Donasi Rumah Harapan

Hope is looking up to the sky,
Feel the spring breeze,
See the birds fly,
Every cloud has a silver lining,
Hope is the only thing that keeps us going

Kata-kata di atas seperti menggambarkan teman-teman di Rumah Harapan (www.rumah-harapan.com) yang tanpa lelah bekerja secara sukarela untuk mewujudkan rumah singgah untuk adik-adik yang sakit, hanya harapan yang menggerakkan kita semua. Dan saya juga ingin ikut berpartisipasi untuk membantu dong, kebetulan saya pernah ngobrol juga sama Mbak Silly pas kunjungan ke Nias beberapa bulan yang lalu, apa sih yang saya bisa bantuin apa di kegiatan Mbak Silly. Lama berselang, barulah terwujud niat itu di Planner & Calendar 2015 ini.

Ilustrasi: Aya Syafril

Untuk ilustrasinya, teman saya Aya Syafril, berbaik hati mendonasikan salah satu gambarnya untuk dipakai sebagai ilustrasi di planner dan calendar ini. Lucu yaaak…

Nah, saya juga mengajak, teman-teman yang baca blog saya untuk ikutan juga berpartisipasi di program ini. Semua keuntungan dari penjualan ini, akan didonasikan ke Rumah Harapan.

Yuk, tinggal klik ke bit.ly/pesanRH untuk memesan planner & kalendernya.

Terimakasiiiiih *cium mesra semuanyah*

Hope is the only thing that keeps us going – Rumah Harapan, a home for Hope.

Kategori Manusia

Mengutip kata-kata mutiara dari salah seorang teman saya, “betapa mudahnya hidup ini kalau umat manusia di muka bumi ini golongannya cuma 12, sesuai zodiak bintang aja”

Ya bener juga sih, saya susah percaya manusia plek ketiplek sifatnya kayak zodiaknya. Pasti dipengaruhi shio, unsur bumi dan lain-lain… eh, itu mah sama aja dah! 😆

Saya sih bukan penganut zodiak atau shio atau apalah, soalnya saya nggak apal juga, bintang ini bulan apa… saya hanya apal, saya bintangnya Aquarius. Sebelum Aquarius itu Capicorn, nah…sesudah Aquarius, saya juga gak apal. Shio juga gitu, saya galau, ikut shio monyet apa shio kambing, soalnya saya lahir di pergantian tahun dan nggak jelas, masuk yang mana. Ya daripada pusing, kalau ramalan shio monyet bagus, saya ikut itu aja, kalau jelek… ya saya ganti shio kambing. Kalau dua-duanya jelek, saya ikut ramalan bintang aja. Kalau semuanya jelek… ya saya serahkan nasib kepada Yang Maha Kuasa.

Saya malah lebih percaya bahwa manusia itu bisa dikategorikan dari cara makannya, karena cara makan itu kan kebiasaan, sedikit banyak ketauan deh karakternya gimana. Misalnya nih gini:

  • Kalau orang makannya rapih dan cepat, kemungkinan dia kerjanya juga rapih dan cekatan. Cak cek kalau kata orang Jawa.
  • Sebaliknya, makannya laamaaaaa banget, kemungkinan dia kerjanya lambat. Ya kalau punya pegawai seperti itu, sabar-sabar aja.
  • Kalau makannya dicungkrak-cungkrik, nggak beraturan. Kemungkinan besar orangnya lingkrik dan susah ladenannya.
  • Makannya sambil main henpon, mungkin ni bukan tipe yang mudah fokus.
  • Makannya cepat tapi berantakan, kemungkinan slordoh, kerjanya ceroboh.
  • Kalau makannya asal makan, ngahuleng bengong kayak trance gitu, ih anaknya pasti gak asik dah, nggak jelas gitu maunya apa. Nggak ada semangat hidup gitu.
  • Makannya konsentrasi penuh, dan cepat, nah klo yang ini pasti dia lagi laper.
  • Dll, dst…

Trus, sesuaikah teori cara makan itu dengan sifat manusia? Nggak juga 😆 sering kok, saya salah. Ada yang makannya lelet, etapi pas kerja ya cepet juga… ternyata dia menganut paham kunyah 32 kali. Perfeksionis abis. Hihihi… Ya meskipun nggak 100% cocok, saya cenderung menilai orang saat makan bersama. Sok tau maksimal gitu deh. Kalau sudah menilai dan mengelompokkan manusia gitu, trus… apa? Fungsinya apa? Ya nggak apa-apa. Nggak berfungsi apa-apa juga… kalau nggak menganalisa, nggak puas aje hidupnya 😆

Eeee…. sek-sek… sebenernya tadi saya mau cerita apa sih? Mendadak ilang gitu lho… padahal saya makannya nggak sambil main henpon, saya tipe cepat dan konsentrasi. Selalu. Hahahaha

Udah ah, nanti kalau inget lagi maksudnya apa, saya tambahin dah…

Pond’s & Kulit Jernih Putih Merona

Menjadi cantik adalah keinginan seluruh perempuan di muka bumi ini. Ya kan?! Meskipun definisi cantik itu sendiri beragam. Bagi saya sendiri, berwajah cantik itu berarti kulit yang bersih dan sehat. Soal mata sipit atau hidung pesek *gue bener deh ah* hahahaha itu bisa diakalin dengan make up, tapi kalau kulit yang kurang sehat… agak susah juga ya ngedempulnya 😆

Saya sih suka banget ngeliat kulit-kulit cewek Korea, ya gara-gara sering nonton serial Korea, makin deh… kepengen banget punya kulit mulus a la mereka.

