Tersesat (9)

Qahwa memberikan kenikmatan lebih banyak pada ciuman.

Konon di negeri tempat qahwa pertama ditemukan, seorang kekasih akan mengambil resiko untuk mati dengan menyelipkan beberapa biji qahwa ke tangan orang yang dicintainya, Lelaki Kayu Manis memulai ceritanya. Itu yang terjadi pada buyut nenek dari nenekku. Ia jatuh cinta pada seorang pengembara dari negeri tua tempat semua aksara berasal, di mana bahasa menemukan pasangannya. Buyut nenek dari nenekku dengan berani menyelipkan beberapa biji qahwa ke dalam genggaman sang pengembara yang kuat dan halus. Itu adalah janji akan penyerahan hidup total yang tak bisa terpatahkan, katanya, aku akan mengikutimu ke negerimu, menyembah Tuhanmu, menggarap ladangmu, dan akan dengan sukarela mendengarkanmu membaca puisi seumur hidupku. Pada malam yang pekat setelah upacara minum qahwa, nenek buyut kami mendatangi kemah sang pengembara dan menyerahkan dirinya pada cinta. Ketika tiba waktunya sang pengembara akan kembali ke negerinya, nenek buyut kami mencuri biji-biji qahwa dan menyelundupkannya ke dalam keliman bajunya untuk nanti akn ditanam di negeri tua, negeri rempah-rempah. Aku meninggalkan negeriku, tetapi aku tak bisa meninggalkan qahwa maka kubawa ia supaya hidup bersamaku di negeri baru kami, begitu katanya dalam hati, yang kemudian didongengkan kepada anak-anaknya, lalu cucu-cucunya, dari generasi ke generasi hingga sampai kepada ibuku yang menceritakannya kepadaku. Ayah nenek buyutku tidak menyadari kehilangan biji-biji qahwa terbaiknya sampai beberapa hari berikutnya, ia baru menyadari kehilangannya. Lalu ia bersama budak-budak terbaiknya segera mengejar putri kesayangannya itu yang telah berjalan tiga hari sebelumnya bersama sang pengembara, lalu mengambil kembali apa yang telah dicuri oleh nenek buyutku. Ketika kemurkaan pertama itu datang kepada ayah nenek buyutku, ia merobek jubahnya dan meratap, ”mengapa harus putriku?” pencuri biasa hanya akan dipotong tangannya, tetapi pencuri biji-biji qahwa harus dibunuh di negeri asal nenek buyutku. Qahwa adalah tumbuhan surga yang harus dijaga di tanah mereka, hanya untuk kaum keturunan mereka. Jadi, meskipun nenek buyutku merupakan kesayangan ayahnya, sang ayah tak bisa mengelak untuk membunuhnya demi tugas dan kewajiban sebagai penjaga qahwa. Ayah nenek buyutku bahkan telah mengoleskan abu sebagai tanda dukacita ke atas rambutnya yang telah memutih. ”Aku kehilangan putri kesayanganku, ia telah mati di tanganku,” ratapnya. Bahkan budak-budaknya, pejuang-pejuang tangguh penjaga qahwa juga ikut meratap dan mengoleskan abu di kepala mereka. Nenek buyutku tak hanya putri tuan mereka yang cantik dan menawan, tetapi ia juga baik hati serta penuh kasih. Nyanyiannya bisa menghentikan senja sehingga Matahari yang elok dapat lebih lama menari di atas langit yang kemerahan. Tangannya yang lembut namun kuat telah mengobati luka-luka peperangan di tubuh budak-budak itu, dan menyuapi mereka dengan penuh kesabaran ketika mereka terbaring lemah karena demam malaria. Nenek buyutku, tak hanya dicintai oleh ayahnya, tetapi juga merupakan cahaya bagi para budak-budak dan keluarganya. Membunuh nenek buyutku, adalah pengabdian tertinggi mereka kepada qahwa, tumbuhan surga yang harus mereka jaga. Mereka berlari tanpa lelah dengan sangat sedikit istirahat bahkan di malam hari, mereka hanya berhenti selama dua jam setelah Matahari terbenam, karena saat itulah jiwa-jiwa yang akan memulai petualangannya dilepaskan, lalu berlari lagi dan beristirahat  lagi sesaat sebelum Matahari terbit, saat jiwa-jiwa kembali bertemu roh dan tubuh kekasihnya. Perjalanan untuk membunuh ini tak boleh berpapasan dengan jiwa, yang mungkin saja akan menggagalkan rencana mereka. Rombongan ayah nenek buyut kami juga akan berhenti ketika Matahari terik di atas kepala. Setan, yang tak takut akan gelap juga tak gentar pada siang yang terang, ia akan menunggangi Matahari dan menghisap darah manusia tepat saat Matahari bersinar di atas kepala. Setelah berhari-hari, mereka menyusul nenek buyutku yang sedang beristirahat di lembah padang gurun, berkemah di antara batu-batu sebesar rumah. Ayah nenek buyut kami, bisa saja langsung membunuh putri kesayangannya saat itu juga, tetapi ia ingin melihat putrinya bernyanyi pada senja satu kali lagi, jadi ia menyuruh budak-budaknya bersembunyi di balik batu bersamanya, mengawasi putrinya yang tertawa bahagia bersama sang pengembara. Denting tawanya bergaung indah bagai lonceng di lembah penuh batu. Ketika senja mulai turun, nenek buyut kami naik ke atas batu yang terbesar lalu mulai bernyanyi. Seluruh jagat raya serasa berhenti, ayah nenek buyut kami menangis diam-diam. Ia akan membunuh putrinya besok, ia ingin mendengarkan nyanyiannya sekali lagi. Lalu ia menyuruh budak-budaknya untuk beristirahat, ”kita akan menyelesaikan tugas ini besok. Aku akan memberi kesempatan pada putriku untuk bernyanyi pada senja sekali lagi.” Dalam hati para budak-budak itu, mereka lega karena masih ada satu hari lagi untuk menghindari tanggung jawab untuk membunuh putri tuan mereka. Jika saja, mereka bisa mengelak dari tugas itu.

Rupanya, sang pengembara menyukai lembah batu-batu itu. Ia menulis banyak puisi dan meminta nenek buyut kami untuk tetap tinggal di lembah itu menemaninya selama beberapa hari lagi. Sepanjang hari-hari itu, setiap sore nenek buyut kami naik ke atas batu besar dan bernyanyi kepada langit. Dan selama itu pula, ayahnya menunda untuk membunuh putrinya karena akan memberi kesempatan putrinya untuk bernyanyi sekali lagi.

Pada suatu senja, sesaat setelah nenek buyut kami selesai menyanyi, seekor singa gunung jantan mengendap dengan anggun dan lapar, menuju ke arahnya. Nenek buyutku tak melihatnya, karena ia membelakangi arah datangnya singa itu, namun ayah nenek buyutku yang mengawasi putrinya dari jauh melihatnya, dan tanpa berpikir lebih jauh, ia melesat ke arah singa yang lapar itu untuk menyelamatkan putrinya. Ayah nenek buyut kami, merobek pangkal lengan singa jantan itu dengan sekali tarikan, namun singa itu berhasil merobek leher ayah nenek buyutku sesaat sebelum mati. Dengan cepat budak-budak ayah nenek buyutku menarik tuannya dan menikam jantung singa gunung itu dengan sekali tombak. Darah mengucur dengan deras dari leher ayah nenek buyut kami, dengan sisa nafasnya, ia menarik tangan putrinya yang masih termangu terkejut, ”aku menjadi ganti darahmu, hiduplah dengan bahagia” lalu ayah nenek buyut kami meninggal dalam dekapan putri kesayangannya. Semua budak-budak terbelah antara kelegaan bahwa putri tuan mereka, cahaya hidup mereka tetap hidup, namun sebagai gantinya, tuan mereka yang bijak dan penuh kasih menebusnya dengan kematiannya sendiri.

bersambung

Tersesat (8)Tersesat (7)Tersesat (6)Tersesat (5)Tersesat (4)Tersesat (3)Tersesat (2)Tersesat (1)

Tersesat (8)

Aku belum pernah mengenalnya, qahwa. Kupandangi Lelaki Kayu Manis mempersiapkan minuman pertamaku. Seperti sedang berdoa, ia membaca mantra dan membakar wewangian, lalu membasuh kaki dan tangan kami dengan air yang sejuk dari perut gua. Dari kantung kulit di punggungnya, ia menjerang kelopak bunga dan mendinginkannya, lalu menggunakannya untuk membasuh muka kami yang lelah dan tertutup debu.

