Service @BiznetNetworks

Jadi ya, kemarin dan hari ini sampai jam 12 siang, internet kantor saya mati. Kami pakai service dari Biznet.

Selama ini, koneksinya nyala-mati-nyala mati aja. Berkali-kali kami komplain & telpon ke Biznet, jawabannya selalu sama: matikan modem beberapa saat kalau tidak bisa coba by pass.

Sebenernya, sebelum nelpon pun kami sudah mematikan modem, karena setiap telpon disuruh begitu, kita juga gak bego dong yaa… dilakukan dulu cara yang standar itu. Masalahnya, kalau bypass itu emang nggak bisa, modem di pantry yang jaraknya 5 meter dari komputer kami, ini gak bisa aja dilakukan. Selama saya kerja di kantor ini, internetnya itu selalu begini. Kami sudah ingin pindah ke provider lain tapi nggak ada servicenya yang melayani gedung kami.

Puncaknya kemarin, total mati. Duh… drama pun dimulai. Telpon ke CS, ya seperti biasa, standar, suruh matiin & by pass. Akhirnya, kami minjem laptop, nah bisa by pass kan tuh. Udah, pak bos saya tuh utak-utik, dia latar belakangnya kan IT, jadi ngartilah macam ginian… dia bilang sama CS Biznet, problemnya ini memang koneksi dari kalian jelek, harus ada teknisi yang datang untuk checking. Eh, CS-nya bilang coba dulu dari sini pak, bapak coba lagi. Si bos trus ngambek deh, udah dibilang ini semua cara sudah dilakukan, nggak ada tanda-tanda data yang terkoneksi. Akhirnya CS bilang mau menelpon lagi untuk konfirmasi teknisi.

Sampai jam 4 sore, kami gak ditelpon ataupun dikonfirmasi soal teknisi. Kami telpon lagi dong… kami taulah, pasti jam 4 sore nggak keburu kalau teknisi datang, kami bilang ya sudah besok pagi saja nggak apa-apa.

Pagi tadi, karena sudah paham sama CS Biznet yang clueless dan gak informatif, kami nelpon dong, untuk konfirmasi mengenai teknisi. Kami sudah ada nomer complaint, langsung dong kami bilang aja no complaint sekian, biar gak usah nerangin lagi… kami pikir mereka itu kalau terima telepon pengaduan kan dicatet ya kronologinya. Eh ternyata kagak bok. Dia bilang lagi, kita disuruh matiin modem & by pass. E caaaapeee deh!

Kami jelaskan lagi dari awal, tadinya mau dengan nada suara baik-baik tapi gak bisa, keburu marah je. Kami bilang, kami perlu teknisi untuk datang. Si CS masih mbulet aja…gak jelas. Trus kami bilang, “kami bayar kok mbak teknisinya, kami sudah dikasih tau kalau teknisi datang harus bayar, ya gak pa-pa, kami bayar, yang penting internet kami nyala lagi” baru deh, si CS bilang, nanti konfirmasi lagi. Yaelah, duit toh urusannya?!

Saya kemudian mention Biznet di twitter.

Sementara itu, kami juga masih berusaha untuk mendapat konfirmasi lewat telpon mengenai kedatangan teknisi.  Kami dilempar-lempar lagi. Si mbak CSnya juga juga bilang, teknisi langsung ke lapangan, dan nggak bisa dipastikan apakah bisa ke kantor kami atau tidak. Ya otomatis kami marah dong, ini sudah sejak kemarin pagi. Nggak ada solusi selain: matikan modem & by pass. Kami kemudian memaksa si mbak CS, menekan dia, ya gak mau tau yee… wong udah dari kemarin minta teknisi (yang nggak gratis itu). Eh, si mbak CS malah curhat, kata dia kepala teknisinya nggak masuk jadi nggak tau jadwal teknisi dan kami akan dikonfirmasi lagi. Yaoloooo… gak capek konfirmasi melulu?! Kami aja yang nelpon cape, kami yang komplen aja cape… Kami kekeuh, mesti ada yang datang. Kemudian telpon dioper lagi ke bapak-bapak yang bilang teknisi bisa datang, tapi kemungkinan setelah jam makan siang karena teknisi memprioritaskan pemasangan baru terlebih dahulu. Menurut ngana?! Konsumen udah kebakaran jenggot dese masih aja jawab gitu. Makin marahlah kita. Setelah kami ngomel, akhirnya mereka mengkonfirmasi teknisi akan datang sebelum jam makan siang, jam 12 siang yee… baik. Kami tunggu.

Selama telpon2nan ini, saya ngetwit lagi:

Trus dibales

Saya balas lagi:

Emang sih, udah nyolot balesan saya, bayangkan drama yang sudah kami lalui bersama Biznet ini! Lagian emang dia gak ngecek tweet saya sebelumnya ya, kan ada no complaintnya? Dari no complaint gak ketauan data-datanya? Apa fungsinya no complaint kalo gitu? Ah, tapi masih baguslah dia jawab, biar kata nanti gak dikerjain atau asal-asalan nanggepinnya yang penting dijawab, daripada dicuekin ye…

Sampai satu jam dari saya bales tweet nggak ada balesan, ini juga satu jam dari kami konfirmasi lewat telpon terakhir dari CS. Saya ngetwit lagi, berikut tweet saya dan jawaban-jawaban Biznet:

Pas banget emang, pas saya ngetwit teknisinya datang.

Udah nih, dikerjain. Sekitar jam 12 internet akhirnya nyala. Pas nanya sama mas-masnya, apa problemnya, dia bilang kabel di sentral Biznet kendor!

HAH!

Kami nanya, ini kami perlu ganti apa gak? Apa yang perlu diservis atau apalah… dia bilang nggak, cuma kabel di sentral Biznet aja perlu dikencengin!

Karena kabel di sentral Biznet kendor internet kami mati 1.5 hari (plus mati-mati kemarin), dan kami yang harus bayar teknisinya untuk ngencengin fasilitas yang harusnya jadi tanggung jawab Biznet untuk pengecekan secara berkala.

OK. Internet kami memang sudah nyala, bahkan nulis blog post ini juga pake koneksi Biznet, tapi teteup aja, saya kecewa sama Biznet. Udah tau ini konsumen komplain mulu, kok ya dia nggak ngecek jaringannya, cari dong penyebabnya, kenapa konsumen ini komplain mulu? Kalau nggak bener-bener mati atau gak mentok kami juga gak akan telpon, biarpun pas telpon solusinya sama: matikan modem atau coba by pass; padahal ternyata kabel sentral dia yang kendor. Lha gue mene tehe kabel sentral dia di mana? Sentral dia aja saya juga gak tau bentuknya kayak apa. Yaah… prioritas memang pasang jaringan baru kali ya… mengurus konsumen lama tidak perlu.

