Seutas Harapan

Beberapa hari ini, perasaan saya teu pararuguh, galau tak menentu.

Betapa rapuhnya kehidupan ini. Betapa dalam helaan nafas, kita bisa kehilangan orang-orang yang kita sayangi. Mereka yang direbut paksa dari kita.

Meskipun saya dibesarkan dalam keluarga yang menganut paham bahwa mati adalah kebebasan dari rasa sakit bagi yang mati, namun kesakitan baru bagi hidup, karenanya kematian bukanlah kesedihan; tetap saja saya diserang oleh duka yang membuat lubang besar di hati ketika bau kematian merebak, mengambang di sekitar kami.

Ah, hidup ini adalah seutas harapan yang tipis, pun rapuh.

Dalam kenangan kepada semua kawan yang telah mendahului kami, lepas dari rasa sakit, dan duka karena kehilangan.

Posted in NOL

Dari Nana Rohana Ke Cibadak Lalu Ke Pasir Koja

Beberapa hari lalu, saya ke Bandung dalam rangka nyelawat seorang kawan yang terlalu cepat meninggalkan kami semua. Pulang kantor, saya langsung capcus dan tiba di rumah duka sekitar jam 7 malam. Kemudian sebelum balik Jakarta, kami berbondong-bondong menikmati jajanan malam hari di Jl. Cibadak.

Sebelumnya, di rest area kilometer 72 arah ke Bandung, kami mampir di RM Ciganea, yang asalnya memang di Purwakarta situ. Masakan Sunda, tapi penyajian a la rumah makanPadang, begitu tamu datang, langsung keluar semua lauk pauknya…

Diawali dengan siomay Sin Sien Hin. Siomay ini mengandung daging babi yah… tentu saja buat saya enak :mrgreen: tapi betul memang enak… Cuma bumbu kacangnya aja yang kurang mantep. Untungnya karena siomay enak, jadi aman sajalah yaaa… Selain siomay, ada ambokue yang dibeli dari warung depan. Ambokue ini ada babi merah, kuping babi, pokonya bermacam-macam olahan daging babi plus timum, dan tahu yang disiram dengan tepung jagung yang dimasak manis. Jadi rasanya aneh sih… Makan ini seperti makan rujak cingur untuk pertama kalinya, bakal nggak suka banget atau bakal suka banget. Saya? Biasa aja. Mau nggak suka, tapi galau…karena makanan ini langka *tsah* yang jual ya cuma ada di Cibadak sini, nggak ada lagi di tempat lain. Tapi nggak bisa suka juga… karena manis. Gitu deh, galau.

Lalu kami menikmati Bubur Ikan, nggak tau dari warung apa, karena Jenzcorner yang mesen trus dianter ke warung siomay. Sebelumnya ketika di rumah duka Nana Rohana, kami disuguhi bubur ayam Ahong, wah itu buburnya enak banget. Gurih dan pas deh kekentalannya, masih ada tekstur nasinya tapi bubur banget… Nah kebalikannya, di Cibadak ini bubur ikannya encer banget seperti diblender gitu, nggak ada teksturnya… bukan selera saya, tapi toping ikannya enak… sayang sedikit 😀

Setelah bubur ikan, jatahnya Soto Bandung Pak Simon. Nah, untuk yang ini, saya bilang ini soto Bandung terenak yang pernah saya makan. Beneran, biasanya soto Bandung itu kuahnya kerasa lobak banget… yang ini, lobaknya kerasa tapi kaldu sapinya juga gak kalah lekoh. Udah gitu dagingnya empuk sekaliii…. Nomnomnomnom… Wajib coba kalau ke Jl. Cibadak ya… dijamin, yang biasanya nggak suka soto Bandung pasti bakal jadi suka.