Saya sih nggak kepengen putih seperti artis-artis Korea itu, soalnya ya tau diri lah yaaw… kulit saya memang nggak putih dasarnya, hanya saja kalau dapat perawatan yang tepat, pasti kulit bakal lebih jernih, bebas dari noda-noda mengganggu.

Pas banget, Pond’s New White Beauty memperkenalkan produk barunya yaitu New Pond’s White Beauty Translucent Pinkish White, yang merupakan hasil riset terbaru dari Pond’s Institute.

Rangkaian produk ini diperkaya oleh ekstrak Ginseng Korea dan Saffron, yang melengkapi Niacinamide (Vitamin B3) yang merupakan bahan aktif produk pencerah kulit yang telah dipatenkan sejak tahun 1975.

Ginseng Korea diformulasikan untuk membantu menjernihkan kulit sehingga tampak bercahaya, dan terlihat jernih putih merona. Sementara ekstrak bunga saffron membantu mencerahkan kulit bahkan noda hitam di kulit wajah akibat sinar matahari. Dua esensi kebaikan alami yang dipadukan dengan teknologi pencerah kulit terkini berbahan aktif Vitamin B3 ini akan memberikan efek pencerahan. Selain itu, rangkaian  New Pond’s White Beauty Translucent Pinkish White juga mengandung triple sun ptrotection agents yang akan melindungi kulit wajah dari sinar UV yang berbahaya.

Soal triple sun protection agents ini, saya agak lupa-lupa ingat, kan sinar matahari itu ada UV A, UV B dan UV light ya… nah, untuk masing-masing ini diperlukan perlindungan sendiri-sendiri. Untuk sinar UV yang merusak di permukaan kulit, saya lupa yang mana, perlu perlindungan sendiri. Nah, sinar yang merusak di permukaan ini yang bikin kulit langsung gosong dll. Yang paling berbahaya, adalah sinar UV yang merusak dari dalam, karena ya nggak keliatan kan proses merusaknya. Di sinilah, diperlukan ginseng, saffron dan bahan aktif vit B3 yang membantu kulit menjadi jernih putih merona.

Jadi, kulit kita ini kan berlapis-lapis ya…makanya, New Pond’s White Beauty Translucent Pinkish White ini bekerja menjernihkan kulit lapis demi lapis sehingga cahaya kulit yang sehat itu langsung terpancar keluar, sehingga kulit terlihat merona sehat. Ya penjelasan ini sih kalau menurut saya masuk akal ya bok, secara kebanyakan kulit kita kan benernya kusam karena perawatan yang salah. Dari kusam, terlihat dekil trus item. Nah… kedekilan inilah yang dimusnahkan oleh New Pond’s White Beauty Translucent Pinkish White.

New Pond’s White Beauty Translucent Pinkish White mempunyai 4 varian yang disesuaikan dengan kebutuhan, yaitu:

  • Pond’s White Beauty Jernih Putih Merona For All Skin types, untuk semua jenis kulit.
  • Pond’s White Beauty Jernih Putih Merona Even for Sensitive Skin yang dilengkapi dengan ekstrak green tea dan telah diuji dermatologis untuk kulit sensitif.
  • Pond’s White Beauty Jernih Putih Merona Spotless for Acne Prone Skin yang dilengkapi dengan Spot-less complex dan telah diuji oleh dermatologis sesuai untuk kulit yang cenderung berminyak dan rentan berjerawat.
  • Pond’s White Beauty Jernih Putih Merona Advanced SPF 15 yang dilengkapi dengan tabir surya yang cukup untuk aktivitas sehari-hari.

Dengan harga yang terjangkau dan ketersediaan produk di mana-mana, rangkaian New Pond’s White Beauty Translucent Pinkish White ini jadi pilihan banget deh buat perawatan kulit.

Batik Oh Batik (bag. 4)

Maafkan saya, kelamaan nulis lanjutannya ya… kebanyakan ngomel sih… hihihii ampe agak lupa juga sih, saya mau ngomong apa aja di bagian ini :mrgreen:

Baiklah, jadi tulisan yang kemarin itu masih rada bingung yaa… di bagian ini, mungkin saya buat kesimpulannya per poin yah:

  1. Batik Tulis: 100% buatan tangan, menggambar motif, aplikasi lilin tanpa bantuan alat lain selain canting. Meskipun motif seluruh kain sama, biasanya terdapat perbedaan sedikit pada setiap motif karena tangan tidak konsisten.
  2. Batik Cap: 100% buatan tangan, aplikasi lilin pada kain menggunakan alat cap. Biasanya motifnya geometris, perulangan motif tidak terlalu besar, mungkin maksimal 30 – 40 cm saja, karena alat yang digunakan harus mudah dipegang dengan tangan.
  3. Batik Tulis kombinasi Cap: 100% buatan tangan, aplikasi lilin pada kain menggunakan alat cap dan manual (biasanya bagian kecil yang perlu polet, dll.
  4. Kain Cetak menggunakan mesin printing bukan digital dengan motif batik: Motif dicetak dengan mesin printing skala besar. Jika terdapat ketidak konsistenan pada kain akan berulang sesuai repeat screen mesin, maksimal 1 meter akan berulang lagi.
  5. Kain cetak menggunakan mesin printing digital: warna halus, dan yang jelas harga juga akan mahal sekali, bisa-bisa lebih mahal daripada harga kain batik tulis. Jadi, ini bukan opsi buat para penjual batik murah ngaku mahal ya.

