Donasi Rumah Harapan

Hope is looking up to the sky,
Feel the spring breeze,
See the birds fly,
Every cloud has a silver lining,
Hope is the only thing that keeps us going

Kata-kata di atas seperti menggambarkan teman-teman di Rumah Harapan (www.rumah-harapan.com) yang tanpa lelah bekerja secara sukarela untuk mewujudkan rumah singgah untuk adik-adik yang sakit, hanya harapan yang menggerakkan kita semua. Dan saya juga ingin ikut berpartisipasi untuk membantu dong, kebetulan saya pernah ngobrol juga sama Mbak Silly pas kunjungan ke Nias beberapa bulan yang lalu, apa sih yang saya bisa bantuin apa di kegiatan Mbak Silly. Lama berselang, barulah terwujud niat itu di Planner & Calendar 2015 ini.

Ilustrasi: Aya Syafril

Untuk ilustrasinya, teman saya Aya Syafril, berbaik hati mendonasikan salah satu gambarnya untuk dipakai sebagai ilustrasi di planner dan calendar ini. Lucu yaaak…

Nah, saya juga mengajak, teman-teman yang baca blog saya untuk ikutan juga berpartisipasi di program ini. Semua keuntungan dari penjualan ini, akan didonasikan ke Rumah Harapan.

Yuk, tinggal klik ke bit.ly/pesanRH untuk memesan planner & kalendernya.

Terimakasiiiiih *cium mesra semuanyah*

Hope is the only thing that keeps us going – Rumah Harapan, a home for Hope.

Kategori Manusia

Mengutip kata-kata mutiara dari salah seorang teman saya, “betapa mudahnya hidup ini kalau umat manusia di muka bumi ini golongannya cuma 12, sesuai zodiak bintang aja”

Ya bener juga sih, saya susah percaya manusia plek ketiplek sifatnya kayak zodiaknya. Pasti dipengaruhi shio, unsur bumi dan lain-lain… eh, itu mah sama aja dah! 😆

Saya sih bukan penganut zodiak atau shio atau apalah, soalnya saya nggak apal juga, bintang ini bulan apa… saya hanya apal, saya bintangnya Aquarius. Sebelum Aquarius itu Capicorn, nah…sesudah Aquarius, saya juga gak apal. Shio juga gitu, saya galau, ikut shio monyet apa shio kambing, soalnya saya lahir di pergantian tahun dan nggak jelas, masuk yang mana. Ya daripada pusing, kalau ramalan shio monyet bagus, saya ikut itu aja, kalau jelek… ya saya ganti shio kambing. Kalau dua-duanya jelek, saya ikut ramalan bintang aja. Kalau semuanya jelek… ya saya serahkan nasib kepada Yang Maha Kuasa.

Saya malah lebih percaya bahwa manusia itu bisa dikategorikan dari cara makannya, karena cara makan itu kan kebiasaan, sedikit banyak ketauan deh karakternya gimana. Misalnya nih gini:

  • Kalau orang makannya rapih dan cepat, kemungkinan dia kerjanya juga rapih dan cekatan. Cak cek kalau kata orang Jawa.
  • Sebaliknya, makannya laamaaaaa banget, kemungkinan dia kerjanya lambat. Ya kalau punya pegawai seperti itu, sabar-sabar aja.
  • Kalau makannya dicungkrak-cungkrik, nggak beraturan. Kemungkinan besar orangnya lingkrik dan susah ladenannya.
  • Makannya sambil main henpon, mungkin ni bukan tipe yang mudah fokus.
  • Makannya cepat tapi berantakan, kemungkinan slordoh, kerjanya ceroboh.
  • Kalau makannya asal makan, ngahuleng bengong kayak trance gitu, ih anaknya pasti gak asik dah, nggak jelas gitu maunya apa. Nggak ada semangat hidup gitu.
  • Makannya konsentrasi penuh, dan cepat, nah klo yang ini pasti dia lagi laper.
  • Dll, dst…

