eksotis *halah*.

Warung Basang – Jl. Raya Tuban 58A, Kuta

Ini warung yang paling pengen saya datengin, konon… makanannya bener semua rasanya. Otentik. Penganan khas Bali yang udah lama nggak ada, tersedia di warung ini. Semua layak dicoba.

Sayangnya, siang itu kami belum terlalu lapar, jadi cuma memesan bubur sungsum dan rujak, minuman es dan kopi.

Pas datang, yaaaaa… gitu aja. Ekspetasi saya terlalu tinggi. Saya pikir, rujak dan buburnya aja cukup untuk dijadikan pegangan buat balik lagi lain waktu. Ternyata, ya belum… mungkin saya harus memberikan kesempatan pada warung ini lain kali, ya kalo sempet ya…

Ayam Betutu Gilimanuk – Airport Ngurah Rai

Mengobati kekecewaan akibat camilan bubur dan rujak yang-gitu-aja di Warung Basang, saya niat banget buat makan sore dengan menu khas Bali sebelum pulang. Saya sih memang suka juga betutu ala Gilimanuk dengan kuah agak pedas ini, di Jakarta warung ini juga ada… tapi udah lama juga nggak mampir ke situ. Rasanya sih nggak se-lekoh yang saya ingat, tapi nggak pa-pa deh… yo wis lah. Yang penting makan ayam betutu, nanti pan kapan ulang lagi.

Coffee House – Airport Ngurah Rai

Menunggu boarding pesawat balik ke Jakarta yang ternyata delay, saya sempet ngopi dan nyemil lagi di Coffee House, dekat gate 2, keberangkatan domestik. Kopinya… ya gitu aja, tapi chocolate mud cake-nya boleh banget, pekat…ya emang kayak chocolate mud… 😀 *apa sih*

Daaan… selesai sudah kisah perut selama 3 hari di Bali. Banyak yang nggak sempet disamperin, tapi nggak pa-pa… bukankah itu jadi motivasi buat balik lagi secepatnya?  Yeuk… mari!

Penting Untuk Berbahagia

Adakah cara lain untuk berbahagia selain dengan terus hidup, berjalan maju, melupakan dan merelakan?

Beberapa hari yang lalu, saya share posting dari linimasa di FB, sekalian pake enswei-swei… ya gitu deh, terus ngalor ngidul dan berujung pada, tolong dong doain saya supaya bahagia dalam segala hal.

Oh… well…

Seperti biasa, setelah berhari-hari… dipikir terus… diulang-ulang terus… saya jadi mikir, lama-lama kok saya jadi terobsesi sama kebahagiaan. Terobsesi menjadi bahagia. Apakah bahagia itu? Seperti apa manusia yang bahagia itu? Apakah saya berbahagia? Atau pura-pura bahagia?

Lagi-lagi ternyata… saya nggak tau apa-apa. Semua kata-kata seperti hilang makna, nggak ada artinya karena terlalu berlebihan dalam penggunaannya.

Photo 13-08-15 09.30.33Jika bahagia itu berwujud rasa syukur yang sederhana; seperti saat pagi hari menghirup udara segar dan sadar bahwa hari ini adalah hari baru, tambahan kesempatan untuk merengek pada Sang Hidup, nah…  maka saya berbahagia.

Jika bahagia itu adalah kumpulan rasa senang, dari hal-hal sepele yang tiap detik saya alami, maka saya berbahagia.

Jika bahagia juga mengandung sedih, marah, kecewa juga khawatir; rasa yang membuktikan bahwa saya merasa dan hidup, maka saya berbahagia.

Saya telah berbahagia. Sedang berbahagia. Akan berbahagia. Selalu.

Semoga semua mahluk di muka bumi ini selalu berbahagia. Selamat berakhir pekan.

Photo 14-08-15 07.13.51

Tersesat (9)

Qahwa memberikan kenikmatan lebih banyak pada ciuman.

