Doa

Ada yang lahir dengan menggenggam keberuntungan, pohon-pohon tumbuh hanya dengan helaan nafas, dan lirikan mata mereka memekarkan kembang-kembang.

Tapi ada yang lahir di masa kemarau, saat tanah retak karena risau, dan tunas-tunas yang telah membikin tangan mereka berdarah mati karena terhimpit batu.

Lalu di antaranya ada kita, aku dan kamu. Yang lahir dengan menggenggam harapan, dan kemampuan untuk merayu.

Sebab, aku memang suka sekali merayu.

Posted in NOL

Tiga Puluh Enam

Pertambahan umur kali ini, saya lewatkan di Jogja. Kota yang selalu memberi rasa hangat dan membuat senyum terkembang.

Salah seorang kawan saya, dengan sangat baik hati membuka rumahnya dan mengantarkan saya ke mana pun saya mau untuk ‘melunasi’ janji saya terhadap diri saya sendiri. Terimakasih.

Yang terpenting, saya kesampaian mengunjungi Borobudur saat Matahari terbit. Sebenarnya, hal ini ingin saya lakukan dua tahun yang lalu, tapi baru tahun ini kesampaian.

Saya membayangkan romantisnya melihat Matahari yang muncul di ujung cakrawala, perlahan dengan sinarnya yang keemasan menerangi bumi. Kenyataannya, tepat di hari ulang tahun saya, Borobudur diselimuti kabut dan mendung sehingga menutupi Matahari. Blas, nggak bisa liat sunrise lho… Kecewa? Untungnya tidak, karena Borobudur di pagi hari sungguhlah indah. Candi yang megah dikelilingi kabut yang bergradasi cantik sekali, menyelimuti pohon-pohon yang hijau di sekeliling candi. Beberapa kali saya menahan nafas, sambil berkata dalam hati, ya ampun bagusnya… saya membatin, hutan tempat tinggal para jiwa, nampaknya seperti ini. Pekat dengan kabut yang membutakan arah pengembara, sehingga mereka perlu mencuri ingatan para jiwa. Ah, ya… saya terlalu lama berkutat di cerita tentang Lelaki Kayu Manis.

Beberapa teman menebak, kisah tersesat yang telah saya mulai sejak tahun lalu itu adalah tulisan patah hati. Santi bilang, “perumpamaannya jelas banget, Mbak” hahaha… ya memang, saya mengawalinya dari patah hati, kemudian saya tak bisa berhenti bercerita tentang jiwa yang tersesat di Dunia Manusia itu. Sepanjang tahun ini, saya menghabiskan banyak waktu saya untuk berkhayal mengenai hutan tempat tinggal para jiwa, binatang-binatang eksotis yang menyanyikan kebijaksanaan. Banyak hal  yang tak bisa lagi saya tulis secara gamblang, atau lebih parah lagi, tak bisa saya jelaskan dengan baik, tapi malah bisa saya artikulasikan dengan baik ketika saya menulis mengenai kisah jiwa, nyanyian para binatang.

Ah, setahun telah berlalu dari saat itu.

Saya masih berdiri di tempat yang sama, namun saya telah berjalan memutar dan belajar melihat hal yang lain.

Lalu, hendak ke arah mana saya berjalan? Entahlah… saya belum bisa memutuskan dan saya tak ingin memutuskannya dahulu. Mungkin, saya akan menengok lagi ke dalam hutan; setelah saya mendapatkan gambaran yang lebih baik dari perjalanan kemarin; mungkin dengan berjalan kembali ke arah dari mana saya datang saya akan menemukan hal baru yang harus saya cari? Mungkin.

Hidup belum selesai. Selamat ulang tahun, Ruth Wijaya.

Posted in NOL

Menyimpan Matahari

Tidak ada yang siap dengan perpisahan. Tidak juga aku yang, sebenarnya telah menyiapkan perpisahan ini baik-baik. Berkali-kali kuingatkan diriku, bahwa, ada saatnya bertemu, dan ada saatnya berpisah. Saat kami berpisah, kami akan saling merindukan, dan kelak ketika berjumpa lagi, rindu yang telah kami peram telah menjadi sangat manis dan memabukkan.

