Million Lights

Almost midnight when the plane taking off, and outside I can see million lights of your city. In few seconds, I completely flying over your city. There one light among those million is yours; you and your lover now. I still feel cold pain slicing my left chest spreading to my back whenever I remember you. I couldn’t help it. I should able to stop to think about you by now but every second, memories flooding and reminds me of you. The harder I tried, the more it keep coming back.

Continue reading “Million Lights”

Sayangnya Kita Tak Saling Jatuh Cinta

Kami saling menyukai. Tentu saja, jika tidak kami tidak akan berteman sebaik ini. Bahkan boleh dibilang, dia adalah salah satu teman terfavoritku pada saat ini.

Kami bercakap-cakap sejak mata terbuka, mengucapkan selamat pagi dan semoga hari yang akan dilalui memberikan kesenangan. Lalu seharian kami akan bersaing membuat yang lain ketawa; saling menertawakan dan tertawa bersama.  Continue reading “Sayangnya Kita Tak Saling Jatuh Cinta”

Menguping Rahasia

Ia menatap karibnya yang resah, lama sebelum akhirnya ia berkata, “jadi kamu masih rajin mengikuti perkembangan si anu?”

“Iya, “karibnya berkata lirih, agak malu-malu. Ada rasa bersalah, tapi juga sebersit pembenaran, apa salahnya?

“Katanya kamu sudah diblok dari semua sosial medianya?”

Kali ini dia benar-benar salah tingkah karena malu, “aku buat akun baru, anonim… aku mengikutinya akun dia dan pacar barunya.” Continue reading “Menguping Rahasia”

Peri Hutan

Pernahkah kuceritakan kepadamu mengenai kolam di Hutan? Kolam tempat Lotus, Lily dan seribu bunga lain tumbuh? Kolam tempat kami para jiwa, bergelayut terikat pada pohon kami masing-masing. Saat malam hari, kami akan memandangi air kolam yang seperti cermin memantulkan langit penuh bintang. Saat siang tiba, udara dingin naik dari permukaan kolam, menyejukan jiwa yang terikat makin erat pada pohon-pohon kami. Continue reading “Peri Hutan”

Dari Balik Jendela (1)

Dunia melihat kehidupan kami mendekati sempurna. Beberapa kawanku bahkan menyatakan secara langsung bahwa mereka iri dengan kehidupan yang kupunyai sekarang. Tentu saja, mereka menyatakannya dengan cara bercanda, malah kupikir pernyataan itu bentuk rasa sayang mereka terhadapku, jadi aku tak merasa marah atau pun kesal.

“Seneng ya, setelah sekian lama menunggu jodoh, akhirnya kamu ketemu jodoh yang betul-betul luar biasa, ya ganteng… ya mapan… dan sayang sama kamu”

“Syukurlah,” biasanya aku hanya menjawab begitu. Continue reading “Dari Balik Jendela (1)”

Tersesat (11)

”apakah kamu pernah mendengar tentang jatuh cinta?”

Adalah Pengembara Mimpi yang selalu menumbuhkan harapanku akan kekasih jiwa yang tersesat dan memerlukan kunang-kunang untuk menunjukkan arah mereka agar bertemu kami para jiwa di hutan-hutan. Sementara, kunang-kunang mendapatkan cahayanya dari harapan kami yang tersimpan pada pohon cinta. ”Semua hal, memiliki kaitannya, semua hal terikat satu dengan yang lainnya,” demikian Pengembara Mimpi memberitahuku. Sementara itu, ia juga terus menceritakan mengenai Dunia Manusia. Aku semakin ingin mengunjunginya.

”Jalan kembali akan lebih sulit dibandingkan perjalanan pergi,” begitu katanya. Aku gentar, tetapi tak ingin mundur. Sudahkah kukatakan kepadamu, bahwa aku ingin menemukan apa yang tak pernah kutemui di hutan?

”Ya, apakah kamu sudah menemukan apa yang kamu cari?”

Aku tersenyum; kamu yang berbau harum seperti kayu manis, juga beraroma cendana, aku belum pernah menemui yang seperti kamu di hutan.

Sepanjang hidupku di huutan, aku terikat pada Pohon Cinta, menunggu kekasih jiwa untuk segera datang, agar ikatan itu tak terasa menyesakkan. Aku mempunyai teman untuk berbagi. Aku menemui banyak hal di dalam hutan, hanya bukan kekasih jiwa.