Konon di negeri tempat qahwa pertama ditemukan, seorang kekasih akan mengambil resiko untuk mati dengan menyelipkan beberapa biji qahwa ke tangan orang yang dicintainya, Lelaki Kayu Manis memulai ceritanya. Itu yang terjadi pada buyut nenek dari nenekku. Ia jatuh cinta pada seorang pengembara dari negeri tua tempat semua aksara berasal, di mana bahasa menemukan pasangannya. Buyut nenek dari nenekku dengan berani menyelipkan beberapa biji qahwa ke dalam genggaman sang pengembara yang kuat dan halus. Itu adalah janji akan penyerahan hidup total yang tak bisa terpatahkan, katanya, aku akan mengikutimu ke negerimu, menyembah Tuhanmu, menggarap ladangmu, dan akan dengan sukarela mendengarkanmu membaca puisi seumur hidupku. Pada malam yang pekat setelah upacara minum qahwa, nenek buyut kami mendatangi kemah sang pengembara dan menyerahkan dirinya pada cinta. Ketika tiba waktunya sang pengembara akan kembali ke negerinya, nenek buyut kami mencuri biji-biji qahwa dan menyelundupkannya ke dalam keliman bajunya untuk nanti akn ditanam di negeri tua, negeri rempah-rempah. Aku meninggalkan negeriku, tetapi aku tak bisa meninggalkan qahwa maka kubawa ia supaya hidup bersamaku di negeri baru kami, begitu katanya dalam hati, yang kemudian didongengkan kepada anak-anaknya, lalu cucu-cucunya, dari generasi ke generasi hingga sampai kepada ibuku yang menceritakannya kepadaku. Ayah nenek buyutku tidak menyadari kehilangan biji-biji qahwa terbaiknya sampai beberapa hari berikutnya, ia baru menyadari kehilangannya. Lalu ia bersama budak-budak terbaiknya segera mengejar putri kesayangannya itu yang telah berjalan tiga hari sebelumnya bersama sang pengembara, lalu mengambil kembali apa yang telah dicuri oleh nenek buyutku. Ketika kemurkaan pertama itu datang kepada ayah nenek buyutku, ia merobek jubahnya dan meratap, ”mengapa harus putriku?” pencuri biasa hanya akan dipotong tangannya, tetapi pencuri biji-biji qahwa harus dibunuh di negeri asal nenek buyutku. Qahwa adalah tumbuhan surga yang harus dijaga di tanah mereka, hanya untuk kaum keturunan mereka. Jadi, meskipun nenek buyutku merupakan kesayangan ayahnya, sang ayah tak bisa mengelak untuk membunuhnya demi tugas dan kewajiban sebagai penjaga qahwa. Ayah nenek buyutku bahkan telah mengoleskan abu sebagai tanda dukacita ke atas rambutnya yang telah memutih. ”Aku kehilangan putri kesayanganku, ia telah mati di tanganku,” ratapnya. Bahkan budak-budaknya, pejuang-pejuang tangguh penjaga qahwa juga ikut meratap dan mengoleskan abu di kepala mereka. Nenek buyutku tak hanya putri tuan mereka yang cantik dan menawan, tetapi ia juga baik hati serta penuh kasih. Nyanyiannya bisa menghentikan senja sehingga Matahari yang elok dapat lebih lama menari di atas langit yang kemerahan. Tangannya yang lembut namun kuat telah mengobati luka-luka peperangan di tubuh budak-budak itu, dan menyuapi mereka dengan penuh kesabaran ketika mereka terbaring lemah karena demam malaria. Nenek buyutku, tak hanya dicintai oleh ayahnya, tetapi juga merupakan cahaya bagi para budak-budak dan keluarganya. Membunuh nenek buyutku, adalah pengabdian tertinggi mereka kepada qahwa, tumbuhan surga yang harus mereka jaga. Mereka berlari tanpa lelah dengan sangat sedikit istirahat bahkan di malam hari, mereka hanya berhenti selama dua jam setelah Matahari terbenam, karena saat itulah jiwa-jiwa yang akan memulai petualangannya dilepaskan, lalu berlari lagi dan beristirahat  lagi sesaat sebelum Matahari terbit, saat jiwa-jiwa kembali bertemu roh dan tubuh kekasihnya. Perjalanan untuk membunuh ini tak boleh berpapasan dengan jiwa, yang mungkin saja akan menggagalkan rencana mereka. Rombongan ayah nenek buyut kami juga akan berhenti ketika Matahari terik di atas kepala. Setan, yang tak takut akan gelap juga tak gentar pada siang yang terang, ia akan menunggangi Matahari dan menghisap darah manusia tepat saat Matahari bersinar di atas kepala. Setelah berhari-hari, mereka menyusul nenek buyutku yang sedang beristirahat di lembah padang gurun, berkemah di antara batu-batu sebesar rumah. Ayah nenek buyut kami, bisa saja langsung membunuh putri kesayangannya saat itu juga, tetapi ia ingin melihat putrinya bernyanyi pada senja satu kali lagi, jadi ia menyuruh budak-budaknya bersembunyi di balik batu bersamanya, mengawasi putrinya yang tertawa bahagia bersama sang pengembara. Denting tawanya bergaung indah bagai lonceng di lembah penuh batu. Ketika senja mulai turun, nenek buyut kami naik ke atas batu yang terbesar lalu mulai bernyanyi. Seluruh jagat raya serasa berhenti, ayah nenek buyut kami menangis diam-diam. Ia akan membunuh putrinya besok, ia ingin mendengarkan nyanyiannya sekali lagi. Lalu ia menyuruh budak-budaknya untuk beristirahat, ”kita akan menyelesaikan tugas ini besok. Aku akan memberi kesempatan pada putriku untuk bernyanyi pada senja sekali lagi.” Dalam hati para budak-budak itu, mereka lega karena masih ada satu hari lagi untuk menghindari tanggung jawab untuk membunuh putri tuan mereka. Jika saja, mereka bisa mengelak dari tugas itu.

