Menghadapi Complaint

Posting ini mendapat inspirasi terbesar dari pengalaman buruk di Chandara Thai Restaurant di Plasa Senayan, malam tadi.

Siapa yang gak pernah ketemu mahluk bernama complaint? Semua pasti pernah toh, baik itu yang ditujukan kepada kita, atau kita yang mengeluh terhadap pihak lain.
Oh, saya sih sering banget ketemu komplen. Ya, saya tukang komplen juga tukang menyelesaikan banyak komplen; karena pernah merasakan keduanya dengan sama banyaknya, saya tahu bahwa sebenarnya masalah akan selesai setengahnya dengan permintaan maaf terlebih dahulu, konsumen yang marah lebih baik diredakan marahnya lalu dicari solusinya, pun ketika solusi itu tidak ditemukan, yang penting diredakan marahnya.
Namun seringkali, penerima komplen malah menyulut kemarahan pihak yang komplen dengan pernyataan defensif yang arogan. Respon paling arogan yang saya terima tahun lalu adalah dari Pullman Hotel di jalan Thamrin. Oh, dan saya sampai hari ini sangat tidak merekomendasikan hotel tersebut.
Arogansi Pullman, rupanya mendapat saingannya hari ini dari Chandara Thai Restaurant di Plasa Senayan. Permasalahan sebenarnya sangat sederhana, komunikasi yang kurang baik dari pihak Chandara kepada kami sebagai konsumen. Secara singkat (meski susah juga disingkat) begini, Chandara punya kebijakan selama buat puasa membagi reservasi menjadi 2 tenggang waktu, yang pertama pukul 17.30 – 19.30, kemudian yang kedua pukul 19.30 – nggak tahu. Sayangnya, ketika kami melakukan reservasi, informasi ini tidak disampaikan, juga ketika kami datang ke restoran tersebut, sama sekali tidak ada informasi soal tenggang waktu ini. Karena ada satu halangan, salah seorang kawan kami baru sampai di tempat sekitar pukul 19.30, dan untuk mempermudah pembagian pembayaran di antara kami, maka kami minta pesanan yang sebelumnya dibuatkan bon, dan kami akan tambah pesanan baru. Bahkan, pada saat itu pun tidak ada informasi soal tenggang waktu.
Ketika salah seorang staff membawakan bon, barulah dia mengusir kami dengan berkata soal tenggang waktu tadi. Awalnya, saya pribadi, cuma merasa sedikit kesal karena tidak ada informasi soal hal tersebut. Ya, kami juga mau beberes dan pergi, memang tidak ada pilihan. Tapi semenit kemudian saya langsung meledak, karena respon staff Chandara yang sangat arogan. Nada suara, sikap tubuh, pilihan kata… plus, tidak ada permintaan maaf. Ya dia defensif bahwa mereka selalu menginformasikan hal tersebut, dan seolah-olah itu adalah resiko kami untuk diusir jika tenggang waktu berakhir.
Oh, saya tahu rasanya menerima komplen akibat kesalahan orang lain, kesal dan pengen marahnya dobel ke rekan kerja plus ke konsumen yang gak mau tahu itu bukan kesalahan saya. Tetapi, itu bukan alasan untuk boleh memperlakukan konsumen seenaknya.
Konsumen tidak selalu benar. Masalah selalu ada. Tidak semua masalah ada penyelesaian. Tetapi kita berinteraksi dengan manusia beradab.
Valid atau tidak valid komplen tersebut, mantra nomer satu sebagai penerima komplen adalah: minta maaf dengan rendah hati. Rendah hati tidak sama dengan rendah diri dan itu tidak akan membuat Anda menjadi mahluk hina. Restoran dan konsumen saling membutuhkan jadi satu pihak tidak bisa memperlakukan yang lain dengan seenaknya, tapi posisinya lebih ke restoran yang perlu konsumen, sih. Hidup kapitalisme yang memberikan segudang pilihan kepada konsumen!
Sembari menulis posting ini, saya juga merenung, saya meledak dalam amarah kepada si staff Chandara karena perlakuan dia yang arogan kepada kami, apakah karena saya juga gila hormat? Mungkin. Saya juga manusia, si Mbak tadi juga. Mungkin dia lelah. Saya juga, lelah.
Saya menyesal telah meledak dalam amarah yang sungguh-sungguh sampai suara saya bergetar. Kenapa saya harus marah? Marah membuat saya tidak lebih baik, malah memperburuk. Ah.
Dan posting ini saya tutup dengan, ya sudahlah… jangan makan lagi di Chandara.

