Menghadapi Complaint

Posting ini mendapat inspirasi terbesar dari pengalaman buruk di Chandara Thai Restaurant di Plasa Senayan, malam tadi.

Siapa yang gak pernah ketemu mahluk bernama complaint? Semua pasti pernah toh, baik itu yang ditujukan kepada kita, atau kita yang mengeluh terhadap pihak lain.
Oh, saya sih sering banget ketemu komplen. Ya, saya tukang komplen juga tukang menyelesaikan banyak komplen; karena pernah merasakan keduanya dengan sama banyaknya, saya tahu bahwa sebenarnya masalah akan selesai setengahnya dengan permintaan maaf terlebih dahulu, konsumen yang marah lebih baik diredakan marahnya lalu dicari solusinya, pun ketika solusi itu tidak ditemukan, yang penting diredakan marahnya.
Namun seringkali, penerima komplen malah menyulut kemarahan pihak yang komplen dengan pernyataan defensif yang arogan. Respon paling arogan yang saya terima tahun lalu adalah dari Pullman Hotel di jalan Thamrin. Oh, dan saya sampai hari ini sangat tidak merekomendasikan hotel tersebut.
Arogansi Pullman, rupanya mendapat saingannya hari ini dari Chandara Thai Restaurant di Plasa Senayan. Permasalahan sebenarnya sangat sederhana, komunikasi yang kurang baik dari pihak Chandara kepada kami sebagai konsumen. Secara singkat (meski susah juga disingkat) begini, Chandara punya kebijakan selama buat puasa membagi reservasi menjadi 2 tenggang waktu, yang pertama pukul 17.30 – 19.30, kemudian yang kedua pukul 19.30 – nggak tahu. Sayangnya, ketika kami melakukan reservasi, informasi ini tidak disampaikan, juga ketika kami datang ke restoran tersebut, sama sekali tidak ada informasi soal tenggang waktu ini. Karena ada satu halangan, salah seorang kawan kami baru sampai di tempat sekitar pukul 19.30, dan untuk mempermudah pembagian pembayaran di antara kami, maka kami minta pesanan yang sebelumnya dibuatkan bon, dan kami akan tambah pesanan baru. Bahkan, pada saat itu pun tidak ada informasi soal tenggang waktu.
Ketika salah seorang staff membawakan bon, barulah dia mengusir kami dengan berkata soal tenggang waktu tadi. Awalnya, saya pribadi, cuma merasa sedikit kesal karena tidak ada informasi soal hal tersebut. Ya, kami juga mau beberes dan pergi, memang tidak ada pilihan. Tapi semenit kemudian saya langsung meledak, karena respon staff Chandara yang sangat arogan. Nada suara, sikap tubuh, pilihan kata… plus, tidak ada permintaan maaf. Ya dia defensif bahwa mereka selalu menginformasikan hal tersebut, dan seolah-olah itu adalah resiko kami untuk diusir jika tenggang waktu berakhir.
Oh, saya tahu rasanya menerima komplen akibat kesalahan orang lain, kesal dan pengen marahnya dobel ke rekan kerja plus ke konsumen yang gak mau tahu itu bukan kesalahan saya. Tetapi, itu bukan alasan untuk boleh memperlakukan konsumen seenaknya.
Konsumen tidak selalu benar. Masalah selalu ada. Tidak semua masalah ada penyelesaian. Tetapi kita berinteraksi dengan manusia beradab.
Valid atau tidak valid komplen tersebut, mantra nomer satu sebagai penerima komplen adalah: minta maaf dengan rendah hati. Rendah hati tidak sama dengan rendah diri dan itu tidak akan membuat Anda menjadi mahluk hina. Restoran dan konsumen saling membutuhkan jadi satu pihak tidak bisa memperlakukan yang lain dengan seenaknya, tapi posisinya lebih ke restoran yang perlu konsumen, sih. Hidup kapitalisme yang memberikan segudang pilihan kepada konsumen!
Sembari menulis posting ini, saya juga merenung, saya meledak dalam amarah kepada si staff Chandara karena perlakuan dia yang arogan kepada kami, apakah karena saya juga gila hormat? Mungkin. Saya juga manusia, si Mbak tadi juga. Mungkin dia lelah. Saya juga, lelah.
Saya menyesal telah meledak dalam amarah yang sungguh-sungguh sampai suara saya bergetar. Kenapa saya harus marah? Marah membuat saya tidak lebih baik, malah memperburuk. Ah.
Dan posting ini saya tutup dengan, ya sudahlah… jangan makan lagi di Chandara.