Rupanya, sang pengembara menyukai lembah batu-batu itu. Ia menulis banyak puisi dan meminta nenek buyut kami untuk tetap tinggal di lembah itu menemaninya selama beberapa hari lagi. Sepanjang hari-hari itu, setiap sore nenek buyut kami naik ke atas batu besar dan bernyanyi kepada langit. Dan selama itu pula, ayahnya menunda untuk membunuh putrinya karena akan memberi kesempatan putrinya untuk bernyanyi sekali lagi.

Pada suatu senja, sesaat setelah nenek buyut kami selesai menyanyi, seekor singa gunung jantan mengendap dengan anggun dan lapar, menuju ke arahnya. Nenek buyutku tak melihatnya, karena ia membelakangi arah datangnya singa itu, namun ayah nenek buyutku yang mengawasi putrinya dari jauh melihatnya, dan tanpa berpikir lebih jauh, ia melesat ke arah singa yang lapar itu untuk menyelamatkan putrinya. Ayah nenek buyut kami, merobek pangkal lengan singa jantan itu dengan sekali tarikan, namun singa itu berhasil merobek leher ayah nenek buyutku sesaat sebelum mati. Dengan cepat budak-budak ayah nenek buyutku menarik tuannya dan menikam jantung singa gunung itu dengan sekali tombak. Darah mengucur dengan deras dari leher ayah nenek buyut kami, dengan sisa nafasnya, ia menarik tangan putrinya yang masih termangu terkejut, ”aku menjadi ganti darahmu, hiduplah dengan bahagia” lalu ayah nenek buyut kami meninggal dalam dekapan putri kesayangannya. Semua budak-budak terbelah antara kelegaan bahwa putri tuan mereka, cahaya hidup mereka tetap hidup, namun sebagai gantinya, tuan mereka yang bijak dan penuh kasih menebusnya dengan kematiannya sendiri.

bersambung

Tersesat (8)Tersesat (7)Tersesat (6)Tersesat (5)Tersesat (4)Tersesat (3)Tersesat (2)Tersesat (1)

Tersesat (8)

Aku belum pernah mengenalnya, qahwa. Kupandangi Lelaki Kayu Manis mempersiapkan minuman pertamaku. Seperti sedang berdoa, ia membaca mantra dan membakar wewangian, lalu membasuh kaki dan tangan kami dengan air yang sejuk dari perut gua. Dari kantung kulit di punggungnya, ia menjerang kelopak bunga dan mendinginkannya, lalu menggunakannya untuk membasuh muka kami yang lelah dan tertutup debu.

”Serumit inikah untuk meminum qahwa?” tanyaku padanya, sambil menikmati harum kemenyan yang memabukkan.

”Tidak tahukah kamu, bahwa qahwa ada tanaman surga yang ditanam sendiri oleh para dewa di tanah kami, tempat semua rempah-rempah berasal. Kau perlu mempersiapkan indera terbaikmu sebelum meminumnya, menikmati aromanya”

Ia membakar qahwa hingga aromanya memenuhi gua tempat kami berteduh. Bau pahit kehidupan seketika menyerangku, namun ada selapis bau manis penuh janji di baliknya.

Aku mengamatinya menggiling biji-biji qahwa yang telah terbakar dengan serius. Alisnya bertaut, matanya tajam bersinar penuh harapan dan ia tersenyum seperti menyimpan rahasia. Rahasia qahwa. Aku menghirup harum bubuk yang menguar di udara dengan rakus, tanpa sadar aku mendesah senang. Betapa harum janji bumi yang diberikan melalui biji-biji yang baru saja kukenal ini. Lelaki Kayu Manis berpaling padaku dengan tersenyum lebar, gigi bagai mutiara berpendar dalam gua yang teduh dan dingin, ”harum ya? Sungguh baru pertama kamu mengenal qahwa?”

”Ya, dan aku tak sabar mencicipinya”

”Tunggu sebentar lagi”

Lalu seperti sebuah tarian ritual, ia menyiapkan secangkir qahwa. Rupanya, ia selalu membawa-bawa sebuah cangkir tanah liat di dalam tas perbekalannya, katanya, seorang pengembara dari negeri rempah-rempah akan selalu membawa perlengkapan minum qahwa ke mana pun mereka pergi. Aku tersenyum, sementara kami, jiwa-jiwa yang tinggal di pohon-pohon, tak pernah memikirkan perbekalan kami, sebab kami hidup dari embun pagi.

Tepat ketika kemenyan di pembakaran mulai habis dan air mawar yang membasuh mukaku meninggalkan aroma terakhirnya, ia memberikanku cangkir yang penuh dengan air qahwa. Kuputar cangkir di bawah hidungku untuk menikmati aromanya sebelum kuhirup airnya, aku seperti tersengat ketika saat cairan itu melewati lidah dan tenggorokanku. Waktu berhenti. Aku tertegun sejenak sebelum berpaling melihat pada Lelaki Kayu Manis yang mengamatiku dengan senyumnya yang paling menawan.

