Dua Puluh Dua Satu

Halo! Saya masih hidup! Sehat, waras dan berbahagia. Sungguh.

Memang, saya mengalami pasang surut perasaan dalam beberapa bulan terakhir ini. Penyebabnya banyak, memang kehilangan pekerjaan menjadi pukulan terbesar dan banyak hal yang akhirnya tersangkut paut. Kenapa nggak cari kerja lagi secepatnya? Atau memulai usaha secepatnya… jangan hanya mengomel dan menyesali diri saja. Oh… percayalah, saya punya seribu teori dan motivasi untuk menggerakkan mood saya, tapi ya begitulah.

Meskipun demikian, secara keseluruhan… saya merasa tetap berbahagia dan tenang. Saya sadar, saya sedang kesusahan bernafas, dan yang bisa saya lakukan hanya berusaha bernafas. Semoga ini bisa dipahami… hahahaha… Entahlah, apa yang menyebabkan hal ini, mungkin hanya penerimaan bahwa semua hal sebenarnya sia-sia. Saya memahami kesia-siaan sejak dulu, tetapi tombol rasa penerimaan tidak otomatis menyala. Saat ini, ketika semuanya dilucuti barulah tombol itu menyala. Saya bisa menerima ketika memang saatnya.

Saya masih mempunyai banyak keinginan. Saya ingin mewujudkan banyak ambisi saya. Saya mau ini dan itu. Saya masih merasa berat bernafas.

Dan pertolongan yang memang saya butuhkan, datang di saat yang memang tepat. Dari tempat yang tak pernah saya duga. Dari orang-orang yang sama sekali tak pernah saya pikirkan. Ajaibnya, semua ini berlangsung seperti memang sudah diatur begitu. Ada yang meminjamkan energinya, ada yang memberikan kasih sayang yang saya pikir melampaui apa yang pantas saya terima, ada juga yang mencambuk saya untuk berlari lagi. Semua hal yang membuat roda hidup saya berjalan. Hidup saya melebur.

Jika di masa lalu, saya menerima pertolongan-pertolongan semacam itu, saya pasti sudah menghitung, apa yang harus saya bayarkan di kemudian hari? Atau pembayaran budi yang manakah ini? Hidup ini soal transaksi, memberi dan menerima; hukum tabur tuai. Secara ajaib, itu semua dilucuti. Saya menerima semua pertolongan dengan rasa syukur, tanpa sedikit pun merasa ini adalah pembayaran budi di masa lalu atau hutang yang harus saya tanggung di masa depan. Hidup hari ini berjalan memang seperti seharusnya hari ini. Lalu, saya berderai air mata… apalah saya ini, hendak melawan Sang Hidup. Baiklah.

Masalah selesai? Apakah saya kembali hidup di awan-awan penuh pelangi?

Tentu saja belum… hidup belum selesai. Selama hidup masih berjalan hari ini, biarkan ia berjalan dengan sebagaimana mestinya. Oh, lalu kesimpulannya… hidup ini indah? Tidak juga… lalu, hidup ini menyebalkan? Entahlah. Saya tidak punya lagi label.

Saya tidak tahu apa-apa soal hidup. Pelajaran saya belum selesai.

Marilah kita hidup sebaik-baiknya. Begitu saja dulu.

Selamat tahun baru, dan selamat ulang tahun Ruth Wijaya.

2 thoughts on “Dua Puluh Dua Satu”

  1. Halo kak Ruth. Selamat ulang tahun dan selamat tahun baru 🙂 Aku ikut ajakanmu kak untuk hidup sebaik-baiknya 🙂 tetap semangat menjalani hidup ya 🙂

Leave a Reply to ruthwijaya Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s