Mengenai perpisahan kami, aku tahu pasti kami akan berjumpa lagi. Kekasih yang ini pergi, sementara kekasih yang lain menggantikan tempatnya, menjadi sumber inspirasi. Ketika saatnya kekasih yang lain itu sudah purna tugasnya, itulah saatnya kekasih yang ini kembali dari pengembaraannya, dan akan tinggal bersamaku hingga saatnya kami berpisah lagi. Perpisahan dan perjumpaan yang tiada henti hingga masa akhir dunia selesai berputar nanti.

Telah kulambaikan tangan perpisahan puluhan kali pada kekasih yang ini, juga telah puluhan kali kukembangkan tanganku menyambutnya kembali. Selamat tinggal dan sampai jumpa, sama seperti demam influenza, yang aku tahu akan berlalu, tapi tetap saja mengganggu, membuat tidurku tak nyenyak selama beberapa hari.

Tidak ada yang siap dengan perpisahan, tapi manusia adalah mahluk yang hidup dari kebiasaan, maka aku tetap menjalani semua ini seperti yang seharusnya kami jalani. Membiasakan diri enam bulan bersama Kemarau dan enam bulan bersama Sang Hujan, yang tahun ini terlambat datang.

Ini saatnya kami menyimpan Matahari baik-baik, sampai Kemarau datang lagi mengendarai angin. Sampai jumpa.

Posted in NOL

Menjelang Pagi

Adakah cara yang lebih tepat untuk melupakan selain dengan terus berjalan dan melanjutkan hidup?
Adakah cara lain untuk berbahagia selain memaafkan dan merelakan?
Kata-kata indah penuh pengharapan mudah ditemukan dalam kegelapan malam, cari saja huruf-huruf yang berpendar lemah seperti kunang-kunang.
Tetapi hidup tidak hanya terdiri dari kata-kata. Ia melewati siang yang terang dan menghanguskan, serta malam yang gelap dan dingin membekukan.
Malam telah menelan Matahari. Memeluk dingin yang menggelayuti kaki sehingga tak bisa melangkah maju.
Kabut membutakan mata hingga tak bisa mencari arah bahagia. Harapan berkelip lemah lalu padam dihembus angin yang bertiup bersama tangis serta ratapan.
Mati segan, hidup juga tak mau. Mati selagi hidup, apalagi yang bisa lebih menyedihkan daripada itu?
Sungguh tak ada harapan jika Matahari tetap memutuskan untuk tak melawan malam.
Tetapi, ia juga membinasakan ketika memutuskan untuk memancarkan kebahagiaannya yang panas dan terik tepat di atas kepala.
Manusia, banyak mau… banyak ingin dan banyak seandainya. Tak pernah ada waktu yang tepat untuk berbahagia, baik di siang atau pun malam jika tak diputuskan untuk bahagia. Percayalah.
Menjelang pagi nanti, saat roh kembali dari dunia mimpi dan saat Matahari berangkat untuj melawan malam, putuskanlah untuk berbahagia untuk hari itu saja. Bahagia esok, putuskanlah esok. Hari ini, mari berjalan melupakan kemarin.

Lagipula, airmata tak mesti jatuh penuh makna, kesia-siaan sesekali memang diperlukan.

Posted in NOL

Mengakali Tuhan

Mengapa Tuhan menciptakan manusia yang penuh tipu daya? Banyak akal sehingga mengakali hidup. Yang tak bisa diakalinya hanya kematian. Tapi mungkin juga ia mengakali mati setelah berada di sisi seberang sana, mana kutahu?
Doa demi doa didaraskan untuk mengambil hati Tuhan, agar yang diinginkan terkabul. Merengek penuh derita dan berlindung dalam mantra sakti bernama, iman. Berharap sebesar gunung, agar semesta bergerak mengikuti jalan hidupnya.
Mengapa Tuhan menciptakan manusia dengan banyak mau dan banyak akal?
Doa demi doa dilantunkan bagai lagu, membuai telinga Tuhan.
Berikanlah aku ini hari ini dan itu untuk hari esok. Biarkanlah mujizat jatuh dari langit.
Ketika tahu mujizat tak mungkin ada dari yang tiada, manusia bernegosiasi, baiklah…kuminta satu hal saja, hanya ini yang terpenting, tetapi sementara itu hatinya berbisik, setelah ini tetap akan kuminta itu dan anu. Tak tahukah ia, jika IA mendengar bisikan sudut hatimu? Mengapa tetap kau mengakali Tuhan?