Cairan ini seperti sari buah dengan rasa asam yang segar, namun manis dan pekat, lalu pada sesapan berikutnya kukenali rasa kacang-kacangan yang pernah kutemukan di salah satu pohon di hutan, pada ujung lidah tertinggal rasa pahit yang anehnya menyenangkan. Berbeda dengan apa yang dikatakan Lelaki Kayu Manis padaku sebelumnya, ia memperkenalkan pahit yang datang terlebih dahulu, namun pada lidahku, pahit tertinggal di ujung lidah, meskipun demikian, pahit ini tak mengangguku sama sekali, malah membikin senang. Kini kukenal rasa baru, rasa pahit yang menyenangkan.

”Kamu menyukainya?” tanya Lelaki Kayu Manis.

”Pantas kalian menyebutnya minuman dewa”

Ia tertawa dengan nyaring, lalu rasa hangat di perutku mendorongku untuk mendekatkan diri kepadanya, menghirup lebih banyak aroma qahwa yang tertinggal di kulitnya, dan menciumnya.

Qahwa memberikan kenikmatan lebih banyak pada ciuman.

Tersesat (7)Tersesat (6)Tersesat (5)Tersesat (4)Tersesat (3)Tersesat (2)Tersesat (1)

Mohon Maaf Lahir & Batin

image

Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir & batin.

Ketika saya masih dalam masa-masa sinis terhadap semua agama, ucapan ini sempat menjadi cemooh saya dalam hati, minta maaf kok cuma setahun sekali. Ya kalau salah minta maaf, kalau nggak juga ngapain basa-basi minta maaf. Saya memang lahir dengan bawaan tinggi hati, gengsian dan sok. Untungnya, ada banyak soal latihan yang diberikan oleh Sang Khalik hingga pada hari ini saya bisa memahami bahwa, sebenarnya waktu hari raya ini adalah suatu keuntungan buat spesies saya untuk meminta maaf tanpa turun gengsi. Untuk semua kesalahan yang terlambat disadari dan kayaknya sudah kadaluwarsa untuk minta maaf, inilah saatnya minta maaf tanpa kena denda di gengsi. Apa sih?! Hahahaha…. hanya manusia-manusia gengsian yang paham perasaan gengsi minta maaf ini 😛

Saya perlu alasan untuk meminta maaf. Saya juga tak perlu alasan untuk meminta maaf.

Sudahlah. Saya ingin memanfaatkan momen ini untuk betul-betul menyebar permintaan maaf yang setulus-tulusnya, untuk semua kesalahan saya, baik yang saya sadari tapi terlalu gengsi untuk minta maaf atau pun yang betul-betul tidak saya sadari.

Juga selamat menikmati liburan bersama keluarga! Dalam hal saya, liburan kali ini berarti, leyeh-leyeh tanpa batas waktu di teras rumah sambil minum teh / kopi/ susu coklat hangat sambil membaca dan nyemil, diiringi cuitan burung liar, nyanyian tonggeret, bunyi gemericik air mancur dan semilir angin.

image
Kurang lebih, inilah keseharian saya....

Ya begitulah. Mari kita nikmati liburan ini! Hore!

Hal-Hal Random

Saya lagi seneng banget. Beberapa minggu ini baru pindah ke tempat yang sangat menyenangkan. Bagaimana tidak, tempat ini rindang dengan pohon-pohon besar, hijau, sejuk dan tenang…tapi masih di Jakarta Selatan, bukan di selatan Jakarta.

Jarak tempuh ke kantor menjadi hampir 3x lipat dari tempat tinggal yang lama.

Total perjalanan pergi – pulang menjadi sekitar 26 km sekarang. Jauh? Nggak juga. Pas dijalani sangat menyenangkan kok.

kegiatan hampir tiap pagi (kalau bangunnya gak kesiangan), mau teh atau kopi… monggo…

Saat di perjalanan, isi kepala saya sungguh riuh. Sambil otak memberi instruksi: hati-hati agak ke kiri aspal tidak rata, lubang di depan, motor yang belakang kayaknya ugal-ugalan dari bunyi mesinnya, mulai kayuh kencang dan memindah gigi rantai karena ada tanjakan; saya juga memikirkan tanaman dan model air mancur kuali, lalu detik berikutnya pemikiran melompat ke keramaian di timeline socmed yang saya lihat sebelumnya, kemudian lompat lagi ke menu makan siang / malam, lalu blank nggak tau mau ngelamunin apa kecuali misuh-misuh sama kendaraan bermotor yang sibuk saling klakson padahal lampu lalu lintas masih merah, trus nggak lama perhatian tersedot ke warung yang baru dilewati sambil mikir kayanya enak tuh…kapan-kapan mesti coba, lalu balik lagi mikirin kembang dan hiasan rumah, membayangkan recycle botol bekas dijadiin vas bunga. Begitulah. Kalau dibiarkan berkelana, otak kita memang bisa sangat random.