Ps. Makanannya gimana? Not bad. Sebenarnya bisa masuk ke dalam salah satu pilihan. Ada menu yang enak tapi ya nggak rugi lah kalau kita nggak makan itu. Masih banyak restoran yang lain yang enak dan pelayanannya baik.

Asiknya Wisata Air di The Jungle Water Adventure Bogor

Tak salah memang kalau Kota Bogor mendapat predikat Kota Hujan. Bukan saja karena seringnya kota ini dianugerahi hujan, namun wisata air juga merupakan salah satu andalan Kota Bogor ini.

Adalah The Jungle Water Adventure yang bisa Anda nikmati, baik itu bersama pasangan maupun bersama keluarga tercinta. Dengan sejumlah wahana air dan juga waterboom, dijamin akan membuat anak-anak merasa betah dan ingin berlama-lama di tempat ini.

Cobalah untuk menemani buah hati Anda ke Kiddie Pool yang menyediakan dua kolam besar berisi beragam permainan di dalamnya. Mulai dari air mancur, water canon dan waterbucket, sampai dengan tight rope. Bisa juga beralih ke Slide Pool yang terdiri atas tiga macam slide yaitu Racer Slide, Spiral Slide, dan Tube Slide. Dimana dua slide terakhir merupakan favorit para pengunjung dan permainan andalan di tempat ini.

Selain itu, nikmati juga Leisure Pool yang membuat Anda lebih rileks dengan sajian food court untuk mengisi perut sembari menikmati permainan air. Atau bisa lebih rileks lagi dan bermalas-malasan di Lazy River, yang akan “menghanyutkan” Anda di kolam arus sepanjang 400 meter. Lengkap dengan sajian hiburan Akuarium Raksasa berisi beragam jenis ikan air tawar di tengah kolam. Belum lagi dengan pemandangan indah ke arah Gunung Salak serta udara sejuk khas Kota Hujan ini.

Sedangkan bagi Anda yang ingin lebih aktif bergerak dan berkeringat, bisa menuju Fountain Futsal dengan keunikan tersendiri. Sama halnya dengan arena futsal pada umumnya, namun yang membedakan adalah adanya semprotan air dari bawah permukaan lapangannya.

Tak ketinggalan di tempat ini juga tersedia puluhan food court dan food stall dengan sajian beragam pilihan menu makanan serta minuman.

The Jungle Water Adventure beroperasi mulai Desember 2007, dan berada di atas lahan seluas 3,5 hektar. Dari tahun ke tahun pengunjungnya semakin bertambah banyak. Di tahun 2010 saja, atau tiga tahun semenjak beroperasi, jumlah pengunjungnya sudah mencapai lebih dari tiga juta pengunjung.

Bahkan terkadang, area parkir yang disediakan oleh pengelola sudah tak mampu menampung padatnya kendaraan dari pengunjung yang datang. Sehingga untuk mengatasinya, areal atau lahan kosong yang berada dekat Jungle Mall dikondisikan untuk mengalihkan parkir yang sudah penuh tersebut.

Lalu bagaimana kalau yang berkunjung dari luar kota, kira-kira tempat penginapan atau hotel yang paling pas apa? Yang paling dekat ada hotel Aston Bogor. Karena Anda hanya perlu berjalan kaki kurang lebih 300 meter untuk sampai di lokasi The Jungle Water Adventure. Terus kalau dilihat di Traveloka.com, tarif sewa kamarnya cukup kompetitif dan fasilitasnya lumayan lengkap.

Hotel ini dilengkapi dengan standar fasilitas yang sudah baik, mulai dari pendingin ruangan, LCD TV dengan beragam channel internasional, akses wifi gratis. Tapi yang paling menarik adalah balkon pribadinya yang mengarah ke pemandangan pegunungan sehingga dapat menambah suasana rileks Anda.

