Tersesat (9)

Qahwa memberikan kenikmatan lebih banyak pada ciuman.

Konon di negeri tempat qahwa pertama ditemukan, seorang kekasih akan mengambil resiko untuk mati dengan menyelipkan beberapa biji qahwa ke tangan orang yang dicintainya, Lelaki Kayu Manis memulai ceritanya. Itu yang terjadi pada buyut nenek dari nenekku. Ia jatuh cinta pada seorang pengembara dari negeri tua tempat semua aksara berasal, di mana bahasa menemukan pasangannya. Buyut nenek dari nenekku dengan berani menyelipkan beberapa biji qahwa ke dalam genggaman sang pengembara yang kuat dan halus. Itu adalah janji akan penyerahan hidup total yang tak bisa terpatahkan, katanya, aku akan mengikutimu ke negerimu, menyembah Tuhanmu, menggarap ladangmu, dan akan dengan sukarela mendengarkanmu membaca puisi seumur hidupku. Pada malam yang pekat setelah upacara minum qahwa, nenek buyut kami mendatangi kemah sang pengembara dan menyerahkan dirinya pada cinta. Ketika tiba waktunya sang pengembara akan kembali ke negerinya, nenek buyut kami mencuri biji-biji qahwa dan menyelundupkannya ke dalam keliman bajunya untuk nanti akn ditanam di negeri tua, negeri rempah-rempah. Aku meninggalkan negeriku, tetapi aku tak bisa meninggalkan qahwa maka kubawa ia supaya hidup bersamaku di negeri baru kami, begitu katanya dalam hati, yang kemudian didongengkan kepada anak-anaknya, lalu cucu-cucunya, dari generasi ke generasi hingga sampai kepada ibuku yang menceritakannya kepadaku. Ayah nenek buyutku tidak menyadari kehilangan biji-biji qahwa terbaiknya sampai beberapa hari berikutnya, ia baru menyadari kehilangannya. Lalu ia bersama budak-budak terbaiknya segera mengejar putri kesayangannya itu yang telah berjalan tiga hari sebelumnya bersama sang pengembara, lalu mengambil kembali apa yang telah dicuri oleh nenek buyutku. Ketika kemurkaan pertama itu datang kepada ayah nenek buyutku, ia merobek jubahnya dan meratap, ”mengapa harus putriku?” pencuri biasa hanya akan dipotong tangannya, tetapi pencuri biji-biji qahwa harus dibunuh di negeri asal nenek buyutku. Qahwa adalah tumbuhan surga yang harus dijaga di tanah mereka, hanya untuk kaum keturunan mereka. Jadi, meskipun nenek buyutku merupakan kesayangan ayahnya, sang ayah tak bisa mengelak untuk membunuhnya demi tugas dan kewajiban sebagai penjaga qahwa. Ayah nenek buyutku bahkan telah mengoleskan abu sebagai tanda dukacita ke atas rambutnya yang telah memutih. ”Aku kehilangan putri kesayanganku, ia telah mati di tanganku,” ratapnya. Bahkan budak-budaknya, pejuang-pejuang tangguh penjaga qahwa juga ikut meratap dan mengoleskan abu di kepala mereka. Nenek buyutku tak hanya putri tuan mereka yang cantik dan menawan, tetapi ia juga baik hati serta penuh kasih. Nyanyiannya bisa menghentikan senja sehingga Matahari yang elok dapat lebih lama menari di atas langit yang kemerahan. Tangannya yang lembut namun kuat telah mengobati luka-luka peperangan di tubuh budak-budak itu, dan menyuapi mereka dengan penuh kesabaran ketika mereka terbaring lemah karena demam malaria. Nenek buyutku, tak hanya dicintai oleh ayahnya, tetapi juga merupakan cahaya bagi para budak-budak dan keluarganya. Membunuh nenek buyutku, adalah pengabdian tertinggi mereka kepada qahwa, tumbuhan surga yang harus mereka jaga. Mereka berlari tanpa lelah dengan sangat sedikit istirahat bahkan di malam hari, mereka hanya berhenti selama dua jam setelah Matahari terbenam, karena saat itulah jiwa-jiwa yang akan memulai petualangannya dilepaskan, lalu berlari lagi dan beristirahat  lagi sesaat sebelum Matahari terbit, saat jiwa-jiwa kembali bertemu roh dan tubuh kekasihnya. Perjalanan untuk membunuh ini tak boleh berpapasan dengan jiwa, yang mungkin saja akan menggagalkan rencana mereka. Rombongan ayah nenek buyut kami juga akan berhenti ketika Matahari terik di atas kepala. Setan, yang tak takut akan gelap juga tak gentar pada siang yang terang, ia akan menunggangi Matahari dan menghisap darah manusia tepat saat Matahari bersinar di atas kepala. Setelah berhari-hari, mereka menyusul nenek buyutku yang sedang beristirahat di lembah padang gurun, berkemah di antara batu-batu sebesar rumah. Ayah nenek buyut kami, bisa saja langsung membunuh putri kesayangannya saat itu juga, tetapi ia ingin melihat putrinya bernyanyi pada senja satu kali lagi, jadi ia menyuruh budak-budaknya bersembunyi di balik batu bersamanya, mengawasi putrinya yang tertawa bahagia bersama sang pengembara. Denting tawanya bergaung indah bagai lonceng di lembah penuh batu. Ketika senja mulai turun, nenek buyut kami naik ke atas batu yang terbesar lalu mulai bernyanyi. Seluruh jagat raya serasa berhenti, ayah nenek buyut kami menangis diam-diam. Ia akan membunuh putrinya besok, ia ingin mendengarkan nyanyiannya sekali lagi. Lalu ia menyuruh budak-budaknya untuk beristirahat, ”kita akan menyelesaikan tugas ini besok. Aku akan memberi kesempatan pada putriku untuk bernyanyi pada senja sekali lagi.” Dalam hati para budak-budak itu, mereka lega karena masih ada satu hari lagi untuk menghindari tanggung jawab untuk membunuh putri tuan mereka. Jika saja, mereka bisa mengelak dari tugas itu.

