Makansutra Indonesia 2013

Setelah satu dekade, akhirnya ada lagi buku Makansutra edisi Indonesia! Yippie! Dan yang paling menyenangkan, saya ikutan terlibat menulis review dalam buku ini.

Makansutra Indonesia 2013, mereview 500 tempat makan dari 3 kota, yaitu: Bali, Bandung, dan Jakarta, yang Jakarta dibagi juga menjadi bagian Jakarta Utara, Selatan, Barat, dan Timur, rapi banget deh. Semua review ini murni opini dari makanmatas alias food police alias reviewer-nya. Nggak ada sponsor-sponsoran dari warung yang kami review. Wong yang punya warung juga nggak sadar kok kalau warungnya sedang kita review, paling kita cuma dianggep konsumen yang ceriwis banget karena banyak nanya 😆

Review ini betul-betul personal. Meskipun demikian kami berusaha seobyektif mungkin, tidak ada kata-kata yang melabeli suatu makanan itu enak atau nggak enak, karena memang itu kan kaitannya dengan selera. Rasa dijelaskan dengan baik. Tapi ada level sumpit, kalau saya itu berdasarkan keseluruhan, kualitas bahan makanan yang membentuk rasa, servis, kebersihan, kenyamanan makan, harga, dll. Karena makan kan nggak cuma makan thok. Ada unsur-unsur lain yang bikin kita merasa enak makan di situ.

Trus gara-gara buku ini, saya kan jadi pengen ngider Jakarta Barat & Utara… nampaknya sedap-sedap. Yuk meri! :mrgreen:

Pengakuan Eks Parasit Lajang

Ini adalah salahsatu bagian dari trilogi Parasit Lajang, Cerita Cinta Enrico, dan Pengakuan Eks Parasit Lajang. Dari ketiganya, saya belum pernah membaca Parasit Lajang, sepertinya itu adalah kumpulan tulisan kolom Ayu Utami, entah. Nanti kapan-kapan kita baca.

Pengakuan Eks Parasit Lajang ini merupakan otobiografi seksualitas dan spiritualitas. Dikemas dalam tiga bagian, sama seperti Cerita Cinta Enrico, urutan waktu di buku ini juga disamarkan, ada beberapa bagian juga dirubah dari aselinya bukan untuk menutupi kenyataan tapi semata-mata supaya cerita bisa berfokus pada A, sang tokoh cerita.

Membaca kisah A, saya merasa sangat dekat sekali dengan tokoh ini. Karena saya kurang lebih memahami latar belakang A. Bagaimana ia dididik menjadi seorang Katolik yang taat, kemudian bagaimana ia suka membaca Alkitab, di bagian cerita-ceritanya… Saat masih kecil, saya pun memperlakukan Alkitab seperti buku dongeng yang tiada habisnya. Kalau ke mana-mana saya bawa Alkitab untuk dibaca, bukan berarti saya religius, tapi karena cerita-cerita di Alkitab itu menarik sekali. Peperangan, intrik politik, perebutan kekuasaan sampai dengan perebutan istri, kisah mujizat, kisah sedih berakhir bahagia, kisah mencari jodoh… kisah menantu memperdaya mertua… surat cinta, puisi… semua ada.

Buku ini tak kalah romantisnya dengan Cerita Cinta Enrico, sepertinya Rik / Enrico ini laki-laki yang betul-betul baik (ya iyalah). A dan Rik / Enrico, seperti sepasang yang memang sudah digariskan untuk bertemu, pas satu dengan yang lainnya. Saya jadi berpikir lagi soal jodoh, jika saja ada petir yang memberi tanda bahwa kita sudah bertemu jodoh, mungkin hidup kita jauh lebih mudah ya.

Tentu saja, diceritakan juga di sini, mengapa A akhirnya menikah. Melakukan sakramen pernikahan, menikah secara agama tidak secara negara.

Meskipun topik yang diambil sangat personal, dan mungkin tidak semua orang bisa memahami karena latar belakang spiritual (juga karena kadar kegilaan yang tidak sama), tapi buku ini tetap bisa dinikmati oleh semua orang, sebab buku ini dapat diperlakukan seperti novel, dibaca untuk hiburan.

Selamat membaca.