Bebas Aja, Beb!

Sontak rame-rame soal capres & cawapres. Ada yang kecewa, ada yang sinis, ada yang senang. Bebas! Aku juga mau turut ria-ria menyemarakkan suasana.
Temen-temen di sini mau jadi pengamat polititik atau ikut terjun jadi praktisi… monggo… Bebas, beb!

Continue reading “Bebas Aja, Beb!”

Menunggu Inspirasi

Seperti menanti Godot. Eh, nggak juga sih… sebenarnya ia datang, tapi kemudian lenyap begitu saja ketika hendak dituliskan. Kata-kata yang sudah ada di kepala, saat mak-triiiing itu tadi, tiba-tiba saja jadi garing dan nggak ada artinya, padahal perasaan nih ya… tadi tuh dalem banget…

Itulah sebabnya saya nggak update blog ini. Menggambar pun saya sedang tidak ada gairah. Menulis cerita soal makanan atau kopi? Paling banter di IG, dan tetap saja berasa garing. Entahlah. Continue reading “Menunggu Inspirasi”

Pak Dendy VS Intoleransi

Hari ini, eh tepatnya kemarin deng… timeline FB saya dipenuhi oleh posting video seorang perempuan yang dihujani uang! Huwow! Hidup Bu Dendy! Mungkin ada yang belum tahu soal cerita ini, baiklah… secara singkat akan saya ceritakan kembali.

Konon, perempuan yang dihujani uang tersebut adalah orang ketiga dalam rumah tangga Pak Dendy dan Bu Dendy. Dia, entah bagaimana, atau mungkin dipanggil oleh Bu Dendy untuk datang ke rumah untuk dimaki-maki dan dihujani duit, sementara seluruh proses ini direkam dan tersebar di jagat FB. Itu duitnya bauanyaaaaak banget! Caci maki Bu Dendy ini menggunakan Bahasa Jawa, dan sebenernya agak kocak sih kalau diterjemahkan… kurleb gini, “maumu apa sama Pak Dendy? Kamu maunya apa? Uang?! Nih!” lalu Bu Dendy lempar duit, “kurang? Nih! Makan uangnya! Nih! Cukup buat kamu bikin rumah! Pak Dendy itu kasih uang kamu yang dipake uangku! Hasil kerjaku! Kamu mau uang? Nih makan ni uang!” setiap kata nih, duit berhamburan saudara-saudaraaa…. di akhir video, kita mandi uang… aselik, saya pengen mungutin tuh uang, takrapihin lalu takkarungin buat beli rumah. Nyoh! Continue reading “Pak Dendy VS Intoleransi”

2017 Yang Telah Berlalu

Selamat Tahun Baru 2018! Semoga kita tetap sehat, tetap kece dan tetap warbiyasak di tahun ini. Masih Januari, meskipun sudah di penghujung, semoga ucapan tahun baru ini masih diterima.

Begitulah, 2017 berlalu cepat, tapi nggak cepat juga…. hahaha… buat saya, 2017 menyenangkan juga sedih. Sedih?! Sedih kenapa? Nggak tau, kayak menyimpan kesedihan itu menjaga saya untuk tetap waspada… jadi kayaknya saya nggak rela melepaskan sedih ini… hahahaha… tapi, kesedihan saya kering… sebab saya susah sekali menulis. Sementara menggambar, kadang on dan kadang males banget. Continue reading “2017 Yang Telah Berlalu”

Sayangnya Kita Tak Saling Jatuh Cinta

Kami saling menyukai. Tentu saja, jika tidak kami tidak akan berteman sebaik ini. Bahkan boleh dibilang, dia adalah salah satu teman terfavoritku pada saat ini.

Kami bercakap-cakap sejak mata terbuka, mengucapkan selamat pagi dan semoga hari yang akan dilalui memberikan kesenangan. Lalu seharian kami akan bersaing membuat yang lain ketawa; saling menertawakan dan tertawa bersama.  Continue reading “Sayangnya Kita Tak Saling Jatuh Cinta”

2017

HALOOOOO!!!! Maafkan saya yang alpa update blog ini… pfiuuh…

Pertama-tama, elah… ijinkan saya mengucapkan selamat tahun baru masehi 2017 dan selamat tahun baru cenes… lho, klo ada tahun baru Cina, kapan ada tahun baru Indonesia?! 😆 😆

Semoga, dengan ucapan dobel ini rejeki juga dobel! AMIN! Continue reading “2017”

Warmth

Getting caught up in the circus-like atmosphere, feeling less responsible to conventional ethical practices – Warmth, Song by Bastille

Saya nggak ngerti deh, mesti gimana untuk membuat teman-teman saya yang panasan dan senengane provokasi supaya gak panas dan selow… Nggak ikut-ikutan beropini, ya sudah saya lakukan. Ngomel di blog, mulai dari ngomel beneran sama ngomel putus asa ya sudah. Sibuk posting tentang cinta kasih ya sudah… aseli, saya sayang lho sama temen-temen saya ini, mesakke kalau terus memelihara ketidakseloan. Ingat kolestrol dan darah tinggimu, lho… Continue reading “Warmth”

Doa

Ada yang lahir dengan menggenggam keberuntungan, pohon-pohon tumbuh hanya dengan helaan nafas, dan lirikan mata mereka memekarkan kembang-kembang.

Tapi ada yang lahir di masa kemarau, saat tanah retak karena risau, dan tunas-tunas yang telah membikin tangan mereka berdarah mati karena terhimpit batu.

Lalu di antaranya ada kita, aku dan kamu. Yang lahir dengan menggenggam harapan, dan kemampuan untuk merayu.

Sebab, aku memang suka sekali merayu.

Posted in NOL

Puasa, Karma & Jadi Asisten Tuhan

Beberapa hari yang lalu, saya dan beberapa teman membahas soal puasa. Lalu saya bilang, “aku betul-betul susah kalau mau puasa… kayaknya seumur hidup, paling cuma beberapa hari aja sukses puasanya” Continue reading “Puasa, Karma & Jadi Asisten Tuhan”