Trus, sesuaikah teori cara makan itu dengan sifat manusia? Nggak juga 😆 sering kok, saya salah. Ada yang makannya lelet, etapi pas kerja ya cepet juga… ternyata dia menganut paham kunyah 32 kali. Perfeksionis abis. Hihihi… Ya meskipun nggak 100% cocok, saya cenderung menilai orang saat makan bersama. Sok tau maksimal gitu deh. Kalau sudah menilai dan mengelompokkan manusia gitu, trus… apa? Fungsinya apa? Ya nggak apa-apa. Nggak berfungsi apa-apa juga… kalau nggak menganalisa, nggak puas aje hidupnya 😆

Eeee…. sek-sek… sebenernya tadi saya mau cerita apa sih? Mendadak ilang gitu lho… padahal saya makannya nggak sambil main henpon, saya tipe cepat dan konsentrasi. Selalu. Hahahaha

Udah ah, nanti kalau inget lagi maksudnya apa, saya tambahin dah…

Pond’s & Kulit Jernih Putih Merona

Menjadi cantik adalah keinginan seluruh perempuan di muka bumi ini. Ya kan?! Meskipun definisi cantik itu sendiri beragam. Bagi saya sendiri, berwajah cantik itu berarti kulit yang bersih dan sehat. Soal mata sipit atau hidung pesek *gue bener deh ah* hahahaha itu bisa diakalin dengan make up, tapi kalau kulit yang kurang sehat… agak susah juga ya ngedempulnya 😆

Saya sih suka banget ngeliat kulit-kulit cewek Korea, ya gara-gara sering nonton serial Korea, makin deh… kepengen banget punya kulit mulus a la mereka.

Saya sih nggak kepengen putih seperti artis-artis Korea itu, soalnya ya tau diri lah yaaw… kulit saya memang nggak putih dasarnya, hanya saja kalau dapat perawatan yang tepat, pasti kulit bakal lebih jernih, bebas dari noda-noda mengganggu.

Pas banget, Pond’s New White Beauty memperkenalkan produk barunya yaitu New Pond’s White Beauty Translucent Pinkish White, yang merupakan hasil riset terbaru dari Pond’s Institute.

Rangkaian produk ini diperkaya oleh ekstrak Ginseng Korea dan Saffron, yang melengkapi Niacinamide (Vitamin B3) yang merupakan bahan aktif produk pencerah kulit yang telah dipatenkan sejak tahun 1975.

Ginseng Korea diformulasikan untuk membantu menjernihkan kulit sehingga tampak bercahaya, dan terlihat jernih putih merona. Sementara ekstrak bunga saffron membantu mencerahkan kulit bahkan noda hitam di kulit wajah akibat sinar matahari. Dua esensi kebaikan alami yang dipadukan dengan teknologi pencerah kulit terkini berbahan aktif Vitamin B3 ini akan memberikan efek pencerahan. Selain itu, rangkaian  New Pond’s White Beauty Translucent Pinkish White juga mengandung triple sun ptrotection agents yang akan melindungi kulit wajah dari sinar UV yang berbahaya.

Soal triple sun protection agents ini, saya agak lupa-lupa ingat, kan sinar matahari itu ada UV A, UV B dan UV light ya… nah, untuk masing-masing ini diperlukan perlindungan sendiri-sendiri. Untuk sinar UV yang merusak di permukaan kulit, saya lupa yang mana, perlu perlindungan sendiri. Nah, sinar yang merusak di permukaan ini yang bikin kulit langsung gosong dll. Yang paling berbahaya, adalah sinar UV yang merusak dari dalam, karena ya nggak keliatan kan proses merusaknya. Di sinilah, diperlukan ginseng, saffron dan bahan aktif vit B3 yang membantu kulit menjadi jernih putih merona.

Jadi, kulit kita ini kan berlapis-lapis ya…makanya, New Pond’s White Beauty Translucent Pinkish White ini bekerja menjernihkan kulit lapis demi lapis sehingga cahaya kulit yang sehat itu langsung terpancar keluar, sehingga kulit terlihat merona sehat. Ya penjelasan ini sih kalau menurut saya masuk akal ya bok, secara kebanyakan kulit kita kan benernya kusam karena perawatan yang salah. Dari kusam, terlihat dekil trus item. Nah… kedekilan inilah yang dimusnahkan oleh New Pond’s White Beauty Translucent Pinkish White.