Sebelum beli, kudu dibolak-balik bolak-balik sampe mblenek deh… 😆 dan jangan berhenti untuk mencari referensi soal batik. Termudah untuk bertanya adalah ke penjual batiknya lah…

Ada wacana, bahwa setiap batik tulis yang diproduksi oleh perajin, harus diberi tag batik Indonesia dari lembaga SNI plus penomoran pengrajin yang harus diperbaharui secara berkala. Untuk saat ini belum diaplikasikan secara menyeluruh namun sudah ada beberapa pengrajin yang memberi tag tersebut.

label SNI

Sebenernya bagus juga sih, konsumen terjamin, pasti beli batik yang aseli, membayar sesuai kualitas. Tapi, yakin gak ya gak ada permainan nantinya. Ah sutralah… yang jelas kita kan berniat baik ya… semoga ini memang bisa diaplikasikan dan bisa meningkatkan kesejahteraan pengrajin. Konsumen puas, pengrajin juga sejahtera. Tsaah…

Tips lain, jadi kalau beli batik langsung ke pengrajin deh… sekalian lihat prosesnya gimana… kan jadi puas ya, tau bener bahwa itu batik tulis.

Eh, trus… gimana caranya bedain kain printing dari Cina sama produksi dalam negeri? Errrr…. susah bener sih bedainnya, sama-sama mesin. Biasanya, saya sih menelusuri ke distributornya, biasa dijual ke mana dari siapa… saya mencari jalur distribusinya. Repot ye… ya itu urusannya kerjaan sih, sekalian mensilikidi kompetitor gitu ceritanya. Setahu saya, sekarang impor kain jadi dari Cina bea masuknya tinggi sekali, rata-rata langsung impor garmen atau setengah jadi.  Nah cari saja yang cuttingnya agak aneh *gak nolong bener sih lo cep* lha ya gimana ya… emang rata-rata gitu. Di Cina itu, semua benda bisa dibikin bajakannya dengan variasi harga yang menakjubkan. Mau yang murah, ada… tapi ya gitu… aneh. Mau yang bagus kualitasnya juga ada, tapi harga kadang mahal jadi lebih mahal dari bikinan lokal dengan kualitas yang sama atau bahkan lebih baik. Nah! Dari sini aja bisa disimpulkan tho… biasanya yang dimasukin orang dari Cina ya harus yang murah toh… biar masuk harganya kalau dilempar ke pasar; yang murah…ya itu tadi aneh 😆

Mau dibilang baju KW Korea pun, kalo cutting aneh, dipake ngegerenjel… ya tuduhan saya, itu pasti produk Cina. Produk Korea, dari segi harga nggak mungkin masuk ke range harga kita, pasti mahal. Kenapa kalo murah kok dipakenya aneh? Salah satu logikanya: misal 1 meter kain bisa dijadikan 1 baju mahal, untuk baju murah bisa jadi 1.5 ; 2 m kain untuk baju mahal jadi 2, baju murah jadi 3. Nah, pengiritan begini ini, biasanya disiasati dengan pola yang berakibat, pas dipake nggak enak. Ya itu cuma salah satu alasan aja sih… Tapi ngerti lah yaaa…

Ih jadi ngalor ngidul deh… ya gitu aja deh…

Batik Oh Batik (bag. 1)

Batik Oh Batik (bag. 2)

Batik Oh Batik (bag. 3)

Rumah Sang Perantau

Saya berasal dari kota kecil di Jawa Timur, dari dulu saya belum bisa menganggap kampung halaman saya itu rumah saya. Rasanya saya  hanya numpang tumbuh dewasa saja *tsaah* dan saya akan memiliki rumah di tempat lain.

Dari semua kota yang pernah saya tinggali, saya merasa, Bandung-lah rumah saya. Setiap kali ke kota itu, saya selalu merasa pulang. Meski sekarang saya kembali terdampar di Kota Metropolitan *halah* dalam hati kecil, saya selalu punya keyakinan kuat bahwa suatu saat, saya akan kembali ke Bandung. Suatu saat itu, bisa berarti sepuluh  tahun lagi, atau saat pensiun, atau ternyata lebih cepat dari tiga tahun lagi.

Siapa yang bisa tahu masa depan? Saya sih nggak bisa.

Tapi saya percaya, masa depan bisa direncanakan. Misalnya… sebelum terlaksana pindah ke Bandung, ya cari-cari rumah idaman yang nyaman-suraman dulu deh… Saya tahu saat ini saya belum bisa membeli rumah, tapi teteup aja, tiap hari buka-buka situs web Rumah123.com untuk cari-cari rumah. Ini seperti menyiksa diri sendiri sih, sudah tahu belum bisa membeli tapi nongkrong terus di tempat mencari rumah 😆 tapi percayalah, hal ini itu penting untuk dilakukan, karena dengan begini saya jadi tahu, kisaran harga rumah idaman yang nyaman; yang ingin saya miliki kelak.

Jelas dong, saya ngecekin rumah-rumah di lokasi yang saya mau. Bandung jelaslah ya jadi lokasi idaman, lokasi lain ya di Jakarta. Ada beberapa daerah di Jakarta yang saya suka, salah satunya daerah BSD, kayanya masih luas gitu.

Yang bikin ‘penyiksaan’ terhadap diri sendiri ini gak bisa berhenti, salah satunya adalah karena kemudahan fitur pencarian rumah di website Rumah123. Betul-betul mudah cari rumah di situs web Rumah123.com, gak salah deh situs web ini jadi situs properti no.1 di Indonesia.