Selain itu, fasilitas lainnya yang bisa Anda temukan di hotel ini antara lain layanan front desk 24 jam, spa dan juga sauna, pusat kebugaran, restoran, jasa binatu, akses wifi di area umum, pusat bisnis, dan juga ruang pertemuan.

Soal akses, Aston Bogor terbilang cukup mudah, karena untuk menuju Stasiun Bogor dan Terminal Baranangsiang Anda hanya memerlukan waktu 15 menit berkendara. Sedangkan bagi Anda yang ingin berkendara langsung dari Jakarta, maka cukup membutuhkan perjalanan sekitar 45 menit saja untuk bisa mencapai hotel ini.

#FF [Food on Friday]: Blend it at Goni Coffee, Bond!

“Three measures of Gordon’s, one of vodka, half a measure of Kina Lillet. Shake it very well until it’s ice-cold, then add a large thin slice of lemon peel. Got it?”  James Bond, order cocktail that he called Vesper – Casino Royale.

Yang kita tahu, James Bond minum cocktail yang diberi nama Vesper, kalau misalnya Mas Bond ini minum kopi, kira-kira seperti apa kopi-nya?

Hmm… waktu ditanya, kenapa cocktail ini diberi nama Vesper, Bond menjawab, “because of the bitter aftertaste and once you taste it you won’t drink anything else” sementara, kalau dibayangkan dari campurannya, cocktail ini akan terasa fruity karena Lillet yang merupakan campuran white wine & fruit liqeur dan sedikit rasa herbal dari Gin; meskipun 2/3 bagian cocktail ini gin, tapi jangan lupa ada vodka yang menetralisir rasanya, sebagai tambahan aroma dan rasa fruity ada large thin slice of lemon peel. Diminum saat sedingin es, cecap beberapa saat, here it comes the bitter aftertaste to keep you awake.

Ini cuma mbayangin lho ya…

Jika demikian, saya membayangkan mungkin saja James Bond akan menyukai kopi Kintamani, Bali yang sangat kuat karakter citrus-nya. Dan, saya juga membayangkan, James Bond tinggal di area sekitar saya tinggal, ya radius 2-3 kilometer deh… Dengan bayangan seperti itu, saya yakin, James Bond akan suka mampir ke Goni Coffee, sebelum berangkat untuk menyelamatkan dunia.

Goni coffee menyajikan blend kopi Kintamani sebagai kopi regulernya, dan kadang-kadang tersedia biji kopi Malabar atau Toraja Pulu-Pulu atau kopi dari daerah lain, tergantung stok.

Pertama kali saya mencoba cappuccino di Goni, rasanya terlalu ringan untuk saya yang kurang cocok dengan medium roast. Untungnya, barista di Goni baik dan setelah ngobrol-ngobrol, pada kunjungan saya berikutnya, cappuccino saya merupakan secangkir kopi pekat dengan rasa susu, citrus dan selapis coklat. Menyenangkan. Rasanya, saya juga bisa menyelamatkan dunia setelah minum cappuccino itu.

Untuk menemani secangkir kopi yang dipesan, ada menu waffle, croissant dan banana cake. Ada juga healthy snack bar. Saya mencoba banana waffle yang secara mengejutkan, enak juga… meskipun kemanisan, mungkin bisa minta madu-nya dipisah aja. Banana cake-nya juga okay, biasanya saya memesan yang keju, sepet-sepet gurih. Kadang juga, saya beli croissant dari warung sebelah buat dimakan sambil nyeruput kopi di Goni. Kolaborasi tetangga.

Goni coffee buka sejak jam 7 pagi sampai sore jam 5an deh… jadi sebelum ngantor, saya kadang gowes lewat situ buat beli kopi pagi. Memang sih warungnya Goni Coffee nggak terlalu luas, jadi lupakanlah keinginan untuk kongkow-kongkow lama di sini, kasian yang mau beli. Tapi saya pikir, ini gak pa-pa juga sih… kan kita minum kopinya sebelum ke kantor, nggak bisa lama-lama duduk juga. Selama beberapa kali saya ke Goni, banyak yang pagi-pagi mampir, untuk order coffee buat dibawa. Mungkin, suatu saat… saya bisa amprokan sama James Bond yang lagi order kopi sebelum dia ngantor…  ya namanya juga cuma mbayangin….