Mengapa Tuhan, Kau biarkan kami mengakaliMu?

Posted in NOL

Seutas Harapan

Beberapa hari ini, perasaan saya teu pararuguh, galau tak menentu.

Betapa rapuhnya kehidupan ini. Betapa dalam helaan nafas, kita bisa kehilangan orang-orang yang kita sayangi. Mereka yang direbut paksa dari kita.

Meskipun saya dibesarkan dalam keluarga yang menganut paham bahwa mati adalah kebebasan dari rasa sakit bagi yang mati, namun kesakitan baru bagi hidup, karenanya kematian bukanlah kesedihan; tetap saja saya diserang oleh duka yang membuat lubang besar di hati ketika bau kematian merebak, mengambang di sekitar kami.

Ah, hidup ini adalah seutas harapan yang tipis, pun rapuh.

Dalam kenangan kepada semua kawan yang telah mendahului kami, lepas dari rasa sakit, dan duka karena kehilangan.

Posted in NOL

Dari Nana Rohana Ke Cibadak Lalu Ke Pasir Koja

Beberapa hari lalu, saya ke Bandung dalam rangka nyelawat seorang kawan yang terlalu cepat meninggalkan kami semua. Pulang kantor, saya langsung capcus dan tiba di rumah duka sekitar jam 7 malam. Kemudian sebelum balik Jakarta, kami berbondong-bondong menikmati jajanan malam hari di Jl. Cibadak.

Sebelumnya, di rest area kilometer 72 arah ke Bandung, kami mampir di RM Ciganea, yang asalnya memang di Purwakarta situ. Masakan Sunda, tapi penyajian a la rumah makanPadang, begitu tamu datang, langsung keluar semua lauk pauknya…

Diawali dengan siomay Sin Sien Hin. Siomay ini mengandung daging babi yah… tentu saja buat saya enak :mrgreen: tapi betul memang enak… Cuma bumbu kacangnya aja yang kurang mantep. Untungnya karena siomay enak, jadi aman sajalah yaaa… Selain siomay, ada ambokue yang dibeli dari warung depan. Ambokue ini ada babi merah, kuping babi, pokonya bermacam-macam olahan daging babi plus timum, dan tahu yang disiram dengan tepung jagung yang dimasak manis. Jadi rasanya aneh sih… Makan ini seperti makan rujak cingur untuk pertama kalinya, bakal nggak suka banget atau bakal suka banget. Saya? Biasa aja. Mau nggak suka, tapi galau…karena makanan ini langka *tsah* yang jual ya cuma ada di Cibadak sini, nggak ada lagi di tempat lain. Tapi nggak bisa suka juga… karena manis. Gitu deh, galau.

Lalu kami menikmati Bubur Ikan, nggak tau dari warung apa, karena Jenzcorner yang mesen trus dianter ke warung siomay. Sebelumnya ketika di rumah duka Nana Rohana, kami disuguhi bubur ayam Ahong, wah itu buburnya enak banget. Gurih dan pas deh kekentalannya, masih ada tekstur nasinya tapi bubur banget… Nah kebalikannya, di Cibadak ini bubur ikannya encer banget seperti diblender gitu, nggak ada teksturnya… bukan selera saya, tapi toping ikannya enak… sayang sedikit 😀

Setelah bubur ikan, jatahnya Soto Bandung Pak Simon. Nah, untuk yang ini, saya bilang ini soto Bandung terenak yang pernah saya makan. Beneran, biasanya soto Bandung itu kuahnya kerasa lobak banget… yang ini, lobaknya kerasa tapi kaldu sapinya juga gak kalah lekoh. Udah gitu dagingnya empuk sekaliii…. Nomnomnomnom… Wajib coba kalau ke Jl. Cibadak ya… dijamin, yang biasanya nggak suka soto Bandung pasti bakal jadi suka.

