Penutupan Kampanye

Menutup minggu-minggu kampanye dan memasuki hari tenang sebelum tiba waktu kita berjalan ke bilik suara dan mencoblos pilihan kita, ijinkan saya berbagi, kenapa saya memilih Jokowi.

Sesungguhnya, pada saat masa pileg, bulan April yang lalu, ketika PDI-P secara resmi menyatakan akan mengusung Jokowi untuk menjadi Capres, saya masih merasa kurang sreg. Pasalnya, beliau menurut saya terlalu muda secara politik untuk menjadi pemimpin negeri ini. Saya khawatir, beliau akan diserang bertubi-tubi oleh lawan politiknya yang sudah gaek & bangkotan. Saya ingin, beliau sakti dulu, baru setelah itu maju tak terbendung. Saya menunggu alternatif capres yang lain, meskipun saya juga tak tahu siapa.

Pada pilpres 4 tahun yang lalu, saya berharap Mahfud MD menjadi salah satu capres, dan harapan itu juga yang saya pupuk menjelang pilpres tahun ini. Sayangnya,penangkapan Akil Mukhtar oleh KPK beberapa bulan yang lalu, memupuskan harapan saya. Hilang lagi satu calon yang ingin saya dukung.

Selain Jokowi, ada Wiranto, Prabowo, dan ARB. Yang mana 3 orang terakhir ini jelas tidak masuk ke pertimbangan saya.

Sampai detik-detik terakhir pendaftaran Capres di KPU, akhirnya hanya 2 calon.

Dari kedua calon ini, saya hanya tahu, salah satunya tidak akan saya pilih sampai kapan pun juga. Lebih mudah lagi, ada partai dan orang-orang yang tak saya sukai bergabung.

Pilpres kali ini saya sangat mudah untuk menentukan pilihan. Betul, saya tidak tahu, presiden seperti apa yang saya inginkan…siapa lebih tepatnya, tapi saya tahu betul siapa yang tidak akan saya pilih. Keputusan tak akan memilih Prabowo ini bukan baru kemarin sore, saya sudah berpikir sejak jauh-jauh hari… bahkan, sampai saat ini juga saya sering menantang diri saya dengan mempertanyakan pilihan saya. Mau saya bikin seperti apa pun scenario-nya, saya tidak bisa memilih Prabowo.

Kenapa ngotot nggak mau milih Prabowo? Kan Prabowo bagian dari militer itu dulu, beliau sudah berubah… lagipula beliau juga nggak bekerja sendirian, ada tim beliau juga kan? Masalahnya, saya tak melihat perubahan dari diri beliau dan yang saya nggak mau pilih sebagaian besar ada di tim Prabowo juga,. Ya sudah.

Betul, saya kebalik-balik dalam memutuskan. Saya memutuskan dulu baru kemudian saya mempelajari program-program Jokowi. Ya bagusnya saya tidak mengawali pemikiran saya sebagai fans Jokowi. Atau fans Anies Baswedan atau fans Dahlan Iskan…

Saya banyak belajar mengenai program Jokowi itu justru ketika sebelem menyebarluaskan materi kampanye, saya membaca perihal yang ingin saya sebarluaskan. Setelah saya kenali, dan saya pertanyakan berkali-kali pada diri saya, saya makin mantab mendukung Bapak Jokowi ini. Prinsip paling dasarnya adalah membangun manusia Indonesia sebelum membangun negara. Jokowi memberikan kepercayaan kepada kita, bahwa manusia Indonesia bisa berubah. Jokowi akan melibatkan seluruh rakyat, menggerakkan sumber daya manusia untuk membangun negara. THIS!

Yah, meskipun saya meragukan janji kampanye, kan selalu manis ye… tapi yang saya salut, Jokowi berani secara terbuka meminta rakyat untuk mengawasinya. Dia tidak mau menandatanngani kontrak politik dengan partai, tapi dia secara tercatat mau menjanjikan penyelesaian beberapa kasus kepada rakyat.

Saya mau presiden yang bertanggung jawab kepada rakyat, meskipun dia petugas partai. Kan sistem pemilihan kita juga belum memungkinkan presiden dari non partai, jadi ya tetep harus ada pencalonan partai. Itu saja yang saya mau. Presiden yang bertanggung jawab dan berhutang pada rakyat; rakyat tetap punya suara untuk mengawasi jalannya pemerintahan. Kurang lebih, saya setuju dengan tulisan Ismet ini.

Dalam pikiran saya sih, jika Jokowi menjadi presiden, Indonesia tidak berubah jadi surga dalam semalam. Presiden pun tak bisa bekerja sendiri, masih ada legislatif dan lembaga konstitusi yang turut campur dalam pemerintahan.

Begitulah. Setiap orang memiliki alasan masing-masing untuk menentukan pilihannya. Alasan terbesar saya: karena saya tak mau kembali ke masa saat kaum minoritas tak punya suara dan hidup dalam ketakutan. Saya tidak mau, pemerintahan kita nantinya diisi oleh orang-orang yang tidak kompeten, yang bisa menduduki jabatan terebut hanya karena jatah partai. Saya tidak mau, militerisme menjadi gaya pemerintahan kita di masa mendatang. No way, Prabowo!

Memasuki masa tenang, buat teman-teman yang belum memilih, selamat berpikir dalam tenang, tanpa riuh rendah kampanye di tv, socmed atau di tempat lain.

Sementara buat teman-teman yang sudah menentukan pilihan, selamat memantapkan hati. Tanyakan berulang-ulang pada dirimu sendiri, betulkah ini yang kalian inginkan untuk Indonesia, satu-satunya tanah air yang kita punya.

 

 

Bonus bacaan:

Kenapa Jokowi

Efek Jokowi

Surat Pribadi dari seorang dosen untuk Prabowo

Catatan wawancara Allan Nairn, salah satu wartawan yang menjadi saksi mata pembantaian Santa Cruz, Timor-Timur.

Indonesia on the knife’s edge

Prabowo Subianto: vote for me, but just the once

5 thoughts on “Penutupan Kampanye

  1. Ruth kalo bukan ditahan sama peraturan PNS tidak boleh kampanye, aku udah ikut-ikutan nulis ahahahaha gateeel deh pengen nulis , lha mau komen juga berusaha tidak menunjukkan pro ke siapa itu susye ya ihik.
    Semoga pemilu nanti aman-aman saja ya Ruth. kalopun yg kupilih nggak menang, ya sudah artinya syafaat selanjutnya adalah untuk pemerintah yang menang biar bagus kerjanya.

    1. Hahaha…. tersirat dan tersurat pun ada hambatan ya…
      Iya, aku nervous banget nih Ndang… apapun lah keputusan Tuhan… yang penting aku mau berusaha maksimal, ya nggak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s