”Serumit inikah untuk meminum qahwa?” tanyaku padanya, sambil menikmati harum kemenyan yang memabukkan.

”Tidak tahukah kamu, bahwa qahwa ada tanaman surga yang ditanam sendiri oleh para dewa di tanah kami, tempat semua rempah-rempah berasal. Kau perlu mempersiapkan indera terbaikmu sebelum meminumnya, menikmati aromanya”

Ia membakar qahwa hingga aromanya memenuhi gua tempat kami berteduh. Bau pahit kehidupan seketika menyerangku, namun ada selapis bau manis penuh janji di baliknya.

Aku mengamatinya menggiling biji-biji qahwa yang telah terbakar dengan serius. Alisnya bertaut, matanya tajam bersinar penuh harapan dan ia tersenyum seperti menyimpan rahasia. Rahasia qahwa. Aku menghirup harum bubuk yang menguar di udara dengan rakus, tanpa sadar aku mendesah senang. Betapa harum janji bumi yang diberikan melalui biji-biji yang baru saja kukenal ini. Lelaki Kayu Manis berpaling padaku dengan tersenyum lebar, gigi bagai mutiara berpendar dalam gua yang teduh dan dingin, ”harum ya? Sungguh baru pertama kamu mengenal qahwa?”

”Ya, dan aku tak sabar mencicipinya”

”Tunggu sebentar lagi”

Lalu seperti sebuah tarian ritual, ia menyiapkan secangkir qahwa. Rupanya, ia selalu membawa-bawa sebuah cangkir tanah liat di dalam tas perbekalannya, katanya, seorang pengembara dari negeri rempah-rempah akan selalu membawa perlengkapan minum qahwa ke mana pun mereka pergi. Aku tersenyum, sementara kami, jiwa-jiwa yang tinggal di pohon-pohon, tak pernah memikirkan perbekalan kami, sebab kami hidup dari embun pagi.

Tepat ketika kemenyan di pembakaran mulai habis dan air mawar yang membasuh mukaku meninggalkan aroma terakhirnya, ia memberikanku cangkir yang penuh dengan air qahwa. Kuputar cangkir di bawah hidungku untuk menikmati aromanya sebelum kuhirup airnya, aku seperti tersengat ketika saat cairan itu melewati lidah dan tenggorokanku. Waktu berhenti. Aku tertegun sejenak sebelum berpaling melihat pada Lelaki Kayu Manis yang mengamatiku dengan senyumnya yang paling menawan.

Cairan ini seperti sari buah dengan rasa asam yang segar, namun manis dan pekat, lalu pada sesapan berikutnya kukenali rasa kacang-kacangan yang pernah kutemukan di salah satu pohon di hutan, pada ujung lidah tertinggal rasa pahit yang anehnya menyenangkan. Berbeda dengan apa yang dikatakan Lelaki Kayu Manis padaku sebelumnya, ia memperkenalkan pahit yang datang terlebih dahulu, namun pada lidahku, pahit tertinggal di ujung lidah, meskipun demikian, pahit ini tak mengangguku sama sekali, malah membikin senang. Kini kukenal rasa baru, rasa pahit yang menyenangkan.

”Kamu menyukainya?” tanya Lelaki Kayu Manis.

”Pantas kalian menyebutnya minuman dewa”

Ia tertawa dengan nyaring, lalu rasa hangat di perutku mendorongku untuk mendekatkan diri kepadanya, menghirup lebih banyak aroma qahwa yang tertinggal di kulitnya, dan menciumnya.

Qahwa memberikan kenikmatan lebih banyak pada ciuman.

Tersesat (7)Tersesat (6)Tersesat (5)Tersesat (4)Tersesat (3)Tersesat (2)Tersesat (1)

Tersesat (7)

Percayalah, kau tak akan pernah menginginkan ciuman seorang kekasih setelah kau merasakan nikmatnya qahwa yang pertama kali kau minum.

Semburat fajar kemerahan, pagi mulai menjelang. Kami telah bercakap-cakap sepanjang malam. Biasanya, pada saat seperti inilah Pengembara Mimpi mampir. Sudah lama kami tak bertemu, terakhir kali ia mengunjungiku saat senja ketika aku akan memasuki dunia manusia. Aku membayangkan, bagaimana jika Pengembara Mimpi bertemu dengan Lelaki Kayu Manis ini? Apakah yang akan dikatakan Pengembara Mimpi kepadaku? Ia selalu melihat  apa yang bisa kulihat, tentu saja karena ia sudah mengembara sejak pohon yang pertama tumbuh. Continue reading “Tersesat (7)”

Pembisik Pohon

Sebelum aku tersesat di Dunia Manusia, Pengembara Mimpi datang mengunjungiku saat pagi menjelang, ketika roh bertemu jiwa, dan bersiap menyambut Matahari.
“Kau berhutang kisah Pohon-Pohon,” kataku padanya, “kau selalu tak pernah menuntaskan ceritanya”
“Kisah tentang Pohon tak akan pernah tuntas selama Roh dan Jiwa selalu bertemu, selama hutan masih meniupkan kehidupan”
Aku tak pernah mengerti kata-kata Pengembara Mimpi, biasanya setelah ia pergi aku baru memahami maksudnya.
Semua hal tak harus dimengerti, kata Pengembara Mimpi; seperti kau mungkin tak akan mengerti tentang jiwa pembisik pohon.
“Pembisik pohon?”
“Mereka sama seperti aku, menjaga kehidupan Pohon-Pohon”
Jika aku mengembara mengunjungi jiwa-jiwa agar tak putus harapan pada Pohon-Pohon, maka pembisik pohon bernyanyi pada dahan dan ranting agar tetap menyatu pada batang, mengalirkan cinta Bumi pada daun yang akan menyampaikannya pada Matahari.
Pembisik pohon akan bernyanyi saat embun pertama menetes di daun.

Semesta merindu,
Semesta layu,
Dahan-dahan nyanyikan lagu,
Menarilah ranting-ranting kayu,
Daun-daun bergemerisik tanpa ragu,
Sebab jiwa menggantungkan hidupnya padamu.

“Kenapa aku tak pernah bertemu dengannya?”
Pembisik pohon bekerja dalam bayangan, bergerak hampir tiada dalam hembusan angin. Berlindung dari riuhnya kegelisahan jiwa-jiwa. Tapi ia selalu ada, sebab jika ia tak bernyanyi sehari saja, maka ranting dan dahan tak punya daya menempel pada batang yang kokoh, daun-daun akan gugur sebelum waktunya dan jiwa-jiwa akan kehilangan embun pagi.
Bolehkan aku bertemu pembisik pohon, untuk sekali saja?
Ia tak tahan pada kegelisahan jiwa.
Aku tidak gelisah.
Jiwa selalu gelisah selama ia hidup. Ia selalu gelisah.
Kenapa?
Pengembara Mimpi tersenyum lalu berkata sedih, “itulah imbangan semesta, kegelisahan jiwa. Kalian memang diciptakan dengan kegelisahan.”
Itu sebabnya kalian memerlukan Pohon-Pohon. Itu sebabnya Pohon-Pohon memerlukan pembisik pohon. Yang bekerja dalam bayangan, yang bernyanyi pada dahan dan ranting saat embun pertama menetes di dedaunan.

Oh, Pohon-Pohon…
Kegelisahan jiwa yang membelitmu,
Jadikan ia tali kehidupanmu,
Yang mengikat hidup pada keabadian,
Juga mengikat maut di masa depan,
Oh, Pohon-Pohon…
Bertumbuhlah kuat,
Lebih kuat daripada kegelisahan jiwa yang menggayutimu.

