Pengakuan Eks Parasit Lajang

Ini adalah salahsatu bagian dari trilogi Parasit Lajang, Cerita Cinta Enrico, dan Pengakuan Eks Parasit Lajang. Dari ketiganya, saya belum pernah membaca Parasit Lajang, sepertinya itu adalah kumpulan tulisan kolom Ayu Utami, entah. Nanti kapan-kapan kita baca.

Pengakuan Eks Parasit Lajang ini merupakan otobiografi seksualitas dan spiritualitas. Dikemas dalam tiga bagian, sama seperti Cerita Cinta Enrico, urutan waktu di buku ini juga disamarkan, ada beberapa bagian juga dirubah dari aselinya bukan untuk menutupi kenyataan tapi semata-mata supaya cerita bisa berfokus pada A, sang tokoh cerita.

Membaca kisah A, saya merasa sangat dekat sekali dengan tokoh ini. Karena saya kurang lebih memahami latar belakang A. Bagaimana ia dididik menjadi seorang Katolik yang taat, kemudian bagaimana ia suka membaca Alkitab, di bagian cerita-ceritanya… Saat masih kecil, saya pun memperlakukan Alkitab seperti buku dongeng yang tiada habisnya. Kalau ke mana-mana saya bawa Alkitab untuk dibaca, bukan berarti saya religius, tapi karena cerita-cerita di Alkitab itu menarik sekali. Peperangan, intrik politik, perebutan kekuasaan sampai dengan perebutan istri, kisah mujizat, kisah sedih berakhir bahagia, kisah mencari jodoh… kisah menantu memperdaya mertua… surat cinta, puisi… semua ada.

Buku ini tak kalah romantisnya dengan Cerita Cinta Enrico, sepertinya Rik / Enrico ini laki-laki yang betul-betul baik (ya iyalah). A dan Rik / Enrico, seperti sepasang yang memang sudah digariskan untuk bertemu, pas satu dengan yang lainnya. Saya jadi berpikir lagi soal jodoh, jika saja ada petir yang memberi tanda bahwa kita sudah bertemu jodoh, mungkin hidup kita jauh lebih mudah ya.

Tentu saja, diceritakan juga di sini, mengapa A akhirnya menikah. Melakukan sakramen pernikahan, menikah secara agama tidak secara negara.

Meskipun topik yang diambil sangat personal, dan mungkin tidak semua orang bisa memahami karena latar belakang spiritual (juga karena kadar kegilaan yang tidak sama), tapi buku ini tetap bisa dinikmati oleh semua orang, sebab buku ini dapat diperlakukan seperti novel, dibaca untuk hiburan.

Selamat membaca.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s