Menguping Rahasia

Ia menatap karibnya yang resah, lama sebelum akhirnya ia berkata, “jadi kamu masih rajin mengikuti perkembangan si anu?”

“Iya, “karibnya berkata lirih, agak malu-malu. Ada rasa bersalah, tapi juga sebersit pembenaran, apa salahnya?

“Katanya kamu sudah diblok dari semua sosial medianya?”

Kali ini dia benar-benar salah tingkah karena malu, “aku buat akun baru, anonim… aku mengikutinya akun dia dan pacar barunya.” Continue reading “Menguping Rahasia”

Peri Hutan

Pernahkah kuceritakan kepadamu mengenai kolam di Hutan? Kolam tempat Lotus, Lily dan seribu bunga lain tumbuh? Kolam tempat kami para jiwa, bergelayut terikat pada pohon kami masing-masing. Saat malam hari, kami akan memandangi air kolam yang seperti cermin memantulkan langit penuh bintang. Saat siang tiba, udara dingin naik dari permukaan kolam, menyejukan jiwa yang terikat makin erat pada pohon-pohon kami. Continue reading “Peri Hutan”

Dari Balik Jendela (1)

Dunia melihat kehidupan kami mendekati sempurna. Beberapa kawanku bahkan menyatakan secara langsung bahwa mereka iri dengan kehidupan yang kupunyai sekarang. Tentu saja, mereka menyatakannya dengan cara bercanda, malah kupikir pernyataan itu bentuk rasa sayang mereka terhadapku, jadi aku tak merasa marah atau pun kesal.

“Seneng ya, setelah sekian lama menunggu jodoh, akhirnya kamu ketemu jodoh yang betul-betul luar biasa, ya ganteng… ya mapan… dan sayang sama kamu”

“Syukurlah,” biasanya aku hanya menjawab begitu. Continue reading “Dari Balik Jendela (1)”

Tersesat (11)

”apakah kamu pernah mendengar tentang jatuh cinta?”

Adalah Pengembara Mimpi yang selalu menumbuhkan harapanku akan kekasih jiwa yang tersesat dan memerlukan kunang-kunang untuk menunjukkan arah mereka agar bertemu kami para jiwa di hutan-hutan. Sementara, kunang-kunang mendapatkan cahayanya dari harapan kami yang tersimpan pada pohon cinta. ”Semua hal, memiliki kaitannya, semua hal terikat satu dengan yang lainnya,” demikian Pengembara Mimpi memberitahuku. Sementara itu, ia juga terus menceritakan mengenai Dunia Manusia. Aku semakin ingin mengunjunginya.

”Jalan kembali akan lebih sulit dibandingkan perjalanan pergi,” begitu katanya. Aku gentar, tetapi tak ingin mundur. Sudahkah kukatakan kepadamu, bahwa aku ingin menemukan apa yang tak pernah kutemui di hutan?

”Ya, apakah kamu sudah menemukan apa yang kamu cari?”

Aku tersenyum; kamu yang berbau harum seperti kayu manis, juga beraroma cendana, aku belum pernah menemui yang seperti kamu di hutan.

Sepanjang hidupku di huutan, aku terikat pada Pohon Cinta, menunggu kekasih jiwa untuk segera datang, agar ikatan itu tak terasa menyesakkan. Aku mempunyai teman untuk berbagi. Aku menemui banyak hal di dalam hutan, hanya bukan kekasih jiwa.

”Karenanya kamu datang ke Dunia Manusia?”

Tidak juga. Tapi kupikir, kekasih jiwaku tak akan pernah datang. Harapanku tak cukup besar untuk membuat kunang-kunang bersinar terang. Aku tak ingin terikat selamanya pada Pohon Cinta di Hutan. Aku hanya ingin melihat hal yang lain. Aku telah menukarkan tali merah yang kupunya untuk memasuki Dunia Manusia. Jika kekasih jiwa kutemui di dalamnya, itu hal yang baik, meskipun aku tak yakin apakah aku akan mengenalinya tanpa tali merah yang mengikatkan kami. Terpisah dengan Pohon tempat kami tinggal, mengaburkan semua pengetahuan kami, tergantikan dengan pengertian yang lain. Cinta jadi tak kupahami di Dunia Manusia.

Kami mengenal cinta.

Tentu saja, kaumku juga mengenal cinta.

Lelaki Kayu Manis menatapku lalu menghela nafas, ”apakah kamu pernah mendengar tentang jatuh cinta?”