Tersesat (6)

Pada mulanya adalah kegelapan, begitu lelaki rempah-rempah mulai bercerita dengan suaranya yang licin serupa kulit ular mendesir, membuatku remang dalam waspada; kegelapan yang menelan semua kehidupan, katanya. Kemudian Sang Waktu datang mengunjungi negeri para Bintang dengan membawa terang yang mengusir gelap. Namu kegelapan melawan, benturan-benturan gelap melawan terang memercik ke semua arah dan melahirkan Bintang. Sang Waktu lalu membuat perjanjian antara terang dan gelap. Ia membagi hitungan waktu yang ada dengan sama rata dan membuat keduanya berkuasa di masing-masing bagian. Selain itu, Sang Waktu juga bersabda, bahwa gelap tak boleh lagi menelan kehidupan, gelap hanya menjadi waktu peristirahatan sementara terang, juga tak bisa berkuasa atas seluruh waktu karena siang yang riang terkadang sangat melelahkan. Perjanjian itu tetap berjalan hingga kini. Sementara, Bintang-Bintang yang terlahir dari peperangan antara gelap dan terang juga makin dewasa. Cahayanya makin menyilaukan dan membakar siapa saja yang terpesona pada mereka. Bintang-Bintang yang cantik harus pergi dari negeri yang telah melahirkannya.

Aku menahan nafas, ”terusir ke mana mereka?”

Lelaki rempah-rempah tersenyum, ”mereka tak terusir, mereka mendapat tempat yang lebih luas, di langit”

Namun, meskipun telah mendapatkan tempat yang luas di langit, kerinduan akan negeri kelahiran selalu ada. Para Bintang selalu kembali mengunjungi negeri kelahiran mereka dalam wujud cantik perempuan. Sepanjang masa, manusia berusaha menangkap putri-putri Bintang untuk dirinya. Beberapa berhasil mendapatkan sang putri dengan cintanya, beberapa harus merana karena kemudian sang putri menemukan jalan kembali ke langit. Hidup di dunia manusia tak mudah setelah kau mengenal kehidupan di atas sana.

”Kenapa aku tak bisa bercakap-cakap dengan para Bintang?”

”Bahasa mereka berbeda dengan kita, nenek dari nenekku menceritakan kepada kami ketika aku masih kecil, bahwa sebelumnya, Bintang berbicara seperti kita”

”Ceritakan padaku!”

Dulu, kami sama-sama berdiam di bawah langit yang indah. Saat Bintang yang terlahir di sini belum terlalu menyilaukan. Semua bahasa terlahir di sini. Kemudian, manusia bertambah banyak dan bertambah kuat, begitu juga dengan Bintang yang makin membakar. Ruang antara bumi dan langit semakin dekat. Lalu, semua penghuni dunia manusia, kecuali kawanan Bintang bersepakat untuk bangkit untuk membuat menara yang menyentuh langit dan hendak berkuasa atasnya. Sejengkal menuju langit, Sang Waktu membuat jarak langit dan bumi semakin jauh dan menyerakkan kami hingga kami tak memahami bahasa satu dengan yang lain, dan saat itulah ketika Sang Waktu menempatkan para Bintang di langit, karena mereka tak menginginkan untuk berkuasa di sana. Lagipula, mereka akan membakar seluruh dunia dengan cahayanya. Mereka memang seharusnya terlahir sebagai mahluk langit.

”Aku sudah menceritakan rahasia tentang negeriku, juga kelahiran para Bintang”

”Belum cukup, bagaimana gaharu dan cendana bisa tumbuh di negerimu?”

”Harus ada pembayaran lain untuk cerita gaharu dan cendana”

“Pembayaran selain ciuman?”

“Ya, pembayaran selain ciuman”

“Cerita tentang Pohon-Pohon?”

“Ya, cerita tentang Pohon-Pohon”

Aku mendesah, “itu cerita yang sulit. Aku sendiri masih mencari cerita mengenai Pohon-Pohon. Seorang Pengembara Mimpi yang dari waktu ke waktu menceritakan kisahnya padaku”

“Kamu boleh menceritakan padaku sebagian yang kamu tahu”

“Untuk itu aku meminta bayaran”

Lelaki rempah-rempah tertawa, ”kamu jiwa yang tersesat dalam dunia manusia”

”Demikian adanya”

bersambung

Tersesat (5)Tersesat (4)Tersesat (3)Tersesat (2)Tersesat (1)

Tersesat (5)

Waktu mulai berjalan. Langit abu-abu berubah menjadi hitam dengan taburan bintang-bintang sehingga tak membuatnya kelam.

“Aku menyukai malam, terlebih malam ini,” kata lelaki rempah-rempahku.

”Kenapa?”

”Aku selalu menyukai langit, dan langit malam tak pernah bisa ditebak, apakah berawan atau tidak. Langit malam penuh misteri”

”Kamu tak bisa mencari bintang jika langit berawan”

”Tidak selalu awan yang menutupi bintang. Terkadang, bintang-bintang memang tak ingin menampakkan dirinya”

”Mengapa?”

”Tahukah kamu kehidupan para bintang?”

Aku menggeleng, ”aku hanya mengenal pohon-pohon tempatku hidup, aku mengenal cendana, kayu manis, pala dan gaharu… sebab itu aku mengenali baumu”

Ia tertawa. Kusadari, setiap kali ia tertawa maka bau gaharu akan lebih kuat menyerangku, sementara ketika ia berkata-kata maka bau kayu manis akan mendominasi. Sementara tepat di urat nadi lehernya, di situlah paling kuat tercium bau cendana. Seperti tertarik pada bau yang memabukkan itu, aku tertarik lagi mendekat padanya, membelit lagi serupa ular pada dahan pohon kehidupan.

”Ceritakan padaku tentang kehidupan para bintang”

Ia menciumku dengan wangi daun tembakau segar, ”perlu semalaman untuk menceritakan kehidupan para bintang”

”Kita punya semalaman, aku tak punya tujuan lain malam ini selain bersamamu” bahkan, sepertinya aku rela mengubah semua tujuanku di dunia manusia untuk mengikutimu, lanjutku dalam hati.

Diam-diam, aku mengirimkan pesan pada Pohon-Pohon tempatku tinggal, kuucapkan salam perpisahan, kukatakan, mungkin aku akan mengikuti laki-laki rempah-rempah ini ke mana pun ia akan melangkah. Mungkin aku tak akan pernah kembali lagi pada kalian, lagipula Pengembara Mimpi sudah pernah mengingatkanku bahwa jalan pulang menuju hutan akan lebih sulit ditemukan ketika aku telah memutuskan untuk memasuki dunia manusia. Jadi, ya sudah… lebih baik aku tersesat bersama laki-laki rempah-rempah.

”Kamu hidup dengan pikiranmu,” laki-laki rempah-rempah menarikku kembali pada baunya, ”apa yang kamu pikirkan?”

”Pohon-pohon dan bintang-bintang”

Ia tertawa, bergemerincing seperti lonceng peri di hutan, “apa yang kamu pikirkan tentang bintang-bintang?”

”Aku melihat mereka dari pohon tempatku tinggal, berkelip-kelip jauh, aku berusaha untuk bercakap-cakap dengan mereka namun kami tak pernah bisa berkomunikasi. Aku ingin mengenal kehidupan mereka, tapi mereka terlalu jauh untuk dijangkau. Sekarang, aku bertemu kamu yang akan menceritakan tentang kehidupan para bintang, seandainya aku bisa membawamu kepada Pohon-Pohon. Ah, aku melantur…“

Ia makin terbahak, ”aku tak mengenal para bintang, leluhurku, nenek dari nenekku konon berasal dari negeri di mana bintang lahir dan bercahaya. Kami mendengar ceritanya turun temurun, tetapi aku tak mengenal para bintang“

”Kamu keturunan bintang? Ah, kamu lelaki dengan bau rempah-rempah pantas saja bercahaya seperti bintang“

”Apakah kamu mengenal kayu manis? Kamu berbicara serupa dia… bukan, aku bukan keturunan bintang. Tak semua yang berasal dari negeri para bintang terlahir seperti Matahari“

”Ceritakan padaku tentang para bintang, kita punya semalaman… bahkan sepanjang waktu hingga esok, lusa, tulat, tubin… selama yang kita perlukan”

Ia tersenyum, bau cendana menyerangku.

“Cerita tentang para bintang tak gratis, maukah kamu membayarnya dengan ciuman?”