Kata orang bijak, 1 orang pelanggan kecewa lebih berbahaya daripada 100 orang pelanggan yang puas. Orang bijaknya siapa, saya juga nggak kenal, tapi konon katanya kan bijitu. Intinya blog post ini? Ya saya cuma mau cerita sih, di twitter gak puas ngomong, 140 karakter doang.

Jadi begitulah kisah-kasih adinda bersama Biznet.

Sekian dan terima saran untuk provider internet yang ada di gedung kami, PM deh biar tau lokasi gedung kantor saya.

Update 7 Mei 2012:

Koneksi internet kami di kantor sejak diperbaiki kabel sentralnya, lancar banget. Saya jadi makin yakin, kemarin itu sering mati ya karena kendor itu. Sebagai informasi, biasanya tiap jam, adaaaaa aja matinya; sekarang tidak lagi.

Semoga besok-besok pihak Biznet rajin melakukan pengecekan, sehingga kami gak perlu komplen-komplen lagi, capcai komplen mulu, darting cyiin… nanti  akika cepet keriput. Lagipula, kami ini kan lebih cinta perdamaian; make peace atuh not war.

Terimakasih juga untuk pihak Biznet yang sudah menanggapi blogpost ini. Meskipun case closed blogpost ini tidak saya hapus, hanya untuk catatan dan berbagi pengalaman dengan rekan-rekan yang lain. Tanggapan dari Biznet pun tidak saya hapus atau edit.

Sekian dan terima kiriman doa agar koneksi lancar terus *halah*

 

Dari Nana Rohana Ke Cibadak Lalu Ke Pasir Koja

Beberapa hari lalu, saya ke Bandung dalam rangka nyelawat seorang kawan yang terlalu cepat meninggalkan kami semua. Pulang kantor, saya langsung capcus dan tiba di rumah duka sekitar jam 7 malam. Kemudian sebelum balik Jakarta, kami berbondong-bondong menikmati jajanan malam hari di Jl. Cibadak.

Sebelumnya, di rest area kilometer 72 arah ke Bandung, kami mampir di RM Ciganea, yang asalnya memang di Purwakarta situ. Masakan Sunda, tapi penyajian a la rumah makanPadang, begitu tamu datang, langsung keluar semua lauk pauknya…

Diawali dengan siomay Sin Sien Hin. Siomay ini mengandung daging babi yah… tentu saja buat saya enak :mrgreen: tapi betul memang enak… Cuma bumbu kacangnya aja yang kurang mantep. Untungnya karena siomay enak, jadi aman sajalah yaaa… Selain siomay, ada ambokue yang dibeli dari warung depan. Ambokue ini ada babi merah, kuping babi, pokonya bermacam-macam olahan daging babi plus timum, dan tahu yang disiram dengan tepung jagung yang dimasak manis. Jadi rasanya aneh sih… Makan ini seperti makan rujak cingur untuk pertama kalinya, bakal nggak suka banget atau bakal suka banget. Saya? Biasa aja. Mau nggak suka, tapi galau…karena makanan ini langka *tsah* yang jual ya cuma ada di Cibadak sini, nggak ada lagi di tempat lain. Tapi nggak bisa suka juga… karena manis. Gitu deh, galau.

Lalu kami menikmati Bubur Ikan, nggak tau dari warung apa, karena Jenzcorner yang mesen trus dianter ke warung siomay. Sebelumnya ketika di rumah duka Nana Rohana, kami disuguhi bubur ayam Ahong, wah itu buburnya enak banget. Gurih dan pas deh kekentalannya, masih ada tekstur nasinya tapi bubur banget… Nah kebalikannya, di Cibadak ini bubur ikannya encer banget seperti diblender gitu, nggak ada teksturnya… bukan selera saya, tapi toping ikannya enak… sayang sedikit 😀

Setelah bubur ikan, jatahnya Soto Bandung Pak Simon. Nah, untuk yang ini, saya bilang ini soto Bandung terenak yang pernah saya makan. Beneran, biasanya soto Bandung itu kuahnya kerasa lobak banget… yang ini, lobaknya kerasa tapi kaldu sapinya juga gak kalah lekoh. Udah gitu dagingnya empuk sekaliii…. Nomnomnomnom… Wajib coba kalau ke Jl. Cibadak ya… dijamin, yang biasanya nggak suka soto Bandung pasti bakal jadi suka.

Yang terakhir dituju di Cibadak ini adalah Ronde Alkateri, yang jualan di warung Cibadak ini adalah anak dari Ronde Alkateri yang di Jl. Alkateri *mbulet*. Rasanya ya sama, wong sepabrik 😆 kuah rondenya bisa dipilih, mau yang merah pakai gula jawa atau yang putih pakai gula putih. Kuahnya tidak terlalu kuat rasa jahenya, tapi jangan kuatir, di setiap meja sudah disediakan air jahe yang bisa ditambahkan di kuah ronde supaya kadar pedes jahenya pas, sesuai selera.

Dari Cibadak, kami ke Jl. Pasir Koja, untuk mencoba Nasi Kuning Semur Jengkol. Mantep kaaan….

Warung kaki lima ini sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu, tapi saya baru nyobain kali ini *malu* ya maklum ya bok, Pasir Koja mah bukan tempat main akikaaa… ke situ paling buat nyamperin apotik Djaja doang, karena apotik itu menjual obat cakep. Eh seriusan… dijamin cakep kalau beli obat di situ, tapi sayang sekarang tu obat cakep udah gak beredar lagi 😦

Eh, nasi kuning gimana nasi kuning…. Cakep banget. Satu porsi dilengkapi dengan rendang a la Bandung gitu, plus semur jengkol… menurut yang suka jengkol, di sini jengkinya eni. Saya sendiri sih, agak susah membiasakan diri makan jengki, karena saya baru kenal jengkol pas di Bandung dan pas nyoba pertama, rasanya pahit nggak enak banget deh. Jadi setiap makan jengki, langsung kerasa pahitnya duluan. Memori rasa itu merusak banget. Saya nyobain sih jengkol yang di warung ini, ya biasa aja… pahit 😆 ntar deh, kapan-kapan coba lagi.

Kalau Anda suka jengkol, wajib kunjung deh warung ini… buka dari jam 9 malam sampai jam 2 pagi. Alternatif dari warung ceu Mar :mrgreen:

Berakhir sudah perjalanan kami hari itu, kami langsung kembali ke Jakarta dengan perut kenyang, juga kenangan akan kawan kami. Selamat jalan Her, kami merayakan kehidupanmu, bahwa kamu pernah hadir di hidup kami. Sampai berjumpa di perjamuan selanjutnya yaa…

Supernova – Partikel

Setelah menunggu sekian lama, akhirnya keluar juga lanjutan dari seri Supernova, Partikel dengan tokoh utama Zarah.