Ps. Makanannya gimana? Not bad. Sebenarnya bisa masuk ke dalam salah satu pilihan. Ada menu yang enak tapi ya nggak rugi lah kalau kita nggak makan itu. Masih banyak restoran yang lain yang enak dan pelayanannya baik.

FF [Food on Friday]: Akasya Express

nasi ramesan

 

Ini dia warung kaporit saya akhir-akhir ini. Seminggu 2 -3 kali deh makan siang di mari. Sampai salah satu teman menjuluki saya sebagai #DutaAkasya… hahahaha… mau dong 😆

Jadi menurut info, Akasya Express ini merupakan kantin milik catering Akasya yang konon memang sudah hits di ibukota ini. Udah terkenal eni deh…

Buat saya, yang bikin kalap itu pas masuk ke kantin itu karena langsung ngeliat etalase penuh lauk pauk. Penampakannya bersih, cakep dan eni. Dijamin, laper nggak laper  pasti kalap deh, pengen semuanya dijajal.

Lalu, apakah rasanya sesuai ekspetasi? Apakah seenak reputasi dan penampakannya? Ya iyalah, sedap semua. Semua rasanya pas. Nggak ada yang lebih ini atau itu deh… ya bener kabeh. Bahkan rasa nasinya pun baik dan benar! 😆

Tumis Daun Pepaya

 

Lidah Cabe Ijo

 

Sate Udang

 

Tumis Tempe Pete Teri

 

Ayam Panggang

 

Balakutak Cumi

 

Nasi Bakar, dilengkapi beberapa condiment + sambal Mangga yang segar

 

Nasi Bali

 

Apa yang direkomendasikan? Hmmm…. Apa ya? Saya sih paling sering makan nasi rames tumis daun papaya dan balakutak cumi pakai sambel mbe. Itu melulu. Emh, kalau yang saya kurang suka adalah Nasi Bali-nya. Kategorinya masih enak sih, tapi karena pilihan lainnya lebih mantab, Nasi Bali ini jadi biasa. Soalnya lauk pauk kurang pedas (menurut selera saya) dan nasinya meskipun pulen, nggak anget kan. Yang bikin saya penasaran, Nasi Hijau. Ini termasuk menu khusus yang nggak tiap hari ada. Setiap saya ke sana, pas nggak cucok harinya.

 

Coconut Jelly

 

Bubur Kacang Ijo

 

Bubur Madura, berisi bubur sumsum + ketan item + candil (biji salak) + lupis (lupisnya biasa aja, yang lain enak terutama bubur sumsumnya)

 

Oh, selain makanan yang ciamik, jangan lupa sisakan tempat di perut untuk mencicipi berbagai dessert, seperti bubur kacang ijo, bubur sumsum, bubur candil, dll. Belum lagi kue-kue kecil yang rasanya juga cakep. Favorit saya saat ini Lemper Bubuk & kue Mangkok yang menggunakan gula aren, aduh gosong-gosong manis *telen ludah*.

 

Lemper Bubuk, rasanya seenak penampilannya

 

Warung ini buka tiap hari, dari jam 8 pagi sampai jam 6 sore, tapi biasanya jam 5 sore gitu udah abis makanannya. Kalau pagi ada menu sarapan yaitu Lontong Sayur & Bubur Ayam. Saya belum pernah nyoba, tapi kayanya enak juga dah… hahahaha

Yuk, siapa yang mau makan siang di Akasya Express, bareng yuuuk…

Akasya Express

Jl. Taman Kemang No. 14B

Jakarta Selatan 12790

Telp. (021) 7183090

Membabi Buta

Sudah lama rasanya nggak membabi buta makan babi ya… yuk ah, mari kita tengok

 Bakmi Shinta 88

Kepengen ke sini karena lihat foto di path Natalia Then, si mak kepo; dia juga yang kemudian bertanggung jawab membawa rombongan ke TKP.

