Tengah Malam

Aku melabeli diriku, mahluk nocturnal. Otakku baru bisa berpikir setelah matahari terbenam dan lelah menyapa ketika matahari terbit. Dan di saat kalian terlelap dalam fase tidur terdalam, saat itulah otakku mulai menggila.
Aku tidak terlahir nocturnal, seperti Burung Hantu, misalnya. Menjadi mahluk nocturnal adalah hanya persoalan kebiasaan. Tapi masalahnya, kebiasaan bisa memicu terjadinya evolusi.
Aku telah berevolusi menjadi mahluk nocturnal. Berkawan dengan Burung Hantu, padahal aku belum pernah melihat Burung Hantu selain di gambar.
Ken selalu bilang, “kamu kebanyakan istilah, Ga… nocturnal atau insomia?”
“Kamu yang salah beristilah, aku bukan insomnia…aku memang lebih menyukai malam hari untuk berpikir, rasanya kalau aku berpikir di siang hari, sinar matahari mengacaukan otakku”
Kemudian, Ken membantahku lagi dan kami kemudian berdebat mengenai istilah. Dalam satu hal, aku setuju dengan Ken, menggunakan istilah tidak selalu akan membuat kami nampak pintar, malah sebaliknya kalau istilah itu digunakan secara salah kaprah. Tapi itu bukan berarti aku tidak akan menggunakan istilah sama sekali. Toh, bahasa adalah rasa, ia memicu makna yang telah kami pahami sebelumnya. Kami tak lama berdebat, karena lebih menyenangkan bercinta dengannya daripada berdebat.
Malam selalu memberi rasa kosong yang luas, yang bisa kuisi apa saja, kataku suatu ketika pada Ken. Itu sebabnya aku mencintai malam. Aku bercakap-cakap dengan roh para orang yang sedang terlelap, mencuri mimpi dan imajinasi.
Bahkan, jika boleh memilih akan jadi apa aku di kehidupan mendatang, mungkin aku akan mengajukan diri untuk menjadi peri malam. Merawat malam agar tetap dingin, sunyi, dan kosong.
“Kamu memang aneh”
“Mungkin, tapi sebenarnya kita hanya berbeda”
“Setiap orang berbeda, tetapi tidak semua orang aneh”
Ah, itu hanya soal sudut pandang.
Tahukah kamu, hanya malam yang selalu menyampaikan rinduku padamu.
Kamu berlebihan, malam hanya keadaan saat matahari berada di sisi lain bumi, hanya itu.
Ya, bukankah tadi kubilang, sinarnya yang terik mengacaukan otakku dan kata-kataku?
Ah…
Dan kami berkata-kata lagi lewat mata, juga rasa… tak lagi perlu mengeluarkan bunyi untuk menambah kegaduhan.
Bukankah sebenarnya kami saling melengkapi? Kekasihku yang hidup di belahan lain bumi yang baru saja memulai pagi, adalah mahluk pagi, dan aku mahluk malam. Kami bertemu di langit pada waktu yang sama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s