Goni Coffee

Jl. Kemang Selatan I No. 20

Jakarta Selatan

#FF [Food on Friday]: Rancak Pecak Gurame H. Muhayar

Warung Betawi H. Muhayar, adalah warung Betawi pertama yang saya kunjungi beberapa tahun yang lalu ketika saya mulai resmi menjadi penduduk Jakarta. Terimakasih kepada Neng Chekka, Betawi kece yang memperkenalkan saya dengan H. Muhayar.

Setelah sekian tahun berlalu, H. Muhayar tetap menjadi salah satu yang favorit untuk selalu didatangi. Selain lokasinya nggak jauh dari area saya, masakan dan menu di H. Muhayar banyak cocoknya dengan lidah saya.

Pecak Gurame

Salah satu yang istimewa dan hits banget di Warung H. Muhayar ini adalah menu Pecak Gurame. Bumbu pecak di sini segar dan pedas, tapi kalau kurang pedas masih ada sambel terasi dadak yang bisa dicolek. Tidak hanya gurame yang bisa disiram bumbu pecak, Warung Betawi H. Muhayar juga menyediakan ayam kampung goreng yang bisa disiram bumbu pecak.

Apa sih bumbu pecak ini? Jadi, pecak adalah kuah bumbu tumis yang terdiri dari bawang putih, bawang merah, cabe keriting yang ditumbuk kasar, ditumis bersama irisan jahe, dan lengkuas, mungkin ada asam muda juga tapi saya nggak yakin, karena nggak nemu residu asam di bumbu-bumbu yang seksi menutup gurame tapi saya merasakan sedikit rasa asem di kuahnya; nah setelah tumisan bumbu matang ditambahkan air hingga mendidih lalu kuah inilah yang disiramkan ke gurame atau ayam goreng.

Sayur Asem

Sayur asem di H, Muhayar ini cukup unik karena ditambahkan oncom segede potongan balok 😀 balok oncom ini yang memberikan tambahan aroma serta rasa yang cukup ngangenin, apek-apek asin asem… menikmati semangkok sayur asem ini serasa menikmati Jakarta yang riuh dan lelah.

Jika suka, mari nikmati semuanya itu dengan tambahan lalaban yang tersedia di setiap meja, saya paling suka kombinasi rasa bumbu pecak + sambel terasi + gurame + nasi yang dibungkus dengan daun poh-pohan, lalu sedikit seruputan kuah sayur asem di penghujung kunyahan.

Warung H. Muhayar ini buka sejak pukul 9 pagi sampai sore, tapi seringnya jam tiga sore ke situ udah banyak yang abis deh… Kalau saya, seringnya brunch (bayangkan, brunch!) di warung ini setelah bersepeda di Kebun Binatang Ragunan. Sedep banget, gitu laper trus makan di warung ini. Lupa dunia!

Warung Betawi H. Muhayar

Jl. Taman Margasatwa No. 8

(setelah lampu merah Jatipadang, ada spanduknya gede kok)

Jakarta Selatan

#FF [Food on Friday]: Restoran Dapur Mamih Sateku

Saya dan beberapa teman, membuka tahun kambing ini dengan tekad menikmati sate kambing, setidaknya sebulan sekali. Sate kambing pertama yang kami datangi adalah Dapur Mamih di Melawai. Ternyata, setelah sampai lokasi, kami baru sadar, bahwa ini domba bukan kambing. Ya udahlah ya… gpp, tapi kalau kata teman saya, Bahasa Mandarin-nya kambing dan domba itu sama, yaitu ga. Hoo… okay, sah! 😆

Tempat makan ini baru beberapa bulan buka, dan menurut beberapa teman yang udah duluan ke situ, rasa dan kualitas masakannya sangat direkomendasikan.

Menu yang kami coba adalah Sate Sinereut, Tongseng, Nasi Goreng Domba dan Sate Tegal Polos. Beberapa hari kemudian saya kembali lagi karena ketagihan Nasgor Domba dan mencoba Gulai-nya.

Selain menu yang saya sebutkan, masih ada berbagai menu lainnya di Dapur Mamih, tapi saya belum coba. Jadi, marilah kita membahas satu persatu yang sudah kami cicipin saja malam itu.