Di halaman awal, sudah ada pilihannya, mau cari rumah dibeli atau disewa. Komplit, kita juga bisa masukin range harga rumah yang dicari, lalu lokasinya mau di mana. Kemudian, untuk bentuk huniannya juga bisa pilih, ada apartemen. Tidak hanya itu, ada menu pilihan juga untuk rumah baru atau perumahan baru, ruko, rukan, rumah 2nd, dll.

Semua rumah-rumah yang diiklankan di website Rumah123.com ini punya nomor listing, disebut ID Listing; jadi ketika menelpon ke pemilik iklan itu, saya jadi lebih mudah menyebutkan mana rumah yang saya minati. Saya belum pernah menelpon sih, tapi teman saya sudah pernah. Jadi si pengiklan rumah itu ternyata punya beberapa rumah yang diiklankan di Rumah123.com nah, dia tinggal menyebutkan ID Listing rumah yang dia mau, langsung deh mereka ngobras dengan bahasan yang sama.

Ada lagi deh fiturnya yang bikin garuk-garuk tanah, yaitu simulasi KPR dari salah satu bank gitu. Hoaaaaa….beneran nemu mainan baru deh. Betulan mudah, tinggal pilih berapa uang muka lalu berapa lama tahun cicilannya, langsung keluar semua angkanya. Ya mungkin kenyataannya nggak semudah itu ya, tapi paling tidak saya jadi tahu, berapa banyak sih uang yang harus saya siapkan.

Dengan semua kemudahan itu, gimana saya gak betah nongkrongin situs web Rumah123?

Lha trus, kapan beli rumahnya? HEH! Jangan nanya itu dulu ‘napa? *asah golok*

Tapi biar belum bisa beli rumah, saya udah dapet berkah duluan dong, karena terus menerus nongkrongin situs properti no. 1 di Indonesia indang, saya jadi tahu ada informasi bahwa Rumah123 baru saja meluncurkan program Kontes Rebutan Rumah Gratis! Uwoooowowww…. Hadiahnya rumah cong! Ish, jelaslah ekke langsung mendaftar. Mana kontesnya ini semudah 123 saja, ceeeeuuuu…. Daftar, like FB atau follow Twitter Rumah123 trus isi data diri, kemudian isikan ID Listing rumah yang dijadikan hadiah. Rebes. Beneran hadiahnya rumah? BENER! Rumah seharga 500 juta ma meeeen… Rasanya, ini adalah kontes online terbesar yang pernah ada ya.

Yang bikin makin ngiler, semua pajak dan printilannya akan ditanggung oleh Rumah123. Tugas peserta ya cuma ikutin kontesnya ajhyaaa… Gimana saya gak panik buru-buru ikutan?! Langsung deh akika daftar saat itu juga, sambil deg-degan panik-panik gitu sih… hahahaha padahal kontesnya gampang banget, seperti yang saya bilang tadi. Panik karena saya sangat berhasrat untuk menang 😛

Program ini diluncurkan awal Mei dan akan berakhir sekitar bulan September, kalau nggak salah sih… Pokonya kalau sekarang mau ikutan kontesnya mah masih keburu deh. Kontes ini terbuka untuk siapa saja, jadi buruan ikutan gih…

Silahkan klik di sini

Eh, tapi klo makin banyak yang ikut kesempatan gue menang makin tipis yak… Ya ga pa-pa deh… Rejeki mah siapa yang tau yak… Ini kesempatan buat kita untuk mendapat rumah idaman ya bok… ETAPI TETEP DOAIN GUE YANG MENANG DONG! *lho?*

Trus setelah daftar, disuruh ngapain lagi? Belum ada instruksi selanjutnya, ya kita tunggu saja. Tapi sepertinya gak bakal disuruh lari dari Jakarta ke Pandeglang deh… wong katanya kan semudah 123. Hmm… kalaupun disuruh lari, saya teteup jalanin dah… HADIAHNYA RUMAH gitu loh… menurut ngana?

Sementara nungguin pemenang kontes diumumkan, mari kita mencari-cari rumah idaman yang nyaman suraman lagi! Yeuk! *nyiksa diri lagi*

Old File

Bapak dan ibu sekalian yang saya muliaken, ini adalah file lama… dari tempat saya pernah bekerja dulu. Iseng-iseng nyari eh ketemu 🙂 websitenya sendiri sudah tutup buku, brand-nya juga sudah tutup buku (kayanya). Sutralah…

Yang jelas, video ini bagus sih… menurut saya sih 😀 bukan saya yang bikin… saya cuma nemenin pas ke pabrik, nyatetin apa aja yang mau disyuting untuk dijadikan bahan pembelajaran.

Aaah… saya jadi menye-menye lihat video ini 😦

Batik oh Batik (bag. 3)

Lanjutan dari posting Batik oh Batik (bag. 2)

Perbedaan paling mendasar dari Batik dan cetak mesin adalah: pada Batik berlaku cetak terbalik, sementara di mesin ya cetak apa adanya. Eh, ini istilah saya sendiri ya, supaya lebih gampang mengartikannya saja.

Cetak terbalik itu gimana sih? Gini, salah satu ciri utama pada Batik adalah penggunaan lilin sebagai penghalang warna. Jadi kain sebelum dicelup ke dalam pewarna diberi lilin sesuai dengan motif yang diinginkan, tetapi negatifnya. Semisal, ada gambar bunga, kelopaknya mau berwarna putih (warna kain) sementara di luar kelopak mau berwarna coklat, nah bagian kelopaklah yang diberi lilin, sehingga ketika setelah dicelup warna lain, maka yang kena pewarna hanyalah bagian yang tidak ada lilinnya. Setelah proses pewarnaan selesai, lilin diluruhkan dengan cara dicuci di air panas. Lha kalau batiknya ada tiga warna semacam Batik Tiga Negeri gitu? Ya berkali-kali juga ngelilinnya, sesuai dengan warna yang diinginkan. Boleh dibilang, sebenarnya Batik bukanlah termasuk kategori kain cetak melainkan kain celup.