Bakmi Shinta

Ternyata si Bakmi Shinta ini tidak hanya sekedar menjual bakmi, tapi juga nasi bakmoi. Ih, saya langsung kebayang nasi bakmoi suguhan orang mati di kampung saya. Jadi, di kampung saya bisa dipastikan 90% suguhannya pelayat orang meninggal yang disemayamkan di rumah kematian adalah nasi bakmoi, banyak yang enak pula rasanya… Nah, nasi bakmoi nostalgia orang mati inilah yang langsung pop-up waktu saya baca menu ini di Bakmi Shinta 88, langsung deh pesan ini juga selain pesan bakso goreng. Pas datang, bakmoi-nya biasa banget… huhuhuhu… untung saja, bakso gorengnya nikmat, mie-nya juga lumayanlah…

Bakmoi yg kurang memenuhi harapan

Kalau ditanya, bakal balik lagi? Errr… nggak bakal spesial dateng ke sini deh buat makan bakso gorengnya, klo kebetulan lewat, hayuk.

Bakso Goreng

Bakmi Shinta 88

Jl. Shinta B8/8 – Persada Sayang, Jakarta Barat

 

Grandma’s Suki

Ini juga gara-gara Natalia. Dia juga yang bertanggung jawab akhirannya 😀

Dengan hati yang bersih dan perut yang nggak terlalu lapar, saya makan banyak banget deh… hahahaha…

appetizer: Jamur Kuping

Pork Knucklenya juara bener, kering tapi teteup lembut dan gurih… Pork Belly juga dahsyat. Saya panik deh waktu makan di sini, semuanya mau langsung buru-buru dimakan.

Pork Knuckle

Selain perbabian, kami juga pesan shabu-shabu yang beef, lupa beef apa…sirloin atau apalah; ya seger gitu, tapi maaf ya… saya gak konsentrasi makan shabu-nya, lebih penting nyemilin si bebong. Juara!

shabu

Bakal balik lagi? Tentu saja! Sayangnya (atau untungnya) si Grandma Suki ini belum ada cabang di Jakarta Selatan atau Jakarta Pusat deh, yang deket-deket daerah jajahan saya gitu. Pokonya, nanti ekke umroh lagi dah ke meri.

Sebelum dicemplungin kuah
Pork Belly

Grandma’s Suki

PX Pavilion @ St. Moritz # 1 – 03

Puri Indah Bolevard Blok U1

CBD Jakarta Barat 11610, Telp. (021) 58351247

 

Rukan Exclusive Blok B/23

Pantai Indah Kapuk – Jakarta Utara 14470

Telp. (021) 55966020

 

Jl. Boulevard Raya Blok LB 3 No. 1 & 2

Kelapa Gading (Seberang MKG 5)

Telp. (021) 4500393

 

Bakmi Cong Sim Athek Medan

Dari namanya aja sudah menjanjikan yaaa… Lokasi warung ini nggak jauh dari tukang bakso kaporit, Akiaw 99 di Jl. Mangga Besar. Segitu seringnya ke Akiaw, kok ya baru tau sekarang sih, itu pun karena diajakin Alin & Sue.

Dan ketika semangkuk bakmi datang, saya tak kuasa menahan air liur yang mendadak banjir, cleguk. Cakeeep….

Bakmi Cong Sim Athek *cleguk*

Rasanya? Persis yang saya bayangkan, kenyalnya mie dengan bumbu gurih, belum lagi tekstur kriuk krenyes dari kulit babi goreng, menambah mie ini makin lezat dinikmati. Jangan lupa untuk menambahkan acar cabe rawit untuk rasa asam pedas… Aaah… saya menelan ludah lagi nih ngebayangin si Bakmi Athek.