New Pond’s White Beauty Translucent Pinkish White mempunyai 4 varian yang disesuaikan dengan kebutuhan, yaitu:

  • Pond’s White Beauty Jernih Putih Merona For All Skin types, untuk semua jenis kulit.
  • Pond’s White Beauty Jernih Putih Merona Even for Sensitive Skin yang dilengkapi dengan ekstrak green tea dan telah diuji dermatologis untuk kulit sensitif.
  • Pond’s White Beauty Jernih Putih Merona Spotless for Acne Prone Skin yang dilengkapi dengan Spot-less complex dan telah diuji oleh dermatologis sesuai untuk kulit yang cenderung berminyak dan rentan berjerawat.
  • Pond’s White Beauty Jernih Putih Merona Advanced SPF 15 yang dilengkapi dengan tabir surya yang cukup untuk aktivitas sehari-hari.

Dengan harga yang terjangkau dan ketersediaan produk di mana-mana, rangkaian New Pond’s White Beauty Translucent Pinkish White ini jadi pilihan banget deh buat perawatan kulit.

Batik Oh Batik (bag. 4)

Maafkan saya, kelamaan nulis lanjutannya ya… kebanyakan ngomel sih… hihihii ampe agak lupa juga sih, saya mau ngomong apa aja di bagian ini :mrgreen:

Baiklah, jadi tulisan yang kemarin itu masih rada bingung yaa… di bagian ini, mungkin saya buat kesimpulannya per poin yah:

  1. Batik Tulis: 100% buatan tangan, menggambar motif, aplikasi lilin tanpa bantuan alat lain selain canting. Meskipun motif seluruh kain sama, biasanya terdapat perbedaan sedikit pada setiap motif karena tangan tidak konsisten.
  2. Batik Cap: 100% buatan tangan, aplikasi lilin pada kain menggunakan alat cap. Biasanya motifnya geometris, perulangan motif tidak terlalu besar, mungkin maksimal 30 – 40 cm saja, karena alat yang digunakan harus mudah dipegang dengan tangan.
  3. Batik Tulis kombinasi Cap: 100% buatan tangan, aplikasi lilin pada kain menggunakan alat cap dan manual (biasanya bagian kecil yang perlu polet, dll.
  4. Kain Cetak menggunakan mesin printing bukan digital dengan motif batik: Motif dicetak dengan mesin printing skala besar. Jika terdapat ketidak konsistenan pada kain akan berulang sesuai repeat screen mesin, maksimal 1 meter akan berulang lagi.
  5. Kain cetak menggunakan mesin printing digital: warna halus, dan yang jelas harga juga akan mahal sekali, bisa-bisa lebih mahal daripada harga kain batik tulis. Jadi, ini bukan opsi buat para penjual batik murah ngaku mahal ya.

Sebelum beli, kudu dibolak-balik bolak-balik sampe mblenek deh… 😆 dan jangan berhenti untuk mencari referensi soal batik. Termudah untuk bertanya adalah ke penjual batiknya lah…

Ada wacana, bahwa setiap batik tulis yang diproduksi oleh perajin, harus diberi tag batik Indonesia dari lembaga SNI plus penomoran pengrajin yang harus diperbaharui secara berkala. Untuk saat ini belum diaplikasikan secara menyeluruh namun sudah ada beberapa pengrajin yang memberi tag tersebut.

label SNI

Sebenernya bagus juga sih, konsumen terjamin, pasti beli batik yang aseli, membayar sesuai kualitas. Tapi, yakin gak ya gak ada permainan nantinya. Ah sutralah… yang jelas kita kan berniat baik ya… semoga ini memang bisa diaplikasikan dan bisa meningkatkan kesejahteraan pengrajin. Konsumen puas, pengrajin juga sejahtera. Tsaah…

Tips lain, jadi kalau beli batik langsung ke pengrajin deh… sekalian lihat prosesnya gimana… kan jadi puas ya, tau bener bahwa itu batik tulis.

