3 hari 2 malam di Cirebon

Cirebon merupakan salah satu kota yang sudah lama banget pengen saya jelajahi tapi nggak kesampaian melulu. Padahal, kota ini terbilang dekat dari Jakarta. Naik kereta api hanya memakan waktu 3 jam. Belum sempat berantem, eh udah nyampe😆

Salah satu highlight perjalanan ini adalah kepraktisan saat membeli tiket kereta api. Gampanglah, bisa beli secara online, bayar pakai credit card atau ATM sudah ada pilihannya, kemudian ketika hendak menukarkan tiket kereta, sudah ada mesin cetak otomatis. Nggak perlu lagi ngantri di loket. Salut deh sama PT KAI. Yah, pas isi data di tiket rada malesin sih, karena saya harus input nomer KTP untuk 4 orang peserta perjalanan ini. Errrrr… untung sini koordinator pembelian tiket yang cukup berdedikasi ya😆

Itinerary

Berhubung ini perjalanan males-malesan, kami tidak menyusun jadwal secara terinci. Saya hanya bagi tugas dengan Nat si Makkepo. Saya akan mencari rekomendasi tempat jalan-jalan, sementara Nat mencari rekomendasi tempat makan. Untungnya juga, kami berkawan dengan ‘bupati’ Cirebon, Miss Carkonah yang dengan baik hati memverifikasi pilihan hotel, pilihan tempat makan, dll. Jangan sampai kejadian, kami terdampar di hotel esek-esek pan.

Pokoknya, perjalanan ini nggak boleh cuma makan saja atau hanya melihat-lihat saja. Jalan-jalan dan makan-makan, harus seimbang. Harus ada kunjungan pasar, kunjungan budaya *gaya*, belanja, makan, dan tidur siang. Heeee?!? Tidur siang? Book, sini kan wes tuwek, mudah lelah😆

Jadi beginilah kurang lebihnya kunjungan kami ke Cirebon kemarin.

Keraton Kanoman

Ini adalah salah satu tempat tujuan untuk wisata budaya *tsaah* yang berhasil kami kunjungi. Berhubung tempatnya jadi satu dengan Pasar Kanoman, gampanglah buat kami untuk menyisihkan waktu.

Saya cukup senang kami bisa mampir ke sini, karena kraton ini rupanya mulai bebenah rapi. Nggak sebesar Kraton Yogyakarta lah pastinya, tapi saya cukup takjub dengan piring-piring keramik yang dipasang di dinding Kraton, baik di pagar maupun beberapa ruangan terbuka. Cantik-cantik deh.

 

Vihara Dewi Welas Asih

Dulu kawan saya pernah cerita, waktu mereka ke Cirebon, mereka mampir ke Vihara Dewi Welas Asih dan katanya menarik. Sampai sana, ya vihara aja gitu… hihihihi… tapi berhubung penasarannya udah bertahun-tahun, puas aja udah terlaksana. Di Vihara ini ada jangkar kapal yang diperkirakan jangkar kapal Portugis. Kami datang ketika sore menjelang *tsaaah*, jadi cuaca sudah teduh, tak terlalu terik. Asyik memang duduk-duduk di bawah pohon di halaman Vihara. Pengurus Vihara juga baik hati, mempersilahkan kami berkeliling kuil, dan leyeh-leyeh.

 

Makan – Makan – Makan

Kami makan normal kok… yah boleh dibilang, cukup rekor deh kalau pergi sama makkepo trus makan sehari 4x, biasanya dia makan sehari 10x bok! *disambit sandal*

Kami hanya mampir ke Nasi Jamblang Bu Nur, Empal Asem Amarta, Ayam Goreng Bahagia, Mie Petruk, trus sempet brunch di kedai Apun di pasar Kanoman.