Acar Cabe

Btw, si Bakmie Atek ini terima kost-kostan lho… ngekos situ aja apa yak?! Hahahaha

Bakmi Cong Sim Athek

Jl. Mangga Besar

(Nggak jauh dari Akiaw 99, depan Lawson)

Oasis Cikini

Sama seperti namanya, restaurant ini bagaikan mata air yang menyejukkan di tengah hiruk pikuk wilayah Cikini; bentuk bangunannya yang elegan, khas ciri bangunan era kolonial, mengundang kita untuk mampir minum dan makan. Bangunan restaurant ini, tadinya adalah sebuah rumah milik seorang bangsawan Belanda dan sudah berdiri sejak awal abad 20, yang memiliki perkebunan, teh, karet dan kina.

Sekitar tahun 60an deh, katanya rumah ini dikelola oleh manajemen Hotel Indonesia, dan dijadikan cadangan restoran dan hunian. Jadi, kalau ada tamu yang ingin makan di restoran Hotel Indonesia tapi lagi penuh, maka tamu tersebut diarahkan ke Oasis untuk menunggu kursi sambil mimic-mimik cantik. Begitu juga kalau kamar di HI penuh, dikirimlah ke tempat ini. Baru sekitar akhir 70an restoran ini berdiri sendiri dan memperkenalkan menu Rijsttafel.

Sepertinya, menikmati Rijsttafel di Oasis adalah suatu keharusan, legendaris gitu. Namun saat ini sih, sudah banyak restoran Indonesia yang juga menyajikan menu Rijsttafel. Keunikan Rijstaffel itu sebenarnya adalah caranya penyajian makanan, 12 masakan yang dibawa berombongan langsung oleh 12 orang pelayan. Masakannya sih ya masakan Indonesia kayak di nasi rames aja. Ya terasa megah aja… begitu pelayan yang membawa makanan berbondong-bondong datang, ya saya sih biasanya langsung huwooow gitu… tapi pas makan langsung drop, rasanya kurang cucok dengan selera ekke cyiiin :lol:. Dari pengalaman menikmati Rijsttafel yang hanya kerasa megah di awal itu, saya penasaran banget pengen coba menu ini di Oasis.

Sayangnya, ketika saya ke sana, pas makan siang, dan mereka tidak menyajikan menu Rijsttafel siang hari. Sebel ya.

Saya kemudian mencicipi menu masakan Eropa-nya. Rasanya sih… ya gitu deh, tidak secantik penampilannya.

Salah seorang rekan saya memesan masakan Indonesia, kategorinya juga termasuk lumayan saja.

Kesimpulannya, buat saya sih Oasis ini lebih ke nostalgia aja deh… tapi berhubung saya belum punya nostalgia apa-apa di Oasis, yaaaa…cukup sekian dan terima kasih 😆 kayanya, saya juga jadi nggak terlalu penasaran lagi sama menu Rijstaffel di sini.

Berapa koprol? 2 aja deh, bro…

FF [Food on Friday]: Sop Kambing Bang Anen

Saya termasuk yang tidak berani mengambil resiko untuk mencoba-coba masakan dari daging kambing, takut kalau bau prengus trus jadi males makan berhari-hari. Kurang nyali deh. Makanya, meskipun sering banget ke Penyet Bu Kris, saya tidak pernah tertarik untuk mencoba makan Sop Kaki Kambing yang tendanya di parkiran sebelah warung Bu Kris.

Nyali ini muncul, saat salah satu teman JS, Lidia Tanod, posting sop kaki kambing ini di path. Ih, ya langsung dong kita icipin.

Ternyata, saya suka! Tergolong enak! Kuahnya nggak terlalu kental tapi creamy & gurih. Yang istimiwir adalah kakinya, empuk kenyil-kenyil. Sukses banget nih sop kambingnya, nggak ada bau prengus dari daging ataupun jeroannya.

Selain sop, kami juga pesan sate kambing, campur daging & ati. Yang juara, atinya. Gede, empuk, dan gak ada pait-paitnya… cakep banget, kalau dagingnya agak alot.