Pada Batik Tulis & Batik Cap, logikanya sama. Yang ingin diwarnai dibiarkan terekpos tanpa lilin.

Sementara itu, pada cetak mesin, ya warna langsung dicetak begitu saja, ada 3 warna ya langsung ada tiga cetakan warna.

Jadi, pada proses pembuatan batik, pembatik membayangkan hasil jadinya kemudian baru memundurkan prosesnya ke belakang untuk membuat motif.

Nah, untuk mengenali sebuah kain apakah termasuk Batik atau kain cetak mesin biasa, kita juga mesti merunut kain tersebut dengan logika yang sama, mundur ke belakang. Melihat suatu motif, kita bayangkan kira-kira bagaimana ini dibuatnya. Ah, emang bisa? Bisa, tapi harus jeli sekali memang.

Trik lainnya adalah dengan mengurutkan motif.  Seperti yang saya bilang kemarin, biasanya orang bilang kalau Batik Tulis / Cap itu punya cacat lilin yang tidak disengaja, yang mana hal ini dengan mudah dapat diikuti oleh mesin cetak. Nah, kalau cacat lilinnya itu disengaja lihat saja dan telusuri di kainnya, pasti akan terulang.

Masalahnya, cacat ini pun dipalsuin 😆 Sekarang banyak beredar di pasar kain cetak yang diberi lilin sehingga pas sudah jadi, itu adalah kain batik.

Berikut ini ada beberapa foto yang saya ambil di stand Balai Penelitian Batik Jogjakarta saat pameran Adiwastra kemarin. Lihat aja deh gambarnya, pasti kebayang apa yang saya certitain di atas, soal proses yang mundur.

Ini adalah contoh-contoh kombinasi cetak mesin dengan pemberian lilin.

 

Kurang lebihnya begitu deh… gak nolongjuga ya menentukan itu Batik apa cetak biasa? Ah…nolong aaah… biar dikit juga… 😆

Oh iya, satu lagi tips, Batik Tulis/Cap, tidak mungkin terbuat dari kain poliester soalnya lilin gak bisa nempel di poliester.

 

Batik oh Batik (bag. 2)

Cap Batik

Ini lanjutan dari posting yang ini.

Sejujurnya, secara kasat mata membedakan batik tulis, batik cap, kemudian kain biasa yang diprint motif batik itu sangatlah sulit. Hampir tidak bisa dikenali. Karena print pakai mesin itu bisa niruin efek batik tulis juga, termasuk efek noda kain akibat lilin yang beleber :mrgreen:

Tapi, mungkin dengan memahami teknis pembuatan batik, paling nggak kita bisa lebih terlatih dan jadi lebih paham, mana yang dikerjakan secara manual dan mana yang dikerjakan secara masinal.

Pengerjaan secara manual, adalah batik tulis dan batik cap. Jangan salah ya bok, biar kata judulnya batik cap, cape juga loooo ngecapin kain selebar 115 cm & panjang kurang lebih 200 cm…

Batik Tulis: biasanya yang jadi motif pada batik tulis adalah gambar yang abstrak, semacam kembang yang segede gambreng gitu trus bererot dari ujung ke ujung. Betul-betul jadi semacam lukisan.  Motif yang geometris pun , kalau ukuran motifnya besar, biasanya batik tulis, kalau cap…mau segede apa capnya? 😀

Batik Cap: biasanya yang jadi motif pada batik cap adalah motif-motif yang geometris, semacam parang, kembangan yang kecil-kecil gitu… Pokoknya motif yang repetisinya gampang disambungin. Meskipun pada jaman dahulu *tsaaah* sebelum ada kepraktisan cap, semua motif dibatiknya ya manual nulis tangan gitu… ya iyalah… tapi jaman sekarang, minim banget deh batik-batik dengan motif yang geometris gini tidak dibikin dengan cap.

Berbagai Motif Cap

Nah, kita simpan dulu pemahaman soal batik tulis dan batik cap ini, sekarang saya cerita soal mesin printing tekstil ya. Mesin printing tekstil untuk industry yang banyak digunakan saat ini adalah mesin printing rotary dan mesin printing flat, sementara teknologi terbaru dalam industry printing adalah mesin printing digital.

Mesin rotary: biasanya digunakan untuk mencetak motif-motif yang sambung menyambung panjang gitu, seperti motif garis. Juga motif yang geometris, kotak-kotak, polka dot. Keunggulan mesin ini,adalah sambungan motifnya halus, tapi ketajaman motifnya kurang halus, hal ini dikarenakan screen yang digunakan pada mesin rotary ini bentuknya mirip seng gitu deh. Jarak pengulangan motifnya rata-rata sih 60 cm, itu sudah paling besar screennya.

Mesin Flat: pernah lihat orang nyablon kaos? Pakai film yang biru-biru gitu? Nah, mesin printing flat juga seperti itu, cuma lebih besar. Repetisi motif bisa sampai 90 cm, tapi jarang banget yang mau sampai sebesar itu, karena kemungkinan mengsle besar. Eh, tergantung berapa warna juga deng, kalau warnanya dikit ya bisa aja plus motif yang gak rumit, jalan juga dah di mesin flat. Keunggulan mesin flat ini adalah ketajaman motifnya, bisa jelas banget.

