Dari Balik Jendela (1)

Dunia melihat kehidupan kami mendekati sempurna. Beberapa kawanku bahkan menyatakan secara langsung bahwa mereka iri dengan kehidupan yang kupunyai sekarang. Tentu saja, mereka menyatakannya dengan cara bercanda, malah kupikir pernyataan itu bentuk rasa sayang mereka terhadapku, jadi aku tak merasa marah atau pun kesal.

“Seneng ya, setelah sekian lama menunggu jodoh, akhirnya kamu ketemu jodoh yang betul-betul luar biasa, ya ganteng… ya mapan… dan sayang sama kamu”

“Syukurlah,” biasanya aku hanya menjawab begitu.

Memang, Bram adalah suami yang ideal menurut semua orang. Bahkan sepertinya, Ibu sekarang lebih menyayangi dia daripada aku, anak perempuan satu-satunya, yang selama ini jadi pusat perhatian keluarga. Tiga saudara laki-lakiku jadi terlihat biasa saja di mata Ibu. Bapak juga kesengsem berat pada menantu laki-lakinya itu. Sementara dua kakak laki-lakiku, Mas Dewo dan Mas Yudhi, seperti mendapat anggota baru di geng cowok keren. Cool brothers club. Dan Wisnu, adikku… anak ingusan itu, seperti mendapat lotere saat tahu aku akan kawin dengan Bram.

”Betul Mbak Nin, kamu menikah dengan Bram? Bram yang itu kan? Kapan kalian pacarannya sih?”

Rupanya, Bram ini terkenal di dunia Wisnu. Beberapa kali Bram juga menjadi pembicara tamu di kampus tempat Wisnu mengajar. Selain sukses sebagai pengusaha di dunia teknologi informasi, nampaknya Bram ini juga jago memikat hati anak-anak muda yang masih ingusan dan penuh dengan idealisme itu. Bram juga jago memikat  hatiku. Dengan muka yang ganteng rupawan, rahang yang simetris dan mata abu-abu yang sendu merayu, bibir tebal yang seksi juga bodi atletis, ditambah kemampuannya berbicara dengan manis… tentu saja aku tergoda.

Aku mengenalnya secara tak sengaja, sahabatku Weni mengikuti acara blind date yang direncanakan oleh temannya dan dia diminta untuk membawa satu orang teman perempuan karena kencannya juga akan membawa satu orang teman laki-laki, kami akan double blind date. Aku menolak mentah-mentah ajakan Weni pada awalnya.

”Gila apa, Wen? Kalau nanti dibunuh gimana? Kamu kenapa ikutan blind date gitu sih? Nggak kenal sama sekali… Kalau ternyata serial killer, gimana?”

”Ini aman, Nin… Blind date yang nggak buta banget kok! Temennya temenku. Jadi gini, temenku ini punya temen yang temennya minta dikenalin ke cewek, seseruan aja… jadilah dua orang ini mengatur rencana blind date”

”Aduh, temennya temen temen kamu? Panjang ya?”

”Ya tapi nggak panjang-panjang amat juga, masih ada yang kenal.”

”Kalau kamu dibekep ntar gimana? Makanan kamu dikasih arsenik”

”Kamu kebanyakan nonton serial detektif nih! Ya intinya, supaya kami berdua merasa aman, pertemuan diatur di tempat umum, dan bawa teman.”

”Merasa aman bukan berarti aman”

”Ah, kamu ini Nin… ayolah… temani aku, kan aku juga selalu menemanimu dalam suka dan duka…”

Aku memutar mata. Bagaimana pun enggannya aku menuruti keinginan Weni, tapi aku selalu kalah dalam urusan keras kepala. Lagipula, setelah kupikir-pikir, apa pula ruginya aku menemani Weni, meski aku benar-benar takut jika teman kencan Weni ternyata penjahat, tapi setidaknya dengan berdua kami bisa bahu membahu meloloskan diri. Aku memang penakut. Bukan takut terhadap setan dan hantu, tapi aku takut pada orang jahat yang bisa memukulku dan membuatku kesakitan. Saking paranoidnya aku, seringkali aku memutuskan hubungan dengan laki-laki karena takut dia adalah seorang yang suka memukul perempuan. Nanti kalau kami sudah menikah lalu aku dipukul, kan nggak lucu. Padahal, setelah kupikir lagi, laki-laki yang bersangkutan, tidak ada indikasi juga sebagai pelaku kekerasan. Ia tidak kasar sama sekali kepadaku, hanya aku yang tiba-tiba saja takut.