Jadi, berapa koprol? Empat kali koprol sambil goyang itik deh… Cuma, kita gak boleh sering-sering koprol ke situ kalau jarang olahraga, daripada berabe ya cyiiin… y owes, bulan depan lagi dah… eh, dua minggu lagi aja deh…

Sop Kambing 999 (Tanah Abang)

Bang Anen – Hp. 081319342739

Jl. RS Fatmawati (parkiran sebelah warung Penyet Bu Kris)

Omakase di Umaku Sushi

Apa itu Omakase? Monggo cek saja keterangan ini di Wikipedia 😀

Intinya sih, kita datang, terserah chef mau kasih makan kita apaan. Pasrah deh. Pastinya menu yang disajikan saat Omakase adalah masakan yang bahan baku-nya sedang musim atau yang lagi bagus ya.

Menarik banget ya… mangkanya saya semangat banget pas beberapa teman ngajakin Omakase di Umaku Duren Tiga.

Hidangan pertama adalah, Hotatate Homa Itame.

Kemudian ada Salmon Hyuzu Miso.

Salmon sashimi dengan telur ikan, ih kok gue lupa namanya ya…. trus ada bumbu misonya.

Selanjutnya, Tako Sashimi

Lalu disusul oleh Maguro Negi Soga, maguro dengan spring union.

Maafkan saya, karena nggak ada gambar makanannya pas udah dihidangkan… ini pas persiapannya gitu deh.

Selanjutnya, hidangan ke-5 adalah Tori Gyoza

Selanjutnya yang disajikan adalah Yaki Temari, bakso nasi 😀

Saya suka Yaki temari ini, nasi sushinya kan di tengah ada isian ikannya, lupa ikan apa. Yang unik adalah, gumpalan nasinya ini ada rasa gosong dikit lalu berpadu dengan kuah yg bening dan gurih. Unik aja sih.

Hidangan selanjutnya adalah salah satu juaranya, yaitu Toro Aburi.

Aduuuh… saya langsung nelen ludah lagi. Si toro ini, kalo kata temen saya, wagyunya tuna… hahahaha ikannya aja udah enak bok, cuma dibakar bentar, trus meleleh di dalam mulut. Enaknyooooo….

Setelah Toro Aburi, ada Ika Sushi.

Yaaah… biasa… eh, jangan salah, ada kulit jeruk yg diparut dikit di atasnya itu trus ada wasabi… kombinasi ini bikin sushi ini jadi istimiwir.

Sebagai hidangan ke-9, kami disegarkan oleh Miso Shiro Yamaimo.

Kemudian ada Saba Sushi, yaitu mackarel yang dikasih daun sisho.

Dilanjutkan dengan Mekaziki (swordfish) sushi.

Setelah itu, Kaiware sushi.

Dan sebagai hidangan ke-13, Tamago sushi

Lanjut lagi, masih ada Negi Toro Gunkan

Kemudian disusul oleh, Sake Aburi.

Selanjutnya adalah, Unagi temaki dengan bumbu shanson yaitu andalimannya Jepang. Sayang, saya malah nggak foto waktu udah dibungkus cantik.

Lalu, sebagai penutupnya adalah dessert Konyaku cha soba

Dengan 17 menu, total kerusakan sekitar Rp. 160,000 saya lupa tepatnya berapa, karena waktu itu ada beberapa menu regular lain yang saya order jadi seorang kena 200rb deh. Tapi puas banget lho…

Omakase ini bukan kegiatan reguler, tapi berdasarkan request. Se-grup min 5 sampai 9 orang deh kalau mau Omakase-an. Yuk… saya mau lagi Omakase, ada yang mau barengan?

FF [Food on Friday]: Bro, Bebek Bro…

Bebek selalu menjadi primadona. Uhuy banget nggak sih… meskipun sama-sama unggas, memasak bebek lebih tricky dibandingkan memasak ayam. Tekstur daging yang lebih alot, kulit yang tebal berminyak dan bau yang lebih anyir, membuat bebek menjadi lebih sulit untuk diolah. Perlu kesabaran dan racikan bumbu yang tepat untuk mengakali dua hal paling mengganggu tersebut. Daging bebek yang berhasil diolah akan membuat hati tertambat selamanya, jika tidak…bau anyir akan menghantui sepanjang masa 😆 suka lebay emang kita.