”Karenanya kamu datang ke Dunia Manusia?”

Tidak juga. Tapi kupikir, kekasih jiwaku tak akan pernah datang. Harapanku tak cukup besar untuk membuat kunang-kunang bersinar terang. Aku tak ingin terikat selamanya pada Pohon Cinta di Hutan. Aku hanya ingin melihat hal yang lain. Aku telah menukarkan tali merah yang kupunya untuk memasuki Dunia Manusia. Jika kekasih jiwa kutemui di dalamnya, itu hal yang baik, meskipun aku tak yakin apakah aku akan mengenalinya tanpa tali merah yang mengikatkan kami. Terpisah dengan Pohon tempat kami tinggal, mengaburkan semua pengetahuan kami, tergantikan dengan pengertian yang lain. Cinta jadi tak kupahami di Dunia Manusia.

Kami mengenal cinta.

Tentu saja, kaumku juga mengenal cinta.

Lelaki Kayu Manis menatapku lalu menghela nafas, ”apakah kamu pernah mendengar tentang jatuh cinta?”

Nenek kami, selalu bercerita mengenai cinta saat senja datang. Saat api pertama mencium kayu-kayu kering yang kami kumpulkan untuk menghangatkan badan kami, ia akan memulai kisah-kisahnya dengan nyanyian yang menyayat hati. Karena sejak aku kanak-kanak, aku telah memahami bahwa cinta adalah hal yang sangat indah sekaligus memilukan, terutama bagi mereka yang terlahir sebagai pengembara. Cinta antara Nenek buyut kami kepada Kakek kami sang pengembara, membuatnya haru meninggalkan tanah kelahirannya, membawa qahwa bersamanya dan menumpahkan darah ayahnya.

Aku menghirup aroma cendana. Mungkin, cinta juga beraroma seperti cendana, kataku.

Mungkin, cinta adalah jiwa yang tersesat dan beraroma segar seperti embun pagi.

Mungkin saja, cinta telah saling menemukan.

Cerita Tersesat sebelumnya.

Patah Hati (1)

Maya memberitahu semua orang yang mau mendengarkan, bahwa dia sedang patah hati. Seolah-olah semua orang harus ikut menanggung kepedihan hatinya, dukacitanya. Seolah-olah dunia sekitarnya yang harus bertanggung jawab karena ia patah hati. Tak peduli di mana pun, kapan pun… dua bulan terakhir ini, topik pembicaraan bersama Maya hanya seputar patah hati.

“Kurang ajar betul laki-laki ini, berani-beraninya dia bikin gue patah hati ya?!” katanya padaku suatu ketika. Entah untuk yang ke-berapa kalinya. Sungguh, aku mulai merasa ikut patah hati bersama Maya. Maksudku, tadinya aku hanya merasa simpati, turut bersedih bersama Maya, aku menghiburnya. Namun sekarang, keadaan mulai berbalik seolah-olah bukan dia yang patah hati tapi aku, dan Maya yang sedang mendukungku dengan memaki-maki laki-laki yang membikin aku patah hati. Sungguh, aku jadi merasa ikut frustasi dengan keadaan ini.

“Kok dia bisa gitu ya, May?” aku menanggapinya dengan sedih. Ya Tuhan, aku bahkan belum mengenal laki-laki ini! Sebelum sempat memperkenalkan laki-laki terbarunya ini pada kami, tiba-tiba saja Maya mengumumkan kalau dia patah hati. Lho, kapan jatuh cintanya?

Konon mereka bertemu secara tidak sengaja, suatu pertemuan yang dirahasiakan bagaimana terjadinya oleh Maya, ”ini bener-bener random deh… dia ini bukan tipe aku sama sekali, dan kami betul-betul bertemu sebagai teman”

”Kalian dikenalin?” tanyaku waktu itu.

”Nggak penting deh, Ra… pokoknya secara random… pertemuannya pun absurd!”

Aku seketika juga merasa absurd. Berbicara dengan Maya harus memiliki kesabaran. Sebaiknya memang memancing dia bercerita dengan makanan, seperti kalau kita melatih binatang sirkus, kalau kita mau hiburan maka berikanlah Maya harapan untuk makan enak, setelah sepiring nasi Kapau di kantin gedung sebelah yang rasanya merupakan Nasi Kapau terbaik di kavling gedung-gedung perkantoran sini; barulah Maya mau bercerita lebih banyak mengenai pertemuan mereka.