Etapi… satu yang nggak random yaitu, di kepala konsisten mikirin kamu.

Elah.

View this post on Instagram

Coffee at home. Hello tomorrow!

A post shared by Ruth Wijaya (@ruthwijaya) on

Menghadapi Complaint

Posting ini mendapat inspirasi terbesar dari pengalaman buruk di Chandara Thai Restaurant di Plasa Senayan, malam tadi.

Siapa yang gak pernah ketemu mahluk bernama complaint? Semua pasti pernah toh, baik itu yang ditujukan kepada kita, atau kita yang mengeluh terhadap pihak lain.
Oh, saya sih sering banget ketemu komplen. Ya, saya tukang komplen juga tukang menyelesaikan banyak komplen; karena pernah merasakan keduanya dengan sama banyaknya, saya tahu bahwa sebenarnya masalah akan selesai setengahnya dengan permintaan maaf terlebih dahulu, konsumen yang marah lebih baik diredakan marahnya lalu dicari solusinya, pun ketika solusi itu tidak ditemukan, yang penting diredakan marahnya.
Namun seringkali, penerima komplen malah menyulut kemarahan pihak yang komplen dengan pernyataan defensif yang arogan. Respon paling arogan yang saya terima tahun lalu adalah dari Pullman Hotel di jalan Thamrin. Oh, dan saya sampai hari ini sangat tidak merekomendasikan hotel tersebut.
Arogansi Pullman, rupanya mendapat saingannya hari ini dari Chandara Thai Restaurant di Plasa Senayan. Permasalahan sebenarnya sangat sederhana, komunikasi yang kurang baik dari pihak Chandara kepada kami sebagai konsumen. Secara singkat (meski susah juga disingkat) begini, Chandara punya kebijakan selama buat puasa membagi reservasi menjadi 2 tenggang waktu, yang pertama pukul 17.30 – 19.30, kemudian yang kedua pukul 19.30 – nggak tahu. Sayangnya, ketika kami melakukan reservasi, informasi ini tidak disampaikan, juga ketika kami datang ke restoran tersebut, sama sekali tidak ada informasi soal tenggang waktu ini. Karena ada satu halangan, salah seorang kawan kami baru sampai di tempat sekitar pukul 19.30, dan untuk mempermudah pembagian pembayaran di antara kami, maka kami minta pesanan yang sebelumnya dibuatkan bon, dan kami akan tambah pesanan baru. Bahkan, pada saat itu pun tidak ada informasi soal tenggang waktu.
Ketika salah seorang staff membawakan bon, barulah dia mengusir kami dengan berkata soal tenggang waktu tadi. Awalnya, saya pribadi, cuma merasa sedikit kesal karena tidak ada informasi soal hal tersebut. Ya, kami juga mau beberes dan pergi, memang tidak ada pilihan. Tapi semenit kemudian saya langsung meledak, karena respon staff Chandara yang sangat arogan. Nada suara, sikap tubuh, pilihan kata… plus, tidak ada permintaan maaf. Ya dia defensif bahwa mereka selalu menginformasikan hal tersebut, dan seolah-olah itu adalah resiko kami untuk diusir jika tenggang waktu berakhir.
Oh, saya tahu rasanya menerima komplen akibat kesalahan orang lain, kesal dan pengen marahnya dobel ke rekan kerja plus ke konsumen yang gak mau tahu itu bukan kesalahan saya. Tetapi, itu bukan alasan untuk boleh memperlakukan konsumen seenaknya.
Konsumen tidak selalu benar. Masalah selalu ada. Tidak semua masalah ada penyelesaian. Tetapi kita berinteraksi dengan manusia beradab.
Valid atau tidak valid komplen tersebut, mantra nomer satu sebagai penerima komplen adalah: minta maaf dengan rendah hati. Rendah hati tidak sama dengan rendah diri dan itu tidak akan membuat Anda menjadi mahluk hina. Restoran dan konsumen saling membutuhkan jadi satu pihak tidak bisa memperlakukan yang lain dengan seenaknya, tapi posisinya lebih ke restoran yang perlu konsumen, sih. Hidup kapitalisme yang memberikan segudang pilihan kepada konsumen!
Sembari menulis posting ini, saya juga merenung, saya meledak dalam amarah kepada si staff Chandara karena perlakuan dia yang arogan kepada kami, apakah karena saya juga gila hormat? Mungkin. Saya juga manusia, si Mbak tadi juga. Mungkin dia lelah. Saya juga, lelah.
Saya menyesal telah meledak dalam amarah yang sungguh-sungguh sampai suara saya bergetar. Kenapa saya harus marah? Marah membuat saya tidak lebih baik, malah memperburuk. Ah.
Dan posting ini saya tutup dengan, ya sudahlah… jangan makan lagi di Chandara.