Buku ini habis dilalap dalam waktu 3 jam dan setelah itu saya puyeng sendiri, sibuk bertanya-tanya, kenapa, siapa, mengapa dan di mana? Matek, ra iso turu.

Kalau soal tulisan, yaaa… Dee Lestari, gituh, dan saya hanya membaca seri Supernova, belum membaca karangan dia yang lain. Suka sekali, tidak, tapi saya mengikuti. Untuk karakter terakhir Zarah, saya belum jatuh cinta, seperti saya jatuh cinta pada Diva yang sebenarnya baru saya sukai saat buku ke-2 terbit 😆 kebiasaan membaca ulang, saya jadi menemukan hal-hal yang tidak saya perhatikan saat saya membaca pertama kali. Buku Partikel ini belum saya baca ulang, nanti deh, semoga ketemu hal baru setelah baca ulang.

Meskipun demikian, saya menikmati cerita petualangan Zarah ke dunia-dunia yang liar dan berharap lebih banyak cerita mengenai hal itu. Hutan apa, negeri anu… sepertinya seru.

Tapi tetap saja, tidak mudah menulis satu buku, terlebih yang membutuhkan waktu sekian lama… bagaimana mengumpulkan bahan dan meramu semua itu dengan kesabaran; pasti saya akan menemukan hal lain yang luput saat pembacaan pertama. Pasti akan muncul sesuatu yang istimewa dari Zarah, lebih dari sekedar, ah ya lanjutannya Supernova mau gimana lagi, gue mesti baca lah. Ya kan?

Salut, Dee… ditunggu seri selanjutnya :mrgreen:

The Lady, The Love

Ketika saya membeli karcis film ini, si mbak penjual karcisnya langsung bilang, “ini filmnya sedih banget, nangis-nangis deh mbak”. Saya cuma bisa nyengir, sambil berpikir dalam hati, ah gak masalah…lenongan gue kan waterproof 😆

Sungguh, saya buta sama sekali soal film ini. Saya belum baca sinopsisnya atau review bagus/tidaknya film ini. Saya hanya tahu film ini mengenai Aung San Suu Kyi; apakah ini mengenai perjuangan politiknya atau kehidupan pribadinya… saya juga belum tahu. Saya datang dengan hati yang bersih *halah*.

Ternyata ya bok, film ini bercerita soal kisah cintanya Aung San Suu Kyi dan suaminya Michael Aris. Kebetulan sekali, beberapa bulan yang lalu ketika Aung San Suu Kyi dibebaskan dari tahanan rumahnya, saya pernah baca mengenai beliau jadi ya ceritanya udah paham, lha wong sama banget kok jalan ceritanya. Tapi ya biar begitu, teteup aja ngerasa teriris-iris, bok! Kan kalau film ada kembangannya, yang Daw Suu main piano-lah, trus nelpon suaminya… helaan nafas… tarikan bibir, gerakan tangan… aduuh… sedih 😦

Saya pas baca wikipedia Daw Suu aja berasa miris, ya ampuuun… kasian banget terpisah gitu dari suami dan anak-anaknya; ngebayangin perasaan anak dan suaminya… Eh, ya kejadian di film ini… Digambarkan bagaimana ekspresi suami ketika mendengar berita tentang Daw Suu, ekspresi anak-anaknya ketika ayah mereka sakit… Kegalauan hati suami yang terpisah dari istri. Kekaguman sang suami kepada istrinya, dukungannya. Cinta sebesar apa yang bisa merelakan sang istri untuk berjuang bagi orang lain; cinta yang egois tapi memikirkan orang lain. Lho rak mbulet. Gitu deh. Menye-menye banget pokonya ngebayangin keluarga itu.

Selain itu, sepanjang film saya teriris-iris juga inget sama Indonesia… Ya kan muka orang-orangnya gak jauh beda tuh, trus kayanya kan tetangga deket ya… kurleb sama dah… Sebagian hati saya pengen bilang ke Daw Suu, udahlah Daw Suu… hidup lebih mudah kalau Daw Suu balik ke Oxford, berjuang dari sana. Mungkin kalau saya yang dihadapkan dengan pilihan berat, keluarga atau negara? Ya mungkin saya memilih keluarga. Tapi susah juga, karena seluruh rakyat Burma kan keluarga Daw Suu juga… Sama halnya, misalnya saya disuruh pindah ke luar Indonesia, misalnya ke Eropa yang semuanya sudah teratur gituu, berat juga ma meeeeen… Kalau saya sih, karena semua keluarga saya di sini, jadi pilihannya mudah, tetap tinggal di negara saya. Lagian, ntar kalo pindah ke Eropa, malem-malem laper mesti masak sendiri, gak ada nasi goreng tek-tek, nah kan jadi ngelatur 😆 tapi iya kan? Ah, pokoknya saya jadi terbetot sana-sini dah saat menonton film ini. Iiiih… terbetot, senar gitar bass kaleee dibetot.

Michele Yeoh juga apik banget memainkan perannya sebagai Daw Suu. Berkali-kali saya ikut menangis saat melihat Michele Yeoh mengedutkan sudut mata, seolah-olah menangis dalam hati… yaoliiiii…

Sementara itu, dari segi artistik gimana? Ya cantik sih… ada beberapa scene yang biasa banget tapi nggak ganggu sama sekali. Musiknya pun cantik, bikin makin teriris-iris. Pemainnya juga oke semua. Yah… valid atau tidak penilaian saya, entahlah. Saya pecinta film drama, jadi yaaa emang film ini buat orang-orang modelan saya :mrgreen:

Si mbak karcis benar, film ini nangis-nangis… ah, tapi saya suka.

HUGO – Semua Manusia Ada Fungsinya

Dunia ini seperti mesin, tidak ada bagian yang mempunyai fungsi sama. Jadi jika dunia ini adalah mesin, maka aku tidak mungkin hanya cadangan, aku pasti mempunyai fungsi. Kurang lebih seperti itulah yang dikatakan Hugo kepada Isabelle.

Berapa umur si bocah Hugo ini? 12 tahun? Bukankah kata-kata itu terlalu filosofis untuk bocah seumuran dia? Tapi mungkin kesedihan memang telah mendewasakan anak yatim piatu itu lebih cepat. Ia jadi lebih tua dari umurnya.