Yang terakhir dituju di Cibadak ini adalah Ronde Alkateri, yang jualan di warung Cibadak ini adalah anak dari Ronde Alkateri yang di Jl. Alkateri *mbulet*. Rasanya ya sama, wong sepabrik 😆 kuah rondenya bisa dipilih, mau yang merah pakai gula jawa atau yang putih pakai gula putih. Kuahnya tidak terlalu kuat rasa jahenya, tapi jangan kuatir, di setiap meja sudah disediakan air jahe yang bisa ditambahkan di kuah ronde supaya kadar pedes jahenya pas, sesuai selera.

Dari Cibadak, kami ke Jl. Pasir Koja, untuk mencoba Nasi Kuning Semur Jengkol. Mantep kaaan….

Warung kaki lima ini sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu, tapi saya baru nyobain kali ini *malu* ya maklum ya bok, Pasir Koja mah bukan tempat main akikaaa… ke situ paling buat nyamperin apotik Djaja doang, karena apotik itu menjual obat cakep. Eh seriusan… dijamin cakep kalau beli obat di situ, tapi sayang sekarang tu obat cakep udah gak beredar lagi 😦

Eh, nasi kuning gimana nasi kuning…. Cakep banget. Satu porsi dilengkapi dengan rendang a la Bandung gitu, plus semur jengkol… menurut yang suka jengkol, di sini jengkinya eni. Saya sendiri sih, agak susah membiasakan diri makan jengki, karena saya baru kenal jengkol pas di Bandung dan pas nyoba pertama, rasanya pahit nggak enak banget deh. Jadi setiap makan jengki, langsung kerasa pahitnya duluan. Memori rasa itu merusak banget. Saya nyobain sih jengkol yang di warung ini, ya biasa aja… pahit 😆 ntar deh, kapan-kapan coba lagi.

Kalau Anda suka jengkol, wajib kunjung deh warung ini… buka dari jam 9 malam sampai jam 2 pagi. Alternatif dari warung ceu Mar :mrgreen:

Berakhir sudah perjalanan kami hari itu, kami langsung kembali ke Jakarta dengan perut kenyang, juga kenangan akan kawan kami. Selamat jalan Her, kami merayakan kehidupanmu, bahwa kamu pernah hadir di hidup kami. Sampai berjumpa di perjamuan selanjutnya yaa…

Buah Karma

Semacam buah kurma tapi yang ini rada asem dikit. Pret! Ini ngomongin buah kok gambarnya kembang? Ini cerita soal apa sih?

Soal Karma.

Banyak yang bilang, Karma is overrated; suka dilebih-lebihkan saja dan gak masuk akal. Kalau berbuat baik dapat balasan baik, sementara kalau dapat kesusahan berarti ya dulunya pernah nyusahin orang. Nggak enak banget tuduhannya :mrgreen:

Saya sendiri percaya karma, apa yang keluar dari kita akan kembali ke kita. Hukum tabur tuai yang menurut iman saya memang ada. Dan sebagai orang yang mempercayai karma, ya saya bilang karma itu masuk akal.

Kalau kita berbuat baik, maka kebaikan akan datang menghampiri. Kalau kita berbuat jahat, maka kita juga akan mendapat balasan. Lha trus kalau kita nggak berbuat jahat trus tiba-tiba kita dijahatin orang? Kena musibah tanpa kita tahu penyebabnya? Suwek bener.

