Pretending Smart

Beberapa minggu terakhir, di kepala saya sedang berputar-putar topik ‘Smart City’. Jadi rasanya, saya harus menuliskannya dengan rapi (diusahakan untuk rapi) supaya nggak berputar-putar nggak penting di kepala.

Paradigma Smart City

Dunia sedang dalam euphoria ‘smart city’ segala-gala sedang dilabeli dengan smart city; mulai dari smart living yang berawal dari smart home, smart building lalu melebar ke smart city. Jakarta Smart City, Bandung Smart City, Surabaya Smart City… pokoknya smart kabeh. Jualan lagi laris kalau pakai tag smart.

Kalau ada trigger kata-kata ‘smart city’ yang muncul di kepala memang selalu identik dengan teknologi tinggi. Semacam kota star trek gitu deh… buka pintu nggak cuma touch screen lagi, tapi pake abab, gitu “HAH” langsung kebuka. Rapih, nggak ada sampah, nggak ada orang miskin, nggak ada macet, nggak ada tegangan listrik turun, manusianya nggak makan nasi tapi di-charge pake colokan aki.

Supaya saya juga nggak makin ngalor ngidul, mari kita tengok definisi smart city paling standar yang ada di Wikipedia.

Salah satu pendapat, yang paling dekat dengan puteran kata-kata di kepala adalah:

The concept is not static, there is no absolute definition of a smart city, no end point, but rather a process, or series of steps, by which cities become more ‘livable’ and resilient and, hence, able to respond quicker to new challenges

Yak.. yang paling penting adalah, kota yang pinter itu yang paling nyaman untuk dihuni penduduknya. Manusia menjadi prioritas dalam pembangunan.

Semua sistem yang dibangun, fungsinya untuk mempermudah hidup manusia, bukan sebaliknya. Dalam poin ini, baiknya saya menyimpan kesimpulan bahwa smart city mengaplikasikan teknologi dengan efektif.

Teknologi diaplikasikan di tiap elemen kota dengan tepat, dan digunakan dengan tepat oleh manusia-manusianya

Smart Citizen

Nah ini, yang paling penting dari semua pelabelan pintar itu, adalah manusia-nya. Mesti pinter deh. Ya nggak harus pinter level Einstein sih… nggak usah jauh-jauh deh, paling nggak kudu pinter menggunakan & merawat fasilitas publik, berkendara dengan baik, mematuhi aturan… yang paling dasar itu dulu.

Jakarta, kota tersayang ini… kayaknya masih jauh kalau mau disebut smart city, well connected dan developed… pastinya ye… tapi, jadi smart citizen nggak perlu nunggu tinggal di smart city, kan. Keduanya bisa dibangun berbarengan toh…

Kalau dipikir-pikir, problem terbesar Jakarta itu di transportasi ya… pembangunan infrastruktur yang terlambat dan tata kota yang gak jelas trus nggak ada kesinambungannya menjadi problem terbesar di kota ini (bahkan di negara ini). Sarana transportasi umum yang belum maksimal plus pilihan yang terbatas, bikin penduduk Jakarta mau nggak mau ya memilih kendaraan pribadi untuk ke mana-mana, macet ya biarin yang penting nyaman. Tapi, sebenernya sih solusi untuk itu juga udah mulai bermunculan lho… untuk pilihan kendaraan umum misalnya, selain panggilan secara konvesional pakai telpon atau ngandelin satpam kantor, kan bisa manggil taksi lewat aplikasi. Pilihan aplikasi pun banyak, ada si taksi biru, grab taxi dan uber. Dan rasanya, baru di Indonesia ada aplikasi khusus buat ojek, go-jek. Sekarang diikuti oleh grab bike. Wah, kalau ngomongin aplikasi-aplikasi yang nolong hidup saya, akhir-akhir ini sih panjang bener ya… intinya mah… ya segala smart itu ya kudu manusianya yang aktif. Human create technology and drive it.

Trus, saya dari ngomongin soal smart city kok jadi ngelantur  ke go-jek? Ahahahaha… ya gpp deh, nyambung dikit lah.

Eniwei, buat tambahan bacaan, silahkan klik tautan-tautan berikut:

4 thoughts on “Pretending Smart

  1. Klo saya prefer kota yang aman daripada kota pintar. He he he soalnya di kota-kota besar tingkat kejahatannya juga tinggi. Jadi ya lebih bersukur karena tinggal di kota kecil yang aman seperti sekarang (padahal cuma alasan saja ) he he he

    1. Harusnya, kota yg pintar juga menyangkut faktor keamanan. Size kota ndak penting, tapi tingkat kenyamanan harus tinggi. Kayanya gitu ya?
      Kota kecil, kalau terkoneksi dengan baik, kayanya malah jadi primadona deh…

  2. kalo kota mendukung teknologi tinggi dikategorikan smart ya, cenderung semuanya praktis.. dan pengennya serba teratur, serba otomatis..

    untungnya label itu hanya untuk area bernama : kota, soalnya saya kadang sukanya yg manual #hloh

    1. sek aku bingung, om…😀😀
      Kalau kupikir, nggak semua teknologi bikin praktis… dan konsep smart city ini kan di mana saja, ukuran wilayah (desa atau kota atau RT) nggak jadi soal, yang penting kriteria konektivitas ICT dan lain-lainnya terpenuhi, toh?
      Entahlah, aku masih ngelu😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s