Film yang diangkat dari novel ‘The Invention of Hugo Cabret’ ini, dibuka dengan perlahan plus kilas balik yang membikin saya pecah konsentrasi untuk menemukan tujuan dari film ini; cerita apa sih yang ingin disampaikan *aiiih… mbak’e serius bener nontonnya*. Apakah Hugo yang yatim piatu ini akan menemukan kebahagiaannya? Apakah kematian ayah Hugo hanyalah ilusi? Apa hubungan inspektur kepala stasiun dengan si Hugo, apakah dia tokoh yang jahat? Pemilik toko mainan, siapa dia? Pemilik toko buku / penjaga perpustakaan, kenapa dia memandangi Hugo Cabret dengan curiga?

Sementara saya asyik bertanya-tanya, saya dimanjakan dengan tampilan visual yang memanjakan mata saya. Cakep banget deh gambar-gambarnya… ya iyalaaaah… menang Oscar 5 biji gituh untuk urusan pergambaran…  eh, konon katanya, ini adalah pertama kalinya juga sutradara Martin Scoserse bereksperimen dengan pengambilan gambar secara 3D. Hasilnya, memang tampilan visual yang mempesona.

Tapi film tak hanya soal tampilan, apalagi buat saya yang penggemar cerita *cerita apa gosip?* *HEH!* Sepanjang film saya bertanya-tanya, ini maksudnya apa sih? Ujungnya apa?

Adegan demi adegan silih berganti dan saya terbuai dengan cerita mengenai awal masa industri film. Film bisu yang kalau ditonton jaman sekarang rasanya katro bener, tapi luar biasa dan ajaib saat itu. Bagaimana manusia-manusia pintar itu mengolah imajinasi dengan peralatan yang masih sederhana, kemudian itu semua disuguhkan dalam film moderen dengan efek yang luar biasa. Bukankah kontradiksi itu membuat kita makin terpesona?

Kontradiksi yang juga membuat saya jadi lebih peka, memahami bahwa Hugo hanya ingin memecahkan pesan rahasia dari almarhum ayahnya. Ah, Hugo ternyata bukanlah bocah yang terlalu cepat dewasa, ia adalah bocah yang sedih dan kesepian.

Film memang tak hanya soal tampilan, juga tak melulu soal cerita; tapi juga soal dengan siapa kita menontonnya 😀

Hugo, telah mempesona saya.

PS. hei kamyuuu… nonton lagi yuk!

Cerita Cinta Enrico, kisah sang kekasih

Ini adalah kisah Enrico yang diceritakan kembali melalui tulisan oleh kekasihnya, A. Penulisan ini adalah sebuah proses yang membantu Enrico menerima mengapa sang Ibu tak sanggup melihat kebaikannya.

Ini adalah kisah yang sangat romantis, bagi saya. Bukan cerita menye-menye soal kekasih yang mengambil bulan untuk dipersembahkan di hari Valentine tapi hal apalagi yang bisa lebih romantis daripada mendapat kado, sebuah novel tentang kisah hidup yang ditulis oleh sang kekasih?

Dalam kata penutupnya, Ayu Utami menuliskan bahwa sebagai penulis kreatif ia juga menambahkan di sana-sini. Novel ini berdasarkan kisah Enrico, berdasarkan penuturannya akan ingatan masa kanak-kanak , masa remaja hingga saat dewasa, namun terjadi perubahan waktu yang disengaja, termasuk untuk kelancaran cerita ada setting yang digabungkan.

Tak apa, tetap saja, romantis. Continue reading “Cerita Cinta Enrico, kisah sang kekasih”

Makan, Doa (trus tidur)

Photobucket
il dolce far niente
the sweetness of doing nothing


Kemarin sore, menembus hujan badai *lebay* serta kemacetan di Jakarta, saya nonton film ini.
Saya belum pernah baca bukunya, kurang tertarik, tapi sempat tertarik karena dibuat filmnya dan baru tau kalo lokasi syutingnya bener-bener di Bali. Yaah… sok nasionalis doong… bangga gitu karena Bali bakal dilihat sama Julia Roberts dan Brad Pitt, yang merupakan produser dan tidak memerankan tokoh dalam film ini, sok bangga gak penting, artis Hollywod ke Bali! *padahal mah, udah banyak yg pernah ke situ emang* 😀

Nah, nonton film ini pun saya tertariknya karena Julia Roberts dan Bali. Ceritanya, ya nantilah cari tahu, pokoknya secara garis besar berkisah soal Liz Gilbert, yang menulis sendiri bukunya, yang setelah perceraiannya berpetualang ke tiga negara untuk menemukan dirinya sendiri, kebahagiaannya.

Saya membaca banyak kritikan pedas yang ditujukan ke film ini, dan kemudian merembet ke bukunya yang juga dihina-hina… padahal best seller. Entah, siapa aja yang beli ituh 😀

Jadi filmnya gimana?





read more…

a slumdog lover*

Money and women. The reasons for make most mistakes in life. Looks like you’ve mixed up both – Slumdog Millionaire, 2009

 

Hmm…

Semalam, akhirnya aku nonton juga tuh Oscar 2009 Best Picture: Slumdog Millionaire. Di luar kebiasaan film Oscar yang biasanya suka nggak aku ngertiin, film ini cukup renyah dan mudah dinikmati, tanpa perlu berpikir berat. Jadi curious sama The Curious Case of Benjamin Button, yang jadi saingan berat film ini.

  Continue reading “a slumdog lover*”

bite me Ed… bite me

Probably, yesterday was not my (good) day. Aku jadi anjing galak, sekarang juga sih… masih jadi anjing galak… hhhrrrgh guk guk guk… awas rabies! Salahkan saja hormon kalau sudah bejini, termasuk kesalahan hormon pula kalau ada jerawat segede jagung bertengger di pipi, tsaaah… lo kate burung kakak tua… pake acara bertengger. Continue reading “bite me Ed… bite me”

block it bond

Aku lagi ngalamin yang namanya writer’s blocks *tsaaah gaya beney*, serius neeh… kagak bisa nulis apa gitu, biasanya, ada aja yang diceritain. Di personal blog, termasuk juga kerjaan, hadooooh…. tiap malem mau nulis udah gak sempet, selalu nyampe kos udah setengah merem. Bukan protes karena stres, cuma emang padet banget nih otak aku, sebenernya ada banyak hal yang mesti dituangin, tapi itu tadi, susah banget buat memulai satu kalimat :mrgreen:

Ya sutrahlah, aku cerita aja soal si Mr. Bond, Quantum of Solace. Yang kagak suka spoiler, jgn terusin, tapi yang pengen tau, lanjuuuuuut. Continue reading “block it bond”

