Mati. Apa yang Kau Takuti?

Pagi ini, percakapan dengan beberapa teman saya sangat membangkitkan semangat deh.

A: “Aku flu”

B: “Wah, ati-ati lho kalo flu… ntar MERS… 5 hari metong… bla bla bla bla”

C: “Taunya MERS gimana sih? Tes darah?”

B: “Iya, masalahnya pas selesai tes darah pas selesai juga hidupnya”

C: “Ya gak pa-pa deh, paling nggak tau meninggalnya gara-gara MERS bukan karena diracun”

D: “Aku flu udah seminggu belum sembuh, bukan MERS kan?”

C: “Kamu masih hidup”

B: “Kayanya bukan kalau kamu masih hidup”

 

Bercandaan internal ini kayanya nggak gitu lucu, tapi ya emang nggak bermaksud melucu kok *gimana sih ini maksudnya?* Hahahaha… ya biar begitu, percakapan itu bikin saya senyum-senyum sambil berpikir ngeri soal mati.

 

Kenapa sih, takut mati? Hidup ini lebih susah daripada mati. Hidup adalah merasakan sakit, perih dan tangisan penuh duka. Aiih banget. Kasian amat hidupnya. Sementara mati, menjanjikan surga tanpa air mata, serta sakit. Jika pahalanya cukup, maka akan ada bonus yang diberikan. Pokoknya janji surga adalah penuh pengharapan. Jadi, kenapa ngeri pada mati?

Mati yang pasti dan tanpa kerumitan. Tapi selalu ngeri, dingin, dan pekat dengan duka.

Mungkin karena tak ada yang tahu di balik kematian. Iman memberikan pengharapan bahwa kematian tidak menakutkan, tapi manusia diciptakan dengan sifat takut pada segala sesuatu yang belum diketahui. Begitu bukan?

Mungkin juga saya takut pada mati karena saya takut pada nyeri yang selama ini selalu dekat dengan mati. Kesakitan sebelum mati. Kesakitan sampai mati.

Lagi-lagi, hidup inilah yang bisa merasai sakit. Sebab sakit juga nikmat adalah rasa yang menandakan kita hidup. Setelah hidup berhenti, entahlah. Tabir kematian masih pekat, tak perlu juga dibuka sekarang, saya sudah cukup gila selama bertahun-tahun yang lalu, jika kepastian yang paling pasti dari hidup adalah mati untuk apa juga kita mesti hidup, toh dunia tidak juga bertambah baik dengan kelahiran kita.

Sudahlah kita akhiri saya pemikiran nggak jelas ini, untuk mengakhirinya saya mau cerita soal mamah saya yang tiba-tiba saya ingat. Mamak saya ini selalu merintih-rintih saat sakit, dalam bahasa Jawa kami bilang nggruguh. Saya sebel banget kalau dia nggruguh.

Saya: “Mamah ini lho, kalau sakit diem aja deh, nggruguh nggak bikin sakitnya hilang juga, lebih baik tenaganya disimpan untuk melawan penyakit daripada dipakai nggruguh”

Mama: “Lho, kalau nggruguh itu tandanya aku masih hidup tho, nduk”

Yeuk merii…

4 thoughts on “Mati. Apa yang Kau Takuti?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s