Icarus

I was flying too close to the Sun. 

It burned my wings; threw my life to the sea, I met another life instead of cold and dark death. 

Blue sky has become a grey memory while I cherish the colorful new life under the sea.

Dive with me.

Aku tidak bisa berpikir soal mati dengan Matahari yang bersinar terik di atas kepala, hangat yang membakar, yang membuat hati terkembang bahagia melihat warna-warni yang bercahaya di bawah cahaya keemasan.

Kematian bagiku akan selalu datang dalam dingin, dengan warna kelabu yang membutakan mataku.Misteri di balik tirai kelam yang menegakkan bulu roma. Senyap yang aku lupa ketika Matahari sedang garang di musim panas seperti ini. 

Lalu ia tertawa, katanya, “kamu dan obsesimu pada kematian yang kelam dan dingin.”

Bukankah demikian? Sekali lagi, mati adalah misteri buatku. Selalu menjadi ketertarikanku untuk mengetahui apa di balik mati. Sekian tahun hidup kita mengotori dunia ini, sekian banyak cinta yang kita berikan dan benci yang kita tuai, berujung pada mati. Entah apakah aku akan mengingat kehidupan ini, dan jika ya, apakah aku ingin mengingatnya?

“Kamu membuatku takut.”

“Aku juga, kadang-kadang aku ketakutan sendiri…” aku bergidik, “tapi, bukankah mati adalah menuju kehidupan yang lain? Dan di kehidupan itu, apakah kita akan masih saling mengenal?”

Ia menatapku lama, lalu berkata, “mungkin… dan jika mati adalah bentuk kehidupan yang lain, kita tetap akan menjalani hal yang sama. Kita bertemu, dan berjalan bersama. Kamu dan aku, kita akan selalu sama”

Kami sedang bermandi cahaya di balkon apartemennya. Percakapan ini seperti omong kosong. Kukatakan ini kepadanya, “kita bicara soal mati di bawah terik Matahari”

“Lebih mudah bicara soal cinta ketika cahaya sedang terik seperti ini”

Hangat. Memabukkan.

Kami terlalu lama berdiam di bawah hangatnya Matahari, bercinta di bawah langit biru. Aku tak mau mati sekarang, bisikku, ini terlalu indah.

Hangat Matahari mulai menjadi panas yang membakar, mengingatkanku bahwa hidup yang indah lagi hangat memiliki akhirnya.

Hidup memiliki akhir, sementara mati… kapan berakhirnya? Ia menatapku, “seringkali kamu harus belajar untuk berhenti berpikir.”

Justru ketika aku berhenti berpikir, pemikiran itu makin membelitku. Setiap fase dalam hidup ini memiliki akhir. Kepastiannya adalah mati dan mati tak pernah pasti kapan akan berakhir. Dalam keabadian itu, apakah yang akan kita rasakan? Kapan akhirnya dari keabadian? Apakah selama-lamanya kita akan melayang di sana? Apakah selama-lamanya tak akan membosankan?

Kupandangi kekasihku yang bermata abu-abu, “mati semakin menakutkan buatku dengan kamu tersenyum seperti ini.” Sungguh aku belum mau mengakhiri semua ini, tetapi kita tahu ini akan berakhir. Dan mengingat bahwa tak ada yang kita ketahui di masa itu, keindahan yang kita nikmati dalam hidup ini jadi tak ada akhirnya. Aku tak bisa menghentikan diriku sendiri, keingintahuan dapat membunuhku.

Matahari semakin menyengat. Aku tak bisa berbalik lagi, aku seperti ngengat yang tertarik pada cahaya lampu, yang kemudian membakarku. Aku semakin dekat pada Matahari, aku mendekati hidup yang mematikan. Atau sebenarnya aku sedang melompat pada hidup yang lain?

Ia masih tersenyum, namun tak dapat kujangkau lagi. Tak dapat kubaui lagi harumnya. Tak dapat kubelai lagi kulitnya yang berwarna serupa kayu manis. Semua ini jadi sungguh tidak berarti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s