”Sempurna banget ya Nasi Kapau ini… Berasnya pasti diimpor dari Sumatera Barat sana deh Ra. Sama seperti beras Basmati yang memang paduan paling betul untuk masakan India yang berkuah santan kari, beras Solok yang panjang dan kering memang paduan sempurna kuah santan yang kental dengan rasa rempah… saling melengkapi ya… kalau berasnya pulen dan basah, pasti kurang sedap, karena perpaduannya akan bikin soggy. Nasi pulen begitu cocoknya ya sama ayam penyet, setuju kan kamu?”

Aku menarik napas panjang, harus sabar sebelum Maya bercerita tentang laki-laki yang membuatnya patah hati. Biarkan ia mengoceh soal makanan dulu. Makan bersama Maya, seperti sedang syuting acara makan-makan, seperti seorang ahli, ia akan menganalisa dan menjelaskan semuanya. Aku tak pernah pasti, apakah Maya benar-benar tahu atau ia hanya sok tahu saja mengenai semua cerita makanan itu.

”Kamu tahu Ra, yang bikin warung kapau ini lebih enak dibanding semua warung di sekitar sini?”

”Murah!”

”Selain itu!”

”Paling deketlah sama kantor kita, abangnya juga udah kenal jadi cepet dilayaninnya”

”Itu juga sih, tapi yang paling penting adalah konsistensi kuah santannya! Semua kuah santan di warung ini sangat sempurna. Beneran deh, nggak keenceran atau terlalu kental. Dan kuah gulainya ini tepat sekali rasanya, creamy tapi selapis di bawahnya ada rasa pedas cabai… jenius mana yang bisa menyembunyikan rasa cabe di balik santan yang tidak pecah seperti ini… belum lagi kalau makan dirames, semua kuah-kuah itu disiram di atas nasi, campur aduk wangi daun kunyit dari kuah gulai ikan, tapi terasa asam padeh karena kuah kikil dan pedas di lidah dari kuah gulai ayam… luar biasa ya…”

Aku hampir putus asa, kapan ia akan cerita soal laki-laki yang membuatnya patah hati?!

”Menemukan rasa yang tepat itu seperti jatuh cinta, ya kan?”

Ini dia! Aku harus menanggapi yang ini, ”iya betul… semua rasa muncul jadi satu kan, May?”

”Sedih, senang, rindu, bahagia…”

”Patah hati…”

bersambung

Lelaki Kayu Manis (2)

Aku, terutama menyukai pohon kayu manis, pohon yang rela kukupas tiap lapisannya, dan kubawa dalam lipatan baju. Kayu manis agar semua jiwa menyukaimu.

Pada saat aku masih muda, dan belum mulai menyeberang ke dunia baru, aku pernah bertanya pada nenek kami, ”seperti apa mati?”

Nenek memandangku dengan matanya yang kelabu dan selalu tertutup kabut tua, yang membuatnya seperti tak pernah melihat kami dengan sungguh-sungguh. Namun, ketika memandangku, kabut di matanya memudar dan dengan jernih aku dapat memastikan bahwa ia sedang menatapku dengan seksama, ”seperti apa mati? Aku juga sering menanyakannya pada diriku. Aku sudah tua, melihat ribuan kali Matahari terbit dan menyaksikannya tenggelam, dan sepanjang hidupku, aku telah bertanya seperti apa mati.”

”Nenek tahu segalanya! Jelaskan padaku, aku tak akan menceritakannya pada orang lain. Aku janji.”

”Pertama-tama, Nak, aku tak mengetahui segalanya. Sebagai pencerita, aku memang memiliki pengetahuan yang harus dimiliki pencerita, tetapi bahkan batu abu-abu di dunia yang baru pun tak kuketahui dengan pasti bagaimana mereka menyimpan ingatan jiwa-jiwa. Bagaimana mereka bergerak dalam bayang-bayang. Yang kuketahui hanyalah, batu-batu itu menyimpan rahasia kehidupan di dunia baru karena mereka tak pernah melupakan,” nenek menghela nafas, lalu ia melanjutkan, ”kedua, pengetahuan tentang mati tak pernah diberikan pada manusia, hanya Sang Waktu yang memegang kunci pengetahuan itu. Dan belum pernah ada yang kembali dari dunia orang mati, untuk menceritakan seperti apa mati.”

