Forgotten

Hello old friend, Death greeted me.

Oh, have we met before?

Don’t you remember? We met few times.

Continue reading “Forgotten”

Advertisements

Doa

Ada yang lahir dengan menggenggam keberuntungan, pohon-pohon tumbuh hanya dengan helaan nafas, dan lirikan mata mereka memekarkan kembang-kembang.

Tapi ada yang lahir di masa kemarau, saat tanah retak karena risau, dan tunas-tunas yang telah membikin tangan mereka berdarah mati karena terhimpit batu.

Lalu di antaranya ada kita, aku dan kamu. Yang lahir dengan menggenggam harapan, dan kemampuan untuk merayu.

Sebab, aku memang suka sekali merayu.

Posted in NOL

Tiga Puluh Enam

Pertambahan umur kali ini, saya lewatkan di Jogja. Kota yang selalu memberi rasa hangat dan membuat senyum terkembang.

Salah seorang kawan saya, dengan sangat baik hati membuka rumahnya dan mengantarkan saya ke mana pun saya mau untuk ‘melunasi’ janji saya terhadap diri saya sendiri. Terimakasih.

Yang terpenting, saya kesampaian mengunjungi Borobudur saat Matahari terbit. Sebenarnya, hal ini ingin saya lakukan dua tahun yang lalu, tapi baru tahun ini kesampaian.

Saya membayangkan romantisnya melihat Matahari yang muncul di ujung cakrawala, perlahan dengan sinarnya yang keemasan menerangi bumi. Kenyataannya, tepat di hari ulang tahun saya, Borobudur diselimuti kabut dan mendung sehingga menutupi Matahari. Blas, nggak bisa liat sunrise lho… Kecewa? Untungnya tidak, karena Borobudur di pagi hari sungguhlah indah. Candi yang megah dikelilingi kabut yang bergradasi cantik sekali, menyelimuti pohon-pohon yang hijau di sekeliling candi. Beberapa kali saya menahan nafas, sambil berkata dalam hati, ya ampun bagusnya… saya membatin, hutan tempat tinggal para jiwa, nampaknya seperti ini. Pekat dengan kabut yang membutakan arah pengembara, sehingga mereka perlu mencuri ingatan para jiwa. Ah, ya… saya terlalu lama berkutat di cerita tentang Lelaki Kayu Manis.

Beberapa teman menebak, kisah tersesat yang telah saya mulai sejak tahun lalu itu adalah tulisan patah hati. Santi bilang, “perumpamaannya jelas banget, Mbak” hahaha… ya memang, saya mengawalinya dari patah hati, kemudian saya tak bisa berhenti bercerita tentang jiwa yang tersesat di Dunia Manusia itu. Sepanjang tahun ini, saya menghabiskan banyak waktu saya untuk berkhayal mengenai hutan tempat tinggal para jiwa, binatang-binatang eksotis yang menyanyikan kebijaksanaan. Banyak hal  yang tak bisa lagi saya tulis secara gamblang, atau lebih parah lagi, tak bisa saya jelaskan dengan baik, tapi malah bisa saya artikulasikan dengan baik ketika saya menulis mengenai kisah jiwa, nyanyian para binatang.

Ah, setahun telah berlalu dari saat itu.

Saya masih berdiri di tempat yang sama, namun saya telah berjalan memutar dan belajar melihat hal yang lain.

Lalu, hendak ke arah mana saya berjalan? Entahlah… saya belum bisa memutuskan dan saya tak ingin memutuskannya dahulu. Mungkin, saya akan menengok lagi ke dalam hutan; setelah saya mendapatkan gambaran yang lebih baik dari perjalanan kemarin; mungkin dengan berjalan kembali ke arah dari mana saya datang saya akan menemukan hal baru yang harus saya cari? Mungkin.

Hidup belum selesai. Selamat ulang tahun, Ruth Wijaya.

Posted in NOL

Menyimpan Matahari

Tidak ada yang siap dengan perpisahan. Tidak juga aku yang, sebenarnya telah menyiapkan perpisahan ini baik-baik. Berkali-kali kuingatkan diriku, bahwa, ada saatnya bertemu, dan ada saatnya berpisah. Saat kami berpisah, kami akan saling merindukan, dan kelak ketika berjumpa lagi, rindu yang telah kami peram telah menjadi sangat manis dan memabukkan.