Mesin Digital: ini logikanya mirip banget sama mencetak dokumen di printer komputerlah… Tidak ada keterbatasan warna, trus motif juga tajam sekali, kemudian tidak ada kain pancingan. Kain masuk, keluar langsung ngeprint. Pokoknya gampang dan cakep. Masalahnya cuma satu, MAHAL BANGET! :mrgreen:

Oh, kain pancingan ini yaaa…. kain yang dipakai buat mancing *gak ilmiah banget*. Jadi biasanya kalau mau nge-print pakai mesin, beberapa meter pertama itu hasilnya gak bagus, masih tes warna-lah, masih cek kelancaran mesinlah… Di pabrik biasanya, kalau mau ngeprint gini beberapa puluh meter pertama kami pakai kain yang jelek dulu, baru kain yang bagus yang memang dikamsudkan untuk diprinting. Inilah salah satu penyebab kenapa kalau order printing di pabrik mesti gede jumlahnya? Kain pancingannya aja bisa puluhan meter, cyiiin… masa order cuma 100 meter, gak masuk dong biaya produksinyaaa… gitu deh.

Err… baru cerita batik tulis, batik cap, dan mesin print aja rasanya udah panjang bener dah… nyambung ke bagian tiga yah… *kumpulin napas lagi*

Batik oh Batik (bag. 1)

Proses Batik Cap

Sebagai buruh tekstil, saya selalu terbelah jika terjadi perdebatan mengenai batik yang memang batik dan motif batik yang dicetak secara masinal.

Pertama, saya setuju bahwa batik adalah selembar kain tradisional yang digambar, dan diwarnai secara manual, dalam prosesnya melibatkan lilin sebagai color resistant. Secara teknis, pencetakan motif dilakukan secara langsung digambar di atas kain, dikenal dengan batik tulis; lalu ada cara kedua yaitu pencetakan motif dengan mengunakan cap.

Kedua, batik tidak hanya menyangkut teknis pembuatan. Saya meyakini bahwa motif juga memegang peranan penting dalam selembar kain.  Apa salahnya jika motif itu diperbanyak secara masinal, sehingga semakin banyak orang yang bisa memilikinya. Makin banyak orang bisa menikmati motif-motif batik yang bahkan memuat sejarah dalam gambar-gambarnya. Ah, saya lebay? Biasanya iya sih, lebay, tapi kali ini tidak :mrgreen:. Siapa ingat soal batik pagi sore yang muncul dari kreatifitas pembatik sekitar akhir perang dunia ke-2? Saat Jepang menguasai Indonesia, saat pasokan katun untuk kain batik menipis; seniman batik dan fashionista jaman itu mempunyai ide cemerlang untuk membuat selembar batik dengan dua motif yang berbeda, satu motif dipakai sebagai bagian depan saat pagi hari, dan sore hari memakai motif kedua di bagian depan.

Adajuga cerita soal batik tiga negeri, dinamakan tiga negeri karena dibuat dengan melibatkan tigakotautama pembuat batik dalam proses pewarnaan selembar batik yang memiliki tiga warna utama, yaitu merah, biru, dan sogan atau kecoklatan. Untuk warna merah, warna dicelup di Lasem, yang memang terkenal dan unggul dengan pewarnaan merah. Kemudian untuk warna biru, warna dicelup di Pekalongan, yang unggul dengan pewarnaan biru, sementara itu untuk warna sogan / kecoklatan dicelup di Solo, yang jagoan neon soal pewarnaan sogan. Itu sebabnya, selembar batik yang memiliki tiga warna ini dinamai batik tiga negeri. Namun konon cerita, ada muatan sosial dalam selembar kain itu. Merah dipercaya mewakili warga Tionghoa, biru adalah warna yang mewakili bangsa Eropa, dan coklat adalah representasi dari warga pribumi, dalam hal ini penduduk Jawa.

Tidak hanya itu, jika kita melihat ada perbedaan besar antara motif batik pesisir dengan motif batik pedalaman. Batik pesisir mendapat banyak pengaruh dari para saudagar bangsa asing yang merapat ke pelabuhan, warna yang digunakan pun lebih berani dan bebas. Bangsa pesisir, lepas dari pemerintahan pusat yang di pedalaman, lebih bebas dalam berekspresi.

Motif pedalaman, penuh aturan. Raja menggunakan motif khusus. Abdi dalem, memiliki motifnya. Rakyat juga memiliki motifnya sendiri. Bagi masyarakat pedalaman, selembar batik adalah doa. Seorang ibu, saat hamil, membuat batik untuk kain gendongan anaknya. Ia bermeditasi, menuliskan doanya menjadi gambar. Kelak, si jabang bayi akan dibuai dalam selembar doa, akan digendong dan diasuh dengan penuh mantra.

Seorang istri, menuliskan doa ke atas selembar kain yang akan dipakai sang suami dalam peperangan. Seorang ibu, merapalkan mantra untuk kebahagiaan anaknya ke atas kain yang akan dipakainya pada hari pernikahannya. Selembar doa pula yang akan menjadi penutup jenasah, semoga yang meninggal mendapat kebahagiaan dan kelancaran di alam kubur. Orang-orang pedalaman sangat kukuh mengikuti aturan ini, oleh karenanya, tidak semua batik bisa dipakai untuk semua acara. Masing-masing punya mantra tersendiri.