”Dengan senang hati,” kataku, ”aku tak pernah mengenal soal bayar dan gratis, kami tak pernah harus membayar apapun di hutan, namun jika dunia manusia menginginkan ciuman sebagai pembayaran, dan kamu yang meminta… dengan senang hati”

Kami berciuman lagi, kurasakan bibirnya seperti madu dan adas. Ada manis juga getir.

bersambung

Tersesat (4)Tersesat (3)Tersesat (2)Tersesat (1)

Tersesat (4)

Waktu berhenti sesaat saat kami berbagi nafas. Aroma kayu manis dan cendana memabukkanku.

“Kamu harum kayu manis dan cendana, siapa namamu?”

“Kamu berbau segar seperti embun terkena sinar Matahari pagi, dari mana asalmu?”

“Kamu belum menjawab pertanyaanku”

“Tidak semua pertanyaan harus dijawab, kamu juga tak menjawab pertanyaanku”

Aku memandangi matanya yang gelap kecoklatan, ada selapis garis emas berkilau di tengah bola matanya. Angin menghantarkan lagi bau kayu manis dan cendana yang membuatku lupa diri.

Aku hanya ada di saat ini. Melupakan pohon-pohon, melupakan dunia manusia yang penuh tipu daya dan jebakan. Seluruh perjalanan ini, kutempuh hanya untuk membauinya, dan tersihir oleh selaput keemasan di matanya.

“Kalau kamu ingin aku menjawab pertanyaanmu, katakan padaku, siapa namamu?”

“Aku tak bernama, sebab di tempat asalku kami tak memerlukan nama untuk saling mengenali”

Ia tersenyum, giginya berbaris rapi dan berwarna serupa mutiara putih. Ia menciumku lagi, “aku juga tak memerlukan nama untuk mengenali kamu, mengenali lidah serupa beludru dan berbau embun pagi. Kita akan saling mengenali meskipun tanpa nama”

“Dari mana asalmu?”

“Aku berasal dari negeri tempat para dewa menurunkan semua semua rempah-rempah. Gaharu dan cendana tumbuh di halaman belakang rumahku, aku bermain bersama pala dan kayu manis sebelum aku bisa mengeja kata-kata”

Pantas kamu berbau kayu manis, ucapku tanpa suara. Lalu kami saling terbelit seperti benalu dan pohon, saat itu waktu berhenti lagi, senja tak bergerak, langit diam dengan warna abu-abu.

“Dari mana asalmu?”

“Tempat semua jiwa terikat pada pohon-pohon”

”Di mana itu?”

”Entahlah… jika aku tahu arah, saat ini aku tak akan tersesat di duniamu”

”Apakah kamu sedang tersesat?” ia bertanya dengan mata yang semakin keemasan.

Dalam sekejab, aku berada di pusaran badai, beku. Aku melupakan semua yang harus kuingat. Juga secara ceroboh membuka diriku pada manusia yang baru saja kutemui, kusingkapkan segala rahasia jiwa yang kuketahui di dalam hutan. Semua mantra, semua doa yang harus dirapal agar jiwa selamat dari himpitan batu abu-abu dunia manusia. Ia menelannya dengan rakus, lalu membagi nafas rempah-rempahnya denganku.

”Aku menyukai bau rempah-rempah,” kataku, ”bau kehidupan”

”Kamu boleh memilikinya, aku akan memberikannya secara sukarela padamu. Aku juga menyukai baumu yang segar seperti embun. Kulitmu halus, apakah semua jiwa mempunyai kulit sehalus kulitmu? Badanmu juga menyimpan kehangatan matahari pagi, jangan pernah beranjak siang, tetaplah pagi dalam pelukanku”

”Kamu pandai berkata-kata”

”Kayu manis mengajarkan rahasia puisi padaku”

Kami tak bisa memisahkan diri. Aku tak mau memisahkan diri. Aku rela tersesat bersamanya. Bahkan mungkin kurasa aku sedang tidak tersesat. Aku telah menemukan tujuanku, manusia laki-laki dengan aroma cendana.

(bersambung)

Tersesat (3)

Tersesat (2)

Tersesat (1)

Tersesat (3)

Pertemuanku pertama dengan manusia di pusat dunia manusia memberiku ribuan pengertian lain yang menyerang kepalaku seperti kilat. Aku melihatnya, sama sepertiku dalam bentuk lain. Ia tak mengenali jiwa pengembara, ia menyapaku dengan bersahabat, dan kemudian kami melanjutkan perjalanan bersama. Ia menertawakan kecanggunganku hidup di dunia manusia, menurutnya aku seperti baru saja hidup, seolah-olah tiba-tiba saja dilemparkan ke dunia ini. Ya, betul… aku memang baru saja melemparkan diriku ke dunia manusia.

Ia, manusia yang baru kukenal ini, terutama menertawakan kebingunganku akan waktu. Berbagai pengertian memang telah ditanamkan begitu saja di otakku, meskipun demikian ada banyak hal yang kumengerti namun sekaligus tak kumengerti. Seperti halnya, waktu. Di hutan, aku selalu protes kepada Sang Waktu yang semena-mena merubah hitungannya, namun kami tak pernah kehabisan waktu sebab hitungan kami pasti. Di dunia manusia, hitungan waktu tak pasti. Tulat, lusa, esok… hanyalah kata-kata kosong penuh janji, sama seperti petikan ‘bahagia untuk selama-lamanya’. Angka-angka di jam tangan manusia hanya seperti janji manis supaya manusia merasa mempunyai hidup yang lebih beradab karena bisa berhitung. Manusia kenalanku tertawa mendengar gerutuanku. Lalu ia menanyakan namaku, aku terdiam. Nama? Haruskah kami semua bernama?

“Bagaimana mungkin kamu tidak tahu namamu? Semua orang punya nama. Nama adalah sejarah seorang manusia. Aku laki-laki, dan aku mempunyai nama laki-laki yang menandai aku laki-laki meskipun manusia lain belum bertemu denganku. Dan setiap aku berkenalan, aku akan menyebutkan namaku supaya orang mengenaliku.”

Kami tak pernah punya nama. Setiap jiwa mengenali jiwa lainnya, hanya pohon yang punya nama, tetapi pohon-pohon tak pernah menyebutkan namanya namun kami tetap mengenali satu dengan yang lainnya.

”Di tempat asalku, kami tak perlu nama untuk saling mengenali”

”Lalu bagaimana kamu memanggil satu dengan yang lainnya”

Aku mengedikkan bahu, satu lagi yang kupelajari di dunia manusia, bahwa tubuh juga digunakan untuk berkomunikasi. Kedikan di bahu, berarti jawaban yang akan kuberikan sebenarnya tak terlalu penting karena aku tak yakin akan jawabanku, bisa juga berarti, aku tak tahu bagaimana mengatakan jawabanku, ”kami tahu jika dipanggil, kami tahu bagaimana cara memanggil tanpa nama. Tahu begitu saja”

”Wow! Jika kalian jatuh cinta pada seseorang, bagaimana membedakannya? Maksudku, kemudian kalian ingin menikah harus ada surat-surat yang diurus, bagaimana membubuhkan nama pada sebuah surat?”

Aku mulai bingung lagi, ”mengapa harus ada surat?”

Manusia laki-laki yang mempunyai nama seorang laki-laki memandangiku dengan tanda tanya besar di matanya. Dan aku mencoba berbicara padanya tanpa kata-kata. Di tempat asalku, kami jatuh cinta begitu saja, tak perlu nama, tak perlu asal-usul karena kami semua berasal dari hutan, cinta hanya cinta. Kami telah ditentukan akan jatuh cinta pada siapa karena masing-masing kami telah terikat pada Pohon Cinta, takdir kami bersambung meski kami belum menemukan satu dengan yang lainnya. Saat menemukannya, dia yang seharusnya kami mencintai, kami akan jatuh cinta begitu saja.

”Oh,” katanya, seolah mengerti apa yang baru saja kukatakan tanpa bahasa manusia, ”kita berasal dari dua dunia yang berbeda, aku mengerti”

Ia mengenaliku sekarang.