Pertama, Sate Sinereut. Apaan sih ini? Binatang apa pula itu sinereut? Ternyata sinereut adalah bagian has dalam atau populernya tenderloin dari binatang berkaki empat. Tentu saja, bagian sinereut ini  merupakan bagian paling prima dong, selongsong daging panjang tanpa urat, di mana seluruh kebaikan rasa daging ada di situ. Sate Sinereut ini empuk banget, dipanggang dengan kematangan medium rare, daging Sate Sinereut meleleh di mulut, rasa daging yang juicy berpadu dengan gosongnya kecap yang manis plus tambahan bumbu rendaman yang memperkuat rasa gurih daging, berikan sedikit asam dari perasan jeruk nipis untuk memperkaya rasa. Saya menikmatinya dengan lalapan bawang merah, oh… rasanya makin kompleks. Sayangnya hanya satu, bagian sinereut ini nggak gitu banyak, dari satu domba paling cuma dapet sepuluh tusuk. Jadi, kalau kehabisan yaaa… silahkan datang lagi di kemudian hari.

Lalu ada Nasi Goreng Domba. Pfiuh… saya agak kesulitan menceritakan rasanya, karena saya hanya bisa bilang: ENAK BANGET, SUMPAH! Gini, kebanyakan nasi goreng kambing/domba selalu ada rasa kari, rempah yang kuat dan agak hangat di perut untuk mengimbangi karakter daging yang cenderung bau prengus. Tapi, Nasgor Domba di Dapur Mamih ini nggak gitu. Ini model nasi goreng kampung yang sederhana gitu, dengan rasa kecap yang dominan dan nggak banyak bumbu lain, paling bawang merah bawang putih aja lalu pakai cabe biar pedas sesuai selera. Daging domba yang menjadi campuran nasgor sangat empuk. Bahkan, saya juga menyantap habis lemak-lemak yang menempel di daging, karena sama sekali nggak alot. Tuduhan saya sih, kayaknya si daging domba dimasak terlebih dulu sebelum dijadikan campuran pada nasi goreng. Buat saya, kesederhanaan nasgor ini yang bikin nagih, dalam waktu dua minggu saja saya sudah 3x kembali ke warung ini untuk menikmati sepiring nasgor domba. Oh iya… segitu sukanya 😀

Menu lain yang layak dicoba adalah Sate Tegal Polos. Masih menggunakan daging domba sebagai bahan dasar, sate ini dipanggang tanpa kecap, hanya bumbu rendaman dan disajikan dengan tingkat kematangan medium rare. Berbeda dengan Sate Sinereut yang cenderung manis gurih, Sate Tegal Polos ini dominan rasa gurih. Jangan khawatir, Anda tetap bisa menambahkan kecap jika suka, juga tambahan perasan jeruk nipis. Meskipun bukan bagian has dalam, sate ini tetap empuk. Memang sedikit ada perlawanan dari urat daging, tapi tetap tergolong empuk dan juicy. Keahlian dalam memanggang menjadi koentji kenikmatan menu sate di Dapur Mamih. Soja.

Jika persatean dan nasi goreng di Dapur Mamih sangat sakseis, bagaimana dengan gulai dan tongsengnya? Menurut selera saya, tongsengnya agak kemanisan. Saya akan lebih memilih gulainya yang terasa sedikit pedas dan creamy.

Jadi berapa kali koprol? Tentu saja saya akan bersedia untuk lima koprol bolak-balik Melawai untuk nasgornya.

Restoran Dapur Mamih

Jl. Melawai 13 No. 1

Pasar Kaget Blok M, Jaksel 12160

Telp. (021) 29126556 / 29126580

#FF [Food on Friday]: Memori Rasa, Chronicle – Coffee & Cocktail

Mau nggak mau, saya harus mengakui bahwa saya ini lebay dan kadang suka romantis berlebihan. Mau segimana pun menjadi orang yang cuek aja, kayaknya nggak bisa, terutama jika berkaitan dengan makanan atau minuman. Kalau ada rasa yang enak, yang nempel banget di kepala, rasanya saya akan keinget sepanjang waktu.