Saya jadi teringat satu cerita, kejadian ini dialami oleh pakde kawan saya. Si pakde ini adalah seorang perwira TNI AD, waktu itu si pakde ini mendapat tugas untuk menjadi petrus, memburu penjahat kambuhan untuk dikarungin saja. Waktu itu dia sedang bertugas di luar Jawa, sementara penugasan selalu di pulau Jawa. Sebagai prajurit yang harus nurut atasan plus memang sudah ada program cuci otak, si pakde ini beberapa kali mengeksekusi penjahat kambuhan di wilayah Jawa Timur. Salah satunya ada residivis yang dieksekusi di daerah sekitar Ngliyep – Malang. Cerita berhenti. Sampai beberapa tahun kemudian, si pakde ini ditugaskan kembali ke Jawa Timur dan mendapat pos di Malang. Suatu saat si pakde bepergian seorang diri dan mendapat kecelakaan di wilayah terpencil, si pakde ini tergeletak pingsan di rawa-rawa dan ditolong oleh seorang ibu dan anaknya, lalu dibawa ke rumah mereka untuk dibaringkan. Untungnya, pakde tidak mendapat luka yang cukup berarti, mobil yang ditumpanginya pun tak apa-apa. Sebagai sopan santun, si pakde mengucapkan terimakasih ke si ibu yang ternyata janda beranak 3, yang besar ya yang ikut nolong itu, sekitar usia 12 thn, sementara yang terkecil 5-6 tahunan. Cerita punya cerita, ternyata si ibu ini adalah janda dari residivis yang dieksekusi oleh si pakde di Ngliyep. Jeng jreeeeeng…. macem sinetron banget ya. Tentu saja si pakde merasa bersalah, tapi dia tidak mengatakan apa-apa kepada si ibu ini. Setelah kembali ke pos, pakde membiayai sekolah anak-anak si ibu, secara diam-diam. Kemudian tak lama mengambil pensiun dini dan memutuskan untuk berwiraswasta saja. Menurut kawan saya, hingga akhir hayatnya, si pakde ini agak sedikit terganggu emosinya.

Cerita ini tersimpan selama berpuluh-puluh tahun, dan baru terkuak menjelang kematian si pakde. Beliau memberitahu anak dan istrinya mengenai hal ini, entah apakah anak-anak si ibu yang menolongnya tahu atau tidak, teman saya tidak bercerita dan saya terlalu takjub mendengar kisah yang seperti novel ini. Setelah cerita ini dituturkan oleh si pakde, barulah keluarganya memahami kenapa ia mendadak minta non-aktif dan menjadi sedikit terganggu, ia membawa rasa bersalahnya sepanjang sisa hidup.

Apakah peristiwa ini karma? Aturan karma apa yang mengaturnya? Entahlah… Suami si ibu, terlepas dari dia bersalah atau tidak, dia telah dibunuh dan keluarganya mendapat kemalangan. Si pembunuh, terlepas dari dia sekedar menjalankan tugas atau tidak, dia tetaplah pembunuh yang di kemudian hari malah ditolong oleh orang yang mendapat efek karena pembunuhannya itu. Si ibu, yang tidak tahu apa-apa, yang telah menjalani hidup yang pahit karena suami yang dieksekusi karena merupakan residivis, tetap menjalani hidup dengan legowo dan mengkiuti arus sambil terus melakukan apa yang dianggapnya baik.

Ah, ajaib ya putaran hidup ini.

Lotus flower image from here

Posted in NOL

generasi yang tidak peduli?

Saya harus merevisi kepercayaan saya pada anggapan: saat ini kita hidup di jaman yang serba tidak peduli. Semua orang sibuk dengan dirinya sendiri, karena saya sendiri pun  begitu, saya sibuk dengan diri saya sendiri, sering telat paham akan kondisi sekitar.

Tapi ketika saya mengalami patah kaki, yang mana hal ini membuat saya mesti pakai kruk dan jadi lambat; saya mulai menyadari bahwa ternyata masih banyak orang yang peduli sama orang lain.
Selama hampir seminggu, saya selalu bertemu orang yang baik hati yang nahanin pintu lift sampai saya masuk. Hal kecil, tapi jelas mereka berusaha mempermudah saya. Bahkan, anak-anak kecil juga nahanin pintu masuk ke lobby ketika saya lewat. Belum lagi pak & bu satpam yang selalu sigap ngambilin saya kursi ketika saya nunggu taksi di lobby, trus supir taksi yang dengan sabar, menunggu saya masuk / keluar. Atau orang yang saya tidak kenal membantu saya membawakan belanjaan saya ketika mereka melihat saya tertatih-tatih dengan kruk membawa gembolan.
read more…

Posted in NOL

Aye… Ayee… Ayo!