Setelah dewasa dan melewati maut beberapa kali di laut purba yang memisahkan kedua dunia, aku memahami bahwa maut menjemput dengan berbagai rasa. Namun mati itu sendiri, belum kumengerti.

Aku telah mencium maut yang terasa manis dan beraroma embun pagi. Ketika saling melepaskan diri, kulihat matanya berkilau lagi, ”senang bertemu denganmu, orang asing, kamu berbau seperti kayu manis dan cendana, siapa namamu?” tanyanya padaku, suaranya jernih dan nyaring seperti lonceng bergemerincing. Dan ia mengenali aroma dunia kami, tempat pohon – pohon rempah hidup membagikan rahasianya kepada kami. Aku, terutama menyukai pohon kayu manis, pohon yang rela kukupas tiap lapisannya, dan kubawa dalam lipatan baju. Kayu manis agar semua jiwa menyukaimu. Jiwa yang ini, telah tersihir juga oleh kayu manis. Jiwa yang beraroma embun pagi, kehidupan yang baru.

”Dari mana asalmu?” tanyanya lagi dengan seuara bergemerincing.

”Aku berasal dari negeri tempat para dewa menurunkan semua rempah-rempah. Gaharu dan cendana tumbuh di halaman belakang rumahku, aku bermain bersama pala dan kayu manis sebelum aku bisa mengeja kata-kata, kamu dari mana asalmu?”

”Tempat semua jiwa terikat pada pohon-pohon untuk hidup”

Aku memandang ke kedalaman ingatan yang tampak di matanya, aku ingin mencuri ingatannya namun aku malah membagi ingatanku dengannya. Beginikah bertemu dengan jiwa tua? Apakah ada pengembara sebelumku yang bertemu dengan jiwa yang tua?

Bagian dari Tersesat

Mati

Mati dengan ingatan penuh akan dia dan tanpa sempat menyampaikan pesan, aku rindu.

Siang ini, aku mengingat siang itu, hujan badai namun kita penuh tawa, membicarakan ketakutan yang berawal dari pertanyaan tentang mati.

“Pernahkah kamu membayangkan caramu mati?” tiba-tiba aku ingin bertanya seperti itu padanya.

Kami sedang duduk memandang hujan badai dari jendela kaca besar di apartemennya. Langit gelap seperti akan runtuh, beberapa kali jendela-jendela kaca bergetar karena suara guntur yang menggelegar.

“Pernahkah kamu membayangkan caramu mati?” ulangku.

“Nggak, aku selalu membayangkan bagaimana bertahan hidup”

Aku tersenyum, “kalau orang lain dengar, mungkin mereka akan menganggap kamu ini sangat positif”

Ia tertawa, lalu bertanya, “apa ketakutanmu? Takut gelap?”

Aku menggeleng, “tapi mungkin ya juga, aku mungkin takut gelap… tapi selama ini aku belum pernah takut pada gelap”

“Binatang?”

“Oh, mungkin aku takut ular… takut sama buaya juga, kadang aku juga takut digigit laba-laba beracun”

Ia tergelak, “laba-laba beracun?” lalu terbahak lagi, “di Jakarta ada laba-laba beracun?”

“Ck! Ya siapa tahu ada tarantula peliharaan siapa gitu lepas… ya namanya juga mencari-cari rasa takut. Ya sepertinya masuk akal kalau aku takut digigit laba-laba beracun”

“Ada lagi ketakutan yang lain?”

“Nggak punya uang?”

Ia tertawa. Lalu memandangku dengan senyum lebar, aku mengamati wajahnya yang maskulin, persegi; rambut-rambut kasar jenggotnya mulai tumbuh membingkai mulut yang sepertinya selebar rahangnya, tertarik lebar memperlihatkan barisan giginya yang rapih. Oh, gigi taringnya yang sebelah kanan agak miring sedikit, dan dua gigi depannya lebih besar seperti gigi kelinci, tapi secara keseluruhan, giginya rapi, dan senyumnya yang memperlihatkan gigi yang membuatku tak bisa bernafas ketika pertama kali kami bertemu.

“Kalau kamu, apa ketakutanmu?”

“Aku takut gelap”

“Oh ya? Masa? Kok kamu nggak pernah bilang?”