Di sebuah persimpangan, kami kemudian berpisah. Ia menjabat tanganku dengan hangat, ”begini cara berkenalan, begini pula kita melepaskan seseorang. Dengan jabatan tangan”

Aku tersenyum, ”ya, akan kuingat”

”Berhati-hatilah, semoga kamu menemukan apa yang kamu cari… dan carilah nama untuk dirimu”

Perjalananku selanjutnya memasuki pusat dunia manusia semakin cepat dan memusingkan, sebab setiap kali aku bertemu manusia baru, ada ribuan pengertian yang tiba-tiba saja dipaksakan masuk ke dalam memoriku. Aku berjalan dengan limbung dan agak kehilangan arah karena mabuk oleh ribuan pengertian baru. Dan saat itulah aku tersesat.

IMG_0599

Tanpa sadar, aku memasuki tebing batu abu-abu yang memunggungi laut. Ada bau asin yang mendominasi udara, dan matahari menyeruak lemah dari langit yang juga abu-abu. Lalu aku melihat sebatang pohon yang lelah, kusapa ia, tapi pohon tak menjawabku. Ah. Sedih karena kerinduanku akan hutan yang hijau dan berbau embun, aku duduk di sebuah batu di bawah pohon yang lelah itu. Saat itulah, aku melihatnya. Seorang manusia laki-laki, ia tersenyum padaku. Aku membalas senyumnya, ia kemudian mendekatiku. Semakin dekat ia, semakin kuat baunya menyerangku. Dan tiba-tiba saja aku seperti tersambar kilat, saat kuhirup udara asin bercampur baunya. Ia berbau seperti kayu manis dan cendana, ada selapis madu juga asam lemon menguar dari kulitnya yang coklat. Aku seperti kembali ke kolam kecil di hutan. Kolam itu dikelilingi oleh pohon cendana, juga gaharu. Ketika malam tiba, air memberi udara harum kehidupan ikan yang bercampur dengan cendana. Laki-laki ini memberiku bau yang mengingatkanku pada kolam kecil di hutan.

Aku menghirup baunya dengan rakus, meskipun tak mengenal namanya, aku sudah mengenali baunya dan tersihir olehnya. Lalu aku melihatnya, ke matanya dengan bola mata coklat yang jernih dan berkliau lembut, lalu lagi-lagi aku seperti dilemparkan kembali ke hutan saat menari bersama kunang-kunang. Ia lalu duduk di batu di dekatku, ”senang berjumpa mahluk hidup lainnya di tebing ini”

Suaranya tak seperti yang kuharapkan, tak ada kelembutan dan itu membuatku waspada, namun sesaat kemudian kewaspadaanku lenyap ketika ia mengulurkan tangan, kami berjabat tangan. Salam di dunia manusia.

Seperti baru melihat tubuh manusia, aku takjub pada tangannya. Tak kulepaskan dengan segera, kulupakan semua aturan dunia manusia. Dengan rasa penasaran kuamati tangannya dengan tulang panjang terbungkus kulit coklat matang dan ditumbuhi rambut-rambut bulu.

Lalu kami saling menatap dan seperti ada magnet yang menggerakkan, kami kemudian saling mendekat dan berciuman.

(Bersambung)

Tersesat 2

Tersesat 1

Tersesat (2)

Mabuk oleh kegembiraan aku setengah berlari menyeberangi padang berumput menuju bebatuan abu-abu di seberang. Aku memasuki dunia manusia. Tak kuhiraukan berbagai rasa tajam yang menusuk kulit, semua rasa itu seolah berlomba-lomba menanamkan dirinya ke dalam memoriku.

Desa pertama yang kumasuki begitu sepi. Batu abu-abu membisu tak menjawab ketika aku bertanya, mengapa desa ini begitu hening. Aku harus membiasakan diri hanya bertanya pada manusia. Di hutan, kami bisa berbicara kepada siapa saja. Bebatuan yang hijau ditumbuhi lumut, akan menjawabmu tanpa kata-kata mengenai siapa saja yang baru saja mampir dan singgah melepas penat di atasnya. Tanpa kata-kata, tanpa aksara, itulah cara kami bercakap-cakap di hutan.

Di dunia manusia, semua berbeda. Kami harus berbicara dengan bahasa. Pengertian baru ini begitu saja ditiupkan di kepalaku, aku langsung memahami bahwa aku harus berkata-kata agar manusia mengerti aku.

Tetapi, desa pertama yang kumasuki demikian sepi. Kepada siapa harus kugemakan kata-kataku?

Senja hampir turun, langit sore abu-abu kemerahan. Aku menghirup udara yang beraroma kelelahan. Betul kata Pengembara Mimpi, dunia manusia melelahkan. Semua rasa tajam dan pedih. Namun aku menikmatinya. Aku merasa lebih hidup dibandingkan saat aku berada di hutan. Aku harus berjalan dan merasakan lelah pada kakiku saat menapaki tanah keras. Di hutan, aku bisa mengayun kakiku dengan ringan, dan melangkah seperti terbang, kadang kami betul-betul bisa terbang. Saat jiwa kami sedang sangat berbahagia, atau kami sedang mengembang karena cinta, cukup dengan menutup mata membayangkan tempat mana pun di hutan yang akan kami tuju, lalu ayunkan kaki dengan ringan… kami akan langsung sampai di tujuan. Dunia manusia berbeda. Aku harus berhenti sejenak, betisku mulai terasa pegal. Aku menyentuh tubuhku yang baru dan berdenyut lelah. Pengertian baru lainnya ditanamkan di kepalaku, tiba-tiba saja aku merasa aku harus mencari tempat untuk beristirahat. Dan seperti mendengar kebutuhan yang kugemakan di kepala, mataku melihat sebuah bangunan dari batu tentunya, berdiri kokoh di sebelah kiriku. Pintunya terbuka, aku segera melangkah masuk dan menyesuaikan mataku dengan kegelapan ruangan. Kubuka suara menyapa, ”halo… permisi…” aku sedikit terkejut mendengar suaraku, tidak terlalu berat seperti yang kubayangkan, namun juga tak senyaring yang kuinginkan. Sebuah pengertian menyelinap di kepala, suara perempuan yang tak merdu.

Aku meresapi pengalaman baru ini, mendengar suaraku dan mengingat dentingan nadanya. Selama ini, suaraku hanya terdengar di kepala, belum pernah beradu dengan angin.

Bangunan itu kosong. Aku berkeliling ke setiap sudut dan hanya menemukan laba-laba yang merajut kerajaannya. Kusapa dia, kami pasti pernah bertemu di hutan, tapi laba-laba betina itu tak menjawabku, hanya giginya yang berkeletuk menunggu mangsa terjebak jaringnya. Aku sedikit kecewa oleh ketidak acuhan si laba-laba, kami biasa bercakap-cakap tentang merajut jaring kehidupan di hutan, namun sekarang ia tak mengenalku. Tapi sedetik kemudian aku tersenyum oleh pengertian baru yang tiba-tiba ditanamkan di kepalaku, ini dunia manusia… kami hanya perlu bertahan hidup tak perlu lagi sibuk bercakap-cakap dengan jiwa lain. Inilah dunia manusia, hanya untuk bertahan hidup.

Hari-hari pertamaku di dunia manusia, begitu membekas. Ribuan memori baru ditanamkan di kepala. Aku tak bertemu manusia lain atau jiwa pengembara lain hingga bulan berikutnya, setelah aku makin menjauhi perbatasan dunia manusia dan hutan. Makin menuju pusat dunia manusia, batu-batu abu-abu semakin menghimpit, dan baru kutahu, bahwa batu-batu memberati mimpiku tiap malam.

Pengembara Mimpi menemuiku sesaat sebelum aku masuk ke pusat dunia manusia. Ia menyapaku saat senja tiba, di luar kebiasaannya mampir sesaat sebelum pagi.

“Mengapa datang senja?”

“Di dunia manusia, senja adalah perubahan, setiap jiwa yang masih rapuh perlu ditemani agar iblis dan setan tak mencengkeramnya”

“Apakah menurutmu aku rapuh?”

“Tidak, aku kebetulan melewatimu… jadi kupikir, aku menyapamu sekalian. Bagaimana hari-harimu di dunia manusia?”

“Hidup. Aku merasa lelah, namun pada saat yang sama merasa bersemangat karena aku merasakan hidup”

“Tidakkah kau rindu hutan?”

“Sangat rindu, tak kurasa lelah yang berdenyut-denyut di hutan. Aku juga rindu hari tanpa hitungan hari. Hanya daun-daun yang selalu menandai musim. Tapi toh aku masih bisa mengunjungi hutan dalam mimpi. Hanya saja, aku tak ringan lagi”

”Karena kau berada di dunia manusia?”