Eh, trus… gimana caranya bedain kain printing dari Cina sama produksi dalam negeri? Errrr…. susah bener sih bedainnya, sama-sama mesin. Biasanya, saya sih menelusuri ke distributornya, biasa dijual ke mana dari siapa… saya mencari jalur distribusinya. Repot ye… ya itu urusannya kerjaan sih, sekalian mensilikidi kompetitor gitu ceritanya. Setahu saya, sekarang impor kain jadi dari Cina bea masuknya tinggi sekali, rata-rata langsung impor garmen atau setengah jadi.  Nah cari saja yang cuttingnya agak aneh *gak nolong bener sih lo cep* lha ya gimana ya… emang rata-rata gitu. Di Cina itu, semua benda bisa dibikin bajakannya dengan variasi harga yang menakjubkan. Mau yang murah, ada… tapi ya gitu… aneh. Mau yang bagus kualitasnya juga ada, tapi harga kadang mahal jadi lebih mahal dari bikinan lokal dengan kualitas yang sama atau bahkan lebih baik. Nah! Dari sini aja bisa disimpulkan tho… biasanya yang dimasukin orang dari Cina ya harus yang murah toh… biar masuk harganya kalau dilempar ke pasar; yang murah…ya itu tadi aneh 😆

Mau dibilang baju KW Korea pun, kalo cutting aneh, dipake ngegerenjel… ya tuduhan saya, itu pasti produk Cina. Produk Korea, dari segi harga nggak mungkin masuk ke range harga kita, pasti mahal. Kenapa kalo murah kok dipakenya aneh? Salah satu logikanya: misal 1 meter kain bisa dijadikan 1 baju mahal, untuk baju murah bisa jadi 1.5 ; 2 m kain untuk baju mahal jadi 2, baju murah jadi 3. Nah, pengiritan begini ini, biasanya disiasati dengan pola yang berakibat, pas dipake nggak enak. Ya itu cuma salah satu alasan aja sih… Tapi ngerti lah yaaa…

Ih jadi ngalor ngidul deh… ya gitu aja deh…

Batik Oh Batik (bag. 1)

Batik Oh Batik (bag. 2)

Batik Oh Batik (bag. 3)

Rumah Sang Perantau

Saya berasal dari kota kecil di Jawa Timur, dari dulu saya belum bisa menganggap kampung halaman saya itu rumah saya. Rasanya saya  hanya numpang tumbuh dewasa saja *tsaah* dan saya akan memiliki rumah di tempat lain.

Dari semua kota yang pernah saya tinggali, saya merasa, Bandung-lah rumah saya. Setiap kali ke kota itu, saya selalu merasa pulang. Meski sekarang saya kembali terdampar di Kota Metropolitan *halah* dalam hati kecil, saya selalu punya keyakinan kuat bahwa suatu saat, saya akan kembali ke Bandung. Suatu saat itu, bisa berarti sepuluh  tahun lagi, atau saat pensiun, atau ternyata lebih cepat dari tiga tahun lagi.

Siapa yang bisa tahu masa depan? Saya sih nggak bisa.

Tapi saya percaya, masa depan bisa direncanakan. Misalnya… sebelum terlaksana pindah ke Bandung, ya cari-cari rumah idaman yang nyaman-suraman dulu deh… Saya tahu saat ini saya belum bisa membeli rumah, tapi teteup aja, tiap hari buka-buka situs web Rumah123.com untuk cari-cari rumah. Ini seperti menyiksa diri sendiri sih, sudah tahu belum bisa membeli tapi nongkrong terus di tempat mencari rumah 😆 tapi percayalah, hal ini itu penting untuk dilakukan, karena dengan begini saya jadi tahu, kisaran harga rumah idaman yang nyaman; yang ingin saya miliki kelak.

Jelas dong, saya ngecekin rumah-rumah di lokasi yang saya mau. Bandung jelaslah ya jadi lokasi idaman, lokasi lain ya di Jakarta. Ada beberapa daerah di Jakarta yang saya suka, salah satunya daerah BSD, kayanya masih luas gitu.

Yang bikin ‘penyiksaan’ terhadap diri sendiri ini gak bisa berhenti, salah satunya adalah karena kemudahan fitur pencarian rumah di website Rumah123. Betul-betul mudah cari rumah di situs web Rumah123.com, gak salah deh situs web ini jadi situs properti no.1 di Indonesia.