“Kamu nggak pernah tanya”

“Kan kita selalu tidur dalam gelap, dulu kutanya, kamu mau lampunya dinyalakan atau dimatikan saat kita tidur, kok kamu nggak bilang kalau kamu takut gelap?”

“Karena kamu nggak bisa tidur dengan lampu menyala, jadi aku mengalah saja, toh aku bisa memeluk kamu kalau aku takut”

“Ah… kalau gitu sekarang kita tidur dengan lampu menyala”

“Kamu nggak mau kupeluk kalau aku takut?”

“Oh iya, kalau gitu, kita matikan lampunya sekarang!”

Ia terbahak, “tapi memang takut gelap ini ketakutan yang cemen banget ya, nggak jantan”

“Kayak Batman!”

“Sayang, Batman klaustrofobia…”

“Oh… iya ya, dia kan kejebur sumur ya?!”

Ia terbahak-bahak, lalu mengusap ujung matanya, “entah kenapa, siang ini kamu lebih lucu dari biasanya… dan membicarakan rasa takut, menjadi tidak begitu menakutkan lagi”

“Mungkin karena di luar hujan badai”

“Lalu?”

“Iya, ketakutan kita sudah jadi petir dan guntur di luar sana… ketakutan kita seperti awan gelap yang jatuh sebagai hujan, lalu lenyap… setelah ini, adalah langit biru. Tidak ada ketakutan lagi”

Ia menciumku, “tidak ada ketakutan lagi,” katanya.

Tidak ada ketakutan, namun ada perpisahan.

Siang ini, ratusan hari sejak waktu itu, aku melihat hujan yang deras turun di halaman. Membasahi daun-daun tanaman sri rejeki yang tumbuh subur. Sendiri. Mengingat dia, terus menerus memutar berbagai kenangan kami. Detik berikutnya, bulu kudukku meremang, aku merasa takut karena tiba-tiba membayangkan mati tertabrak ketika menyeberang jalan saat hujan. Darah membanjir, dan air hujan membuatnya lebih encer sehingga darah lebih cepat mengalir habis keluar dari tubuh. Mati dengan ingatan penuh akan dia dan tanpa sempat menyampaikan pesan, aku rindu.

Untuk kamu, saat kupikir ini semua telah berlalu.

Garis – Garis Zebra

Zebra kecil menggerutu pada ibu Zebra, “mengapa aku dilahirkan sebagai zebra, bergaris-garis! Kita semua memenuhi padang dengan garis-garis yang sama! Bagaimana aku bisa dikenali kalau aku memiliki garis yang sama dengan garis – garis zebra yang lain?”

Ibu Zebra tersenyum meringkik, ”apakah kamu mengenali ibu? Bisa membedakan ketiga bibimu?”

”Ya tentu… aku mengenali ibu, juga para bibi. Aku selalu bersama kalian, aku hapal garis-garis kalian, aku melihatnya setiap hari! Tapi… tetap saja, manusia penjaga padang tak bisa mengenali aku”

”Manusia tak pernah melihat dengan seksama, mereka hanya melihat apa yang mata mereka ingin lihat saja, itu sebabnya mereka tak mengenali kita,” Ibu Zebra kemudian berlalu dan berderap menuju kolam minum.

3 Bibi Zebra

Lama Zebra kecil merenungi jawaban Ibu Zebra, lalu melihat kepada ketiga Bibi Zebra. Mengamati bentuk garis-garis mereka yang sama namun berbeda lekuk. Tiba-tiba saja, seperti ada pintu yang membuka di kepalanya. Kini Zebra kecil mengerti maksud ibunya.

Terus Terbang

image

Kupu-kupu Biru terbang melintasi nebula ungu dan awan kelabu hingga tiba di tepi hutan kebijaksanaan. Bunga-bunga gemulai berjajar berjaga di tepi hutan, Kupu-kupu Biru bertanya, “ooo Bunga, mengapa kalian yang menjadi penjaga? Tidakkah hutan yang agung memiliki tanaman lain yang lebih perkasa untuk menjaganya?”

image

Bunga-bunga gemulai bernyanyi, “ooo Kupu-kupu, keperkasaan tak selalu berarti mampu menjadi penjaga dan kami yang kau kira lemah tak mampu menjaga. Kami bisa membuatmu mati dalam sedetik jika kami berikan racun padamu, bukan sari untuk penghilang dahagamu. Ooo Kupu-kupu… teruslah terbang ke dalam hutan dan temukan kebijaksanaan.”