Nenek kami, selalu bercerita mengenai cinta saat senja datang. Saat api pertama mencium kayu-kayu kering yang kami kumpulkan untuk menghangatkan badan kami, ia akan memulai kisah-kisahnya dengan nyanyian yang menyayat hati. Karena sejak aku kanak-kanak, aku telah memahami bahwa cinta adalah hal yang sangat indah sekaligus memilukan, terutama bagi mereka yang terlahir sebagai pengembara. Cinta antara Nenek buyut kami kepada Kakek kami sang pengembara, membuatnya haru meninggalkan tanah kelahirannya, membawa qahwa bersamanya dan menumpahkan darah ayahnya.

Aku menghirup aroma cendana. Mungkin, cinta juga beraroma seperti cendana, kataku.

Mungkin, cinta adalah jiwa yang tersesat dan beraroma segar seperti embun pagi.

Mungkin saja, cinta telah saling menemukan.

Cerita Tersesat sebelumnya.

Patah Hati (1)

Maya memberitahu semua orang yang mau mendengarkan, bahwa dia sedang patah hati. Seolah-olah semua orang harus ikut menanggung kepedihan hatinya, dukacitanya. Seolah-olah dunia sekitarnya yang harus bertanggung jawab karena ia patah hati. Tak peduli di mana pun, kapan pun… dua bulan terakhir ini, topik pembicaraan bersama Maya hanya seputar patah hati.

“Kurang ajar betul laki-laki ini, berani-beraninya dia bikin gue patah hati ya?!” katanya padaku suatu ketika. Entah untuk yang ke-berapa kalinya. Sungguh, aku mulai merasa ikut patah hati bersama Maya. Maksudku, tadinya aku hanya merasa simpati, turut bersedih bersama Maya, aku menghiburnya. Namun sekarang, keadaan mulai berbalik seolah-olah bukan dia yang patah hati tapi aku, dan Maya yang sedang mendukungku dengan memaki-maki laki-laki yang membikin aku patah hati. Sungguh, aku jadi merasa ikut frustasi dengan keadaan ini.

“Kok dia bisa gitu ya, May?” aku menanggapinya dengan sedih. Ya Tuhan, aku bahkan belum mengenal laki-laki ini! Sebelum sempat memperkenalkan laki-laki terbarunya ini pada kami, tiba-tiba saja Maya mengumumkan kalau dia patah hati. Lho, kapan jatuh cintanya?

Konon mereka bertemu secara tidak sengaja, suatu pertemuan yang dirahasiakan bagaimana terjadinya oleh Maya, ”ini bener-bener random deh… dia ini bukan tipe aku sama sekali, dan kami betul-betul bertemu sebagai teman”

”Kalian dikenalin?” tanyaku waktu itu.

”Nggak penting deh, Ra… pokoknya secara random… pertemuannya pun absurd!”

Aku seketika juga merasa absurd. Berbicara dengan Maya harus memiliki kesabaran. Sebaiknya memang memancing dia bercerita dengan makanan, seperti kalau kita melatih binatang sirkus, kalau kita mau hiburan maka berikanlah Maya harapan untuk makan enak, setelah sepiring nasi Kapau di kantin gedung sebelah yang rasanya merupakan Nasi Kapau terbaik di kavling gedung-gedung perkantoran sini; barulah Maya mau bercerita lebih banyak mengenai pertemuan mereka.

”Sempurna banget ya Nasi Kapau ini… Berasnya pasti diimpor dari Sumatera Barat sana deh Ra. Sama seperti beras Basmati yang memang paduan paling betul untuk masakan India yang berkuah santan kari, beras Solok yang panjang dan kering memang paduan sempurna kuah santan yang kental dengan rasa rempah… saling melengkapi ya… kalau berasnya pulen dan basah, pasti kurang sedap, karena perpaduannya akan bikin soggy. Nasi pulen begitu cocoknya ya sama ayam penyet, setuju kan kamu?”

Aku menarik napas panjang, harus sabar sebelum Maya bercerita tentang laki-laki yang membuatnya patah hati. Biarkan ia mengoceh soal makanan dulu. Makan bersama Maya, seperti sedang syuting acara makan-makan, seperti seorang ahli, ia akan menganalisa dan menjelaskan semuanya. Aku tak pernah pasti, apakah Maya benar-benar tahu atau ia hanya sok tahu saja mengenai semua cerita makanan itu.

”Kamu tahu Ra, yang bikin warung kapau ini lebih enak dibanding semua warung di sekitar sini?”

”Murah!”

”Selain itu!”

