Semua Salah Jokowi

Semenjak pilpres terakhir, dunia socmed ini rasanya bising dengan kegaduhan politik. Kubu satu dengan yang lainnya saling teriak pakai toak di timeline. Saya, tentu saja ikut keriaan ini, beberapa kali posting di blog, twitter juga facebook. Mana tahan untuk nggak ikutan… ya khan? Kepancing ni ye… 

Keberisikan itu nggak surut saat pilpres berakhir, ya masih rame aja… nggak salah, kita memang tetap harus kritis terhadap pemerintah. Kritis beda dengan nyinyir. Sungguh.

Kemudian, datanglah Pilkada DKI… Astaga! Ruamenya…. terutama ketika putaran dua, mau Ahokers atau Anisers, gak ada yang nyenengin kalau update status, saling menjelekkan dan memuji setinggi langit dua jagoannya; pilihannya macem iblis atau malaikat aja dua orang ini, ekstrim tenan wis. Yah, gampangnya memang saya nggak usah lihat postingan mereka, sebagian memang saya unfollow tapi sebagian lagi ya teteup saya lihat, gimana lagi, saya kan kepo. Hahaha…

Masing-masing kubu ini seperti turunan dari kubu pilpres kemarin… Yang mendukung Jokowi, seolah-olah adalah FPAh dan pendukung Prabowo adalah FPAn, front pembela garis keras kabeh. Sampai sekarang, sebagian besar pembela Prabowo tetap nyinyirin Jokowi, kemudian pemilih Ahok sibuk nyinyirin Anies, dan begitu juga sebalikannya… mbulet kabeh koyok entute hansip.

Begini, sebelum saya nggedabrus panjang lebar, kita sepakati dulu, bahwa nyinyir adalah komentar asal menjelekkan tanpa logika pemikiran (yang pentingkomentar) juga tanpa dasar/bukti data yang valid & resmi, hanya berdasar media online yang entahlah atau katanya atau perasaan saja. Jangan main perasaan deh. Saya bukan pembela kubu mana pun. Saya sudah menetapkan pilihan saat pemilihan yang lalu dan sekarang, selesai.

Ah, nampaknya posting ini juga nyinyir aja sama kericuhan di timeline. Hahaha… bisa jadi! Ini diilhami oleh obrolan pepesan kosong sama teman, atau orang yang nggak kenal tapi ngajak ngobrol, mereka selalu bilang (saya simpulkan memakai kalimat saya): Indonesia sekarang berubah, semua orang benci semua orang. Mereka-mereka ini kalau sudah benci, sama sekali nggak bisa diberi pengertian… mulutnya kasar-kasar, cuma bisa lihat jeleknya saja! Orang-orang ini kok jahat banget!

Saya punya teori ngawur, begini:

  1. Orang-orang yang sibuk sharing soal dia membenci itu, atau nggak bisa melihat kebaikan, sebenarnya ya melihat deh kebaikan pihak yang dibencinya. Saya yakin itu, tapi ya gengsi aja deh kalau berpindah haluan. Ya ini kan prinsip perasaan. Rasa benci ditajamkan dan nurani untuk melihat yang sebenar-benarnya ditumpulkan. Udah kadung benci ya sekalian aja, biar nggak dibilang plintat-plintut, padahal, ini konteksnya adalah permainan politik yang dasarnya memang negosiasi kanan-kiri. Mbok yao pada nonton pilem Hollywood, biar intuisi teori konspirasinya dipuaskan di pilem bukan di dunia nyata.
  2. Kenapa ini kalau sudah berbeda pendapat ya berarti musuhan? Ya gimana lagi, pendidikan kita selama bertahun-tahun tidak mengenal yang namanya berdebat untuk mencari solusi, tetapi berdebat untuk mengalahkan pihak lain. Yang kalah salah yang menang benar. Total. Dan kita nggak boleh salah. Jadi, kalau kalah tetap harus ngotot benar sampai ke tulang belulang, pokoknya prinsipil banget. Juga jangan pernah mempertanyakan senior/orang tua / guru, kata-kata mereka adalah absolut, mutlak! Tidak ada pertanyaan, karena pertanyaan adalah perbedaan pendapat yang mana, berbeda pendapat adalah permusuhan. Ini masalahnya: berbeda pendapat sama dengan bermusuhan. Kita bertahun-tahun dapat doktrin itu. Kita harus seragam, harus satu, harus sama; jika berbeda maka bermusuhan. Mungkin, kita harus bilang dulu sama diri kita sendiri, bahwa berbeda pendapat bukan berarti ngajak musuhan. Lho, aku nggak ngajak musuhan kok… noh yang ono noh… Emh… iya deh.
  3. Ya ini karena di sosial media. Jempol kayaknya punya keberanian lebih banyak dibandingkan dengan interaksi langsung. Percayalah, ketika berhadapan langsung dengan manusia yang diledek-ledekin itu, rata-rata ya podo mingkem kabeh. 70% orang yang postingannya galak, kalau ketemu macem kerupuk kanginan kok… melempem aja, paling banter ya senyum salting mau ngomong tapi tergagu, nah sementara 30% nya lagi lebih galak… hahaha… nggak deng, yang terakhir itu saya ngawur.
  4. Karena kita manusia yang punya perasaan… makaaaa… kembalilah kita pada kebaperan. Perasaan adalah prinsipil! Dan rasa mengalahkan semua logika. Wis. Titik.

Lha trus gimana dong baiknya?

Embuh! Ilmu tentang manusia ini kan memang teori paling nggak pasti, tergantung abis makan ayam geprek level berapa. Yang jelas, jangan menyerah dan menganggap semua orang jaman sekarang jahat. Orang jahat sudah ada sejak jaman dulu, tapi orang baik juga nggak kurang. Jangan putus asa dan ikutan menumpulkan rasa empati kita sama orang lain, jangan putus-putus untuk menyebarkan kebaikan untuk memberi makan rasa-baik di diri kita… kalau situ yang dilihat hal buruk mulu, nyinyiran buruk mulu ya tau dong emosi mana yang dikasih makan?!

Bentar, jadi jangan nyinyirin pemerintah sekarang? Jangan share kejelekan gubenur sekarang? Kan ini merugikan banyak orang, programnya banyak gak bener lho…. Lho, silahkan saja… kritik untuk pemerintah itu wajib memang, kalau mau share ya dibaca dulu kalimatnya, dirasa lagi, nyinyir atau kritik? Bahasa itu masalah rasa (menurut teori ngawur saya lagi). Hanya saja, apa ybs baca wall socmed kita? Kayaknya nggak. Baca twit elo? Yaelah follower cuma 34 trus dikonci pulak… nulis diary aja udah… Saran saya sih, supaya bener-bener bisa bikin perubahan atau setidaknya didengar oleh ybs: bergabunglah dengan organisasi atau bergerak betul-betul di lapangan untuk merubah hal yang kita anggap nggak bener. Percayalah, kadang-kadang berita buruk ini dihembuskan untuk tetap jadi berita. Kembali pada teori dasar: bad publication is still a publication. Nggak perlulah kita jadi buzzer nggak dibayar untuk hal-hal buruk.

Lalu, di ujung posting… berasa kayak saya ini nggak pernah marah aja… hahaha dusta! Eh bentar, ini apa hubungannya sama judul? Seperti biasa… nggak ada! Namanya juga gedabrus! Besok saya ganti judul blog ah: gedabrus at its best, hestek #bilingualuntumu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s