Seri Kuliner JalanSutra : Tempat Makan Jakarta Tempo Doeloe

Jalan Sutra bekerja sama dengan Pustaka Rumah (Kompas Gramedia), menerbitkan seri buku “Kuliner Nusantara”. Kemarin, tgl. 29 Feb. ’08 diterbitkan buku pertama dari serial ini yang berjudul, “Tempat Makan Jakarta Tempo Doeloe”. Wah… buku pertama… akan ada buku-buku selanjutnya yaaa…. semoga!
Buku ini sebenarnya berupa review restoran / tempat makan yang sudah ada sejak bertahun-tahu lalu dari beberapa dedengkot milis JalanSutra, ada Irvan Kartawiria, Cindy Christina, Andrew Mulianto, Lidia Tanod, Adi & Grace Khoesuma.
Ada 20 tempat makan, yang menjual bermacam masakan, minuman serta makanan ringan yang direview plus bonus tentang minuman, coklat dan permen djadoel.
Seperti biasa, gaya penulisan enam jagoan neon ini, nyenengin, enak dibaca dan perlu *kayak koran*. Jelas bikin ngiler, terutama, ketika cerita tentang Laksa Cibinong ituh *hadoooh LiTa… ngiler gw…* jelas bikin aku kepengen dateng juga ke tempat makan yang direview. Tapi entah kenapa, ada selapis rasa haru ketika membaca semua review itu *halah* bener lo…. Baca saja, ‘Kikugawa, Dimana Krisan Mengalir Sampai Jauh’, Cindy menulis di akhir review-nya: …Saya berharap semoga saja alirannya akan terus berlanjut sampai jauh ke depan. Haiiiyaaah…. kok perasaanku langsung termehe-mehe ya… Restoran Rico dan Restoran Trio, sangat menarik untuk segera dikunjungi, hehehe makelum, aku kan newbie di Jakarta…jadi belum pernah nyobain satupun dari resto yang masuk ke buku ini.
Dan yang perlu diinformasikan adalah, semua review ini ditulis tanpa sepengetahuan si restoran, kamsudnya, enam orang ini datang sebagai pengunjung biasa dan membayar sebagaimana layaknya pengunjung lain, sehingga penilaian yang diberikan benar-benar obyektif.
Jadi, beli bukunya gak? Kataku sih, beli aja… Untuk referensi mah oke banget!

Enchanted. Inc

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Buku ini, sebenarnya sudah hampir sebulan yang lalu aku baca buku ini, tapi biaslah, aku kan suka mengulang-ulang bacaan, seru aja ketika membaca ulang menemukan hal-hal baru, seperti misalnya, kalimat yang terlewat ketika membaca pertama kali. Nggak sering juga sih aku melewatkan kalimat, cuma pernah aja.

Ceritanya tentang Katie Chandler yang berasal dari Texas dan mengadu nasib di New York. Hm… salah satu alasan aku beli buku ini adalah setting New York-nya… hehehe memang.. memang… aku pengen bangt suatu saat pergi ke sono. Si Katie ini, tidak seperti kebanyakan tokoh novel chicklit yang punya kepribadian nggak jelas, kamsudnya, sering kali karakter novel chicklit tuh kan konyol banget, suka belanja, pemarah, gampang jatuh cinta… pokoknya ada aja sifat yang menonjol trus itulah yang bikin kita mengasosiasikan diri kita menjadi si tokoh. Sebaliknya, Katie sangat biasa. Memang digambarkan biasa tapi ketika membaca cerita kita bisa tahu bahwa dia memang biasa banget. Jangan bingung dah, mungkin aku ngejelasinnya emang beribet 😛 . Tapi serunya, justru Katie yang biasa banget inilah yang membangun cerita menjadi benar-benar menyenangkan untuk dinikmati. Fiksi banget. Karena ke-biasa-an Katie jugalah, akhirnya ia ditawari untuk bekerja di suatu perusahaan penghasil mantra sihir di New York… hiyaaa… mulai seru kan? Awalnya, Katie mengira, dia orang yang berhalusinasi ketika melihat peri, elf, gargoyle dan gnome berkeliaran di New York, tapi rupanya dia memang bisa melihat menembus ilusi sihir… Katie juga merupakan gadis kampung yang jujur, tapi justru inilah menjadi salah satu kelebihannya yang lain. Kombinasi kejujuran dan kemampuan menjadi orang biasa membawanya mencapai posisi asisten CEO pada perusahaan Magic, Illussion & Spells. Inc hanya dalam hitungan hari! Dan lucunya lagi, CEO perusahaan ini adalah juga legenda sihir dunia… wah… wah… sapa tuh? Baca aja ‘ndiri.

Detail-detail lain dalam kehidupan Katie yang berubah banget setelah dia tahu bahwa dia memang bisa melihat menembus ilusi sihir cukup seru. Mulai dari rekan kerja yang ganteng yang selalu pergi ke kantor bersamanya dan juga bisa menggunakan mantra panggil kereta, trus teman kerja yang berupa peri, lalu ada gargoyle yang jadi security di kantornya, trus ketika hang out bareng teman perinya, ia mencium katak di Central Park… lucu aja.

Memang, novel ini kelihatan banget fiksinya, tapi serulah… namanya juga cerita fiksi. Nggak outstanding kayak chicklit yang lainnya seh… tapi menyenangkan untuk dinikmati.

The Mistress of Spices

Liburan, di tengah-tengah keriweuhan packing, aku ‘nemu’ film ini.
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Dulu sih pas ada bukunya…. pengen beli, tapi biasa deh, sok-sok ‘pelit’… gak dibeli, akhirnya setelah melihat filmnya yang berwarna-warni spieces gitu jadi tertarik pengen beli bukunya, dan…. sudah tidak ada lagi! Gramed IP maupun di Merdeka udah gak ada… di Palasari juga sudah tak ada… huhuhuhuhu….

Ceritanya, tentang seorang cewek yang terpilih untuk menjadi penguasa rempah-rempah, namanya Tilo. Tugasnya sebagai penguasa rempah-rempah adalah untuk menolong sesamanya lewat rempah-rempah… hehehe bingung yak… intinya, si Tilo ini tukang terapi pake rempah-rempah… *hadoooh, makin jauh aje artinye* Tilo ini jagoan untuk menemukan rempah-rempah apa yang cocok untuk mengobati seseorang, baik itu sakit secara fisik atau trauma batin *halah!*. Contohnya, kemangi suci, berfungsi untuk mengingat… trus kayu manis untuk mendapatkan kawan yang sejati…

Sebagai seorang penguasa rempah-rempah, Tilo memiliki beberapa pantangan, yang terutama adalah: dia tidak boleh meninggalkan tokonya, tidak boleh bersentuhan dengan kulit orang dan tidak boleh menggunakan rempah-rempah untuk kepentingannya pribadi. Awalnya, pantangan-pantangan ini tidak menjadi masalah buat Tilo, tapi kemudian menjadi problem besar ketika ia jatuh cinta….