Dan setelah tergila-gila modelan bebek goreng kering yang kemudian disajikan dengan sambel bawang atau sambel pencit, datanglah masanya, saya berburu bebek Madura yang disiram bumbu hitam yang pedas dan berminyak. Bumbu hitam ini diracik dari bawang putih, bawang merah, sereh, jahe, ketumbar, laos, dan bumbu rahasia lainnya yang dihaluskan dan diungkep bersama bebek. Setelah bumbu meresap ke dalam daging bebek dan minyaknya keluar, bumbu ini diolah lagi menjadi sambal. Uuuh… jangan bayangkan kalori atau kolesterolnya, datanglah dengan hati yang bersih dan mengharapkan kenikmatan dalam sepiring lemak berdosa *tsaah… tsaaah banget*

Baiklah malaikat kolesterol, mari kita mulai saja pencatatan kelemahan iman ini. Btw, postingnya  panjang bok… ini pan rapelan ya, saya nulisnya pun lamaaaaaaa banget 😆

NASI BEBEK MADURA MAK ISA

Sudah sejak lama saya kepingin nyobain Nasi Bebek Madura a la Mak Isa ini, sayang tempatnya nun jauh di Klender sana. Makanya saya langsung mengiyakan ketika Ichil & Febi mengajak beberapa teman untuk berburu bebek di wilayah Jakarta Timur.

Nasi Bebek Madura Mak Isa ini memiliki beberapa warung, yang paling besar dan merupakan head warung *halah* adalah yang di Cipinang, kemudian ada 2 atau 3 lagi cabang yang dikelola oleh saudara Mak Isa, meskipun bebeknya dikirim dari warung pusat.

Karena clueless soal wilayah timur dan guide yang semula akan mengantar kami berkeliling sedang ke luar kota, kami agak pesimis akan bertemu dengan Bebek Madura Mak Isa. Namun berkat jasa mbak-mbak penjaga 7/11 *harus disebut*, kami dengan sukses mendarat di cabang Klender.

Perjumpaan pertama, begitu membaui aroma bumbu pedasnya, saya langsung kemecer. Menjanjikan betul.

Kami memesan bebek & ati ampela. Daging bebeknya yang kering sedikit melawan saat kami sobek namun cukup empuk tetapi ati ampelanya yang juga diungkep sampai kering agak susah buat digigit. Tapi tak apa, kombinasi bebek, bumbu pedas, nasi putih yang dimasak agak pera’ cukup membuat saya langsung kepelet pada suapan pertama.

Kami mencoba membayangkan, bagaimana jika daging bebeknya lebih lembut lagi dan nasinya dimasak lebih pulen dan lembut, tapi segera saya tepis bayangan manis itu. Itu nanti nggak jadi Madura! Inilah Madura yang saya kenal, kasar – pedas – sederhana apa adanya, cenderung untuk semaunya sendiri…

Kesimpulan, saya puas. Berapa kali koprol? Emh… tiga setengah pakai salto di udara. Cuma satu keberatan saya sama bebek Mak Isa ini, jauh bro.

Nasi Bebek Madura Mak Isa

Jalan Bekasi Timur,Km 17,

Klender, Jakarta Timur

Buka dari siang sampai malam / habis

NASI BEBEK MADURA CAK HOLIL

Setelah perjumpaan pertama dengan Bebek Madura Mak Isa yang berkesan, saya ngeng-ngeng pengen balik mulu ke sana… seolah-olah tuyulnya memanggil-manggil. Saya kangen nasi pera dengan bumbu yang pedas berminyak. Oooh… cabe dan minyak memang tak pernah salah, karena capsicum makin mateng dan bertahan di minyak, lalu bertemu karbohidrat. Cleguk.

Lalu Febi memberi tahu, ada warung Nasi Bebek Madura kaki lima di depan Kemang 88, sudah dicoba dan rasanya bisa diterima.

Mari kita coba.

Daging bebeknya sebelas dua belas dengan Bebek Madura Mak Isa, namun bumbu hitamnya kurang pedas menurut selera saya. Tapi saya tak keberatan karena tempatnya nggak jauh sih.

Berapa kali koprol? Dua kali koprol tapi nggak pake kayang.