Rupanya, sang pengembara menyukai lembah batu-batu itu. Ia menulis banyak puisi dan meminta nenek buyut kami untuk tetap tinggal di lembah itu menemaninya selama beberapa hari lagi. Sepanjang hari-hari itu, setiap sore nenek buyut kami naik ke atas batu besar dan bernyanyi kepada langit. Dan selama itu pula, ayahnya menunda untuk membunuh putrinya karena akan memberi kesempatan putrinya untuk bernyanyi sekali lagi.

Pada suatu senja, sesaat setelah nenek buyut kami selesai menyanyi, seekor singa gunung jantan mengendap dengan anggun dan lapar, menuju ke arahnya. Nenek buyutku tak melihatnya, karena ia membelakangi arah datangnya singa itu, namun ayah nenek buyutku yang mengawasi putrinya dari jauh melihatnya, dan tanpa berpikir lebih jauh, ia melesat ke arah singa yang lapar itu untuk menyelamatkan putrinya. Ayah nenek buyut kami, merobek pangkal lengan singa jantan itu dengan sekali tarikan, namun singa itu berhasil merobek leher ayah nenek buyutku sesaat sebelum mati. Dengan cepat budak-budak ayah nenek buyutku menarik tuannya dan menikam jantung singa gunung itu dengan sekali tombak. Darah mengucur dengan deras dari leher ayah nenek buyut kami, dengan sisa nafasnya, ia menarik tangan putrinya yang masih termangu terkejut, ”aku menjadi ganti darahmu, hiduplah dengan bahagia” lalu ayah nenek buyut kami meninggal dalam dekapan putri kesayangannya. Semua budak-budak terbelah antara kelegaan bahwa putri tuan mereka, cahaya hidup mereka tetap hidup, namun sebagai gantinya, tuan mereka yang bijak dan penuh kasih menebusnya dengan kematiannya sendiri.

bersambung

Tersesat (8)Tersesat (7)Tersesat (6)Tersesat (5)Tersesat (4)Tersesat (3)Tersesat (2)Tersesat (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s