Yang terbaru, saya kesambit sama cappuccino di warung anyar yang ada di deket kantor saya. Namanya Chronicle. Tiap pagi mau ke kantor saya selalu lewat tempat ini, penasaran juga, kok kayanya lucu… lagipula beberapa teman yang saya kenal, sudah posting foto yang cakep, saya jadi penasaran. Trus akhirnya Selasa tanggal 25 Nov. akhirnya saya punya kesempatan mampir. Dan hari itulah, saya mencicipi cappuccino terbaik dalam hidup saya, sejauh ini sih. Ya ampun, baru kali itu saya bisa merasakan tiap elemen kopi dalam secangkir cappuccino dengan sejelas dan sebaik itu. Saya bisa merasakan coklat, caramel, bau roasting kopi yang harum, berry, citrus, dan sedikit sentakan arang di belakang (percayalah, ada rasa ini) dan semua itu dibungkus dengan rasa susu yang creamy, tekstur yang lembut seperti sutra membelai lidah. Semua itu ada di secangkir cappuccino. Kopi pencerahan banget kan yaa…

Saya sampai nggak bisa tidur saking antusiasnya, saya lebay menceritakan pengalaman saya itu ke salah satu teman yang penyuka kopi, saya bilang, “this is even better than your first kiss!”

Seperti kena tenung, esok siangnya saya kembali ke Chronicle dan memesan kopi yang sama, tapi dibuat oleh barista yang berbeda, rasanya beda. Tapi masih bisa dikategorikan cappuccino yang enak. Ya gak pa-pa…

Esoknya, saya kembali lagi, dibuatkan cappuccino oleh barista yang lain lagi, dan dengan baiknya dia sampai 3x membuat cappuccino sampai kami cukup puas dengan rasanya. Tapi tetap, saya menginginkan rasa cappuccino hari Selasa. Kunjungan berikutnya, cangkir yang ketiga juga yang baru memuaskan kami. Saya tentu saja senang, barista-barista di Chronicle dengan baik dan sabar berusaha memuaskan lidah kami, jadi meskipun saya tidak merasakan lagi cappuccino hari Selasa, saya tetap puas.

Jangan salah, cappuccinonya tetap nikmat, hanya saja… cappuccino hari Selasa itu luar biasa.

Tak hanya kopi-nya yang menjadikan Chronicle layak dikunjungi, ngomong-ngomong, kopi di Chronicle ini sama dengan di Common Grounds karena sama pemilik, mereka blend kopi Eithopia Sidamo, Toraja Sulotco dan Aceh Gayo. Saya belum pernah ke Common Grounds sih, iyaa… iya… saya bukan hipster 😀

Balik lagi ke Chronicle, makanan berat di warung ini pun boleh banget dicoba. Beberapa kali ke Chronicle, saya hanya sempat mencoba yang sweet potato + sosis, Belitung Noodle, Grilled Chicken with Honey Sauce. Masing-masing rasanya bener, sweet potato dan sosisnya amanlah… apa yang bisa salah dari ubi manis dipanggang dengan tambahan sosis juga telor?

Belitung Noodle

Belitung Noodle yang unik, mie Belitung aselinya menggunakan mie telor yang gendut tapi di Chronicle diganti dengan spaghetti, meskipun demikian, tone rasa yang manis gurih dari kaldu udangnya masih otentik. Kata teman saya yang orang Belitung, approved. Saya suka menambahkan banyak jeruk dan sambal, sehingga rasanya kental manis, pedas dan asam, semua nonjok. Ugh, saya menelan ludah dengan menuliskan ini, kebayang ya… lagi musim hujan gini… makan mie Belitung yang modern ditutup dengan cappuccino hari Selasa. Hidup ini indah.

Grilled Chickennya, cakep. Ayam dipanggang coklat keemasan, dicocol dengan saus madu dan banyak bawang putih, disajikan dengan salad. Ah, ayam panggang nggak pernah salah. Yang saya kurang suka dari sajian ini cuma cara penyajiannya di atas baki kayu. Menurut saya agak kurang higienis yah, soalnya si baki kayu kan dipelitur, emangnya peliturannya food grade? Kan klo makan yang pakai pisau gini, kemungkinan papannya ikut kepotong kan gede bok… Okay, saya memang riwil buat hal-hal kayak gini, tapi ini karena saya suka lho sama Chronicle… sungguh, lain kali datang saya mau kok pesan ayam ini lagi…tapi mau pake piring aja…

Selain makanan dan kopi, rupanya Chronicle juga menyajikan cocktail dengan base kopi dan wine, tapi saya belum sempat nyoba… cuma kayanya sih seru lah… soalnya tempatnya di Chronicle ini asyik, bisa buat ngobras agak lamaan dikit.