image

Kupu-kupu terus terbang dan bertemu Harimau lapar yang menyeramkan, diam dalam ketekunan, “ooo Harimau sang raja, apakah kau sedang diam mengintai mangsamu?”
Harimau menggeram, dan berkata, “aku sedang menunggu mati. Untuk apa aku sabar mengintai mangsaku dan lelah memburunya jika pada akhirnya kita semua memang akan mati? Ooo Kupu-kupu… teruslah terbang ke dalam hutan dan temukan kebijaksanaan.”

image

Dengan tergesa, Kupu-kupu terbang menjauh, terus masuk ke dalam hutan dan bertemu Koi yang berenang dengan riang di dalam kolam lotus, “ooo Koi yang cantik, tidakkah kau bosan melenggak-lenggok sepanjang hari di dalam kolam? Apakah kau tidak ingin berenang di samudera dan melihat dunia?”
Koi terkikik genit dan menyelinap lincah di antara bunga lotus, lalunmenjawabnya, “untuk apa aku ingin melihat dunia jika yang kucari semua telah berada di sini? Dan bagaimana aku bisa bosan jika aku berbahagia? Ooo Kupu-kupu… teruslah terbang ke dalam hutan dan temukan kebijaksanaan.”

image

Kupu-kupu meninggalkan Koi, terbang makin jauh dan di sudut hutan yang lain, ia bertemu Merak perkasa yang kecantikannya menyilaukan, hingga membuat sayap Kupu-kupu ikut berwarna dengan gemilang, “ooo Merak yang anggun, bagaimana mungkin kejantanan bisa begitu cantik? Apakah kau tak keliru lahir?”
Merak memalingkan kepalanya dengan anggun, “tidakkah kecantikan adalah keperkasaan? Dan untuk apa harus menjadi benar atau salah jika benar dan salah tak selamanya benar dan salah? Ooo Kupu-kupu… teruslah terbang ke dalam hutan dan temukan kebijaksanaan.”
Merak kemudian mengibaskan ekornya dengan anggun dan cahaya yang membuat sayap Kupu-kupu gemilang pun sirna.

image

Kupu-kupu terus terbang, makin jauh ke dalam hutan yang makin pekat. Lalu tiba-tiba saja ia tiba di padang bunga-bunga, dan bertemu sesamanya, Kupu-kupu. Dengan girang ia mengepakkan sayapnya mendekat pada mereka yang terbang menuju pelangi, mengatasi awan-awan, “ooo Kupu-kupu yang berwarna-warni… di manakah akan kutemukan kebijaksanaan? Sudahkah kalian menemukannya?”
Sayap kupu-kupu berkelepak dengan riuh, “oh… kami bertemu kebijaksanaan sepanjang waktu, dalam setiap pertanyaan, bahkan yang tak memiliki jawaban. Juga saat kami berhenti bertanya. Ooo Kupu-kupu… teruslah terbang, setiap kepak sayapmu adalah kebijaksanaan, saat berhenti pun kau akan menemukannya, dengarkan saja hembusan angin. Ooo Kupu-kupu… teruslah terbang.”
Dan Kupu-kupu Biru terus terbang.

Lelaki Kayu Manis

Pendongeng menceritakan rahasia langit kepada mahluk tengah, sementara Pengembara, hanya bisa melintasi laut dan menjelajah dunia baru untuk menemukan jiwa-jiwa yang telah melintasi hutan dan memanen ingatan mereka tentang hutan.

Sudah berkali-kali aku melintasi tebing berbatu yang berpunggungan dengan laut purba, yang memisahkan dunia lama dan dunia baru. Nenekku pernah menceritakan kematian yang berada di laut purba ketika aku masih kanak-kanak, dan seperti kebanyakan laki-laki yang dilahirkan sebagai pengembara, kami bukannya jeri mendengar kengerian yang digambarkan oleh Nenek, namun malah berjanji untuk menaklukannya suatu hari nanti.

Pengembara, menyeberangi laut purba dengan gagah berani. Mengayuh jauh meninggalkan dunia lama dan memasuki dunia baru, ketika daratan penuh harapan itu telah nampak di depan mata, mereka lena. Sebagian mati terhisap lubang neraka, sebagian lagi mati mengikuti nyanyian duyung. Tak sedikit juga yang mati karena bahagia. Mati begitu saja, berhenti berdetak ketika melihat harapan.