”Paling deketlah sama kantor kita, abangnya juga udah kenal jadi cepet dilayaninnya”

”Itu juga sih, tapi yang paling penting adalah konsistensi kuah santannya! Semua kuah santan di warung ini sangat sempurna. Beneran deh, nggak keenceran atau terlalu kental. Dan kuah gulainya ini tepat sekali rasanya, creamy tapi selapis di bawahnya ada rasa pedas cabai… jenius mana yang bisa menyembunyikan rasa cabe di balik santan yang tidak pecah seperti ini… belum lagi kalau makan dirames, semua kuah-kuah itu disiram di atas nasi, campur aduk wangi daun kunyit dari kuah gulai ikan, tapi terasa asam padeh karena kuah kikil dan pedas di lidah dari kuah gulai ayam… luar biasa ya…”

Aku hampir putus asa, kapan ia akan cerita soal laki-laki yang membuatnya patah hati?!

”Menemukan rasa yang tepat itu seperti jatuh cinta, ya kan?”

Ini dia! Aku harus menanggapi yang ini, ”iya betul… semua rasa muncul jadi satu kan, May?”

”Sedih, senang, rindu, bahagia…”

”Patah hati…”

bersambung

Lelaki Kayu Manis (2)

Aku, terutama menyukai pohon kayu manis, pohon yang rela kukupas tiap lapisannya, dan kubawa dalam lipatan baju. Kayu manis agar semua jiwa menyukaimu.

Pada saat aku masih muda, dan belum mulai menyeberang ke dunia baru, aku pernah bertanya pada nenek kami, ”seperti apa mati?”

Nenek memandangku dengan matanya yang kelabu dan selalu tertutup kabut tua, yang membuatnya seperti tak pernah melihat kami dengan sungguh-sungguh. Namun, ketika memandangku, kabut di matanya memudar dan dengan jernih aku dapat memastikan bahwa ia sedang menatapku dengan seksama, ”seperti apa mati? Aku juga sering menanyakannya pada diriku. Aku sudah tua, melihat ribuan kali Matahari terbit dan menyaksikannya tenggelam, dan sepanjang hidupku, aku telah bertanya seperti apa mati.”

”Nenek tahu segalanya! Jelaskan padaku, aku tak akan menceritakannya pada orang lain. Aku janji.”

”Pertama-tama, Nak, aku tak mengetahui segalanya. Sebagai pencerita, aku memang memiliki pengetahuan yang harus dimiliki pencerita, tetapi bahkan batu abu-abu di dunia yang baru pun tak kuketahui dengan pasti bagaimana mereka menyimpan ingatan jiwa-jiwa. Bagaimana mereka bergerak dalam bayang-bayang. Yang kuketahui hanyalah, batu-batu itu menyimpan rahasia kehidupan di dunia baru karena mereka tak pernah melupakan,” nenek menghela nafas, lalu ia melanjutkan, ”kedua, pengetahuan tentang mati tak pernah diberikan pada manusia, hanya Sang Waktu yang memegang kunci pengetahuan itu. Dan belum pernah ada yang kembali dari dunia orang mati, untuk menceritakan seperti apa mati.”

Setelah dewasa dan melewati maut beberapa kali di laut purba yang memisahkan kedua dunia, aku memahami bahwa maut menjemput dengan berbagai rasa. Namun mati itu sendiri, belum kumengerti.

Aku telah mencium maut yang terasa manis dan beraroma embun pagi. Ketika saling melepaskan diri, kulihat matanya berkilau lagi, ”senang bertemu denganmu, orang asing, kamu berbau seperti kayu manis dan cendana, siapa namamu?” tanyanya padaku, suaranya jernih dan nyaring seperti lonceng bergemerincing. Dan ia mengenali aroma dunia kami, tempat pohon – pohon rempah hidup membagikan rahasianya kepada kami. Aku, terutama menyukai pohon kayu manis, pohon yang rela kukupas tiap lapisannya, dan kubawa dalam lipatan baju. Kayu manis agar semua jiwa menyukaimu. Jiwa yang ini, telah tersihir juga oleh kayu manis. Jiwa yang beraroma embun pagi, kehidupan yang baru.

”Dari mana asalmu?” tanyanya lagi dengan seuara bergemerincing.

”Aku berasal dari negeri tempat para dewa menurunkan semua rempah-rempah. Gaharu dan cendana tumbuh di halaman belakang rumahku, aku bermain bersama pala dan kayu manis sebelum aku bisa mengeja kata-kata, kamu dari mana asalmu?”

”Tempat semua jiwa terikat pada pohon-pohon untuk hidup”

Aku memandang ke kedalaman ingatan yang tampak di matanya, aku ingin mencuri ingatannya namun aku malah membagi ingatanku dengannya. Beginikah bertemu dengan jiwa tua? Apakah ada pengembara sebelumku yang bertemu dengan jiwa yang tua?

