Tersesat (4)

Waktu berhenti sesaat saat kami berbagi nafas. Aroma kayu manis dan cendana memabukkanku.

“Kamu harum kayu manis dan cendana, siapa namamu?”

“Kamu berbau segar seperti embun terkena sinar Matahari pagi, dari mana asalmu?”

“Kamu belum menjawab pertanyaanku”

“Tidak semua pertanyaan harus dijawab, kamu juga tak menjawab pertanyaanku”

Aku memandangi matanya yang gelap kecoklatan, ada selapis garis emas berkilau di tengah bola matanya. Angin menghantarkan lagi bau kayu manis dan cendana yang membuatku lupa diri.

Aku hanya ada di saat ini. Melupakan pohon-pohon, melupakan dunia manusia yang penuh tipu daya dan jebakan. Seluruh perjalanan ini, kutempuh hanya untuk membauinya, dan tersihir oleh selaput keemasan di matanya.

“Kalau kamu ingin aku menjawab pertanyaanmu, katakan padaku, siapa namamu?”

“Aku tak bernama, sebab di tempat asalku kami tak memerlukan nama untuk saling mengenali”

Ia tersenyum, giginya berbaris rapi dan berwarna serupa mutiara putih. Ia menciumku lagi, “aku juga tak memerlukan nama untuk mengenali kamu, mengenali lidah serupa beludru dan berbau embun pagi. Kita akan saling mengenali meskipun tanpa nama”

“Dari mana asalmu?”

“Aku berasal dari negeri tempat para dewa menurunkan semua semua rempah-rempah. Gaharu dan cendana tumbuh di halaman belakang rumahku, aku bermain bersama pala dan kayu manis sebelum aku bisa mengeja kata-kata”

Pantas kamu berbau kayu manis, ucapku tanpa suara. Lalu kami saling terbelit seperti benalu dan pohon, saat itu waktu berhenti lagi, senja tak bergerak, langit diam dengan warna abu-abu.

“Dari mana asalmu?”

“Tempat semua jiwa terikat pada pohon-pohon”

”Di mana itu?”

”Entahlah… jika aku tahu arah, saat ini aku tak akan tersesat di duniamu”

”Apakah kamu sedang tersesat?” ia bertanya dengan mata yang semakin keemasan.

Dalam sekejab, aku berada di pusaran badai, beku. Aku melupakan semua yang harus kuingat. Juga secara ceroboh membuka diriku pada manusia yang baru saja kutemui, kusingkapkan segala rahasia jiwa yang kuketahui di dalam hutan. Semua mantra, semua doa yang harus dirapal agar jiwa selamat dari himpitan batu abu-abu dunia manusia. Ia menelannya dengan rakus, lalu membagi nafas rempah-rempahnya denganku.

”Aku menyukai bau rempah-rempah,” kataku, ”bau kehidupan”

”Kamu boleh memilikinya, aku akan memberikannya secara sukarela padamu. Aku juga menyukai baumu yang segar seperti embun. Kulitmu halus, apakah semua jiwa mempunyai kulit sehalus kulitmu? Badanmu juga menyimpan kehangatan matahari pagi, jangan pernah beranjak siang, tetaplah pagi dalam pelukanku”

”Kamu pandai berkata-kata”

”Kayu manis mengajarkan rahasia puisi padaku”

Kami tak bisa memisahkan diri. Aku tak mau memisahkan diri. Aku rela tersesat bersamanya. Bahkan mungkin kurasa aku sedang tidak tersesat. Aku telah menemukan tujuanku, manusia laki-laki dengan aroma cendana.

(bersambung)

Tersesat (3)

Tersesat (2)

Tersesat (1)

8 thoughts on “Tersesat (4)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s