Jadi, dari skala 1 sampai 5, berapa kali koprol? 4 kali koprol!  Kopi sedap, pelayanan memuaskan, makanan oke, harga juga masuk akal dan lokasinya deket banget, depan-depanan pun sama kantor saya… sedep banget kan ya… asal orang-orang di Chronicle nggak bosan aja sama saya 😀

Kesimpulannya sih, I shall return as I am thirsty for more… *halah*

Chronicle

Jl. Wijaya 2 No. 73, Jakarta Selatan

Telp. +6282188881538

FF [Food on Friday]: Akasya Express

nasi ramesan

 

Ini dia warung kaporit saya akhir-akhir ini. Seminggu 2 -3 kali deh makan siang di mari. Sampai salah satu teman menjuluki saya sebagai #DutaAkasya… hahahaha… mau dong 😆

Jadi menurut info, Akasya Express ini merupakan kantin milik catering Akasya yang konon memang sudah hits di ibukota ini. Udah terkenal eni deh…

Buat saya, yang bikin kalap itu pas masuk ke kantin itu karena langsung ngeliat etalase penuh lauk pauk. Penampakannya bersih, cakep dan eni. Dijamin, laper nggak laper  pasti kalap deh, pengen semuanya dijajal.

Lalu, apakah rasanya sesuai ekspetasi? Apakah seenak reputasi dan penampakannya? Ya iyalah, sedap semua. Semua rasanya pas. Nggak ada yang lebih ini atau itu deh… ya bener kabeh. Bahkan rasa nasinya pun baik dan benar! 😆

Tumis Daun Pepaya

 

Lidah Cabe Ijo

 

Sate Udang

 

Tumis Tempe Pete Teri

 

Ayam Panggang

 

Balakutak Cumi

 

Nasi Bakar, dilengkapi beberapa condiment + sambal Mangga yang segar

 

Nasi Bali

 

Apa yang direkomendasikan? Hmmm…. Apa ya? Saya sih paling sering makan nasi rames tumis daun papaya dan balakutak cumi pakai sambel mbe. Itu melulu. Emh, kalau yang saya kurang suka adalah Nasi Bali-nya. Kategorinya masih enak sih, tapi karena pilihan lainnya lebih mantab, Nasi Bali ini jadi biasa. Soalnya lauk pauk kurang pedas (menurut selera saya) dan nasinya meskipun pulen, nggak anget kan. Yang bikin saya penasaran, Nasi Hijau. Ini termasuk menu khusus yang nggak tiap hari ada. Setiap saya ke sana, pas nggak cucok harinya.

 

Coconut Jelly

 

Bubur Kacang Ijo

 

Bubur Madura, berisi bubur sumsum + ketan item + candil (biji salak) + lupis (lupisnya biasa aja, yang lain enak terutama bubur sumsumnya)

 

Oh, selain makanan yang ciamik, jangan lupa sisakan tempat di perut untuk mencicipi berbagai dessert, seperti bubur kacang ijo, bubur sumsum, bubur candil, dll. Belum lagi kue-kue kecil yang rasanya juga cakep. Favorit saya saat ini Lemper Bubuk & kue Mangkok yang menggunakan gula aren, aduh gosong-gosong manis *telen ludah*.

 

Lemper Bubuk, rasanya seenak penampilannya

 

Warung ini buka tiap hari, dari jam 8 pagi sampai jam 6 sore, tapi biasanya jam 5 sore gitu udah abis makanannya. Kalau pagi ada menu sarapan yaitu Lontong Sayur & Bubur Ayam. Saya belum pernah nyoba, tapi kayanya enak juga dah… hahahaha

Yuk, siapa yang mau makan siang di Akasya Express, bareng yuuuk…

Akasya Express

Jl. Taman Kemang No. 14B

Jakarta Selatan 12790

Telp. (021) 7183090