Bagian dari Tersesat

Mati

Mati dengan ingatan penuh akan dia dan tanpa sempat menyampaikan pesan, aku rindu.

Siang ini, aku mengingat siang itu, hujan badai namun kita penuh tawa, membicarakan ketakutan yang berawal dari pertanyaan tentang mati.

“Pernahkah kamu membayangkan caramu mati?” tiba-tiba aku ingin bertanya seperti itu padanya.

Kami sedang duduk memandang hujan badai dari jendela kaca besar di apartemennya. Langit gelap seperti akan runtuh, beberapa kali jendela-jendela kaca bergetar karena suara guntur yang menggelegar.

“Pernahkah kamu membayangkan caramu mati?” ulangku.

“Nggak, aku selalu membayangkan bagaimana bertahan hidup”

Aku tersenyum, “kalau orang lain dengar, mungkin mereka akan menganggap kamu ini sangat positif”

Ia tertawa, lalu bertanya, “apa ketakutanmu? Takut gelap?”

Aku menggeleng, “tapi mungkin ya juga, aku mungkin takut gelap… tapi selama ini aku belum pernah takut pada gelap”

“Binatang?”

“Oh, mungkin aku takut ular… takut sama buaya juga, kadang aku juga takut digigit laba-laba beracun”

Ia tergelak, “laba-laba beracun?” lalu terbahak lagi, “di Jakarta ada laba-laba beracun?”

“Ck! Ya siapa tahu ada tarantula peliharaan siapa gitu lepas… ya namanya juga mencari-cari rasa takut. Ya sepertinya masuk akal kalau aku takut digigit laba-laba beracun”

“Ada lagi ketakutan yang lain?”

“Nggak punya uang?”

Ia tertawa. Lalu memandangku dengan senyum lebar, aku mengamati wajahnya yang maskulin, persegi; rambut-rambut kasar jenggotnya mulai tumbuh membingkai mulut yang sepertinya selebar rahangnya, tertarik lebar memperlihatkan barisan giginya yang rapih. Oh, gigi taringnya yang sebelah kanan agak miring sedikit, dan dua gigi depannya lebih besar seperti gigi kelinci, tapi secara keseluruhan, giginya rapi, dan senyumnya yang memperlihatkan gigi yang membuatku tak bisa bernafas ketika pertama kali kami bertemu.

“Kalau kamu, apa ketakutanmu?”

“Aku takut gelap”

“Oh ya? Masa? Kok kamu nggak pernah bilang?”

“Kamu nggak pernah tanya”

“Kan kita selalu tidur dalam gelap, dulu kutanya, kamu mau lampunya dinyalakan atau dimatikan saat kita tidur, kok kamu nggak bilang kalau kamu takut gelap?”

“Karena kamu nggak bisa tidur dengan lampu menyala, jadi aku mengalah saja, toh aku bisa memeluk kamu kalau aku takut”

“Ah… kalau gitu sekarang kita tidur dengan lampu menyala”

“Kamu nggak mau kupeluk kalau aku takut?”

“Oh iya, kalau gitu, kita matikan lampunya sekarang!”

Ia terbahak, “tapi memang takut gelap ini ketakutan yang cemen banget ya, nggak jantan”

“Kayak Batman!”

“Sayang, Batman klaustrofobia…”

“Oh… iya ya, dia kan kejebur sumur ya?!”

Ia terbahak-bahak, lalu mengusap ujung matanya, “entah kenapa, siang ini kamu lebih lucu dari biasanya… dan membicarakan rasa takut, menjadi tidak begitu menakutkan lagi”

“Mungkin karena di luar hujan badai”

“Lalu?”

“Iya, ketakutan kita sudah jadi petir dan guntur di luar sana… ketakutan kita seperti awan gelap yang jatuh sebagai hujan, lalu lenyap… setelah ini, adalah langit biru. Tidak ada ketakutan lagi”

Ia menciumku, “tidak ada ketakutan lagi,” katanya.

Tidak ada ketakutan, namun ada perpisahan.

Siang ini, ratusan hari sejak waktu itu, aku melihat hujan yang deras turun di halaman. Membasahi daun-daun tanaman sri rejeki yang tumbuh subur. Sendiri. Mengingat dia, terus menerus memutar berbagai kenangan kami. Detik berikutnya, bulu kudukku meremang, aku merasa takut karena tiba-tiba membayangkan mati tertabrak ketika menyeberang jalan saat hujan. Darah membanjir, dan air hujan membuatnya lebih encer sehingga darah lebih cepat mengalir habis keluar dari tubuh. Mati dengan ingatan penuh akan dia dan tanpa sempat menyampaikan pesan, aku rindu.

Untuk kamu, saat kupikir ini semua telah berlalu.