Yang bikin seru adalah, warna-warni rempah-rempah yang ditampilkan di film ini… merah, jingga, coklat… aku suka! Mbak Aishawara Rai juga cantik bangeds…. Film ini nggak buuuuuaaagus banget seh, tapi cukup menghibur, cukup membuat aku berkhayal tentang rempah-rempahku 😀

Hm… kebayang bukunya pasti lebih seru yak…. aduh… jadi pengen baca… ada yang mau minjemin gak? Atau mau jual buku 2nd-nya? Kasih tau aku ya….

Bandung Historical Walk – part 4

Dari Gereja Kathedral, kita lanjut kan ke Jl. Jawa… wah, mulai gak konsen neh disini, soale mulai ada kuis dan… jejeran pohon kenari 😆 apa pula salah pohon kenari ini?! Gara-gara salah satu anggota kelompok, yaitu Tante Wiwik yang bilang, “ini kan pohon kenari, almod itu yang biasa dipake bikin kue” jadilah aku sibuk lingak-linguk liatin ada yang mateng ato gak… hehehe bukan salah si Tante sih sebenernya….

Di Jl. Jawa sendiri, ada beberapa gedung tua, salah satunya adalah bangunan Gereja Bala Keselamatan yang didesain oleh F.W. Brinkman antara tahun 1920-1925.

Lalu kita belok ke Jl. Sumatera, melewati gedung Kodam III Siliwangi, yang dulunya bernama gedung Sabau, konon katanya ini menunjukkan ukuran gedung yang panjangnya sabau (ngomong-ngomong, sabau teh sabaraha meter sih? Lupa kemaren nanyain…). Gedung ini dibangun pada tahun 1915 oleh C.P.W Schoemaker dan dulunya digunakan sebagai Paleis Van de Leger Commandant alias Pusat Administrasi Departemen Con Oorlog (DVO). Nah… ini artinya apa jangan tanya aku deh, klo yg ini nyontek dari brosur 😛 udah dibilang kan… aku dah mulai gak konsen sejak di jl. Jawa… hehehe

Kami kemudian sampai ke Taman Lalu Lintas alias Taman Ade Irma Suryani. Dulunya taman ini bernama Insulinde Park yang dibangun pada tahun 1910 yang dipergunakan untuk upacara & keperluan militer.

Trus… nyengsol dikit lewat SMA 3… duh sekolah sapa sih ini? Si akang itu ya… hehehe sutralah… Ini merupakan sekolah menengah yang pertama di Bandung, dulunya bernama Hoogere Bruger School alias HBS.

Bablas lagi, nyampe ke Taman Maluku, yang dibangun tahun 1910 dan di taman yang dulunya bernama Molukken park ini terdapt patung Pendeta Militer Belanda. Dulu aku juga sering banget neh liat waria disini… tapi katanya udah digusur… pindah ceuna teh… nggak tau juga pindahnya kemana, jangan nanya aku, soalnya aku makin sibuk mungutin kenari 😆 jadi nggak sempet nanya-nanya sama bu ketu rombongan.

Dan tibalah kita di titik selanjutnya yaitu Gedung Kondiklat TNI AD alias gedung kondangan 😆 dulunya gedung ini bernama Jaarbeurs, dibangun pada tahun 1917 oleh C.P.W. Schoemake. Fungsi awalnya adalah tempat untuk pameran tahunan hasil perkebunan Bandung, nah dari dulu rupanya Bandung memang udah sering ada pameran-pameran gitu yah… kalo pamer paha termasuk juga tak yah? 😛

Sudah mulai lelah, tapi perjalanan masih berlanjut, melintasi Lapangan Saparua yang dulunya dipake buat angkatanku ospek… hehehe pas ngelewat, sedang ada test sound Fugu, itu… yang LA Indi Fest… lhah kok aku tahu kalo yang lagi check sound itu Fugu? Ya iyalah… secara dia parlez francais gitu….

Terus… terus… lewat Jl. Banda, nah ya… apa lagi obyeknya kalo nggak FO dan FO dan batagor! Huehehehe ada batagor enak tuh, aku kan demen-demen aja tuh model batagor aci gitu, di deket FO Heritage tuh ada satu tukang batagor yang lumayan seh….

Akhirnya… sampai juga di Gedung Sate yang merupakan ending point dari petualanganku hari ini… wfuuh… leganya. Gedung yang dulunya bernama Geouvernemens Bedrijven ini dirancang oleh Gerber dan mulai dibangun pada tahun 1920. Gedung ini dipersiapkan untuk menjadi kantor pusat pemerintahan jika ibukota Batavia dipindahkan ke Bandung. Trus kenapa gedung ini kemudian bernama Gedung Sate? Ya karena banyak yang jualan sate di belakang gedung ini 😛 hehehe serius, aku sering banget dulu sama Bapak Manusia Laut (ehm…) pagi-pagi ngantri beli sate disini. Eh, tapi bukan karena itu juga seh… karena penangkal petir yang berhiaskan 6 buah ornamen di puncak atap gedung inilah kata ‘sate’ berasal. Padahal ornamen ‘sate’ ini melambangkan banyaknya uang yang digunakan untuk membangun gedung ini, yaitu 6 juta gulden! wuuuaaah… berapa rupiah ya itu sekarang? Jika dikonversikan plus inflasi, deflasi dan macam-macam lainnya? Yang seru, aku juga sempat naik ke atas gedung sate loh… pemandangannya bagus bo… pas banget lurs itu ada Monumen Perjuangan Rakyat dengan taman yang simetris trus… juga berhadapan dengan Gunung Tangkuban Perahu, pas banget depan-depanan gituh… sayangnya lagi berkabut jadi, gak terlalu jelas.

Acara ini cukup seru… senang juga… pas sepuluh tahun di Bandung ditandai dengan acara kaya gitu, padahal sebenernya acara ini dibuat dalam rangka ulang tahun kota Bandung tanggal 25 September sih… hehehehe

Acara berikutnya adalah tanggal 11 November 2007 – tur pagi hari mengeksplorasi kawasan militer kota Bandung. Berminat?!