“Maksudmu?”

“Batu abu-abu akan selalu memberati langkahmu”

“Mengapa begitu?”

“Dunia manusia penuh kesulitan dan kesukaran, batu abu-abu menjadi saksi airmata serta darah yang dikorbankan oleh manusia untuk bertahan hidup. Manusia lupa, tetapi batu-batu tidak, mereka merekam semua sejarah manusia dan menyimpannya dari satu generasi manusia ke generasi berikutnya. Ingatan batu-batu lah yang memberatimu”

“Ah… bisakah kau menghilangkan ingatan batu-batu?”

“Tidak, sejarah akan selalu diingat dan aku tak bisa menghapusnya.”

“Lalu bagaimana supaya aku tetap ringan saat aku mengunjungi hutan di malam hari?”

“Terus berjalan. Terus hidup dan bergerak”

Lalu seperti kedatangannya yang tiba-tiba, Pengembara Mimpi pergi tanpa mengucapkan salam perpisahan.

Terus hidup dan bergerak, hanya itu yang menjadi peganganku saat ini. Aku berjalan makin mendekati pusat dunia manusia, di mana batu abu-abu menghimpit setiap ruang dan menyisakan hanya sedikit udara untuk kuhirup.

Bagian Pertama – (bersambung)

Tersesat (1)

Pada suatu masa, aku pernah tersesat di dunia manusia, yang dipenuhi dengan batu abu-abu di setiap sudutnya, suasana menjadi lebih monokrom karena langit pun juga abu-abu. Namun, jika cuaca sedang bersahabat, matahari akan bekerja sama dengan baik dengan rintik hujan menghiasi langit abu-abu dengan semburat pelangi yang akan terpantul juga di seluruh permukaan batu abu-abu. Indah. Continue reading “Tersesat (1)”

Apa Ini?

Apa ini, rasa nyeri yang berjalan di ulu hati? Mengiris jantung dan hati tiap kali kau mengambil nafas, sementara untuk tetap bertahan dalam hidup, kau perlu sebanyak-banyaknya bernafas.

Bukan, ini bukan kesedihan. Aku mengenal dengan baik sedih yang membekukan tulang, menekan semua udara di kepalamu hingga telinga terasa pengang.

Bukan, ini bukan rindu yang menari-nari di lubang hati, memberikan nyeri yang geli. Rindu yang ingin membuatmu menyimpan sebanyak mungkin udara di dalam dada supaya kamu bisa terbang ke langit dan bertemu kekasihmu di langit asmara.

Bukan, ini juga bukan cinta yang membuatmu menarik senyuman di bibir hanya dengan mengingat kenangan tentang sang kekasih. Aku rasanya tak akan salah mengenali cinta dan menukarnya dengan rasa nyeri di ulu hati.

Ini bukan pula kemarahan yang ingin kuledakan di kepala; tak ada bau mesiu di rasa nyeri ini. Yang ada hanya nyeri yang merambat, berjalan dengan pongah di ulu hati, mengiris jantung dan hati tiap kali kau mengambil nafas. Meninggalkan rasa karat di lidah dan membuatmu tak nikmat makan. Memutar semua kenangan yang menyenangkan maupun yang tidak, juga memutar harapan dan imajinasi tentang masa depan, masa seandainya.

Jika saja Pengembara Mimpi mau mampir pagi ini, mungkin aku bisa bertanya kepadanya mengenai nyeri yang satu ini. Karena tak kutemukan memori sakit yang sama di sepanjang ingatanku. Pohon-pohon tempatku tinggal tak memberikan jawaban, mereka tetap saja diam dengan keangkuhan, melanjutkan hidup dan tugasnya. Daun-daun tetap bergemerisik riuh, genit menyambut sinar Matahari, bercinta dalam cahaya dan melanjutkan hidup. Tapi Pengembara Mimpi tak mampir pagi ini. Aku menggigil sendiri dalam sunyi, menahan nyeri.

Apa ini, rasa nyeri yang berjalan di ulu hati? Membuat matamu memerah oleh darah, membuatmu melihat langit selalu berwarna abu-abu.

Sesaat aku berpikir ini adalah kematian. Maut yang telah mengintai seumur hidupmu, akhirnya menemukan caranya untuk membuatmu menyerah pada gelap tanpa cahaya yang penuh nyeri. Tetapi kemudian aku ingat, bagi kaumku, kematian akan datang seperti cahaya yang membutakan. Kematian akan datang saat pagi, dengan aroma embun yang menempel pada dedaunan… terlebih bagiku, kematian akan datang dan memutar kenangan dengan bau seperti nasi yang sedang ditanak, harum membikin lapar. Kematian seharusnya menyenangkan dan lebih mudah daripada hidup dengan nyeri.

Aku mulai lagi memindai semua rasa yang pernah kukenal dan kusimpan dalam ingatan, satu persatu kubuka dan kubaui, juga sedikit kurasakan. Makin kucari, makin tak kutemukan dan makin kurasakan nyeri yang merambat makin cepat dan mencengkeram ulu hati lebih kuat. Nafasku semakin sesak dan semakin berdarah. Di mana Pengembara Mimpi? Di mana kekasih yang seharusnya menolongku karena kami telah sama-sama terikat pada Pohon Cinta sejak masa ribuan tahun yang lalu?

Betulkan ini kematian? Jikalau pun ini adalah mati, aku tak mau menyerah pada kematian yang nyeri, tidak. Aku hanya akan menyerah pada kematian yang hangat dan menyenangkan.

Ah, apa ini rasa nyeri yang berjalan di ulu hati?

Menelan Rindu

Bisakah kita menelan rindu dan kemudian melupakannya? Seperti menelan obat pahit, rasa yang ingin kau lupakan. Rasa pahit yang membuatmu ingin segera lupa pada demam asmara yang membuat panas dingin. Makan tak enak, tidur tak nyenyak… dalam mimpi pun merasakan sakit yang sama.

Bisakah kita menelan rindu seperti menelan obat pahit yang membuat sakit segera pergi meninggalkan raga?

Aku tak bisa menelan rindu. Ia telah menelanku dalam kegelapan yang dingin. Membuatku sesak karena tak melihat cahaya. Membuatku terhimpit dalam sepi yang riuh. Rindu telah menelanku dengan rakus.

Dulu, rindu memberi inspirasi. Membuat semua rasa menjadi lebih tajam dan jelas. Menjadi magnet bagi kata-kata, juga cinta. Dulu, rindu tak berbahaya. Tetapi rupanya, memelihara rindu seperti memelihara monster, yang punya bentuk menyenangkan juga lucu ketika sedang kanak-kanak, tapi akan memangsamu dengan kejam ketika ia bertambah besar. Dan kau membiarkannya menguasaimu karena kau menyukainya. Ya, aku terlanjur suka pada rindu, yang telah membuat semua rasa menjadi lebih tajam. Tapi, aku tak bisa mengendalikan monsterku.

Aku tak bisa menelan rindu, meskipun ingin menelannya seperti obat pahit yang menyembuhkan semua demam asmara ini.

Bertemu Dalam Gelap

Jika bisa memilih, aku akan memilih bertemu denganmu dalam cahaya, di bawah sinar Matahari yang hangat dengan bau segar sisa-sisa embun pagi yang masih melekat di dedaunan. Matahari yang menghangatkan kulit, membuat aliran darahmu lebih lancar di dalam otak dan membuatmu dapat berpikir dengan jernih.

Tetapi, aku telah lama hidup dalam bayang-bayang… menari dalam gelap, juga jatuh cinta pada gelap yang dingin. Aku telah terbiasa pada dingin yang membekukan darah. Tak kuperlukan sinar Matahari lagi. Jadi saat aku bertemu denganmu dalam gelap, ini menjadi pertemuan yang menyilaukan bagi mereka yang telah lupa terangnya cahaya. Termasuk aku.

Darah yang telah beku tetap saja mengalirkan hormon, reaksi cahaya di otak tetap saja terjadi, dan kupikir… aku tak bisa jatuh cinta dalam gelap kecuali pada gelap itu sendiri. Bertemu denganmu dalam gelap, membuatku tak bisa melihat apa yang akan terjadi berikutnya. Aku hanya bisa meraba dan membaui, mengendus bahaya yang mungkin saja datang bersama dirimu.