Aku menyimpan baik-baik ketakutanku ini. Tentu saja aku malu jika banyak orang mengetahui aku ternyata penakut yang menggelikan. Aku memang tak punya alasan untuk takut. Menjadi perempuan satu-satunya dengan dua kakak dan satu adik laki-laki yang badungnya minta ampun, aku tentu saja tumbuh menjadi tomboi. Bahkan aku yang mengajari adikku Wisnu memanjat keluar dari jendela kamar kami ke pohon mangga di samping rumah lalu melompat ke genting rumah tetangga untuk kabur dari tidur siang. Waktu itu, Wisnu masih berumur lima tahun dan aku delapan tahun. Koordinasi tubuh Wisnu masih belum terlalu bagus untuk bergelayutan di talang air rumah tetangga kami, dan akhirnya, ia jatuh. Kecelakaan itu mengakibatkan tangan kiri Wisnu patah dan harus memakai gips selama satu bulan. Aku merasa sangat bersalah, dan bertekad tidak akan naik pohon lagi seumur hidupku. Aku juga berjanji akan menjadi budak Wisnu seumur hidup karena sudah membuat adikku menjadi cacat. Wisnu sendiri sangat bangga akan gipsnya, karena kakakku Dewo menggambari gipsnya dengan pistol super, dan kakakku Yudhi, menggambar bola api yang menari-nari di atas gunung berwarna ungu, sementara aku menulis dengan spidol pink, ”maaf ya dek” kecil-kecil di ujung gips. Wisnu malah meraung keras sekali ketika gips-nya dilepas, menurutnya, dia adalah manusia super dengan kekuatan gips. Dan aku, melupakan sumpahku untuk tidak memanjat pohon saat pohon kersen di belakang rumah mulai memerah buahnya, tentu saja aku sudah tak ingat lagi pernah berniat menjadi budak Wisnu seumur hidup kalau tidak Bapak yang mengingatkan ketika kami dewasa. Bapak tertawa sampai keluar air mata ketika menceritakan tentang sumpahku itu. Orang tua kami seperti memiliki empat anak laki-laki yang badung. Malah seringkali aku-lah yang menjadi otak kebadungan kami dan aku juga merelakan diri menjadi kambing hitam, supaya kami semua lolos dari hukuman Bapak dan Ibu. Sebab, jika diperlukan aku bisa menjadi anak perempuan satu-satunya yang manis dan pandai memikat hati. Pendeknya, sangat memalukan kalau sampai semua orang tahu aku punya ketakutan dipukul oleh suamiku di masa mendatang. Ketakutanku sangat tidak beralasan. Keluarga kami tidak ada yang ringan tangan. Hubungan Bapak dan Ibu sangatlah harmonis. Latar belakang Bapak sebagai tentara tidak serta merta membikin beliau menerapkan militerisme di rumah. Malahan, Ibu kami yang seorang guru, jauh lebih disiplin dibandingkan Bapak. Bapak sangat humoris dan senang sekali berkelakar.

Tidak ada seorang pun yang tahu soal ketakutanku ini. Tidak juga Weni, aku tak berniat memberitahunya juga. Ya untuk apa juga? Toh, ini kan hanya ketakutan bodohku saja.

Akhirnya, aku jadi menemani Weni, kami akan double date. Namun, skenario berubah, teman dari teman kencan Weni batal datang, karena mendadak dia harus pergi ke luar kota. Berhubung aku sudah terlanjur datang, Dino; teman kencan Weni, memintaku untuk tetap tinggal dan baiknya kami tetap makan malam, anggap saja kami memang sudah berteman lama. Untung saja, Dino menyenangkan dan nampaknya baik, sangat humoris dan agak blak-blakan. Di akhir makan malam kami, dia berkata kepada Weni, ”malam ini kita makan sebagai teman biasa, tapi lain kali aku mau mengajak kamu pergi lagi, sebagai teman kencan betulan… Maaf ya Nin, bukannya aku nggak suka sama kamu, tapi tolong kasih aku kesempatan sama Weni ya”

Aku terbahak, ”ya, tentu saja… ”

”Dan jangan kuatir aku akan menghukum Bram, karena nggak datang malam ini. Ngomong – ngomong, aku boleh minta nomer telepon kamu kan, Nin?” lalu dengan cepat ia berpaling pada Weni dan berkata dengan sangat manis, ”bukan buat aku, buat Bram supaya menghubungi Nindya, mereka kan harusnya bertemu”

Meskipun aku tertawa, tapi aku tak memberikan nomer teleponku, ”ah, nggak usah kali… serius… ini aja kan udah awkward deh…”

Tapi rupanya, Weni dan Dino sangat berminat untuk mempertemukan aku dengan Bram. Seminggu setelah makan malam itu, tiba-tiba sebuah nomor tak dikenal mengirimkan pesan di whatsapp.