Saya terpesona dengan semua detail mengenai motif batik. Baik pedalaman maupun pesisir, memiliki daya tariknya. Pesisir lebih riang, lebih menikmati hidup dan fleksibel. Sementara pedalaman lebih magis.

Apa salahnya mencetak semua itu ke atas kain menggunakan mesin cetak di pabrik? Pembeli senang, akan terus membeli sehingga pabrik tetap terus beroperasi sehingga buruh-buruh pabrik seperti saya bisa tetap bekerja.

Ya kan?

Taaaaapiiiiii masalahnyaaa adalah bagaimana membedakan batik yang betul-betul batik dan kain yang bermotif batik hasil produksi pabrik. Untuk kain bermotif batik yang diproduksi secara massal, bagaimana membedakan itu pabrikan lokal atau bikinan Cina?

Errrr…. Di bagian dua aja ya dibahasnya, biar ada alasan ngeblog lagi gituh *padahal mah masih bingung nulisnya gimana* 😆

Bersambung… *seru ya kaya di film-film, ada bersambungnya*

Pesona Kain Nusantara: Warna-Warni Kain Pelangi

Palembang selain terkenal dengan kain songketnya juga terkenal dengan kain Pelangi yang terbuat dari sutra Cina tipis, yang biasa disebut kain Tussah.

Kain pelangi ini dikenal pembuatannya di Nusantara, tidak hanya di Palembang saja, namun juga terdapat di beberapa wilayah lain seperti Jawa, Lombok dan Kalimantan. Namun, kain Pelangi dari Palembang mendapat perhatian lebih besar dibandingkan yang lain karena ciri khas warna dan motifnya yang indah.

Dipercayai, kain Pelangi dari Palembang ini berasal dari wilayah Gujarat – India, yang kemungkinan penyebarannya sejak jaman kerajaan Sriwijaya menjadi pelabuhan dagang terkuat di wilayah Asia Tenggara. Oleh karena hal tersebut pula, maka tak heran jika selain di Indonesia, kain Pelangi juga bisa ditemukan di wilayah semenannjung Melayu, Thailand dan Kamboja. Bahkan hingga kini beberapa tempat tersebut juga masih memproduksi kain Pelangi. Continue reading “Pesona Kain Nusantara: Warna-Warni Kain Pelangi”

Pesona Kain Nusantara: Amazing Geringsing

Kain tradisional Bali, yang dibuat dengan teknik tenun ikat, dikenal banyak berasal dari Singaraja di Bali bagian utara, bahan yang digunakan adalah serat sutra. Namun pada beberapa wilayah, ditemukan penggunaan katun, salah satunya yang ditenun di wilayah Nusa Penida.

Yang paling terkenal dari kain tenun Bali adalah kain Geringsing yang diproduksi di desa Bali Aga – Tenganan, Bali. Yang membuat kain ini menjadi unik adalah teknik ikat pada kedua benang lusi (panjang kain) maupun pakan (lebar kain). Biasanya pada pembuatan kain tenun, hanya satu bagian benang, kebanyakan bagian pakan saja yang diikat. Seperti pada proses pembuatan tenun ikat yang lain, teknik pengikatan ini dimaksudkan untuk membuat motif pada kain. Jadi dapat dibayangkan, bahwa diperlukan ketelatenan dan ketelitian yang sangat tinggi untuk pembuatan kain tenun dengan teknik dobel ikat ini. Kecermatan untuk memasangkan motif supaya ketika kain diwarnai*, dapat menghasilkan motif yang diharapkan. Tenun dobel ikat ini, hanya dikenal di beberapa wilayah Jepang, India, Guatemala, dan di Indonesia hanya ditemukan di Tenganan, Bali. Konon, teknik tenun dobel ikat ini, diadopsi oleh masyarakat Tenganan dari India, karena di wilayah Gujarat juga ditemukan teknik yang sejenis.

Fungsi religi pada kain Geringsing lebih kuat dibandingkan fungsi sebagai pelindung badan. Karena pada masa lampau, kebiasaan masyarakat Bali lazimnya tidak menggunakan penutup dada. Meskipun mereka juga memiliki baju tradisional kebaya. Jika ada upacara tertentu, barulah masyarakat berhias diri, kain kemben digunakan pada wanita bukan untuk menutup dada, namun untuk mengangkat dada agar terlihat indah.  Kain Geringsing ini ditenun oleh masyarakat Bali Aga salah satunya adalah untuk menolak penyakit. Kain geringsing berasal dari kata gering yang artinya sakit atau penyakit. sing artinya tidak ada. Jadi kain geringsing berfungsi untuk menolak penyakit dan desa Pagringsing adalah salah satu desa yang mempunyai kiat untuk menolakpenyakit lewat kain geringsing tersebut.

Bahkan, konon ceritanya, ada kain Geringsing yang diwarnai menggunakan darah manusia, untuk menciptakan warna merah – hitam berkarat. Hal ini dimaksudkan untuk menunjukkan pengorbanan dan diharapkan dapat menjadi tumbal untuk terbebas dari penyakit. Entahlah, benar atau tidaknya cerita itu. Yang jelas, seperti pada umumnya pewarnaan kain tradisional sebelum masa industrialisasi, warna bisa dihasilkan dari bahan alam, misalnya warna merah yang didapat dari akar mengkudu, sementara hitam didapat dengan merendam kain dalam minyak kemiri yang dicampur dengan abu kayu dan alkali.

