Jeritan Hati Buruh Pabrik

Ish…judulnya drama yaa… biarin.

Jadi, selama beberapa minggu terakhir ini,rumpian saya dengan para supplier dan sesama kawan buruh pabrik adalah kenaikan UMR beberapa wilayah, yang naiknya tinggi, antara 44-50% bok… bayang pun!

Di satu sisi, sebagai buruh, tentu saya senang dong upah kami dinaikan. Nggak tanggung-tanggung pula naiknya.

Tapi di sisi lain, kami ketakutan. Harga pasti akan melonjak gila-gilaan, gaji yang naik itu malah nggak bisa dipakai buat apa-apa. Tekor lagi… tekor lagi…

Trus  pemutusan hubungan kerja pasti akan menjamur. Apalagi industri tempat kami bekerja ini, industry tekstil yang sudah sampai di tahap: hidup segan mati tak mau. Order masih banyak, tapi ya gitu aja, nggak luar biasa.

Belum diaplikasikan saja, beberapa kawan kami sudah diberhentikan, terutama yang baru kerja dan yang masih kontrak, ya karena pesangon masih murah.  Outsourcing sudah nggak ada.

Trus kalau efeknya begitu, kenapa para buruh itu sibuk demo minta kenaikan UMR?!

Sejujurnya, kami-kami ini juga nggak pernah meminta kenaikan yang segila itu. Sebenarnya, tuntutan kami adalah perbaikan kesehjateraan buruh.

Lho, kan UMR naik kan sejahtera? Tidak sesederhana itu.

Kita mundur dulu ke arti kata sejahtera, secara sederhana itu dapat berarti hidup yang layak. Cukup pangan,  pendidikan, kesehatan, lalu punya papan (tempat tinggal layak) dan sandang. Nah untuk mendapatkan itu semua, tentu kami perlu uang. Tetapi masalahnya adalah, uang yang kami dapatkan tidak ada harganya.

Harga melambung tinggi. Makanan mahal, pendidikan dan kesehatan apalagi.

Nah sampai sini udah nyambung kali ya maksud saya. Ya ini jelas sih, saya bakal nyalahin pemerintah abis-abisan.

Kontrol harga, penentuan nilai mata uang… itu kan wilayahnya pemerintah.

Lho tapi kan nggak semua wilayah UMRnya naik, pengusaha bisa memindahkan produksinya di wilayah lain. Bagus dong, itu pemerataan kerja.

Lhaaaa iya kalo dipindahin, kalau pengusaha mikir: udah tutup aja, ntar gue impor aja…impor lebih gampang dan lebih murah. Nah, piye?! Pemerintah belum punya hukum yang kuat untuk melindungi  produksi dalam negeri, pun hukum masih dengan gampang bisa dibeli.

Halah, kalo pengusaha beneran ya nggak bakal ngeluh, pasti bisa dengan UMR segitu.

Booook… kalau pegawai hanya 10, naik 600rb, berarti sebulan mesti nambah 6jt, lalu kalau pegawai 5rb, gimana? Berapa M? Jualan nyampe gak? Pasti akan ada pengurangan.

Lha ya jangan jadi buruh, jadi entrepreneur, berusaha… Negara yang maju itu 90 persen wirausaha penduduknya, di Indonesia masih rendah angka itu.

Dengan tidak mengurangi rasa hormat, solusi itu masih menjadi cita-cita di awan biru. Tidak semudah membalik telapak tangan, sementara tidak semua buruh punya kemampuan dan ketekunan yang cukup untuk menjadi seorang wirausahawan. Satu-dua akan berhasil pada percobaan pertama menjadi seorang pengusaha sukses. Seringnya, setelah mencoba ke-11 kali baru sukses, nah…apakah semua orang tahan secara mental dan finansial untuk mencoba sebelas kali?! Orang yang sukses adalah orang yang tak pernah berhenti mencoba dan bisa melihat kesempitan di balik kesempatan, kata lain dari dunia tak seindah cocote Mario Teguh.

Kalian demo, sudah disetujui, trus kok sekarang lo nyinyir sih? Karepe opo?

Karepe yaaa buruh itu jangan dijadikan komoditas para politikus-politikus yang kayak tikus itu. Karepe ya pemerintah beneran punya hati nurani, nggak hanya sekedar menaikan UMR tapi juga menjaga harga dan nilai mata uang, trus betul-betul memperbaiki sistem pendidikan dan pelayanan kesehatan. Bisa kok pemerintah kita ini ngontrol harga… tapi tinggal mau serius apa nggak ngerjain itu buat rakyat…

Betul, jangan kami buruh yang beneran kerja, sibuk sana – sibuk sini, kejar setoran eh malah yang kepencet terus. Kami jadinya cuma bisa jerit-jerit gak karuan, nggak punya daya untuk melawan karena kami terlalu lelah mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup kami.

Ya kalau gitu, ya salahmu… kenapa kok jadi buruh.

Pembicaraan selesai.

(Semoga, besok pagi saya tidak mendengar lagi pabrik anu tutup dan merumahkan sekian ribu karyawannya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s