Jika kita bertemu dalam terang, pasti aku akan bisa melihat bahaya yang datang bersamamu, mengintai di balik punggungmu… memikat kegelapan dengan madu manis yang baru saja dipanen siang harinya.

Aku seharusnya bisa membaui bahaya, aku telah hafal berbagai bau madu; yang dipanen pagi hari… siang hari atau madu yang telah hampir kadaluwarsa.

Jika bisa memilih, aku akan memilih untuk tidak bertemu denganmu dalam gelap.

Bayang-Bayang Matahari

Pernahkah kamu jatuh cinta pada bayang-bayang? Tiba-tiba saja ia mengirimiku pesan pendek seperti itu. Mungkin dia sedang jatuh cinta, mungkin. Pada siapa? Atau dia masih merindukan masa lalunya?

Aku jatuh cinta pada Matahari, hangat pada jarak ini namun tak berani kudekati ia. Begitu jawabku.

Ia tak menjawabku lagi. Sepertinya, bayang-bayang sudah lewat dari pikirannya. Namun beberapa hari kemudian ia mengirimiku pesan lagi, katanya, “bayang-bayang yang mengikutimu ke mana pun kamu pergi”

Kujawab, gelap memanjangkan bayang-bayang, cobalah jatuh cinta pada Matahari. Saat ia terik, bayang-bayang tak mengikutimu.

Tapi Matahari akan membakarmu, jika kau peluk.

Tapi bayang-bayang mengganggumu, mengikutimu.

Tapi Matahari meninggalkanmu saat malam, bayang-bayang kembali padamu.

Matahari tetap ada, memantulkan sinarnya lewat Bulan.

Berarti ada pengganti, dong… mana boleh kamu jatuh cinta pada Matahari dan saat ia meninggalkanmu lalu ada Bulan yang bisa kamu pandang-pandang.

Aku tertawa, lalu kujawab ia, aku hanya mencari kata-kata yang sepadan dengan kepuitisanmu. Aku tetap jatuh cinta pada Matahari, seribu Bulan pun tak bisa mengganti satu Matahari.

Tapi tetap saja tak bisa kau peluk.

Bisakah kau memeluk bayang-bayang?

Ia kemudian diam. Lama. Bertukar pesan dengannya selalu seperti ini. Tidak ada kata pamit seperti, aku tidur dulu nanti akan kusambung lagi atau yang semacamnya. Tiba-tiba dia datang dan tiba-tiba dia menghilang. Ia selalu ada, dan membuat hangat di hati.

Benar saja, setelah menghilang berhari-hari, ia muncul lagi dengan pertanyaan. Kenapa kamu jatuh cinta pada Matahari?

Karena ia membuatku hangat. Lalu kamu, kenapa kamu jatuh cinta pada bayang-bayang?

Karena selain aku, akan selalu ada bayang-bayang selama ada sedikit cahaya. Bahkan dalam gelap yang pekat, aku tahu bayang-bayang selalu mengikutiku.

Bukan karena bayang-bayang dan kamu melakukan hal yang sama?

Itu juga. Apakah bayang-bayang punya rasa?

Apakah Matahari punya rasa?

Matahari bisa dirasa, katamu… ia hangat. Bagaimana dengan bayang-bayang?

Kali ini aku yang diam lama. Dia tak mencariku lagi sampai beberapa hari kemudian, ia mengirimkan pesan. Mungkin saatnya bayang-bayang melebur dengan Matahari.

Aku tersenyum, kamu tahu?

Aku bukan anak kemarin sore. Kamu tahu?

Aku anak malam, selalu hidup sebagai bayang-bayang. Kamu tahu?

Ya, kamu selalu mengatakan aku hangat. Tapi kenapa kamu mendiamkanku? Tak mau mendekat?

Karena kamu Matahari.

Mari kita melebur bayang-bayang dalam Matahari.

 

Pohon Cinta

Membiasakan Cinta

“Cinta adalah kebiasaan” Pengembara Mimpi mengejutkanku, tiba-tiba saja ia datang ketika aku sudah tak mengharapkan kedatangannya. Sudah lama aku berusaha menekan keingintahuanku akan Pohon-Pohon.
Cinta adalah kebiasaan, ulangnya sekali lagi, sebab Pohon Cinta dirawat oleh rutinitas kalian, para kekasih yang tak memiliki kesabaran. Yang selalu tergesa-gesa seolah Waktu tak mau menanti kalian.
“Waktu memang tak pernah memberi kami cukup waktu, siang berkejaran dengan malam, sesaat aku berada pagi dan tiba-tiba saja aku berdiri di ujung senja, menanti rindu yang bergemerisik ditiup angin malam”
Dan bagaimana rutinitas kami merawat Pohon Cinta? Tanyaku pada Sang Pengembara Mimpi; dan katamu… kami sepasang kekasih telah terikat pada Pohon Cinta sejak masa sebelum Pohon-Pohon
Ya, kalian telah terikat, kalian telah bertaut. Dan kalian punya pilihan untuk merawatnya atau memutuskan ikatannya. Rutinitas kalian, seperti saat kalian mengasah pisau, akan menajamkannya jika terus-menerus digosok dan akan tumpul jika kalian membiarkannya.
Merindukannya, seperti merawat harapan. Memupuk kenangan agar cinta tetap hidup, tetap terikat.
“Jadi, aku tetap harus merindukannya? Kekasihku itu?”
“Keputusanmu. Cinta adalah kebiasaan… cinta tidak datang begitu saja. Dalam bahasa yang lebih tua daripada bahasa bangsamu, jatuh cinta disebut pyar ho gaya, yang diartikan, cinta akan terwujud”
Kalian telah terikat tetapi kalian bisa memutuskannya jika tak mewujudkan cinta.
“Kurasa, aku memahami kata-katamu yang berbelit-belit”
Pengembara Mimpi tertawa, “kalau begitu aku akan meninggalkanmu di sini… untuk saat ini”
“Tapi kau belum bercerita soal Pohon-Pohon”
“Akan tiba masanya, sampai jumpa”
Lalu ia pergi begitu saja, dengan tiba-tiba seperti kedatangannya. Kurasa, aku mulai terbiasa menunggu Sang Pengembara Mimpi.

Zara: Cerita Ngelantur (1)

“Rasa rindu ini seperti lapar yang tiba-tiba hilang saat pesanan makanan tiba di meja. Padahal, saat tiba di restoran itu kamu lagi laper banget, kalap perut, kamu memesan banyak hidangan dan ujung-ujungnya, sisa makanan dibungkus dibawa pulang, tapi sudah tak nikmat lagi”

Aku terbahak, analogi yang kacau, tapi tak urung aku menanggapinya, “seperti memesan di Pizza Hut?”

“Betul sekali, kakak! Ya kan? Rasanya, ketika masuk kamu akan sanggup makan banyaaaaaaak sekali, tetapi ketika pizza kamu datang, dengan roti tebal dan keju segala macam, kamu malahcuma bisa makan sepotong”

”Aku bisa kok makan tiga potong”

”Tetap saja, nggak bisa makan banyak. Ih, kok jadi bahas pizza sih?”

”Kamu yang memulai dengan analogi ngawurmu itu” Aku tertawa lagi, kawanku Maya ini bisa sangat berapi-api jika bicara soal cinta dan makanan. Apalagi soal cinta pada makanan. Dari semua temanku, hanya cewek ini yang sangat berambisi makan, dia rela untuk berpanas-panas ria di siang bolong, dari Jakarta menembus kepadatan tol Cikampek menjelang akhir pekan, untuk sekedar makan pepes di Karawang. Hanya dia, manusia yang kukenal, yang mendedikasikan hidupnya untuk makan.

”Itu bukan sekedar pepes, Ra. Pepes itu adalah, pepes ikan terbaik di seluruh negeri,” katanya waktu kuledek dia habis-habisan soal berburu pepes, ”rasanya seperti masuk surga pepes”

Ah, dia hanya melebih-lebihkan saja. Aku tahu, sebenarnya dia agak kecewa, pepes yang diperjuangkannya itu tak seenak yang dia bayangkan, dan dia menutupinya dariku, karena kalau aku tahu yang sebenarnya, ia pasti akan kuledek lebih kejam lagi.

