Rindu Yang Tak Pernah Usai

Oh halo! Secara berkala, saya ingin mengabarkan bahwa saya masih hidup! Ah, ini jadi bercandaan tapi nggak bercanda juga… mati adalah suatu kepastian, tapi saya nggak mau juga ketika mati, baru tiga hari kemudian diketemukan. Jadilah, setiap pagi saya punya jadwal absen ke beberapa teman, cukup pesan singkat di wa: aku masih idup.

Di sini, saya tambahkan, saya masih hidup dan baik-baik saja. Sungguh. Meskipun masih saja pasang surt, kadang bisa bernapas, kadang tidak… hidup saya sungguh baik-baik saja.

Nyeri yang berjalan di ulu hati, sempat hilang beberapa waktu yang lalu, mendadak kembali dengan rasa dingin di punggung. Saya sudah pasrah. Biarlah rasa itu tinggal, biarlah air mata selalu mengalir ketika nyeri tak tertahan lagi, saat saya tenggelam dalam rindu yang teramat saat. Ya sudahlah kalau sisa hidup harus demikian, saya pasrah. Mau apa lagi. Segala cara sudah saya lakukan untuk melupakan rasa; membuat kenangan baru, sayangnya tak cukup kuat. Ya sudahlah, tak baik menghabiskan energi untuk hal yang sia-sia.

Pernah saya katakan pada laki-laki kayu manis itu, “jika ini pembayaran hutang di kehidupan yang lampau, baiklah… semoga hutangku lunas di kehidupan ini. Aku tidak mau terlahir kembali. Kalau pun memang kelahiran kembali itu ada dan nyata. Jika tidak, untuk alasan apapun, semoga ini berhenti di sini.”

Saya penasaran, benarkah kami pernah bertemu di kehidupan yang lalu? Mungkin ya, tapi juga tidak. Saya mulai mengada-ada untuk mencari alasan, kenapa rasa nyeri tetap bertahan. Masalahnya, otak saya bekerja secara kebalikan, ketika tak ingin saya pikirkan, ia menetap. Tak bisa juga saya persilahkan ia tetap tinggal, ia harus pergi. Ah, sudahlah.

Biar saja nyeri ini sebagai pengingat, bahwa hidup juga terdiri dari jutaan nyeri, tawa, tangis, senang, gembira… segala rasa. Karena saya masih hidup, maka nyeri terasa berjalan di ulu hati dan meremas jantung, dan dingin merayap di punggung. Oh, siapa bilang rindu adalah bumbu cinta… rindu hanya datang menyiksa.

Lho, kok jadi membahas rindu?

Ya begitulah… saya masih hidup untuk menuntaskan rindu. Jika rindu usai, mungkin purna sudah tugas saya menye-menye di dunia ini. Siapa tahu.

Hidup masih terus berjalan. Baik-baik ya kalian… jangan lupa bernapas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s