Yang terakhir dituju di Cibadak ini adalah Ronde Alkateri, yang jualan di warung Cibadak ini adalah anak dari Ronde Alkateri yang di Jl. Alkateri *mbulet*. Rasanya ya sama, wong sepabrik 😆 kuah rondenya bisa dipilih, mau yang merah pakai gula jawa atau yang putih pakai gula putih. Kuahnya tidak terlalu kuat rasa jahenya, tapi jangan kuatir, di setiap meja sudah disediakan air jahe yang bisa ditambahkan di kuah ronde supaya kadar pedes jahenya pas, sesuai selera.

Dari Cibadak, kami ke Jl. Pasir Koja, untuk mencoba Nasi Kuning Semur Jengkol. Mantep kaaan….

Warung kaki lima ini sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu, tapi saya baru nyobain kali ini *malu* ya maklum ya bok, Pasir Koja mah bukan tempat main akikaaa… ke situ paling buat nyamperin apotik Djaja doang, karena apotik itu menjual obat cakep. Eh seriusan… dijamin cakep kalau beli obat di situ, tapi sayang sekarang tu obat cakep udah gak beredar lagi 😦

Eh, nasi kuning gimana nasi kuning…. Cakep banget. Satu porsi dilengkapi dengan rendang a la Bandung gitu, plus semur jengkol… menurut yang suka jengkol, di sini jengkinya eni. Saya sendiri sih, agak susah membiasakan diri makan jengki, karena saya baru kenal jengkol pas di Bandung dan pas nyoba pertama, rasanya pahit nggak enak banget deh. Jadi setiap makan jengki, langsung kerasa pahitnya duluan. Memori rasa itu merusak banget. Saya nyobain sih jengkol yang di warung ini, ya biasa aja… pahit 😆 ntar deh, kapan-kapan coba lagi.

Kalau Anda suka jengkol, wajib kunjung deh warung ini… buka dari jam 9 malam sampai jam 2 pagi. Alternatif dari warung ceu Mar :mrgreen:

Berakhir sudah perjalanan kami hari itu, kami langsung kembali ke Jakarta dengan perut kenyang, juga kenangan akan kawan kami. Selamat jalan Her, kami merayakan kehidupanmu, bahwa kamu pernah hadir di hidup kami. Sampai berjumpa di perjamuan selanjutnya yaa…

Buah Karma

Semacam buah kurma tapi yang ini rada asem dikit. Pret! Ini ngomongin buah kok gambarnya kembang? Ini cerita soal apa sih?

Soal Karma.

Banyak yang bilang, Karma is overrated; suka dilebih-lebihkan saja dan gak masuk akal. Kalau berbuat baik dapat balasan baik, sementara kalau dapat kesusahan berarti ya dulunya pernah nyusahin orang. Nggak enak banget tuduhannya :mrgreen:

Saya sendiri percaya karma, apa yang keluar dari kita akan kembali ke kita. Hukum tabur tuai yang menurut iman saya memang ada. Dan sebagai orang yang mempercayai karma, ya saya bilang karma itu masuk akal.

Kalau kita berbuat baik, maka kebaikan akan datang menghampiri. Kalau kita berbuat jahat, maka kita juga akan mendapat balasan. Lha trus kalau kita nggak berbuat jahat trus tiba-tiba kita dijahatin orang? Kena musibah tanpa kita tahu penyebabnya? Suwek bener.

