Zara: Cerita Ngelantur (1)

“Rasa rindu ini seperti lapar yang tiba-tiba hilang saat pesanan makanan tiba di meja. Padahal, saat tiba di restoran itu kamu lagi laper banget, kalap perut, kamu memesan banyak hidangan dan ujung-ujungnya, sisa makanan dibungkus dibawa pulang, tapi sudah tak nikmat lagi”

Aku terbahak, analogi yang kacau, tapi tak urung aku menanggapinya, “seperti memesan di Pizza Hut?”

“Betul sekali, kakak! Ya kan? Rasanya, ketika masuk kamu akan sanggup makan banyaaaaaaak sekali, tetapi ketika pizza kamu datang, dengan roti tebal dan keju segala macam, kamu malahcuma bisa makan sepotong”

”Aku bisa kok makan tiga potong”

”Tetap saja, nggak bisa makan banyak. Ih, kok jadi bahas pizza sih?”

”Kamu yang memulai dengan analogi ngawurmu itu” Aku tertawa lagi, kawanku Maya ini bisa sangat berapi-api jika bicara soal cinta dan makanan. Apalagi soal cinta pada makanan. Dari semua temanku, hanya cewek ini yang sangat berambisi makan, dia rela untuk berpanas-panas ria di siang bolong, dari Jakarta menembus kepadatan tol Cikampek menjelang akhir pekan, untuk sekedar makan pepes di Karawang. Hanya dia, manusia yang kukenal, yang mendedikasikan hidupnya untuk makan.

”Itu bukan sekedar pepes, Ra. Pepes itu adalah, pepes ikan terbaik di seluruh negeri,” katanya waktu kuledek dia habis-habisan soal berburu pepes, ”rasanya seperti masuk surga pepes”

Ah, dia hanya melebih-lebihkan saja. Aku tahu, sebenarnya dia agak kecewa, pepes yang diperjuangkannya itu tak seenak yang dia bayangkan, dan dia menutupinya dariku, karena kalau aku tahu yang sebenarnya, ia pasti akan kuledek lebih kejam lagi.

Tapi itulah temanku. Dengan segala obsesinya pada makanan, terutama makanan kaki lima. Dan dia adalah teman yang termanis yang aku miliki saat ini. Mengingat dua temanku yang lain, yang sekiranya bisa untuk kujadikan sandaran, sedang tidak ada di dekatku. Yah fisiknya tak ada di dekatku. Vega masih di Paris mengikuti suaminya tercinta. Sementara Aimee, sekarang tinggal di Hong Kong, hidup bahagia bersama Nathan anaknya, keponakan kecilku, dan ABC, bapak si Nathan dan partnernya yang desainer, daaaan… dengan suami barunya, Dion. Iya, akhirnya dia menikah dengan Dion. Akhir bahagia untuk semua orang.

Semua orang kecuali aku. Setelah tahun-tahun bahagia yang kami lalui, aku berpisah dengan Chandra. Belum bercerai secara resmi, tapi kami sudah berpisah. Aku masih selalu merindukannya, sementara ia… entahlah.

Setiap kami bertemu, hendak membicarakan perceraian kami, dan dari sisiku untuk menuntaskan rasa rindu, setidaknya aku bertemu dia lagi; tiba-tiba saja rindu itu menguap entah ke mana. Itulah yang dibahas Maya sejak tadi. Rindu yang mendadak hilang seperti rasa lapar yang mendadak menguap.

Aku mendesah. Setelah tahun-tahun berlalu, ternyata aku tak pernah berubah. Kukira, aku bisa lebih dewasa, lebih bisa mengendalikan diri dan tidak mudah gelisah. Tapi ternyata, tetap sama saja. Aku masih Zara yang gelisah, ribet sendiri dan gitulah. Masih gitu-gitu aja. Mungkin ini sebabnya aku dan Chandra tidak lagi bersama. Sungguh, aku ingin berubah juga. Aku sudah menahan-nahan kegelisahanku, kekosongan yang merenggutku dari dalam, tapi rupanya aku tidak cukup dewasa untuk memenangkan peperangan karakter dari dalam diriku.

”Jangan dilawan, Ra. Kamu tak seharusnya berubah. Manusia tidak ada yang berubah” Maya suatu saat menasihatiku.

”Berubah ke arah yang lebih baik pasti ada, deh May”

”Ah, seperti memasak. Kamu tidak boleh merubah rasa bahan makanan untuk menjadikannya hidangan yang lezat, tapi kamu mengeluarkan rasa terbaiknya agar rasa itu memberi compliment pada bahan makanan yang lain, dan itulah masakan yang selaras… tidak ada bahan yang dirubah, tapi semua bekerja sama menciptakan harmoni rasa yang luar biasa. Bahkan, rasa pahit pare pun bisa jadi pahit yang enak kalau kamu tahu bagaimana menyelaraskannya dengan bumbu-bumbu”

Ya, Maya dan obsesinya pada makanan. Kadang bisa sangat menghibur, tapi tak jarang malah bikin dongkol, karena sok iya banget gitu. Seriously, May? Karakter manusia berbanding sama dengan karakter bahan makanan? Dan aku tahu, dia pasti akan menguliahiku soal filosofi makan, filosofi memasak… bla bla bla… yang sebenarnya mencerminkan keseimbangan dunia ini. Maya menganut paham, makanan yang paling nikmat adalah makanan dengan rasa seimbang. Embuh apa yang dimaksudnya dengan seimbang itu. Setiap kali dia memperkenalkan makanan yang enak, ya aku cuma bisa merasa enak atau tidak. Sementara Maya dengan lidahnya yang peka, akan mulai menganalisa ini itu. Menghibur, sekaligus menyebalkan.

Dengan obsesinya pada makanan, orang banyak salah mengira dia sebagai chef, tapi bukan. Maya itu sama seperti aku, dia sales manager di Meridiantex Jakarta. Latar belakang sekolahnya serius, teknik tekstil. Dia bisa serius sekali membahas soal chemical, pola tenun dan rajut. Tapi memang, dia paling terlihat antusias saat membahas soal makan.

Aku langsung cocok dengan Maya saat pertama bertemu dengannya. Gayanya yang eksentrik, dan pribadinya yang hangat, tapi juga mulutnya tajam, aku seperti bertemu teman lama. Dan jangan salah, meski terobsesi pada makan, Maya sama sekali tak bermasalah dengan berat badan. Dia bahkan lebih langsing daripada aku! Nggak adil. Padahal dia kerjanya makan melulu. Saat kutanya apa rahasianya, dia bilang, ususnya pendek, setiap kali selesai makan dia langsung buang air besar, jadi makanan tak pernah sempat diam lama di tubuhnya, sebelum berubah jadi lemak sudah keburu keluar. Bahkan pernah suatu saat, ketika kami sedang asyik makan, dia berhenti di tengah makan, ke toilet lalu kembali meneruskan makan. Jorok. Maya itu manis, keren, pintar, menyenangkan… tapi tak ada yang sempurna, dia juga jorok. Bukan jorok yang kusam kumal, tapi ya itu… kok bisa dia b.a.b di tengah-tengah makan, lalu melanjutkan makan. Kok nggak terbayang-bayang gitu. Ih!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s