Bandung Historical Walk – part 3

Dari Gedung PLN kami melanjutkan perjalanan ke Braga. Sempat berhenti sebentar untuk memotret-motret gedung Bank Jabar yang dibangun pada tahun 1935 oleh A.F Aalbers, maka tak herena jika selain style Art Deco yang sama, bangunan ini juga memiliki ciri lengkung sama seperti Hotel Savoy Homann, wong arsiteknya sama je…

Menyusuri Jl. Braga, mau tak mau membuat kami membahas asal nama jalan ini. Ada dugaan bahwa nama Braga ini diambil dari nama kelompok tonil (drama) yang biasa manggung di kawasan ini sejak tahun 1882. Tapi ada juga yang menduga bahwa nama Braga ini berasal dari kata Baraga (Sunda) yang berarti bergaya, sebab pada masa ‘jaya’ Parisj Van Java, Jl. Braga ini merupakan arena untuk keceng-mengeceng. Toko-toko pakaian di Jl. Braga pada waktu itu selalu up to date dengan model-model terbaru dari Eropa.

Tak lama berjalan, kami kemudian mampir ke Restoran Braga Permai yang dibangun pada tahun 1920-an. Pada masa itu restoran ini bernama Maison Bogerijn. Sebenarnya, ada satu restoran lagi di Jl. Braga yang merupakan peninggalan kuliner sejak jaman dahulu, yaitu Sumber Hidangan, sayangnya, pada hari Minggu, Sumber Hidangan tutup, jadi kami cuma bisa mampir ke Braga Permai, menikmati Roti Kadet dan es krim.

Seusai melepas lelah, kami berjalan lagi ke arah utara, melewati gedung Landmark, yang kini sering dipakai untuk pameran. Dahulunya, gedung yang dibangun pada tahun 1922 oleh C.P Wolf Schoemaker ini, merupakan percetakan dan toko buku Van Dorp.

Tak jauh dari gedung Landmark adalah gedung Bank Indonesia yang berseberangan dengan Cabazon Factory Outlet di masa kini, keduanya masih berada di Jl. Braga, namun dipisahkan oleh lintasan rel kereta api dengan area Braga selatan. Konon cerita, lintasan kereta api ini, sebagai simbol untuk membedakan wilayah Eropa dan wilayah perdagangan yang boleh dimasuki oleh kaum Inlander, leh karenanya, penataan di wilayah utara jauh lebih teratur dan artistik dibandingkan wilayah selatan. Entahlah, aku juga gak tau itu benar atau tidak tapi memang, jika melihat gedung-gedung tua di wilayah utara nampaknya lebih megah dan indah, dikelilingi taman dan area luas, berbeda dengan di bagian selatan yang tidak banyak taman dan area luas.

Gedung Bank Indonesia, dibangun pada tahun 1917 dirancang oleh EHGH Cuypers untuk Javasche Bank. Megah banget. Sampai sekarang, aku masih bengong-bengong aja kalau melihatnya…. mantab man…

Sedangkan gedung yang digunakan oleh Cabazon factory outlet saat ini, dulunya bernama Insulinde Palm Oil Factory, dimiliki oleh sebuah pabrik minyak yang berbasis di Surabaya, sebagai persiapan jika Ibukota Batavia dipindahkan ke Bandung. Dibangun pada tahun 1925 dan dirancang oleh R.L.A Schoemaker.

Sebelum masuk ke Taman Balaikota, aku sempat ‘membelot’ untuk memotret bangunan Gereja Bethel. Sudah sejak lama aku ingin mampir dan berfoto di depannya, tapi malu…. hehehe sejak kapan ya? buatku, bangunan ini, serta pohon-pohon cemara di seklilingnya tuh indah banget. Gereja ini dibangun pada tahun 1926 oleh C.P.W. Schoemaker, memadukan unsur arsitektur lokal pada atap dan arsitektus gothic pada menara. Bagus banget dah…

Pada tahun 1825, di lokasi yang sekarang merupakan Taman Balaikota ini, adalah gudang kopi milik Andreas de Wilde yang merupakan salah satu Preangerplanters dan memiliki sebuah perkebunan di utara Bandung (bukan Bandung Utara 😆 , jadi inget statemen ini: ‘perumahan megah di selatan Jakarta, oh… mananya Jakarta Selatan’… halah… opo sih… gak penting!). 50 tahun kemudian, gudang kopi Meneer Andreas ini berubah menjadi taman kota yang pertama di Bandung bernama Pieters Park. Sedangkan bangunan Balaikota, dibangun pada tahun 1929 oleh E.H. de Roo.

Menyeberangi Jl. Merdeka dari Taman Balaikota, sampailah kami ke bangunan gedung sekolah Santa angela. Dulunya bangunan ini ditujukan untuk menjadi niara dengan nama Zusters Ursulinen. Dibangun secara kolaborasi oleh beberapa arsitek yaitu, Huiswit, Fermont, Cuypers, & Dikstaal pada tahun 1922.

Tak jauh dari situ adalah Polwiltabes Bandung (iya, kantor Polisi yang waktu itu aku salah tempat untuk perpanjangan STNK… untung tukang parkirnya baik), gedung ini merupakan Sekolah untuk para guru atau Kweekschool. Bangunan ini selesai pada tahun 1866 oleh arsitek V. Berger.

Di seberangnya adalah Gereja Katedral St. Peter yang hingga saat ini merupakan bangunan gereja terbesar di Bandung. Dibangun pada tahun 1922 olh C.P.W. Schoemaker. Kemaren itu, aku tak sempat banyak mengambil gambar gereja bergaya neo-gothic ini, sebab kan hari Minggu dan masih banyak jemaat yang beribadah, aku malas serius ngambil gamber kembang warna ungu di samping halaman gereja… lucu loh…

Bandung Historical Walk – part 2

Di sebelah Hotel Savoy Homann, ada sebuah gedung tua yang bernama de Vries, juga dikenal sebagai ruko Padang, nggak ada unsur arstitektural Padang sih di gedung ini… Arsitek gedung ini…. emh, yang nge-guide aku kemarin gak ngasih tau tuh 😆 namun yang jelas, gedung yang bergaya romantic ini, dulunya adalah dept. store pertama di Bandung. Memiliki satu menara yang merupakan ciri bangunan yang dibangun pada awal 1900-an. Saat ini, kondisi gedung kuno ini sangat mengenaskan, ada beberapa kaca yang pecah, konon itu akibat lemparan batu bobotoh yang marah karena Persib kalah… hiks, sayang…. trus dah gitu, kayana pemilik gedung ini juga menunggu ambruknya gedung ini, sebab katanya dulu ketika gedung ini mau diruntuhkan, beberapa aktivis berunjuk rasa untuk menentangnya, yasud… daripada ngerubuhin di-demo mendingan ditungguin rubuhnya aja… sayang banget ya… ada option lain gak sih, untuk melestarikan bangunan kuno ini tapi juga bisa memanfaatkannya sebaik mungkin… diperbaiki trus dbikin restoran ato apa gitu?