Seorang kawan, menulis status bbm profilnya: No one knows when the time is end, forgive me for every mistakes.
Ow! Saya nyengir pas baca status dia itu, tapi juga agak tertampar. 'Agak' lo ya…:P
Nyengir karena, ke mana aja kok tumben-tumbenan inget sama hidup yang singkat? Ya gak salah jugalah dia baru nyadar sekarang, cuma akika demen aja komentar.

Tapi waktu memang ajaib. Tiba-tiba saya berada di waktu saya yang sekarang.
Kalau ditungguin, lama. Kalau dijalanin sama sekali nggak kerasa.

Dulu rasanya membayangkan 2011 itu…. ah masih jauh, belum kepikir mau ngapain. 2011, itu berarti saya udah tua. Pemikiran 10 tahun yang lalu, ketika saya masih lebih muda dari sekarang. Membayangkan menuju 2011, rasanya masih jauh. Tiba-tiba, saya sadar sekarang sudah 2011! Maaaan, I'm old! :))

Apa yang sudah saya lakukan selama ini?

Kayaknya nggak ada yang berarti. Sepertinya begitu. Terlalu rendah diri (buat ninggiin mutu)? Ya kagak kaleeee…. Tapi memang ada baiknya kita list satu persatu dah.
read more…

Menye-Menye

Lagi galau bin menye-menye, ini soal kisah cinta… *ahing!*

Entah kenapa, tiba-tiba saya teringat seseorang di masa lampau, yang mana sebenernya kami nggak pernah jadian, cuma sekedar dekat. Namun saya selalu ingat sama orang ini.
Baiknya, kita sebut dia si S.

S dikenalkan ke saya oleh salah seorang teman satu kos, sekitar tahun 97an deh, saya baru beberapa bulanlah di Bandung. Yaoli… udin lama aje yaaa… S langsung menunjukkan bahwa dia menaruh perhatian pada saya yang masih gegar budaya :)) ya gimana yah… belum pernah nge-kos, baru lulus SMA, tiba-tiba terdampar di Bandung, sendirian… Saya langsung sibuk mengeksplorasi setiap sudut kota, bergaul sebanyak-banyaknya, pergi ke disko *embyeeer… belum kenal dugem bok! diskoooo!* setiap malam, ngeceng setiap hari. Saya asyik sendiri.
read more…

Pengalaman Makan

Siapa di sini yang suuuuuka sekali makan? Sayaaaaa, bu guruuuuuu *ngacung tinggi2* :))

Salah satu hal yang paling saya syukuri adalah kenikmatan makan. Syukurnya lagi, saya bisa makan apa saja. Iya, apa saja. Saya gak alergi apapun dan berani mencoba makan apapun, pernah makan jangkrik, ulat, semut… Emh… memang sih, ada beberapa makanan saya tidak terlalu suka, seperti telor rebus/ceplok setengah matang, pepaya, paria, bunga pepaya… Tapi saya tahu, makanan-makanan yang saya tidak suka itu punya fungsi bagus, ya saya tetep makan sih :))

Dulu sih, sekitar saya umur 5-6 tahun, SD kelas 1 gitu, saya nggak suka makan, siksaan bener kayaknya. Yang nyuapin mesti bawa cabe dan suntikan buat nakut-nakutin saya; kalau gak mau makan akan disuntik dan bibirnya dikasih cabe :))
Tapi, keadaan berbalik 180 derajat pas Yang Kasinem mulai bekerja di rumah kami. Yang Kasinem lah yang berhasil membuat saya berani mencoba makanan baru, dan setelah itu saya boleh memutuskan, apakah saya suka atau tidak. Untungnya, masakan Yang Kasinem itu enak-enak. Alhasil, saya doyan makan jadinya :)) dan sejak saat itu, saya selalu berani mencoba makanan yang baru.
read more…

Posted in NOL

Menjadi Dewasa

Menjadi tua adalah mutlak, tetapi menjadi dewasa adalah pilihan. Slogan lama yang berjuta-juta orang sudah tahu dan mengamininya. Saya pun!
Bahkan sepertinya, saya tidak akan pernah dewasa, lha wong kalau nonton tv aja saya selalu mantengin disney channel daripada tv berita…. saya kan penggemar Upin Ipin.