Mengenai perpisahan kami, aku tahu pasti kami akan berjumpa lagi. Kekasih yang ini pergi, sementara kekasih yang lain menggantikan tempatnya, menjadi sumber inspirasi. Ketika saatnya kekasih yang lain itu sudah purna tugasnya, itulah saatnya kekasih yang ini kembali dari pengembaraannya, dan akan tinggal bersamaku hingga saatnya kami berpisah lagi. Perpisahan dan perjumpaan yang tiada henti hingga masa akhir dunia selesai berputar nanti.

Telah kulambaikan tangan perpisahan puluhan kali pada kekasih yang ini, juga telah puluhan kali kukembangkan tanganku menyambutnya kembali. Selamat tinggal dan sampai jumpa, sama seperti demam influenza, yang aku tahu akan berlalu, tapi tetap saja mengganggu, membuat tidurku tak nyenyak selama beberapa hari.

Tidak ada yang siap dengan perpisahan, tapi manusia adalah mahluk yang hidup dari kebiasaan, maka aku tetap menjalani semua ini seperti yang seharusnya kami jalani. Membiasakan diri enam bulan bersama Kemarau dan enam bulan bersama Sang Hujan, yang tahun ini terlambat datang.

Ini saatnya kami menyimpan Matahari baik-baik, sampai Kemarau datang lagi mengendarai angin. Sampai jumpa.

Posted in NOL

Menjelang Pagi

Adakah cara yang lebih tepat untuk melupakan selain dengan terus berjalan dan melanjutkan hidup?
Adakah cara lain untuk berbahagia selain memaafkan dan merelakan?
Kata-kata indah penuh pengharapan mudah ditemukan dalam kegelapan malam, cari saja huruf-huruf yang berpendar lemah seperti kunang-kunang.
Tetapi hidup tidak hanya terdiri dari kata-kata. Ia melewati siang yang terang dan menghanguskan, serta malam yang gelap dan dingin membekukan.
Malam telah menelan Matahari. Memeluk dingin yang menggelayuti kaki sehingga tak bisa melangkah maju.
Kabut membutakan mata hingga tak bisa mencari arah bahagia. Harapan berkelip lemah lalu padam dihembus angin yang bertiup bersama tangis serta ratapan.
Mati segan, hidup juga tak mau. Mati selagi hidup, apalagi yang bisa lebih menyedihkan daripada itu?
Sungguh tak ada harapan jika Matahari tetap memutuskan untuk tak melawan malam.
Tetapi, ia juga membinasakan ketika memutuskan untuk memancarkan kebahagiaannya yang panas dan terik tepat di atas kepala.
Manusia, banyak mau… banyak ingin dan banyak seandainya. Tak pernah ada waktu yang tepat untuk berbahagia, baik di siang atau pun malam jika tak diputuskan untuk bahagia. Percayalah.
Menjelang pagi nanti, saat roh kembali dari dunia mimpi dan saat Matahari berangkat untuj melawan malam, putuskanlah untuk berbahagia untuk hari itu saja. Bahagia esok, putuskanlah esok. Hari ini, mari berjalan melupakan kemarin.

Lagipula, airmata tak mesti jatuh penuh makna, kesia-siaan sesekali memang diperlukan.

Posted in NOL

Mengakali Tuhan

Mengapa Tuhan menciptakan manusia yang penuh tipu daya? Banyak akal sehingga mengakali hidup. Yang tak bisa diakalinya hanya kematian. Tapi mungkin juga ia mengakali mati setelah berada di sisi seberang sana, mana kutahu?
Doa demi doa didaraskan untuk mengambil hati Tuhan, agar yang diinginkan terkabul. Merengek penuh derita dan berlindung dalam mantra sakti bernama, iman. Berharap sebesar gunung, agar semesta bergerak mengikuti jalan hidupnya.
Mengapa Tuhan menciptakan manusia dengan banyak mau dan banyak akal?
Doa demi doa dilantunkan bagai lagu, membuai telinga Tuhan.
Berikanlah aku ini hari ini dan itu untuk hari esok. Biarkanlah mujizat jatuh dari langit.
Ketika tahu mujizat tak mungkin ada dari yang tiada, manusia bernegosiasi, baiklah…kuminta satu hal saja, hanya ini yang terpenting, tetapi sementara itu hatinya berbisik, setelah ini tetap akan kuminta itu dan anu. Tak tahukah ia, jika IA mendengar bisikan sudut hatimu? Mengapa tetap kau mengakali Tuhan?

Mengapa Tuhan, Kau biarkan kami mengakaliMu?

Posted in NOL