Saya jadi teringat satu cerita, kejadian ini dialami oleh pakde kawan saya. Si pakde ini adalah seorang perwira TNI AD, waktu itu si pakde ini mendapat tugas untuk menjadi petrus, memburu penjahat kambuhan untuk dikarungin saja. Waktu itu dia sedang bertugas di luar Jawa, sementara penugasan selalu di pulau Jawa. Sebagai prajurit yang harus nurut atasan plus memang sudah ada program cuci otak, si pakde ini beberapa kali mengeksekusi penjahat kambuhan di wilayah Jawa Timur. Salah satunya ada residivis yang dieksekusi di daerah sekitar Ngliyep – Malang. Cerita berhenti. Sampai beberapa tahun kemudian, si pakde ini ditugaskan kembali ke Jawa Timur dan mendapat pos di Malang. Suatu saat si pakde bepergian seorang diri dan mendapat kecelakaan di wilayah terpencil, si pakde ini tergeletak pingsan di rawa-rawa dan ditolong oleh seorang ibu dan anaknya, lalu dibawa ke rumah mereka untuk dibaringkan. Untungnya, pakde tidak mendapat luka yang cukup berarti, mobil yang ditumpanginya pun tak apa-apa. Sebagai sopan santun, si pakde mengucapkan terimakasih ke si ibu yang ternyata janda beranak 3, yang besar ya yang ikut nolong itu, sekitar usia 12 thn, sementara yang terkecil 5-6 tahunan. Cerita punya cerita, ternyata si ibu ini adalah janda dari residivis yang dieksekusi oleh si pakde di Ngliyep. Jeng jreeeeeng…. macem sinetron banget ya. Tentu saja si pakde merasa bersalah, tapi dia tidak mengatakan apa-apa kepada si ibu ini. Setelah kembali ke pos, pakde membiayai sekolah anak-anak si ibu, secara diam-diam. Kemudian tak lama mengambil pensiun dini dan memutuskan untuk berwiraswasta saja. Menurut kawan saya, hingga akhir hayatnya, si pakde ini agak sedikit terganggu emosinya.

Cerita ini tersimpan selama berpuluh-puluh tahun, dan baru terkuak menjelang kematian si pakde. Beliau memberitahu anak dan istrinya mengenai hal ini, entah apakah anak-anak si ibu yang menolongnya tahu atau tidak, teman saya tidak bercerita dan saya terlalu takjub mendengar kisah yang seperti novel ini. Setelah cerita ini dituturkan oleh si pakde, barulah keluarganya memahami kenapa ia mendadak minta non-aktif dan menjadi sedikit terganggu, ia membawa rasa bersalahnya sepanjang sisa hidup.

Apakah peristiwa ini karma? Aturan karma apa yang mengaturnya? Entahlah… Suami si ibu, terlepas dari dia bersalah atau tidak, dia telah dibunuh dan keluarganya mendapat kemalangan. Si pembunuh, terlepas dari dia sekedar menjalankan tugas atau tidak, dia tetaplah pembunuh yang di kemudian hari malah ditolong oleh orang yang mendapat efek karena pembunuhannya itu. Si ibu, yang tidak tahu apa-apa, yang telah menjalani hidup yang pahit karena suami yang dieksekusi karena merupakan residivis, tetap menjalani hidup dengan legowo dan mengkiuti arus sambil terus melakukan apa yang dianggapnya baik.

Ah, ajaib ya putaran hidup ini.

Lotus flower image from here

Posted in NOL

generasi yang tidak peduli?

Saya harus merevisi kepercayaan saya pada anggapan: saat ini kita hidup di jaman yang serba tidak peduli. Semua orang sibuk dengan dirinya sendiri, karena saya sendiri pun  begitu, saya sibuk dengan diri saya sendiri, sering telat paham akan kondisi sekitar.

Tapi ketika saya mengalami patah kaki, yang mana hal ini membuat saya mesti pakai kruk dan jadi lambat; saya mulai menyadari bahwa ternyata masih banyak orang yang peduli sama orang lain.
Selama hampir seminggu, saya selalu bertemu orang yang baik hati yang nahanin pintu lift sampai saya masuk. Hal kecil, tapi jelas mereka berusaha mempermudah saya. Bahkan, anak-anak kecil juga nahanin pintu masuk ke lobby ketika saya lewat. Belum lagi pak & bu satpam yang selalu sigap ngambilin saya kursi ketika saya nunggu taksi di lobby, trus supir taksi yang dengan sabar, menunggu saya masuk / keluar. Atau orang yang saya tidak kenal membantu saya membawakan belanjaan saya ketika mereka melihat saya tertatih-tatih dengan kruk membawa gembolan.
read more…

Posted in NOL

Aye… Ayee… Ayo!

