Peri Hutan

Pernahkah kuceritakan kepadamu mengenai kolam di Hutan? Kolam tempat Lotus, Lily dan seribu bunga lain tumbuh? Kolam tempat kami para jiwa, bergelayut terikat pada pohon kami masing-masing. Saat malam hari, kami akan memandangi air kolam yang seperti cermin memantulkan langit penuh bintang. Saat siang tiba, udara dingin naik dari permukaan kolam, menyejukan jiwa yang terikat makin erat pada pohon-pohon kami.

Dari seluruh bagian Hutan, aku paling terpikat pada kolam ini. Di kolam, kutemukan Kakatua Emas yang menyanyikan kebijaksanaannya di tepi kolam. Ketika itu, seekor Merak Jantan yang cantik juga dengan genit berlenggak-lenggok memikat betinanya yang malah tak nampak cantik. Sesekali Koi Merah akan menampakkan dirinya di antara daun-daun Lotus. Ketika senja datang, sesekali aku bertemu Harimau Putih yang mampir untuk minum dalam kelelahannya setelah pengembaraannya mengelilingi Hutan. Ia akan membawa cerita tentang Rusa yang akan memikatmu untuk mengikutinya ke dalam sulur-sulur mimpi yang tak ada tepinya. Mengaburkan rasa nyata dengan ilusi. Membuatmu selalu melayang. Tapi, bukankah jiwa-jiwa selalu melayang dan tak pernah punya rasa yang nyata? tanyaku pada Harimau. Ia memandangku dengan mata birunya, kau tak pernah benar-benar  merasa oleh karenanya kau tak pernah mengenali rasa. Aku hendak bertanya lagi, namun kuingat Pengembara Mimpi pernah berkata, “yang tersulit dari semua mahluk di Hutan ini adalah memahami Harimau Putih,” maka aku diam saja. Aku hanya berharap, suatu ketika aku akan bertemu Rusa yang akan memikatku ke dalam sulur-sulur mimpi.

Sebelum Dunia Manusia yang riuh, kolam di Hutan adalah tempat  paling riuh yang pernah kudatangi.

“Dan apakah kau melihat peri?” suatu kali Pengembara Mimpi menanyaiku ketika kuceritakan tentang kolam di Hutan. Aku memekik, “peri seperti manusia?” tanyaku.

“Ya, peri seperti manusia,” Pengembara Mimpi meloncat ke dahan tertinggi di pohonku, menatap langit yang gelap dan luas, lalu menoleh dan tersenyum padaku, yang menatapnya dengan takjub, “ceritakan padaku… ceritakan tentang peri yang seperti manusia.”

img_6231_zps5kqklpxe

Peri terlahir pada sekuntum Lotus yang mekar pada saat embun pertama jatuh pada kelopaknya.Dengan tubuh yang lamping lagi mungil, dan rambutnya berwarna serupa sinar Matahari ia akan menggenggam sulur-sulur yang beriap ke dalam air. Setelah kelopak Lotus membuka semua, peri akan melangkah ke air, mengambil jaring laba-laba yang terpintal di sela-sela batang Lotus dan menjadikannya mantel yang tak kasatmata.

“Mengapa aku tak pernah melihat peri? Apakah karena ia memakai mantel jarring laba-laba?”

“Kau hanya melihat apa yang ingin kau lihat, peri-peri dewasa bernyanyi pada bunga-bunga, membuatnya mekar dengan harum yang memabukkan. Tunggulah ketika rembang hari, mereka akan berteduh di antara daun-daun pakis, menyerap segala kelembabannya”

Aku terpesona, “Pengembara Mimpi, bawa aku menemui peri yang seperti manusia…”

Kau bisa menemuinya sendiri, kata Pengembara Mimpi, berdiamlah di kolamdan tunggulah saat bunga Wijaya Kusuma mekar, sesaat setelahnya, embun pertama akan muncul, saat itulah ketika kelopak Lotus pertama membuka.

Note: Illustrasi adalah gambar ulang dari ilustrasi Adolf Hoefer (1869-1927), dengan beberapa perubahan. 

2 thoughts on “Peri Hutan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s