Jangan Baper

Jakarta, Jum’at malam. Kebetulan saya bertemu dengan teman-teman dari geng Jaipongan, hahaha… iya, saya kenal mereka dari kegiatan absurd, menari Jaipongan, sekali pentas lalu bubyar… hahaha… Percakapan ngalor ngidul, update tentang apa yang sedang kami lakukan sekarang, pekerjaan, juga perkembangan jaman… hahaha

Perkembangan jaman media sosial yang caur dan hingar bingar ini. Kenapa banyak sekali kebencian terujar. Kebencian pada apa saja. Indonesia berubah! Saya ketawa, saya bilang, kita sejak dulu begini, cuma dengan sosial media hal-hal yang dulu nggak kita dengar, sekarang disorokkan ke muka kita dengan paksa. Makanya sekarang kita pilih untuk menyebarkan hal-hal yang menyenangkan saja.

Kebencian bukan hanya tren di Indonesia, di seluruh dunia ya begini. Kan, benci & cinta memang sudah jadi sifat manusia, kasih makan aja terus si benci ini… makin besar dia, makin mudahlah diprovokasi untuk membenci. Namun, kita mesti ingat toh… selalu ada rasa cinta, jadi selalu masih ada harapan untuk dunia yang lebih baik. Sekalilagi, mari terus-tak bosan untuk menyebarkan cinta, ya untuk ngasih makan cinta di dalam hati tadi.

Apakah benci ini indikasi manusia modern kurang bahagia?

Lalu kami sampai ke salah satu topik lain yang banyak kami bahas malam itu yaitu, kebahagiaan. Memang penting sekali lah menjadi bahagia. Sepanjang perjalanan pulang, saya berpikir banyak soal hal ini. Sepanjang masa dewasa saya, yang saya lakukan adalah menjadi orang egois dengan hanya mencari kebahagiaan saya sendiri, dan itu tidak pernah cukup. Rasanya, kebahagiaan ini seperti candu, porsinya harus selalu nambah. Posting pada blog ini pun banyak sekali menyoal soal kebahagiaan. Ada satu masanya, saya merasa, menjadi bahagia itu overrated quest. Lalu, pada saat merasa patah hati di masa lalu, saya merasa bahagia tapi sedih.  Kemudian bingung sendiri… hahaha. Hey… tunggu, bahagia kan beda sama senang. Sedih, menangis tak berarti tak bahagia secara keseluruhan, no?

Hahaha… saya dan kekonsistenan untuk ngenkleng karepe dhewe… Bahagia, dipengaruhi perasaan atau tidak? Bahagia, adalah gambaran makro dalam hidup kita, kemudian perasaan-perasaan mikro seperti kesenangan saat makan enak, atau sedih saat lapar, semua itu mempengaruhi kebahagiaan? Macem di film animasi tentang emosi, ah, saya lupa judulnya. Ya gitu kan.

Barusan saya lihat video yang makmbedhunduk muncul di feed IG explore dari seorang guru spiritual di Bali, mengenai hubungan percintaan, salah satu tipsnya adalah, jangan baper supaya kehidupan lebih bahagia. Lho, gimana? Cinta kok jangan baper, bawa perasaan… Saya berusaha cari versi panjangnya, apa yang mas ini bahas, tapi belum ketemu deh. Ini bingung, kenapa nggak boleh baper? Kan cinta itu bagian dari perasaan… kalau cinta tanpa bawa perasaan trus kepriben? Mungkin jangan lebay kalau cinta gitu ya? Lalu apakah hubungan cinta dan bahagia? Cinta membawa bahagia, setelah cinta tiada bahagia juga ikut sirna? Oh, saya lupa… selalu ada cinta dalam diri manusia… cinta nggak akan pernah tiada.

Happiness is personal responsibility.

Saya percaya, kalau bahagia ini tanggung jawab pribadi. Nggak ada hal apapun di dunia ini yang bisa membuat saya bahagia jika saya memang tidak memutuskan untuk membuat diri saya bahagia. Bahkan, saya pernah bilang ke mamah saya, “bukan tanggung jawab mamah buat bikin saya bahagia, juga bukan tanggung jawab saya bikin mamah bahagia.” Agak ekstrim mungkin, tapi saya jujur. Gimana saya harus membahagiakan ibu saya? Energi saya sudah habis untuk mencari kebahagiaan saya sendiri. Menurut saya, kewajiban sebagai anak berbeda dengan kewajiban membuat orang tua bahagia. Saya yakin, jika saya bahagia maka dunia ini juga akan jadi bahagia karena dunia nggak perlu ngurusin saya yang cranky, sebaliknya, saya bisa membagi banyak kebahagiaan karena saya sudah cukup. Me first. Tapi mbulet. Jadi, kebencian itu akibat kurang bahagia? Embuh. Tolok ukur bahagia pun benda-beda kan.

Ah sudahlah. Baiknya, kita simpulkan saja bahwa kalau benci jangan baper, supaya bahagia.

Advertisements

2 thoughts on “Jangan Baper

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s