Aku tak bisa membayangkan mati begitu saja, namun kemudian aku memahaminya ketika menyeberang untuk ke sekian kalinya aku bertemu duyung yang menyanyi sendu. Hampir saja aku lena dibuatnya, mengikuti suaranya masuk ke dalam dunia bawah yang tak kami ketahui seperti apa keadaannya, sebab belum pernah ada yang kembali dari kematian. Ketika aku lepas dari nyanyian duyung, dan tersadar bahwa tujuanku adalah pantai harapan di depan mata, aku seperti meledak dalam rasa senang. Aku tahu sekarang, bahwa pengembara mudah meledak oleh rasa; sejak itu aku paham bahwa pengembara tak boleh memiliki rasa. Aku berusaha menjelaskannya kepada sesame pengembara dari dunia kami, untuk menghindari semua rasa agak mereka tak mati begitu saja, namun mulutku terkunci dan aku melupakan semua yang kutahu. Ketika aku mengurungkan niatku untuk mengungkapkan kebenaran, ingatan tentang rasa dikembalikan padaku. Aku belajar satu hal lagi, untuk menyimpan rahasia laut.

Bukit kapur di punggung laut, adalah tempat yang paling sering kudatangi di dunia baru. Meskipun demikian, aku tak pernah mengenali batu-batunya dengan baik. Dunia yang baru ini selalu berubah setiap kali aku kembali menapakinya. Aku tak pernah menemukan susunan batu yang sama. Nenek kami tak bisa memberitahuku, mengapa demikian keadaan di bukit kapur, karena ia belum pernah menginjakkan kakinya di dunia baru. Ia adalah seorang pendongeng, yang tumbuh besar bersama Bintang- Bintang yang membisikkan beberapa rahasia langit, untuk diceritakan kepada kaum tengah. Aku tak bisa menceritakan apapun mengenai dunia baru kepada Nenek kami, supaya ia bisa menceritakannya lagi kepada pengembara-pengembara muda, aku pengembara bukan pendongeng. Mulutku akan terkunci jika aku menceritakan rahasia.

Kali ini, bukit kapur nampak lebih abu-abu dari biasanya. Bau asin lebih pekat dari terakhir kali aku menapaki batu-batu mati di punggung tebing. Dan saat itulah aku melihatnya. Jiwa yang tua dalam tubuh manusia muda. Kami pengembara telah terlatih mengenali jiwa-jiwa. Memanen ingatan tentang hutan yang telah lama tiada di dunia kami.

Baru kali ini aku bertemu seorang jiwa yang tua, kebanyakan jiwa-jiwa yang kutemui di rumah batu di pusat dunia masih muda dan lelah. Tak pernah aku membaui hutan pada kulit mereka. Jiwa yang nampak sedih di ujung bukit ini beraroma embun pagi, ia baru saja datang ke dunia ini. Aku seperti tertarik magnet ke arahnya. Tersihir oleh aroma embun yang seperti kabut pekat, aku berjalan cepat ke arahnya. Melihat sosoknya yang semakin nyata dan seolah-olah akan menghisapku. Aku lunglai terseret pesonanya. Inikah kematian yang lain?

Semakin dekat, aku melihat ke mata kacanya yang serupa zamrud, beriak hijau seperti daun. Terpesona oleh kedalaman mata jiwa tua, aku seperti dipenuhi oleh rasa, namun pada saat yang bersamaan juga kosong karena rasa.

Inikah mati? Lalu aku mencium maut yang manis dan beraroma embun pagi.

Bagian dari Tersesat

Tersesat (10)

Tahukah kamu bagaimana jiwa-jiwa membocorkan rahasia hutan pada manusia? Mereka mengigau dalam tidurnya. Pengembara Mimpi, yang selalu mampir sesaat sebelum pagi, belum pernah mengatakan ini padaku. Mungkin, ia juga belum pernah mengungkapkannya padamu. Maka, aku berbaik hati menceritakannya sekarang.

Aku menahan nafas, dan qahwa telah dingin di cangkir yang kupegang, ”kelam sekali cerita tentang qahwa”

Lelaki Kayu Manis menatapku sayu, ”itu hanya awalnya, qahwa memberikan banyak penderitaan bagi manusia setelahnya”

”Lalu mengapa manusia masih menyukai qahwa?”