Di halaman awal, sudah ada pilihannya, mau cari rumah dibeli atau disewa. Komplit, kita juga bisa masukin range harga rumah yang dicari, lalu lokasinya mau di mana. Kemudian, untuk bentuk huniannya juga bisa pilih, ada apartemen. Tidak hanya itu, ada menu pilihan juga untuk rumah baru atau perumahan baru, ruko, rukan, rumah 2nd, dll.

Semua rumah-rumah yang diiklankan di website Rumah123.com ini punya nomor listing, disebut ID Listing; jadi ketika menelpon ke pemilik iklan itu, saya jadi lebih mudah menyebutkan mana rumah yang saya minati. Saya belum pernah menelpon sih, tapi teman saya sudah pernah. Jadi si pengiklan rumah itu ternyata punya beberapa rumah yang diiklankan di Rumah123.com nah, dia tinggal menyebutkan ID Listing rumah yang dia mau, langsung deh mereka ngobras dengan bahasan yang sama.

Ada lagi deh fiturnya yang bikin garuk-garuk tanah, yaitu simulasi KPR dari salah satu bank gitu. Hoaaaaa….beneran nemu mainan baru deh. Betulan mudah, tinggal pilih berapa uang muka lalu berapa lama tahun cicilannya, langsung keluar semua angkanya. Ya mungkin kenyataannya nggak semudah itu ya, tapi paling tidak saya jadi tahu, berapa banyak sih uang yang harus saya siapkan.

Dengan semua kemudahan itu, gimana saya gak betah nongkrongin situs web Rumah123?

Lha trus, kapan beli rumahnya? HEH! Jangan nanya itu dulu ‘napa? *asah golok*

Tapi biar belum bisa beli rumah, saya udah dapet berkah duluan dong, karena terus menerus nongkrongin situs properti no. 1 di Indonesia indang, saya jadi tahu ada informasi bahwa Rumah123 baru saja meluncurkan program Kontes Rebutan Rumah Gratis! Uwoooowowww…. Hadiahnya rumah cong! Ish, jelaslah ekke langsung mendaftar. Mana kontesnya ini semudah 123 saja, ceeeeuuuu…. Daftar, like FB atau follow Twitter Rumah123 trus isi data diri, kemudian isikan ID Listing rumah yang dijadikan hadiah. Rebes. Beneran hadiahnya rumah? BENER! Rumah seharga 500 juta ma meeeen… Rasanya, ini adalah kontes online terbesar yang pernah ada ya.

Yang bikin makin ngiler, semua pajak dan printilannya akan ditanggung oleh Rumah123. Tugas peserta ya cuma ikutin kontesnya ajhyaaa… Gimana saya gak panik buru-buru ikutan?! Langsung deh akika daftar saat itu juga, sambil deg-degan panik-panik gitu sih… hahahaha padahal kontesnya gampang banget, seperti yang saya bilang tadi. Panik karena saya sangat berhasrat untuk menang 😛

Program ini diluncurkan awal Mei dan akan berakhir sekitar bulan September, kalau nggak salah sih… Pokonya kalau sekarang mau ikutan kontesnya mah masih keburu deh. Kontes ini terbuka untuk siapa saja, jadi buruan ikutan gih…

Silahkan klik di sini

Eh, tapi klo makin banyak yang ikut kesempatan gue menang makin tipis yak… Ya ga pa-pa deh… Rejeki mah siapa yang tau yak… Ini kesempatan buat kita untuk mendapat rumah idaman ya bok… ETAPI TETEP DOAIN GUE YANG MENANG DONG! *lho?*

Trus setelah daftar, disuruh ngapain lagi? Belum ada instruksi selanjutnya, ya kita tunggu saja. Tapi sepertinya gak bakal disuruh lari dari Jakarta ke Pandeglang deh… wong katanya kan semudah 123. Hmm… kalaupun disuruh lari, saya teteup jalanin dah… HADIAHNYA RUMAH gitu loh… menurut ngana?