Tapi itulah temanku. Dengan segala obsesinya pada makanan, terutama makanan kaki lima. Dan dia adalah teman yang termanis yang aku miliki saat ini. Mengingat dua temanku yang lain, yang sekiranya bisa untuk kujadikan sandaran, sedang tidak ada di dekatku. Yah fisiknya tak ada di dekatku. Vega masih di Paris mengikuti suaminya tercinta. Sementara Aimee, sekarang tinggal di Hong Kong, hidup bahagia bersama Nathan anaknya, keponakan kecilku, dan ABC, bapak si Nathan dan partnernya yang desainer, daaaan… dengan suami barunya, Dion. Iya, akhirnya dia menikah dengan Dion. Akhir bahagia untuk semua orang.

Semua orang kecuali aku. Setelah tahun-tahun bahagia yang kami lalui, aku berpisah dengan Chandra. Belum bercerai secara resmi, tapi kami sudah berpisah. Aku masih selalu merindukannya, sementara ia… entahlah.

Setiap kami bertemu, hendak membicarakan perceraian kami, dan dari sisiku untuk menuntaskan rasa rindu, setidaknya aku bertemu dia lagi; tiba-tiba saja rindu itu menguap entah ke mana. Itulah yang dibahas Maya sejak tadi. Rindu yang mendadak hilang seperti rasa lapar yang mendadak menguap.

Aku mendesah. Setelah tahun-tahun berlalu, ternyata aku tak pernah berubah. Kukira, aku bisa lebih dewasa, lebih bisa mengendalikan diri dan tidak mudah gelisah. Tapi ternyata, tetap sama saja. Aku masih Zara yang gelisah, ribet sendiri dan gitulah. Masih gitu-gitu aja. Mungkin ini sebabnya aku dan Chandra tidak lagi bersama. Sungguh, aku ingin berubah juga. Aku sudah menahan-nahan kegelisahanku, kekosongan yang merenggutku dari dalam, tapi rupanya aku tidak cukup dewasa untuk memenangkan peperangan karakter dari dalam diriku.

”Jangan dilawan, Ra. Kamu tak seharusnya berubah. Manusia tidak ada yang berubah” Maya suatu saat menasihatiku.

”Berubah ke arah yang lebih baik pasti ada, deh May”

”Ah, seperti memasak. Kamu tidak boleh merubah rasa bahan makanan untuk menjadikannya hidangan yang lezat, tapi kamu mengeluarkan rasa terbaiknya agar rasa itu memberi compliment pada bahan makanan yang lain, dan itulah masakan yang selaras… tidak ada bahan yang dirubah, tapi semua bekerja sama menciptakan harmoni rasa yang luar biasa. Bahkan, rasa pahit pare pun bisa jadi pahit yang enak kalau kamu tahu bagaimana menyelaraskannya dengan bumbu-bumbu”

Ya, Maya dan obsesinya pada makanan. Kadang bisa sangat menghibur, tapi tak jarang malah bikin dongkol, karena sok iya banget gitu. Seriously, May? Karakter manusia berbanding sama dengan karakter bahan makanan? Dan aku tahu, dia pasti akan menguliahiku soal filosofi makan, filosofi memasak… bla bla bla… yang sebenarnya mencerminkan keseimbangan dunia ini. Maya menganut paham, makanan yang paling nikmat adalah makanan dengan rasa seimbang. Embuh apa yang dimaksudnya dengan seimbang itu. Setiap kali dia memperkenalkan makanan yang enak, ya aku cuma bisa merasa enak atau tidak. Sementara Maya dengan lidahnya yang peka, akan mulai menganalisa ini itu. Menghibur, sekaligus menyebalkan.

Dengan obsesinya pada makanan, orang banyak salah mengira dia sebagai chef, tapi bukan. Maya itu sama seperti aku, dia sales manager di Meridiantex Jakarta. Latar belakang sekolahnya serius, teknik tekstil. Dia bisa serius sekali membahas soal chemical, pola tenun dan rajut. Tapi memang, dia paling terlihat antusias saat membahas soal makan.

Aku langsung cocok dengan Maya saat pertama bertemu dengannya. Gayanya yang eksentrik, dan pribadinya yang hangat, tapi juga mulutnya tajam, aku seperti bertemu teman lama. Dan jangan salah, meski terobsesi pada makan, Maya sama sekali tak bermasalah dengan berat badan. Dia bahkan lebih langsing daripada aku! Nggak adil. Padahal dia kerjanya makan melulu. Saat kutanya apa rahasianya, dia bilang, ususnya pendek, setiap kali selesai makan dia langsung buang air besar, jadi makanan tak pernah sempat diam lama di tubuhnya, sebelum berubah jadi lemak sudah keburu keluar. Bahkan pernah suatu saat, ketika kami sedang asyik makan, dia berhenti di tengah makan, ke toilet lalu kembali meneruskan makan. Jorok. Maya itu manis, keren, pintar, menyenangkan… tapi tak ada yang sempurna, dia juga jorok. Bukan jorok yang kusam kumal, tapi ya itu… kok bisa dia b.a.b di tengah-tengah makan, lalu melanjutkan makan. Kok nggak terbayang-bayang gitu. Ih!

Tengah Malam

Aku melabeli diriku, mahluk nocturnal. Otakku baru bisa berpikir setelah matahari terbenam dan lelah menyapa ketika matahari terbit. Dan di saat kalian terlelap dalam fase tidur terdalam, saat itulah otakku mulai menggila.
Aku tidak terlahir nocturnal, seperti Burung Hantu, misalnya. Menjadi mahluk nocturnal adalah hanya persoalan kebiasaan. Tapi masalahnya, kebiasaan bisa memicu terjadinya evolusi.
Aku telah berevolusi menjadi mahluk nocturnal. Berkawan dengan Burung Hantu, padahal aku belum pernah melihat Burung Hantu selain di gambar.
Ken selalu bilang, “kamu kebanyakan istilah, Ga… nocturnal atau insomia?”
“Kamu yang salah beristilah, aku bukan insomnia…aku memang lebih menyukai malam hari untuk berpikir, rasanya kalau aku berpikir di siang hari, sinar matahari mengacaukan otakku”
Kemudian, Ken membantahku lagi dan kami kemudian berdebat mengenai istilah. Dalam satu hal, aku setuju dengan Ken, menggunakan istilah tidak selalu akan membuat kami nampak pintar, malah sebaliknya kalau istilah itu digunakan secara salah kaprah. Tapi itu bukan berarti aku tidak akan menggunakan istilah sama sekali. Toh, bahasa adalah rasa, ia memicu makna yang telah kami pahami sebelumnya. Kami tak lama berdebat, karena lebih menyenangkan bercinta dengannya daripada berdebat.
Malam selalu memberi rasa kosong yang luas, yang bisa kuisi apa saja, kataku suatu ketika pada Ken. Itu sebabnya aku mencintai malam. Aku bercakap-cakap dengan roh para orang yang sedang terlelap, mencuri mimpi dan imajinasi.
Bahkan, jika boleh memilih akan jadi apa aku di kehidupan mendatang, mungkin aku akan mengajukan diri untuk menjadi peri malam. Merawat malam agar tetap dingin, sunyi, dan kosong.
“Kamu memang aneh”
“Mungkin, tapi sebenarnya kita hanya berbeda”
“Setiap orang berbeda, tetapi tidak semua orang aneh”
Ah, itu hanya soal sudut pandang.
Tahukah kamu, hanya malam yang selalu menyampaikan rinduku padamu.
Kamu berlebihan, malam hanya keadaan saat matahari berada di sisi lain bumi, hanya itu.
Ya, bukankah tadi kubilang, sinarnya yang terik mengacaukan otakku dan kata-kataku?
Ah…
Dan kami berkata-kata lagi lewat mata, juga rasa… tak lagi perlu mengeluarkan bunyi untuk menambah kegaduhan.
Bukankah sebenarnya kami saling melengkapi? Kekasihku yang hidup di belahan lain bumi yang baru saja memulai pagi, adalah mahluk pagi, dan aku mahluk malam. Kami bertemu di langit pada waktu yang sama.