Dari gedung itu, kita berjalan ke Masjid Agung Bandung, uhuy… alun-alun… Konon, alun-alun ini sering dipakai untuk transaksi PSK, makanya banyak bodoran yang beredar mengenai WTS depan masjid… hiks, ironis sekali yah, bahkan katanya sampai sekarang masih ada beberapa PSK yang mangkal disitu. Seorang teman yang asli Bandung, excited banget pas kita nyampe di alun-alun ini, dia bilang, dia punya foto dia waktu kecil di alun-alun ini, katanya suka ada mang tukang foto polaroid yang mangkal di alun-alun, kemaren, kami sempat tolah-toleh sapa tau si mang itu masih ada, mau difoto juga 😛 Saat ini, alun-alun kota bandung sudah direnovasi dan dilengkapi dengan banyak bangku juga air terjun. Kata guide, konon, alun-alun Bandung ini sangat terpengaruh oleh budaya Mataram yang dulu pernah menguasai tanah Parahyangan. Dengan pola catur warga, di keempat penjuru alun-alun, berdiri Masjid, pusat perbelanjaan, pendopo sebagai pusat pemerintahan dan penjara sebagai representatif dari hukum. Jadi ingat alun-alun kota Nganjuk (warning: ini benar-benar nama kota, bukan berarti ngutang 🙂 lain kali aku bakal nulis sejarah Nganjuk deh)

Sebelum kami naik ke salah satu menara Masjid Agung, kami berjalan terus ke makam Dalem Kaum I a.k.a. Raden Wiranatakusumah II (1794-1829) yang merupakan Bupati ke-6 Bandung sekaligus pendiri kota Bandung modern. Jalan masuk menuju makam, nyempil diantara lapak para pedagang kaki lima. Dari dulu, aku sudah tahu sih, kalau disitu ada makam Dalem Kaum, tapi gak pernah belok, karena lebih tertarik beli dvd bajakan dan pernik2 gak penting lainnya 8) . Selain disini, ada makam Bupati-Bupati Bandung lainnya di Jl. Karanganyar.

Setelah dari makam, kami kembali ke Masjid Agung dan mengantre untuk naik ke salah satu dari menara kembar yang baru dibangun setinggi 86 meter. Ceuna, satu menara itu menghabiskan dana 2 milyar untuk pembangunannya… wah… Masjid Agung sendiri, dibangun tahun tahun 1875 dan sudah mengalami 8 kali renovasi dalam 2 abad ini. Sampai di atas menara, seperti biasa, aku selalu termehe-mehe kalau lihat sebuah kota dari atas 🙂 yah… meskipun pemandangan Bandung dari atas tidak bagus, mengingat kepadatan dan kesemrawutan penataan kotanya, aku cukup terharu. Di kejauhan nampak jalan layang Pasupati dengan pilarnya yang khas… sayang, cuaca sedikit berkabut, sehingga ketika dipotret kurang jelas.

Turun dari menara kami langsung menuju Pendopo Bandung yang dibangun pada tahun 1810-1812 dan digunakan oleh Wiranatakusumah II sesaat setelah berpindah dari Krapyak ke Bandung. Saat ini, pendopo yang direnovasi lagi pada tahun 1995 ini, dijadikan tempat tinggal Walikota Bandung. Tadinya, kami dilarang masuk ke dalam, karena Bapak Dada Rosada sedang kurang enak badan dan sedang ada acara. Wah, kami cuma mau lihat lonceng kembar yang ada di halaman pendopo. Tapi kelompok kami sedang beruntung, kami diperbolehkan masuk, namun kelompok setelah kami tidak diijinkan masuk 😦

Dari situ, kami langsung menuju ke Jl. Banceuy, melewati gedung Swarha, yang dibangun tahun 1955 untuk keperluan akomodasi para tamu & wartawan KAA pertama. Kondisinya saat ini… menyedihkan! Lantai pertama masih dipergunakan sebagai pertokoan dengan nama Toko Indra, jualan apa saja aku nggak tau, aku belum pernah masuk 😛 sedangkan lantai atasnya dibiarkan terbengkalai. Kami menyeberang menggunakan jembatan penyeberangan yang dibangun dengan sangat tidak artistik (maaf) juga kotor!

Gedung selanjutnya adalah Kantor Pos Bandung yang dibangun pada tahun 1928. Gedung dengan arsitektur Art Deco ini dirancang oleh J. Van Gent. Awalnya, gedung ini adalah kantor telegraf, sempat menjadi markas militer pada masa perang kemerdekaan, katanya juga sempat jadi rumah sakit buat PS, whua… itu mungkin karena deket alun-alun?

Di seberang kantor Pos, adalah gedung Bank Escampto yang dibangun tahun 1915, Bank pertama di Bandung. Bangunan ini punya menara yang ada jam di kedua sisinya, yang sebelah masih berfungsi dengan baik hingga sekarang. Saat ini, depergunakan sebagai gedung Bank Mandiri, warnanya biru gonjreng bo!

Dari situ, kami berjalan menyusuri Jl. Banceuy dan masuk ke area ruko Banceuy, ternyata oh ternyata… di tengah kepadatan ruko yang kotor ituh, masih berdiri sebuah sel tempat Soekarno pernah ditahan dulu dan tempat beliau menysun pembelaannya yang terkenal itu, Indonesia Menggugat di tahun 1933. Ya, ruko-ruko yang dibangun pada tahun 1984 ini berdiri di area bekas penjara Banceuy yang dibangun pada tahun 1877. Yang tersisa dari penjara Banceuy saat ini adalah hanya sel Soekarno dan menara penjaga saja. Kondisi kedua situs sejarah ini, cukup memprihatinkan, bau pesing, kotor dan ditiduri tunawisma. Ugh!

Setelah ngomel panjang kali lebar kali tinggi, kami kembali melanjutkan penelusuran ke Gedung PLN yang dibangun pada tahun 1933. Dirancang oleh arsitek, C.P. Wolf Schoemaker. Dikenal dengan gaya Indoeuropesch stijl, gedung PLN ini di bangun di atas sungai Cikapundung. Di gedung ini pula, terdapat sumur Bandung, yang merupakan sumur tertua di Bandung dan konon ceritanya, air dari sumur inilah yang dipergunakan untuk membangun banyak gedung-gedung pada awal berdirinya Bandung. Air di sumur Bandung ini, katanya juga, tidak pernah habis, selalu segar dan dapat diminum langsung tanpa dimasak, padahal menurut seorang teman, sumur Bandung ini, pada jaman Bandung kuno dipakai untuk tempat memandikan kuda.