Pembisik Pohon

Sebelum aku tersesat di Dunia Manusia, Pengembara Mimpi datang mengunjungiku saat pagi menjelang, ketika roh bertemu jiwa, dan bersiap menyambut Matahari.
“Kau berhutang kisah Pohon-Pohon,” kataku padanya, “kau selalu tak pernah menuntaskan ceritanya”
“Kisah tentang Pohon tak akan pernah tuntas selama Roh dan Jiwa selalu bertemu, selama hutan masih meniupkan kehidupan”
Aku tak pernah mengerti kata-kata Pengembara Mimpi, biasanya setelah ia pergi aku baru memahami maksudnya.
Semua hal tak harus dimengerti, kata Pengembara Mimpi; seperti kau mungkin tak akan mengerti tentang jiwa pembisik pohon.
“Pembisik pohon?”
“Mereka sama seperti aku, menjaga kehidupan Pohon-Pohon”
Jika aku mengembara mengunjungi jiwa-jiwa agar tak putus harapan pada Pohon-Pohon, maka pembisik pohon bernyanyi pada dahan dan ranting agar tetap menyatu pada batang, mengalirkan cinta Bumi pada daun yang akan menyampaikannya pada Matahari.
Pembisik pohon akan bernyanyi saat embun pertama menetes di daun.

Semesta merindu,
Semesta layu,
Dahan-dahan nyanyikan lagu,
Menarilah ranting-ranting kayu,
Daun-daun bergemerisik tanpa ragu,
Sebab jiwa menggantungkan hidupnya padamu.

“Kenapa aku tak pernah bertemu dengannya?”
Pembisik pohon bekerja dalam bayangan, bergerak hampir tiada dalam hembusan angin. Berlindung dari riuhnya kegelisahan jiwa-jiwa. Tapi ia selalu ada, sebab jika ia tak bernyanyi sehari saja, maka ranting dan dahan tak punya daya menempel pada batang yang kokoh, daun-daun akan gugur sebelum waktunya dan jiwa-jiwa akan kehilangan embun pagi.
Bolehkan aku bertemu pembisik pohon, untuk sekali saja?
Ia tak tahan pada kegelisahan jiwa.
Aku tidak gelisah.
Jiwa selalu gelisah selama ia hidup. Ia selalu gelisah.
Kenapa?
Pengembara Mimpi tersenyum lalu berkata sedih, “itulah imbangan semesta, kegelisahan jiwa. Kalian memang diciptakan dengan kegelisahan.”
Itu sebabnya kalian memerlukan Pohon-Pohon. Itu sebabnya Pohon-Pohon memerlukan pembisik pohon. Yang bekerja dalam bayangan, yang bernyanyi pada dahan dan ranting saat embun pertama menetes di dedaunan.

Oh, Pohon-Pohon…
Kegelisahan jiwa yang membelitmu,
Jadikan ia tali kehidupanmu,
Yang mengikat hidup pada keabadian,
Juga mengikat maut di masa depan,
Oh, Pohon-Pohon…
Bertumbuhlah kuat,
Lebih kuat daripada kegelisahan jiwa yang menggayutimu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s