HA! :)) Jadi ngawur 😛

Ukuran dewasa, tidak pernah saya pahami.

Ketika saya seumuran ABG yang suka saya cela 😛 saya menganggap, menjadi dewasa adalah ketika saya mendapatkan haid pertama. Setelah saya mendapat haid, ternyata saya berubah pikiran. Dewasa adalah ketika saya berusia 17 tahun,saat secara hukum saya sudah mendapatkan hak pilih dan mempunyai ktp.
Ketika saya mencapai usia 17 tahun dan akhirnya pegang ktp sendiri, lagi-lagi, standar kedewasaan berubah. Mesti mandiri secara finansial dulu baru boleh bilang, saya dewasa.
Pun ketika telah mandiri secara finansial, saya masih merasa kedewasaan saya belum penuh karena saya belum mencapai target-target yang lain.

read more…

Posted in NOL

Galau

Galau dan resah lagi gelisah *aih mateeeee…tante memang drama*
Rasanya, ada yang salah terus beberapa minggu terakhir ini. Tapi masih belum ketahuan apa. Rasanya seperti berbuat salah yang makin lama makin menjauhkan saya dari apa yang seharusnya saya lakukan.

Kenapa ini? Apakah ini krisis tigapuluhan? Naaah…nggak kaleee… :)) emang ada krisis tigapuluhan? :)))
Nggak puas sama hidup tigapuluhan? Emh… mungkin, tapi nggak juga sih, karena kalau ngomongin puas juga nggak bakal pernah puas. Jadi kesalahan yang mengganjal ini pasti bukan karena tidak puas dalam hidup…

Pertanyaan terakhir, mungkin karena tidak bahagia? Lhaa… sama juga ini, bahagia atau tidak kan kita sendiri yang memutuskan. Pengertian bahwa bahagia juga tidak selama-lamanya saja sudah membuat saya bahagia dengan apa yang jalani. Ketidak puasan selalu akan ada, tetapi itu kan juga tidak selamanya. Agak lieur-lah kalau ngomongin hal bahagia dan tidak. Tapi rasanya juga bukan ini.

Lha trus kenapa? Lha embuh… itulah kenapa mengganjal di hati, ada yang salah tapi nggak ketahuan apa. Saya masih terus mencari dengan galau… hahahahaha

Ya bijitulah. Yeuuuuk ah… meri kita lanjutkan bekerja saja…

Yesus Sang Mesias

Mesias, dalam Bahasa Ibrani berarti Juruselamat. Bangsa Israel, mempercayai kedatangan Mesias dari keturunan Daud yang akan bangkit dari antara mereka. Mesias yang akan mengembalikan kejayaan Kerajaan Daud di masa silam.
Harapan manusia.
Harapan mengenai Mesias ini telah menghidupkan Bangsa Israel selama ratusan tahun semenjak terpecahnya Kerajaan mereka, setelah mengalami masa yang luar biasa gemilang dalam kepemimpinan Daud yang lalu dilanjutkan oleh Salomo, Putra Daud.
Nabi Yesaya, menubuatkan kedatangan Sang Mesias. Penantian selama ratusan tahun. Kebayang, betapa putus asanya Bangsa Israel, ketika Mesias yang mereka tunggu tak kunjung bangkit dari antara mereka.
Pada jaman penjajahan Romawi dan Israel dipimpin oleh seorang Raja yang bernama Herodes, bangkitlah seorang Nabi di antara mereka, setelah sekian lama Nabi hanya menjadi legenda rakyat. Yohanes Pembaptis. Diakah yang ditunggu?
read more…

Posted in NOL