Pokoknya, Minta Sama Tuhan Aja!

Iman dan hal-hal yang kita inginkan.

Ya kalau lagi bokek terutama, saya selalu bilang dalam hati, ya Tuhaaaan…. mbokyao tolong aku ini dikasih rejeki, uang banyak jadi mau ngapa-ngapain gampang! Tolong ya Tuhan, kasih hambaMu ini rejeki… trus ngarepnya, ujug-ujug pas buka tas, terdapat bergepok-gepok seratusan ribu gitu. Kan namanya aja ngayal.

Yang serius, paling ya sambil menghela nafas bilang, aku ini usaha sana-sini sana-sini… aku melakukan bagianku, Tuhan yang adil ya… tolong lakukan bagianMu untuk melancarkan usahaku agar hasilnya sepadan. Tolong ya Tuhan… jangan nggak.

Ih, Tuhan kok disuruh-suruh… emang Tuhan asisten elo? Oi… kan ada kata tolong 😀

Soal Tuhan jadi asisten kita ini, banyak deh yang saya minta Tuhan buat ngerjain. Urusan rejeki, jodoh sampai pembalasan dendam. Lho?! Iya, kalau dijahatin orang, paling kita bilang: biarin deh, Tuhan yang bales! Haseegh banget… dan paling enak juga nyalahin Tuhan untuk apa saja yang gak berhasil kita capai, paling aman dan melegakan hati kalau kita bilang: belum rejeki, belum jodoh. Selesai.

Sebagai orang yang suka sekali mengaku beruntung; ya emang iya sih… semua kebaikan yang saya terima kan urusannya cuma keberuntungan. Saya memang bekerja untuk memperbanyak peluang untung, namun untung itu sendiri datangnya selalu tak terduga, bukan? Nah, dengan mengaku beruntung, sebenarnya itu proyeksi saya untuk percaya bahwa untung memang akan datang. Iman? Mungkin. Naluri? Insting? Bisa jadi.

Setiap hal yang saya lakukan, sebisa mungkin saya yakini akan berhasil. Meskipun saya tahu, probabilitasnya kecil. Sekuat tenaga saya proyeksikan bahwa saya akan mencapai hal-hal yang saya inginkan.

Sementara, Tuhan bekerja dengan caraNya sendiri. Dapatkah iman kita memaksakan kehendaknya pada Tuhan? Apakah perlu naluri, bisikan hikmat akal budi dariNya untuk tahu, mana yang perlu kita imani atau tidak?

Hal-hal yang kita inginkan, dan hal-hal yang kita perlukan. Irisan dua himpunan ini yang saya perlu pelajari untuk memperluas spektrum iman dan area yang perlu saya tingkatkan dalam memperbanyak peluang untung. Kalau begini ceritanya, maka menerapkan iman perlu strategi, sebab hidup selalu penuh harapan termasuk harapan palsu. Dan, Tuhan selera humornya gak main-main. Yha kaaan?!?

Jadi, sekarang apa yang perlu kita minta, kita imani? Uang? Rejeki? Jodoh dalam romantisme percintaan? Atau hidup bahagia?

Entahlah. Saya menginginkan banyak hal dalam hidup ini, termasuk balas dendam tentunya. Tetapi, saat ini saya cukup puas jika saya bisa mengimani satu hal: saya akan baik-baik saja apapun yang terjadi. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s