Ps. Makanannya gimana? Not bad. Sebenarnya bisa masuk ke dalam salah satu pilihan. Ada menu yang enak tapi ya nggak rugi lah kalau kita nggak makan itu. Masih banyak restoran yang lain yang enak dan pelayanannya baik.

Tersesat (7)

Percayalah, kau tak akan pernah menginginkan ciuman seorang kekasih setelah kau merasakan nikmatnya qahwa yang pertama kali kau minum.

Semburat fajar kemerahan, pagi mulai menjelang. Kami telah bercakap-cakap sepanjang malam. Biasanya, pada saat seperti inilah Pengembara Mimpi mampir. Sudah lama kami tak bertemu, terakhir kali ia mengunjungiku saat senja ketika aku akan memasuki dunia manusia. Aku membayangkan, bagaimana jika Pengembara Mimpi bertemu dengan Lelaki Kayu Manis ini? Apakah yang akan dikatakan Pengembara Mimpi kepadaku? Ia selalu melihat  apa yang bisa kulihat, tentu saja karena ia sudah mengembara sejak pohon yang pertama tumbuh. Continue reading “Tersesat (7)”

Pretending Smart

Beberapa minggu terakhir, di kepala saya sedang berputar-putar topik ‘Smart City’. Jadi rasanya, saya harus menuliskannya dengan rapi (diusahakan untuk rapi) supaya nggak berputar-putar nggak penting di kepala.

Paradigma Smart City

Dunia sedang dalam euphoria ‘smart city’ segala-gala sedang dilabeli dengan smart city; mulai dari smart living yang berawal dari smart home, smart building lalu melebar ke smart city. Jakarta Smart City, Bandung Smart City, Surabaya Smart City… pokoknya smart kabeh. Jualan lagi laris kalau pakai tag smart. Continue reading “Pretending Smart”

Pembisik Pohon

Sebelum aku tersesat di Dunia Manusia, Pengembara Mimpi datang mengunjungiku saat pagi menjelang, ketika roh bertemu jiwa, dan bersiap menyambut Matahari.
“Kau berhutang kisah Pohon-Pohon,” kataku padanya, “kau selalu tak pernah menuntaskan ceritanya”
“Kisah tentang Pohon tak akan pernah tuntas selama Roh dan Jiwa selalu bertemu, selama hutan masih meniupkan kehidupan”
Aku tak pernah mengerti kata-kata Pengembara Mimpi, biasanya setelah ia pergi aku baru memahami maksudnya.
Semua hal tak harus dimengerti, kata Pengembara Mimpi; seperti kau mungkin tak akan mengerti tentang jiwa pembisik pohon.
“Pembisik pohon?”
“Mereka sama seperti aku, menjaga kehidupan Pohon-Pohon”
Jika aku mengembara mengunjungi jiwa-jiwa agar tak putus harapan pada Pohon-Pohon, maka pembisik pohon bernyanyi pada dahan dan ranting agar tetap menyatu pada batang, mengalirkan cinta Bumi pada daun yang akan menyampaikannya pada Matahari.
Pembisik pohon akan bernyanyi saat embun pertama menetes di daun.

Semesta merindu,
Semesta layu,
Dahan-dahan nyanyikan lagu,
Menarilah ranting-ranting kayu,
Daun-daun bergemerisik tanpa ragu,
Sebab jiwa menggantungkan hidupnya padamu.

“Kenapa aku tak pernah bertemu dengannya?”
Pembisik pohon bekerja dalam bayangan, bergerak hampir tiada dalam hembusan angin. Berlindung dari riuhnya kegelisahan jiwa-jiwa. Tapi ia selalu ada, sebab jika ia tak bernyanyi sehari saja, maka ranting dan dahan tak punya daya menempel pada batang yang kokoh, daun-daun akan gugur sebelum waktunya dan jiwa-jiwa akan kehilangan embun pagi.
Bolehkan aku bertemu pembisik pohon, untuk sekali saja?
Ia tak tahan pada kegelisahan jiwa.
Aku tidak gelisah.
Jiwa selalu gelisah selama ia hidup. Ia selalu gelisah.
Kenapa?
Pengembara Mimpi tersenyum lalu berkata sedih, “itulah imbangan semesta, kegelisahan jiwa. Kalian memang diciptakan dengan kegelisahan.”
Itu sebabnya kalian memerlukan Pohon-Pohon. Itu sebabnya Pohon-Pohon memerlukan pembisik pohon. Yang bekerja dalam bayangan, yang bernyanyi pada dahan dan ranting saat embun pertama menetes di dedaunan.

Oh, Pohon-Pohon…
Kegelisahan jiwa yang membelitmu,
Jadikan ia tali kehidupanmu,
Yang mengikat hidup pada keabadian,
Juga mengikat maut di masa depan,
Oh, Pohon-Pohon…
Bertumbuhlah kuat,
Lebih kuat daripada kegelisahan jiwa yang menggayutimu.

