Apa Ini?

Apa ini, rasa nyeri yang berjalan di ulu hati? Mengiris jantung dan hati tiap kali kau mengambil nafas, sementara untuk tetap bertahan dalam hidup, kau perlu sebanyak-banyaknya bernafas.

Bukan, ini bukan kesedihan. Aku mengenal dengan baik sedih yang membekukan tulang, menekan semua udara di kepalamu hingga telinga terasa pengang.

Bukan, ini bukan rindu yang menari-nari di lubang hati, memberikan nyeri yang geli. Rindu yang ingin membuatmu menyimpan sebanyak mungkin udara di dalam dada supaya kamu bisa terbang ke langit dan bertemu kekasihmu di langit asmara.

Bukan, ini juga bukan cinta yang membuatmu menarik senyuman di bibir hanya dengan mengingat kenangan tentang sang kekasih. Aku rasanya tak akan salah mengenali cinta dan menukarnya dengan rasa nyeri di ulu hati.

Ini bukan pula kemarahan yang ingin kuledakan di kepala; tak ada bau mesiu di rasa nyeri ini. Yang ada hanya nyeri yang merambat, berjalan dengan pongah di ulu hati, mengiris jantung dan hati tiap kali kau mengambil nafas. Meninggalkan rasa karat di lidah dan membuatmu tak nikmat makan. Memutar semua kenangan yang menyenangkan maupun yang tidak, juga memutar harapan dan imajinasi tentang masa depan, masa seandainya.

Jika saja Pengembara Mimpi mau mampir pagi ini, mungkin aku bisa bertanya kepadanya mengenai nyeri yang satu ini. Karena tak kutemukan memori sakit yang sama di sepanjang ingatanku. Pohon-pohon tempatku tinggal tak memberikan jawaban, mereka tetap saja diam dengan keangkuhan, melanjutkan hidup dan tugasnya. Daun-daun tetap bergemerisik riuh, genit menyambut sinar Matahari, bercinta dalam cahaya dan melanjutkan hidup. Tapi Pengembara Mimpi tak mampir pagi ini. Aku menggigil sendiri dalam sunyi, menahan nyeri.

Apa ini, rasa nyeri yang berjalan di ulu hati? Membuat matamu memerah oleh darah, membuatmu melihat langit selalu berwarna abu-abu.

Sesaat aku berpikir ini adalah kematian. Maut yang telah mengintai seumur hidupmu, akhirnya menemukan caranya untuk membuatmu menyerah pada gelap tanpa cahaya yang penuh nyeri. Tetapi kemudian aku ingat, bagi kaumku, kematian akan datang seperti cahaya yang membutakan. Kematian akan datang saat pagi, dengan aroma embun yang menempel pada dedaunan… terlebih bagiku, kematian akan datang dan memutar kenangan dengan bau seperti nasi yang sedang ditanak, harum membikin lapar. Kematian seharusnya menyenangkan dan lebih mudah daripada hidup dengan nyeri.

Aku mulai lagi memindai semua rasa yang pernah kukenal dan kusimpan dalam ingatan, satu persatu kubuka dan kubaui, juga sedikit kurasakan. Makin kucari, makin tak kutemukan dan makin kurasakan nyeri yang merambat makin cepat dan mencengkeram ulu hati lebih kuat. Nafasku semakin sesak dan semakin berdarah. Di mana Pengembara Mimpi? Di mana kekasih yang seharusnya menolongku karena kami telah sama-sama terikat pada Pohon Cinta sejak masa ribuan tahun yang lalu?

Betulkan ini kematian? Jikalau pun ini adalah mati, aku tak mau menyerah pada kematian yang nyeri, tidak. Aku hanya akan menyerah pada kematian yang hangat dan menyenangkan.

Ah, apa ini rasa nyeri yang berjalan di ulu hati?

6 thoughts on “Apa Ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s