Nasi Bebek Madura Cak Holil

Jl. Kemang Selatan

Warung kaki lima depan Kemang 88

 

 

NASI BEBEK MADURA SAKERA

Manusia tidak pernah puas. Begitulah. Beberapa minggu setelah bertemu Mak Isa & Cak Holil, kami kembali lagi ke wilayah Jakata Timur, untuk berburu Bebek Madura lagi. Wilayah ini memang banyak terdapat warung Nasi Bebek Madura, mungkin karena kebanyakan pendatang dari Madura bermukim di sini.

Ambisi kami, ketika kembali kami akan menikmati lagi Bebek Madura Mak Isa di cabang utama, plus beberapa warung bebek yang lain. Namun, malam itu kami hanya mendapat hadiah hiburan berupa sepiring Nasi Bebek Madura Sakera.

Daging bebeknya empuk, meskipun demikian masih ada selapis rasa anyir yang menyertai. Kulit bebeknya tebal pula. Bumbunya? Meskipun sama-sama hitam, tapi bumbu di Sakera sama sekali tidak pedas, bahkan manis. Penyajiannya ditaburi bawang goreng, jadi makin mirip semur deh. Untuk menambah rasa pedas, sepiring nasi Bebek disajikan dengan sambal ijo, tapi sayangnya sambalnya pun nggak pedes.

Bebek Madura Sakera ini bukan untuk selera saya. Tapi untuk yang ingin berpetualang mencicipi bebek dengan rasa manis, silahkan dicoba.

Berapa koprol? Males ah, nggak mau koprol-koprolan deh… jauh brooo…

Nasi Bebek Madura Sakera

Jl. Raden Inten, Jakarta Timur

 

NASI BEBEK MADURA H. MUNAWI

Konon katanya enak. Berhubung enak itu relatif menurut selera, kita tak bisa langsung percaya dengan rumor-rumor yang demikian *tsaah*. Untung saja, lokasi warung Nasi Bebek Madura H. Munawi ini dekat dengan area saya, yaitu di Jl. Ampera, sebelum Total Buah.

Kedatangan rombongan kami disambut dengan meriah plus agak kocak, karena begitu datang, langsung sibuk foto makanan di gerobak, daripada nambah pertanyaan dari pengunjung reguler yang ikutan excited kami foto-foto, kami bilang aja si Umay adalah turis Jepang, belum pernah lihat bebek 😆

Sama halnya dengan Nasi Bebek Mak Isa, begitu datang…aroma bumbu hitamnya sudah menjanjikan. Di atas nasi, ditaburi serundeng kelapa agak manis, saya yang nggak terlalu suka manis langsung berpikir, ah nggak mau ah… tapi ketika saya coba makan sesuap nasi dengan setowel daging bebek plus bumbu hitam… alamak, cocok!

Gurih, empuk, hangat nasi, plus manis serundeng adalah perpaduan yang tidak bisa ditolak. Tekstur serundeng yang kering gurih manis juga membuat sepiring Nasi Bebek ini menjadi lebih unik. Bumbu hitamnya juga penuh kejutan, di awal tak terlalu pedas, tapi tunggu 2 atau 3 detik kemudian, carok di dalam mulut! Pedas bro! Daging bebeknya datang dengan dua ukuran, besar & kecil. Kedua pilihan ukuran potongan ini punya kulit yang tipis, karena diolah dari bebek jantan yang masih muda.

Ideal untuk yang menyukai pedas. Tidak ideal untuk yang lagi pedekate trus mamam bareng di meri, banjir keringet plus bibir jontor udah gitu bumbunya bikin kita pengen nambah nasi lagi, jangan mblo… jangan bawa kecengan ke mari yak.

Jika Mak Isa adalah cinta pertama kepada Nasi Bebek Madura, maka H. Munawi adalah cinta yang baru ditemukan. Doremaaaaa ta iye….

Berapa koprol? Saya rela koprol empat kali ditambah jalan bebek untuk melipir lagi ke warung Nasi Bebek H. Munawi ini. Dekat pula.

Nasi Bebek Madura H. Munawi

Jl. Ampera Raya
Sebelum Total Buah

Demikianlah empat piring dosa terbaru. Kwek kwek kwek kwek…