”Karena manusia menyukai penderitaan”

Aku menggeleng, ”tak bisa kupahami”

”Dalam dunia manusia, tak semua hal harus kau pahami…”

”Tetapi kami di hutan dapat memahami segala hal”

”Termasuk memahami, mengapa Pengembara Mimpi datang dan pergi sesuka hatinya? Menjelajah hutan dengan keleluasaan yang tak dimiliki oleh jiwa?”

”Kamu mengenal Pengembara Mimpi?”

Ia mengedikkan bahu, ”aku mendengar kamu mengigau dalam tidur, dan bercerita tentang Pengembara Mimpi”

Rupanya, begini rahasia diceritakan di dunia manusia. Jiwa-jiwa yang berbicara dalam tidur.

Mukaku terasa panas memerah, sebuah pengertian baru ditanamkan padaku, aku merasa malu, ”apa yang kau dengar tentang Pengembara Mimpi?”

”Tak banyak, hanya kau yang berulang kali bertanya, mengapa Pengembara Mimpi boleh datang sesuka hati, boleh mampir kapan saja ia mau”

Ah, aku mungkin merindukan hutan-hutan tempat kami berdiam dahulu, sebelum kami menyeberang ke dunia manusia.

”Ceritakan padaku tentang Pengembara Mimpi”

Aku menghela nafas, kuhirup udara kering dan berbau arang dengan selapis aroma asin laut di balik bukit. Kuhabiskan qahwa yang telah dingin di cangkirku.

Aku tak tahu dari mana asal Pengembara Mimpi. Ia telah ada di sana sejak Pohon pertama tumbuh. Ia bersama Sang Waktu ketika Ia memisahkan kegelapan dan membuat terang memberi makan pada pohon-pohon. Sejak aku pertama membuka mata, dan mendapatiku terikat pada benang merah di Pohon Cinta, aku langsung mengenali Pengembara Mimpi yang tersenyum bijak, bertengger dengan jiwa-jiwa lain di dahan tempat kami bergayut. Ia membawa cerita dari penjuru hutan, dan dari negeri-negeri yang ia kunjungi termasuk dunia manusia. Ia bisa datang dan pergi sesuka hatinya, sementara kami hanya bisa bernyanyi dan menari di sekeliling hutan. Jika ikatan kami pada pohon-pohon tempat kami hidup terlalu erat dan menyakitkan, kami berteriak memanggilnya, untuk merenggangkan sedikit ikatan kami. Terikat pada pohon kami sebenarnya tak begitu menyiksa, kami hanya perlu bernafas dengan benar supaya tali-tali kami tak saling berbelit dan pada akhirnya, kekasih jiwa akan saling menemukan. Kami memiliki seluruh hutan untuk kami jelajahi. Dalam satu helaan nafas, kami bisa meloncat dari selatan menuju ujung utara hutan, lalu pada detik berikutnya menyelam di kolam di tengah hutan. Segala sesuatu lebih ringan dan tanpa massa di hutan, namun seperti tak nyata karena kesakitan kami yang berdenyut bagai kesakitan milik jiwa lain, jiwa-jiwa sebelum kami. Kami merasakan sakit, tapi tak seperti sakit. Jika kau bisa memahami maksudku.

Hingga suatu hari, Pengembara Mimpi datang membawa cerita tentang dunia manusia, yang lebih tajam dan lebih solid dibandingkan hutan. Dan bercerita tentang jiwa-jiwa yang menyeberanginya.

Aku terpesona dan bersedia menukarkan apapun milikku di dalam hutan untuk memasuki dunia manusia. Menemukan kekasih jiwa yang mungkin ada di sana, merasakan udaranya yang berat, mendengar angin yang berhembus. Siapa tahu, aku juga akan bertemu bintang-bintang dalam perjalanan ini. Aku ingin menemukan apa yang tak pernah kutemui di hutan.

Lelaki Kayu Manis menatapku dengan bola matanya yang berbintik-bintik coklat tua, ”sudahkah kau temukan apa yang kau cari?”

Mungkin, aku mencari kamu.

Lalu kami berciuman saat senja bertemu dengan malam. Saat bulan bertukar tempat dengan Matahari di ujung langit.

bersambung

Cerita-cerita Tersesat sebelumnya