Enjoy Jakarta

Beberapa hari yang lalu, seorang kawan kurang lebih- bilang gini, “first time I came to Jakarta, I was like… what an awful city. It is so bad with the traffic and chaos. However, the more I get to know Jakarta , I start to love it. I like the contrast that this city offer to us. The people are so nice, with that bad traffic, it is still easy to find people that laughing wholeheartedly

Ah ya…

Saya akhirnya juga menyukai Jakarta. Tahun-tahun awal tinggal di Jakarta, saya menghabiskan waktu untuk mencari jalan supaya saya bisa kembali tinggal di Bandung. Saya berhasil mewujudkan keinginan saya, namun hidup membawa saya kembali ke Jakarta. Kali ini, saya tidak berusaha sekeras dulu untuk kembali ke Bandung. Saya pasrah saja menikmati Jakarta dan segala ketidak teraturannya. Ternyata betul apa kata pepatah, menemukan ketika tidak mencari. Ternyata, kota ini bisa membuat saya jatuh cinta.
Continue reading “Enjoy Jakarta”

Menjelang Pagi

Adakah cara yang lebih tepat untuk melupakan selain dengan terus berjalan dan melanjutkan hidup?
Adakah cara lain untuk berbahagia selain memaafkan dan merelakan?
Kata-kata indah penuh pengharapan mudah ditemukan dalam kegelapan malam, cari saja huruf-huruf yang berpendar lemah seperti kunang-kunang.
Tetapi hidup tidak hanya terdiri dari kata-kata. Ia melewati siang yang terang dan menghanguskan, serta malam yang gelap dan dingin membekukan.
Malam telah menelan Matahari. Memeluk dingin yang menggelayuti kaki sehingga tak bisa melangkah maju.
Kabut membutakan mata hingga tak bisa mencari arah bahagia. Harapan berkelip lemah lalu padam dihembus angin yang bertiup bersama tangis serta ratapan.
Mati segan, hidup juga tak mau. Mati selagi hidup, apalagi yang bisa lebih menyedihkan daripada itu?
Sungguh tak ada harapan jika Matahari tetap memutuskan untuk tak melawan malam.
Tetapi, ia juga membinasakan ketika memutuskan untuk memancarkan kebahagiaannya yang panas dan terik tepat di atas kepala.
Manusia, banyak mau… banyak ingin dan banyak seandainya. Tak pernah ada waktu yang tepat untuk berbahagia, baik di siang atau pun malam jika tak diputuskan untuk bahagia. Percayalah.
Menjelang pagi nanti, saat roh kembali dari dunia mimpi dan saat Matahari berangkat untuj melawan malam, putuskanlah untuk berbahagia untuk hari itu saja. Bahagia esok, putuskanlah esok. Hari ini, mari berjalan melupakan kemarin.

Lagipula, airmata tak mesti jatuh penuh makna, kesia-siaan sesekali memang diperlukan.

Posted in NOL

Mengakali Tuhan

Mengapa Tuhan menciptakan manusia yang penuh tipu daya? Banyak akal sehingga mengakali hidup. Yang tak bisa diakalinya hanya kematian. Tapi mungkin juga ia mengakali mati setelah berada di sisi seberang sana, mana kutahu?
Doa demi doa didaraskan untuk mengambil hati Tuhan, agar yang diinginkan terkabul. Merengek penuh derita dan berlindung dalam mantra sakti bernama, iman. Berharap sebesar gunung, agar semesta bergerak mengikuti jalan hidupnya.
Mengapa Tuhan menciptakan manusia dengan banyak mau dan banyak akal?
Doa demi doa dilantunkan bagai lagu, membuai telinga Tuhan.
Berikanlah aku ini hari ini dan itu untuk hari esok. Biarkanlah mujizat jatuh dari langit.
Ketika tahu mujizat tak mungkin ada dari yang tiada, manusia bernegosiasi, baiklah…kuminta satu hal saja, hanya ini yang terpenting, tetapi sementara itu hatinya berbisik, setelah ini tetap akan kuminta itu dan anu. Tak tahukah ia, jika IA mendengar bisikan sudut hatimu? Mengapa tetap kau mengakali Tuhan?

Mengapa Tuhan, Kau biarkan kami mengakaliMu?

Posted in NOL

Hujan Bulan Juni

Sapardi Djoko Damono

Tak ada yang lebih tabah,
dari hujan bulan Juni,
dirahasiakannya rintik rindumya,
kepada pohon berbunga itu.

Tak ada yang lebih bijak,
dari hujan bulan Juni,
dihapusnya jejak-jejak kakinya,
yang ragu-ragu di jalan itu.

Tak ada yang lebih arif,
dari hujan bulan Juni,
dibiarkannya yang tak terucapkan,
diserap akar pohon itu.

Hujan siang ini. Selamat bulan Juni.

