Pembela Tuhan

Nggak, bukan masalah demo yang direncanakan besok sih. Namun, sudah beberapa minggu ini saya justru terganggu dengan kafir-kafir yang membela diri.

 Eh, gimana?

Jadi emang paling gampang memang menyulut perang dengan manusia lainnya menggunakan agama. Mau yang Kristen atau pun Islam, atau agama lain. Dari jaman awal manusia beragama, perang selalu dimulai dengan: perintah Tuhan. Cerita di Alkitab, sepanjang sejarah bangsa Israel berjalan ke Tanah Perjanjiannya adalah selalu berperang menurut suruhan Tuhan. Lho, kalau Tuhan menyuruh perang di masa lalu, apakah tidak mungkin Tuhan juga menyuruh manusia perang di jaman sekarang? Kalau sebagai seorang Kristen, saya berani bilang, nggak. Sok teu situ. Kan, Yesus udah datang, perang menegakkan agama bukan urusan manusia lagi. Manusia modern ini sudah diperbolehkan jadi umat males, pokoknya apa-apa boleh tinggal minta aja ama Tuhan, nanti bagian Tuhan yang memutuskan. Urusan kita, bukan perang melawan manusia lainnya secara fisik. Okay, ini topik yang bercabang yang harus saya potong; oh… saya menghabiskan masa beger saya dengan protes kepada Tuhan, mengapa Tuhan ini demen banget bikin drama di dunia ini dengan perang dan penyakit, jadi… saya bisa panjang lebar marah-marah soal ini.

Saya kembali pada kafir.

Pada awalnya, adalah soal pemimpin non-Muslim. Kanan-kiri berperang statement, apakah boleh, apakah perlu dan apakah layak seorang kafir dipilih. Lalu, muncul lagi pernyataan, siapa kamu bisa mengafirkan orang lain? Macem paling suci aja idupnya. Kemudian, muncul pembelaan, bahwa kafir memang istilah yang benar untuk orang-orang non-Muslim. Tetapi, kafir-kafir sudah terlanjur tersinggung. Ya nggak pa-pa juga kalau tersinggung… apalagi kalau kafir itu Kristen, yang mana konon masih ada perdebatan mengenai definisi Muslim itu sendiri. Bahwa, Muslim adalah sebutan untuk pencari Tuhan dan mengacu pada 3 agama besar keturunan Ibrahim yaitu, Yahudi – Kristen dan Islam (penyebutan berdasarkan usia agama tersebut muncul dalam sejarah ya…) sehingga, pemimpin Yahudi atau kresten-kresten masih boleh dibilang Muslim, tetapi sekali lagi, ini juga masih diperdebatkan. Kelarnya kapan? Ya entar aja nunggu Tuhan bersabda lewat petir, mana yang paling benar.

Kita kembali pada kafir-kafir yang tersinggung. Para kafir ini kemudian menjadi jubir Tuhan, ngeledekin non-kafir yang masih kerja pada usaha yang dimiliki para kafir, masih mau makan uangnya kafir. Belum lagi perang statement ini terjadi di sosial media, facebook dan kawan-kawannya yang notabene dimiliki para kafir terbesar di dunia. Para kafir bersorak, lihatlah betapa munafiknya non-kafir ini!

Padahal para kafir dan non-kafir sama-sama termakan strategi dagang paling tua di dunia ini.

Trus saya kesel sendiri! Gebuk bantal!!

Kalian kafir-kafir yang membela Tuhan kalian di Facebook, dengan menunjukkan jari kalian pada non-kafir, menganggap mereka munafik, bukan berarti kalian juga lebih baik. Siapa munafik terbesar di dunia ini? Mari kita bercermin. Sebentar posting soal Ketuhanan, betapa kasih Tuhan menyertai hidup saya, posting berikutnya, memaki-maki non-kafir! Serius?! SITU SERIUS?!

Ah, tapi kemudian saya harus kembali menelan segala kekesalan itu atas nama kebebasan berbicara – kebebasan berpendapat, dan pernyataan saya sendiri, bahwa dengan marah ke para kafir & non-kafir itu nggak juga membuat saya lebih baik dari mereka. Memang tidak, dan ini atas nama kebebasan mengomel.

Kalau saya pribadi, saya nggak keberatan disebut kafir. Terserahlah… saya yang orang Kristen ini mau disebut apa. Sebutan apapun nggak ada pengaruhnya dengan keimanan saya. Sungguh, apakah saya menyembah Tuhan yang benar atau tuhan yang salah, ya ini urusan saya sama Tuhan (aseli, penting banget ya… :D).

5 thoughts on “Pembela Tuhan

  1. saya juga setuju dengan tulisan mbak. ada banyak orang yang dengan mudahnya mengkafirkan orang-orang sekarang, padahal mungkin arti kafir saja untuk dirinya sendiri masih ambigu hehe. btw, saya suka tulisan-tulisan mbak yg lain, salam kenal dari Tanah Deli mbak hehe🙂

    1. halooo… salam kenal, makasih sudah mampir🙂
      Beneran, kita ini mesti banyak-banyak bercermin ya… semoga, kita selalu diingatkan untuk selalu inget bahwa kita ini masih sama-sama di alam fana, lho…

  2. Wah saya agak telat nih mampir ke sini 😂 tapi saya setuju dgn tulisan mbak. In the end, ini urusan kita masing-masing dengan Tuhan. Kita yang akan mempertanggung jawabkan semua yg kita udah bikin di dunia. Daripada dengerin ocehan orang mending memperkuat’ mempertebal Iman kita masing-masing aja ya…😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s