Pada umumnya, kain Geringsing memiliki tiga warna dasar yaitu putih (atau putih tulang) yang menggambarkan angin, hitam yang menggambarkan air dan merah yang menggambarkan api. Sesuai dengan penggambaran karakter dewa Brahma, Wisnu dan Siwa. Namun Geringsing juga dikenal dalam dua pembagian warna, yaitu Geringsing Selem (Geringsing Hitam) dan Geringsing Barak (Geringsing Merah).

Geringsing Selem, didominasi oleh warna hitam dan putih, sementara warna merah hanya nampak pada bagian ujung saja. Sedangkan pada Geringsing Barak, nampak tiga warna putih tulang, hitam dan merah sama-sama mendominasi. Kain Geringsing juga dibedakan menurut ukurannya, kain Geringsing dengan ukuran paling besar, disebut Geringsingan Perangdasa yang memiliki pola ragam yang lebih lebar. Geringsing ukuran sedang disebut Geringsing Wayang, dan di bawah itu ada Geringsing Patlikur. Untuk ukuran yang paling kecil adalah Geringsing Sabuk, Anteng dan Cawat.

Untuk motif, kain Geringsing mengambil motif dari flora dan fauna yang distilasi, pada tengah kain motif yang paling besar lalu berulang hingga ke tepian kain.

Seperti yang sebelumnya saya posting di sini

Update 31/01/2013:

*Di artikel ini saya mendapat informasi yang salah, bahwa kain diwarnai setelah ditenun, sebenarnya yang terjadi adalah, benang diwarnai sebelum ditenun. Ini makin membuat saya ternganga, bagaimana bisa hal yang sedemikian rumitnya dikerjakan secara tradisional? Motifnya sudah jadi bahkan ketika masih berupa benang.

Saya terbiasa melihat kain yang ditenun dengan mesin, juga terbiasa berinteraksi dengan pola tenun kain secara moderen, peralatan yang canggih sangat membantu kami, dan penenun tradisional ini bekerja dengan alat yang seadanya dan imajinasi di kepala saja. Hebat banget. Salut kepada para pengrajin tenun.

Pesona Kain Nusantara: Horas Ulos

Ulos dalam Bahasa Batak berarti Kain, dan secara garis besar pemakaian Ulos dibagi menjadi tiga cara yaitu siabithononton (dipakai), sihadanghononton (dililit di kepala atau ditenteng), sitalitalihononton (dililit di pinggang).  Namun untuk pemakaian detail dan motif Ulos, adalah berbeda-beda tiap suku-suku Batak. Misalnya pada suku Batak Simalungun biasanya mengenakan kain ulos bulang dengan motif gatip dan untuk sehari-hari mereka memakai Ulos jobit dan penutup kepalanya Ulos suri-suri. Pada suku Batak Toba, mereka mengenakan Ulos mangiring sebagai penutup kepala, dan menggunakan selempang Ulos ragihotang dilengkapi dengan sarung. Continue reading “Pesona Kain Nusantara: Horas Ulos”

Pesona Kain Nusantara: Senandung Sarung Bugis

Kain tradisional Bugis yang berupa sarung ini memiliki corak garis-garis yang cantik, dan terbuat dari sutra yang diproduksi oleh masyarakat bugis sendiri. Masyarakat Bugis dari desa Tajuncu di Sulawesi Selatan sudah menggunakan cara modern dalam pengembangbiakan ulat sutra, untuk memenuhi kebutuhan benang para penenun di desa Sempange, Sengkang yang merupakan pusat pembuatan kain tenun di Sulawesi Selatan.

Menurut legenda, masyarakat Bugis percaya bahwa keterampilan menenun nenek moyang masyarakat Bugis diilhami oleh sehelai sarung yang ditinggalkan oleh para dewa di pinggir danau Tempe. Dan di desa-desa yang terletak di pinggiran danau Tempe itulah kain tenun Bugis yang sangat bagus itu dibuat. Continue reading “Pesona Kain Nusantara: Senandung Sarung Bugis”

Pesona Kain Nusantara: Gaya Tenun Sumba

Wilayah timur Nusantara yang eksotis, selain terkenal dengan keindahan alam bawah laut dan hasil laut berupa mutiara yang elok, rupanya juga mempunyai kekayaan budaya berupa kain tradisional yang dibuat dengan cara menenun.

Kain tenun Sumba, secara garis besar dibagi menjadi Hinggi yaitu kain untuk pria dan dan Lau Pahikung yaitu kain untuk wanita. Selain itu, warna kain tenun Sumba juga sedikit banyak dipengaruhi oleh lokasi. Di Sumba Timur, biasanya kain tenun berwarna dasar hitam dengan motif berwarna, sementara di Sumba Barat, kain tenun berwarna dasar biru tua dengan motif berwarna. Continue reading “Pesona Kain Nusantara: Gaya Tenun Sumba”

Pesona Kain Nusantara: Lurik Cantik

Berbagai penemuan sejarah menunjukan bahwa kain tenun lurik telah ada di jawa sejak zaman pra sejarah. Ini terbukti pada Prasasti peninggalan kerajaan Mataram (851-882 M) yang menunjukkan adanya kain lurik pakan malang. Prasasti Raja Erlangga Jawa Timur tahun 1033 yang menyebutkan bahwa kain tuluh watu adalah salah atu nama kain lurik. Dan juga pemakaian selendang pada arca terracotta asal Trowulan di Jawa Timur dari abad 15 M menunjukkan penggunaan kain lurik pada masa itu. Adanya tenun di pulau Jawa diperkuat dengan pemakaian tenun pada arca-arca dan relief candi yang tersebar di pulau Jawa. Continue reading “Pesona Kain Nusantara: Lurik Cantik”