Bram Sebastian: Halo Nindya, saya Bram, teman Dino. Apa kabar?

Aku terlonjak kaget, segera kuperbesar avatarnya, tampan. Aku langsung menelpon Weni.

”Kamu kasih nomer teleponku ke Bram temannya Dino?”

”Aku kasih ke Dino, dia yang kasih ke Bram”

”Sama aja, kenapa sih? Kan kubilang nggak perlu”

”Ganteng, Nin… sayang kalau kamu nggak ketemu”

”Kalau ganteng ya buat kamu aja”

”Aku kan mau serius pdkt sama Dino”

”Serius?”

”Serius”

”Serius?”

”Aku sudah tiga puluh tujuh, kayaknya aku mau kawin deh… Dino nampaknya juga memiliki keinginan yang sama. Apa salahnya kami mencoba serius? Mungkin berlanjut, mungkin juga tidak tapi tujuan kami sama sekarang”

”Eh beneran, kamu serius!”

”Begitulah. Gak ada salahnya kamu kenalan sama Bram, Nin. Dia temenan sama Dino udah dari mereka SD, menurut Dino sih, Bram anaknya menyenangkan dan loyal sama temennya. Biarpun ganteng dan berprestasi dia nggak gitu centil sama perempuan, cowok baik-baik deh.”

Aku terkikik, ”mana ada cowok baik-baik di masa sekarang”

”Aduh Nindyaa… please deh… mau nggak? Ntar kamu nyesel… ini berkualitas banget ini anaknyaa…”

”Baiklah, demi pertemanan kita… aku akan berkenalan dan bertemu dengannya, tapi nggak ada keharusan kami harus jalan lho ya…”

”Ya jelas nggaklah…”

Begitu saja. Aku dan Bram lalu mulai bercakap-cakap lewat telepon dan whatsapp, lalu memutuskan untuk bertemu seminggu setelahnya.

Melalui foto-foto di sosial media dan apa yang bisa kudapatkan lewat google, Bram memang nampak ganteng. Tapi aku sama sekali tak menduga ia memang setampan itu. Aku hampir lupa bernafas ketika pertama kali bertemu dengannya.

Waktu itu, aku yang datang lebih dulu di cafe tempat kami bertemu untuk brunch, dan aku memilih duduk di luar. Setelah berhari-hari Jakarta mendung dan hujan badai, hari itu Matahari sedang ramah dan rasanya menyenangkan bisa sedikit terjemur di luar. Aku sedang menikmati Matahari pagi, dan moment itu tak bisa kulupakan ketika ia datang menghampiri mejaku dengan sinar keemasan menjadi latar belakangnya.

”Nindya? Hai!”

Bram seperti jelmaan dewa Matahari. Aku lupa bernafas untuk beberapa detik. Bagaimana mungkin manusia biasa punya rahang yang simetris seperti itu? Dengan jenggot halus yang mulai tumbuh di dagunya. Ia tersenyum lebar, menampakan giginya yang berbaris rapi, dibingkai dengan bibir yang tebal penuh. Hidungnya yang tinggi sedikit bengkok tapi itu tidak membuatnya nampak buruk, sebaliknya, kekurangan yang menjadi daya tarik. Ia memakai kacamata berbingkai hitam dengan bentuk kotak besar, sementara itu bola matanya abu-abu menatapku dengan senyum dan sedikit cahaya merayu di sana. Oh. Wow.

”Hai, Bram?”

Ia tersenyum makin lebar dan dengan luwes mendudukkan badan atletisnya di kursi di sampingku, ”kamu tidur barusan?”

”Nggak, lagi ngecharge batere… kulit aku sedang berfotosintesis”

Ia terbahak. Astaga, aku harus menahan diriku untuk tidak menyentuh lengannya yang panjang dan kekar. Menambah godaan, angin berhembus meniupkan aromanya yang segar dan maskulin. Laki-laki ini betul-betul seperti dewa.

Brunch pagi itu berlanjut hingga makan malam. Kami menghabiskan waktu seharian dengan tertawa dan bercakap-cakap, pindah dari satu cafe ke cafe yang lain, mencicipi kopi hingga mabuk caffeine, dan janji dibuat untuk kami bertemu esok malam.

Dalam waktu yang sangat singkat, kami berusaha mengenal satu dengan yang lainnya.

Setelah pada pertemuan pertama, kami terbahak-bahak menertawakan Weni dan Dino atas usaha mereka menjodohkan kami, maka tiga bulan berikutnya, kami berterimakasih pada keduanya karena berhasil membujuk kami untuk bertemu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s