Sementara nungguin pemenang kontes diumumkan, mari kita mencari-cari rumah idaman yang nyaman suraman lagi! Yeuk! *nyiksa diri lagi*

Old File

Bapak dan ibu sekalian yang saya muliaken, ini adalah file lama… dari tempat saya pernah bekerja dulu. Iseng-iseng nyari eh ketemu 🙂 websitenya sendiri sudah tutup buku, brand-nya juga sudah tutup buku (kayanya). Sutralah…

Yang jelas, video ini bagus sih… menurut saya sih 😀 bukan saya yang bikin… saya cuma nemenin pas ke pabrik, nyatetin apa aja yang mau disyuting untuk dijadikan bahan pembelajaran.

Aaah… saya jadi menye-menye lihat video ini 😦

Batik oh Batik (bag. 3)

Lanjutan dari posting Batik oh Batik (bag. 2)

Perbedaan paling mendasar dari Batik dan cetak mesin adalah: pada Batik berlaku cetak terbalik, sementara di mesin ya cetak apa adanya. Eh, ini istilah saya sendiri ya, supaya lebih gampang mengartikannya saja.

Cetak terbalik itu gimana sih? Gini, salah satu ciri utama pada Batik adalah penggunaan lilin sebagai penghalang warna. Jadi kain sebelum dicelup ke dalam pewarna diberi lilin sesuai dengan motif yang diinginkan, tetapi negatifnya. Semisal, ada gambar bunga, kelopaknya mau berwarna putih (warna kain) sementara di luar kelopak mau berwarna coklat, nah bagian kelopaklah yang diberi lilin, sehingga ketika setelah dicelup warna lain, maka yang kena pewarna hanyalah bagian yang tidak ada lilinnya. Setelah proses pewarnaan selesai, lilin diluruhkan dengan cara dicuci di air panas. Lha kalau batiknya ada tiga warna semacam Batik Tiga Negeri gitu? Ya berkali-kali juga ngelilinnya, sesuai dengan warna yang diinginkan. Boleh dibilang, sebenarnya Batik bukanlah termasuk kategori kain cetak melainkan kain celup.

Pada Batik Tulis & Batik Cap, logikanya sama. Yang ingin diwarnai dibiarkan terekpos tanpa lilin.

Sementara itu, pada cetak mesin, ya warna langsung dicetak begitu saja, ada 3 warna ya langsung ada tiga cetakan warna.

Jadi, pada proses pembuatan batik, pembatik membayangkan hasil jadinya kemudian baru memundurkan prosesnya ke belakang untuk membuat motif.

Nah, untuk mengenali sebuah kain apakah termasuk Batik atau kain cetak mesin biasa, kita juga mesti merunut kain tersebut dengan logika yang sama, mundur ke belakang. Melihat suatu motif, kita bayangkan kira-kira bagaimana ini dibuatnya. Ah, emang bisa? Bisa, tapi harus jeli sekali memang.

Trik lainnya adalah dengan mengurutkan motif.  Seperti yang saya bilang kemarin, biasanya orang bilang kalau Batik Tulis / Cap itu punya cacat lilin yang tidak disengaja, yang mana hal ini dengan mudah dapat diikuti oleh mesin cetak. Nah, kalau cacat lilinnya itu disengaja lihat saja dan telusuri di kainnya, pasti akan terulang.

Masalahnya, cacat ini pun dipalsuin 😆 Sekarang banyak beredar di pasar kain cetak yang diberi lilin sehingga pas sudah jadi, itu adalah kain batik.

Berikut ini ada beberapa foto yang saya ambil di stand Balai Penelitian Batik Jogjakarta saat pameran Adiwastra kemarin. Lihat aja deh gambarnya, pasti kebayang apa yang saya certitain di atas, soal proses yang mundur.

Ini adalah contoh-contoh kombinasi cetak mesin dengan pemberian lilin.

 

Kurang lebihnya begitu deh… gak nolongjuga ya menentukan itu Batik apa cetak biasa? Ah…nolong aaah… biar dikit juga… 😆

Oh iya, satu lagi tips, Batik Tulis/Cap, tidak mungkin terbuat dari kain poliester soalnya lilin gak bisa nempel di poliester.