Tiga Puluh Enam

Pertambahan umur kali ini, saya lewatkan di Jogja. Kota yang selalu memberi rasa hangat dan membuat senyum terkembang.

Salah seorang kawan saya, dengan sangat baik hati membuka rumahnya dan mengantarkan saya ke mana pun saya mau untuk ‘melunasi’ janji saya terhadap diri saya sendiri. Terimakasih.

Yang terpenting, saya kesampaian mengunjungi Borobudur saat Matahari terbit. Sebenarnya, hal ini ingin saya lakukan dua tahun yang lalu, tapi baru tahun ini kesampaian.

Saya membayangkan romantisnya melihat Matahari yang muncul di ujung cakrawala, perlahan dengan sinarnya yang keemasan menerangi bumi. Kenyataannya, tepat di hari ulang tahun saya, Borobudur diselimuti kabut dan mendung sehingga menutupi Matahari. Blas, nggak bisa liat sunrise lho… Kecewa? Untungnya tidak, karena Borobudur di pagi hari sungguhlah indah. Candi yang megah dikelilingi kabut yang bergradasi cantik sekali, menyelimuti pohon-pohon yang hijau di sekeliling candi. Beberapa kali saya menahan nafas, sambil berkata dalam hati, ya ampun bagusnya… saya membatin, hutan tempat tinggal para jiwa, nampaknya seperti ini. Pekat dengan kabut yang membutakan arah pengembara, sehingga mereka perlu mencuri ingatan para jiwa. Ah, ya… saya terlalu lama berkutat di cerita tentang Lelaki Kayu Manis.

Beberapa teman menebak, kisah tersesat yang telah saya mulai sejak tahun lalu itu adalah tulisan patah hati. Santi bilang, “perumpamaannya jelas banget, Mbak” hahaha… ya memang, saya mengawalinya dari patah hati, kemudian saya tak bisa berhenti bercerita tentang jiwa yang tersesat di Dunia Manusia itu. Sepanjang tahun ini, saya menghabiskan banyak waktu saya untuk berkhayal mengenai hutan tempat tinggal para jiwa, binatang-binatang eksotis yang menyanyikan kebijaksanaan. Banyak hal  yang tak bisa lagi saya tulis secara gamblang, atau lebih parah lagi, tak bisa saya jelaskan dengan baik, tapi malah bisa saya artikulasikan dengan baik ketika saya menulis mengenai kisah jiwa, nyanyian para binatang.

Ah, setahun telah berlalu dari saat itu.

Saya masih berdiri di tempat yang sama, namun saya telah berjalan memutar dan belajar melihat hal yang lain.

Lalu, hendak ke arah mana saya berjalan? Entahlah… saya belum bisa memutuskan dan saya tak ingin memutuskannya dahulu. Mungkin, saya akan menengok lagi ke dalam hutan; setelah saya mendapatkan gambaran yang lebih baik dari perjalanan kemarin; mungkin dengan berjalan kembali ke arah dari mana saya datang saya akan menemukan hal baru yang harus saya cari? Mungkin.

Hidup belum selesai. Selamat ulang tahun, Ruth Wijaya.

Posted in NOL.

11 thoughts on “Tiga Puluh Enam

  1. Aku disebuuuuut. Eh beneran kan Santi nya akuuu? *parno*
    Sekali lagi, selamat ulang taun mbak Tjep. Yuk kita ke manaaa.. Kangen ngicipi panganan enak😀😀

  2. Selamat ulang tahun, dear Ruth, stay gorgeous dan ditambahkan segala yang baiiik dalam hidupmu. You don’t look older than 27 deh dengan tampilanmu sekarang *Cipika cipiki* di sini aku kepikiran naik sepeda teringat dirimu bisa makan segala tapi tetap in shape, tapi dinginnya kakaak, banyak (jadi mahal) kali peralatan lenongnya kalo mau ngalahin dingin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s