Seorang kawan, menulis status bbm profilnya: No one knows when the time is end, forgive me for every mistakes.
Ow! Saya nyengir pas baca status dia itu, tapi juga agak tertampar. 'Agak' lo ya…:P
Nyengir karena, ke mana aja kok tumben-tumbenan inget sama hidup yang singkat? Ya gak salah jugalah dia baru nyadar sekarang, cuma akika demen aja komentar.

Tapi waktu memang ajaib. Tiba-tiba saya berada di waktu saya yang sekarang.
Kalau ditungguin, lama. Kalau dijalanin sama sekali nggak kerasa.

Dulu rasanya membayangkan 2011 itu…. ah masih jauh, belum kepikir mau ngapain. 2011, itu berarti saya udah tua. Pemikiran 10 tahun yang lalu, ketika saya masih lebih muda dari sekarang. Membayangkan menuju 2011, rasanya masih jauh. Tiba-tiba, saya sadar sekarang sudah 2011! Maaaan, I'm old! :))

Apa yang sudah saya lakukan selama ini?

Kayaknya nggak ada yang berarti. Sepertinya begitu. Terlalu rendah diri (buat ninggiin mutu)? Ya kagak kaleeee…. Tapi memang ada baiknya kita list satu persatu dah.
read more…

Menye-Menye

Lagi galau bin menye-menye, ini soal kisah cinta… *ahing!*

Entah kenapa, tiba-tiba saya teringat seseorang di masa lampau, yang mana sebenernya kami nggak pernah jadian, cuma sekedar dekat. Namun saya selalu ingat sama orang ini.
Baiknya, kita sebut dia si S.

S dikenalkan ke saya oleh salah seorang teman satu kos, sekitar tahun 97an deh, saya baru beberapa bulanlah di Bandung. Yaoli… udin lama aje yaaa… S langsung menunjukkan bahwa dia menaruh perhatian pada saya yang masih gegar budaya :)) ya gimana yah… belum pernah nge-kos, baru lulus SMA, tiba-tiba terdampar di Bandung, sendirian… Saya langsung sibuk mengeksplorasi setiap sudut kota, bergaul sebanyak-banyaknya, pergi ke disko *embyeeer… belum kenal dugem bok! diskoooo!* setiap malam, ngeceng setiap hari. Saya asyik sendiri.
read more…

Pengalaman Makan

Siapa di sini yang suuuuuka sekali makan? Sayaaaaa, bu guruuuuuu *ngacung tinggi2* :))

Salah satu hal yang paling saya syukuri adalah kenikmatan makan. Syukurnya lagi, saya bisa makan apa saja. Iya, apa saja. Saya gak alergi apapun dan berani mencoba makan apapun, pernah makan jangkrik, ulat, semut… Emh… memang sih, ada beberapa makanan saya tidak terlalu suka, seperti telor rebus/ceplok setengah matang, pepaya, paria, bunga pepaya… Tapi saya tahu, makanan-makanan yang saya tidak suka itu punya fungsi bagus, ya saya tetep makan sih :))

Dulu sih, sekitar saya umur 5-6 tahun, SD kelas 1 gitu, saya nggak suka makan, siksaan bener kayaknya. Yang nyuapin mesti bawa cabe dan suntikan buat nakut-nakutin saya; kalau gak mau makan akan disuntik dan bibirnya dikasih cabe :))
Tapi, keadaan berbalik 180 derajat pas Yang Kasinem mulai bekerja di rumah kami. Yang Kasinem lah yang berhasil membuat saya berani mencoba makanan baru, dan setelah itu saya boleh memutuskan, apakah saya suka atau tidak. Untungnya, masakan Yang Kasinem itu enak-enak. Alhasil, saya doyan makan jadinya :)) dan sejak saat itu, saya selalu berani mencoba makanan yang baru.
read more…

Posted in NOL