Ingatan

Sambungan dari ini

Ah.

Aku rindu Wisnu. Kubayangkan dia akan tertawa ketika aku mengomel panjang lebar soal dianggap gila, stress, dan tak bisa menerima kenyataan, bagaimana orang-orang ini salah mengerti. Ia akan menghiburku seperti biasa yang ia lakukan, “kamu itu istimewa, jalan pikiranmu selalu berbeda dari orang-orang itu… tak apa, kamu maklumi saja salah pengertian mereka itu.” Kubayangkan senyumnya saat mengatakan itu.

Senyum yang selalu membuatku jatuh cinta. Senyum yang tak pernah berubah sejak hari pertama kami berkenalan dulu. Wisnu hanya dpat dijelaskan dengan satu kata, senyum. Semua orang heran, bagaimana bisa Wisnu yang ramah dan menyenangkan itu akhirnya bisa kawin denganku yang jutek dan menyebalkan ini. Belum lagi dihitung masa pacaran kami yang cukup lama, mesti dihitung juga masa persahabatan kami sejak jaman SMA dulu.

Wisnu, Ben, Gani, Maya, dan aku. Lima sekawan, lima remaja badung yang saling menutupi kenakalan satu dengan yang lainnya. Tentu saja, Wisnu yang paling manis di antara kami, dan dialah yang menjadi perekat kami. Kami terus bersahabat sampai masa dewasa kami hanya karena Wisnu. Mendadak aku terhenyak, menyadari bahwa persahabatan kami putus, hilang begitu saja karena aku.

Kesadaran ini tiba-tiba menamparku, dan membuatku linglung. Aku yang membuat kami semua berhenti berteman.

Dengan panik aku mencari-cari telepon genggamku. Ben. Gani. Maya.

Nindya

Jika kutukan itu memang ada di muka bumi ini, maka akulah satu-satunya kutukan yang bisa kupercayai.

Lingga Wisnu

Dan pada akhirnya, cinta sama seperti serangga. Selalu bermetamorforsa menjadi lebih indah. Indah dan singkat.
Tak apa, sebab hidup ini pun singkat.
Siapa yang bisa menduga, jika sesaat cinta terbang dengan riang menuju bunga-bunga asmara untuk mengambil saripatinya, saat itu pula ia terjatuh tiba-tiba dari langit, lalu mati begitu saja? Sayap yang perkasa tiba-tiba saja hancur menjadi debu? Siapa yang bisa menduga, sayang?
Mari, kita nikmati saja saat ini.

Ben

Kita bertemu lagi dalam gemerlap cahaya. Cinta yang berkelap-kelip, hanya untuk semalam.
Bagaimana bisa cinta harus hidup selamanya setelah semua energi yang dihabiskannya untuk bercahaya?

Maya

Aku selalu berada di tengah, kebingungan harus memilih yang mana. Hidup teman-temanku lebih riuh daripada hidupku. Siapa yang akan menengok dua kali ke arahku jika aku selalu berada di keriuhan ini?

Gani

Ada orang yang bertahan karena cinta, ada juga yang bertahan karena butuh. Sementara aku, aku bertahan karena aku tak tahu lagi apa yang bisa kulakukan. Aku hanya terjebak saja di tengah.

bersambung

(semoga sambungannya cepat datang bersama Pengembara Mimpi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s