View on Path

Omakase & Kepasrahan Rasa

Omakase at Umaku Sushi

Apa sih Omakase? Menurut Wikipedia, Omakase secara bebas diartikan sebagai: I’ll leave it to you (chef – ini tambahan saya). Menurut saya, bisa juga diartikan sebagai, pesan makanan tapi nggak dari menu, pasrah aja deh.

Omakase ini menjadi sangat menarik karena menu yang dibuatkan oleh Chef adalah berdasarkan bahan yang terbaik pada saat itu. Ya kalau ikan Mackarel-nya lagi cakep banget… ya disuguhin itu. Scallopnya lagi kece, ya itu yang dijadikan hidangan. Sementara menu regular, biasanya ya itu-itu aja karena bahan yang bagus sepanjang musim juga nggak banyak, Omakase memberikan kejutan dengan bahan-bahan yang tidak selalu ada di setiap musim. Continue reading “Omakase & Kepasrahan Rasa”

Puisi Kopi

Kopi dan Roti,

Saling jatuh hati,

Untuk mewarnai hari,

Selamat pagi!

Saya sedang jatuh cinta, pada kopi. Jatuh cinta yang lagi anget-angetnya, seperti baru ketemu, meskipun soal minum kopi memang sudah dari dulu, bahkan sejak saya masih kanak-kanak.

Dulu saat saya masih berumur 5 atau 6 tahun, saya ingat pembantu kami, Yang Kasinem, selalu menggoreng (sebenarnya sangrai – roasting, karena tanpa minyak, tapi kami menyebutnya menggoreng) kopi sekitar jam 3 atau jam 4 sore, saat saya baru saja bangun tidur. Saya akan duduk di dekat pintu halaman belakang, sambil memandangi Yang Kasinem yang berkain dan berkutang kutu baru, serius di depan kuali mengaduk biji kopi yang mulai harum terbakar. Tak lama sebelum kopi diangkat, beras akan ditambahkan ke dalam kopi lalu kuali diangkat dan ditaburi sedikit gula putih. Kata Yang Kasinem, itu membuat kopi akan mengkilat dan nikmat. Sekarang sih saya pikir, itu akan memberikan sensasi rasa caramel, mungkin. Lalu setelah diangin-anginkan, biji kopi itu langsung ditumbuk di lesung batu. Pada momen itu, saya sudah tak sabar ingin mencicipi kopi dari hasil gorengan siang itu. Ketika secangkir kopi tanpa gula siap, saya hanya mendapat bagian satu lepek – saucer, kopi dituang di saucer supaya agak dingin…  Cara minumnya, saya hirup sedikit kopi, lalu saya menggigit gula jawa. Saya ingat betul, momen-momen itulah yang bikin saya pengen cepat jadi dewasa, supaya punya kebebasan meminum satu cangkir kopi, semuanya untuk saya. Sebab, anak-anak hanya boleh minum satu lepek.

Tapi sudah lama kenikmatan minum kopi seperti itu hanya sampai pada, kopi enak dan nggak enak. Ah… ya.. kopi hanyalah kopi. Oh, enak… oh, cukup ‘nendang’

Sampai beberapa bulan yang lalu, saya takjub dengan secangkir cappuccino yang memberikan banyak rasa, buah-buahan – manis caramel – cream susu yang lembut… Saya jatuh cinta lagi.

Dan jatuh cinta memang menghamburkan semua rasa. Ribuan tahun hidup manusia menjadi indah lagi menye – menye… karena cinta. Karena secangkir kopi, saya jadi romantis berlebihan, berpuisi… belum lagi ambisi untuk mengenal kopi lebih jauh lagi. Semakin ketemu rasa kopi, semakin penasaran, rahasia apa lagi yang ada di secangkir kopi. Revolusi! (ndak nyambung, cuma pengen bilang revolusi aja sih…)

Angkatlah sauh, mari berlayar mengarungi samudera,

Dari Sabang di ujung utara,

Hingga Merauke di ujung timur-selatan,

Melintasi barisan kepulauan Nusantara,

Perjalanan tiada lelah untuk menikmati rasa,

Yang terekstrak dalam secangkir kopi saja.

Ada Apa Dengan Rangga?

Saya jadi kepikiran soal idola yang gay. Dulu pernah beredar gossip kalau Keanu Reeves itu gay, dan berpacaran sama Ricky Martin. Wah, setiap kali ketemu teman yang tahu saya suka Keanu Reeves, dia langsung mengernyit meledek, “dia kan gay! Pacaran sama Ricky Martin” reaksi saya, selalu sama… “ya nggak pa-pa, biarin aja, aku tetep cinta”

Sama hal-nya kalau misalnya saya bilang, saya suka sama Matt Bomer. Selalu komentar yang muncul, “lho dia kan gay?!” Nah, sama juga nih kalau posting soal Nicholas Saputra, semua komentarnya bilang, “dia kan gay?” Continue reading “Ada Apa Dengan Rangga?”