Mie Petruk – foto tukang mie milik @jeffrysie

 

Juaranya, Mie Petruk. Mesti dijajal deh kalau pas ke Cirebon. Sementara cemilan, wah, ini asik-asik nih… Cirebon punya kue Tapel, semacam martabak tipker gitu, dari kelapa santen trus dikasih pisang & gula merah. Lalu tahu gejrot lehendaris depan toko oleh-oleh Shinta. Ada juga ketan gurih di kedai Apun, nah jangan lewatkan juga bakpau babinya…. Lembut banget itu roti bakpaunya, saking gak mau rugi, kertasnya pun saya jilatin😆

 

Oleh-oleh

Nah, apa oleh-oleh khas Cirebon? Dalam pikiran saya, terasi!😆 maklum ye, kota udang. Dalam pikiran saya, ah kayanya saya nggak akan banyak jajan nih di Cirebon, nggak bakal bawa kardus pas balik Jakarta. Ternyata… itu hanya teori saja, sodara-sodara. Teteup dong cerah ceria dan penuh ide pas masuk ke Toko Shinta. Ada aja penganan yang menarik hati untuk dibeli dan dibawa pulang. Kami juga sempat mampir ke Toko Daud, tapi saya kurang suka belanja di sini. Mbak-mbaknya mefet banget. Udah mah udara panas, ditempel mulu! Ih, mau milih juga mereka nutupin kami. Kelar beli sambel jambal roti di Daud, saya memilih duduk aja di dekat kasir. Nggak kepingin lagi muter, meskipun benernya sih penasaran. Katanya, harga-harga di Daud ini lebih mursida dibanding Shinta, tapi sudahlah… aku tak syuka belanja di meri. #prinsip😆

Keriaan jajanan Pasar Kanoman

Selain di toko oleh-oleh, Pasar Kanoman juga memberikan ide untuk kami membawa buah tangan berupa… ALPUKAT! Hahahaha…. Itu kayanya alpukat lagi musim deh, cakep-cakep banget, udah gitu kami cobain dong satu biji… enaknyooooooo… bungkus deh, urusan bawa ke Jakarta, nomer dua. Yang penting bungkus dulu.

Yang mau ke Cirebon, inget-inget ya… bulan Maret – April, alpukatnya bagus-bagus😀

 

Belanja Batik

Favorit kami: Batik Ninik Ichsan dan Hafiyan. Untuk batik kelas bagusnya yah, yang tulis-tulis gitu, ke Ninik Ichsan aja. Dijamin udah pilihan dan harganya cakep, lebih murah dari tempat lain. Yang di Hafiyan 700rb, di Ninik Ichsan 500rb. Udah gitu, klo di Bu Ninik, pengunjung disuguhin tahu goreng & pisang panggang, enak pulak…. betah bangeeeet…. Belum lagi, Bu Ninik kan memang senior di bidang perbatikan ya, jadi kalau ditanya mengenai batik, beliau menjelaskan dengan baik sekali. Tapi kalau misalnya cari batik cap yang mursida, saya suka ke Hafiyan. Pilihannya lumayan banyak dan motifnya bagus-bagus. Kemeja cowoknya juga bagus-bagus. Kalau mau murah lagi, ke Batik Nova. Udah deh, saya pilih tiga itu saja. Kemarin kami masuk ke beberapa toko di Trusmi, juga ke Batik Trusmi yang besar itu, tapi ya gitu… malah nggak nemu apa-apa.

 

Pesta Durian di Sinapeul – Majalengka

Gogle V makan duren di bawah pu’un duren

Lagi-lagi, terimakasih sebesar-besarnya karena Miss Carkonah Van Cirebon membawa kami ke tempat ini. Ini adalah kebun durian gitu deh, jadi kami makan durian sambil pakai helm takut kejatuhan durian dari pohon😆 nggak deng… makannya di teras rumah pemilik kebun kok. Asyik banget, tempatnya adem trus pemandangannya ya kebun duren, bukan motor yang seliweran di jalan gitu. Memang agak perjuangan untuk menuju ke sini, memerlukan sekitar 45 menit dari kota. Meskipun demikian, tetap saja perjalanan selama ini tidak terasa karena pemandangan bukit-bukit dan obrolan-obrolan nggak penting bersama teman-teman seperjalananan  :D

Kesimpulannya, Cirebon se-seru yang saya bayangkan! Bisa banget untuk alternatif liburan akhir pekan buat orang-orang zakartaaa… biar nggak ke Bandung melulu gitu.

8 thoughts on “3 hari 2 malam di Cirebon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s