The Lady, The Love

Ketika saya membeli karcis film ini, si mbak penjual karcisnya langsung bilang, “ini filmnya sedih banget, nangis-nangis deh mbak”. Saya cuma bisa nyengir, sambil berpikir dalam hati, ah gak masalah…lenongan gue kan waterproof😆

Sungguh, saya buta sama sekali soal film ini. Saya belum baca sinopsisnya atau review bagus/tidaknya film ini. Saya hanya tahu film ini mengenai Aung San Suu Kyi; apakah ini mengenai perjuangan politiknya atau kehidupan pribadinya… saya juga belum tahu. Saya datang dengan hati yang bersih *halah*.

Ternyata ya bok, film ini bercerita soal kisah cintanya Aung San Suu Kyi dan suaminya Michael Aris. Kebetulan sekali, beberapa bulan yang lalu ketika Aung San Suu Kyi dibebaskan dari tahanan rumahnya, saya pernah baca mengenai beliau jadi ya ceritanya udah paham, lha wong sama banget kok jalan ceritanya. Tapi ya biar begitu, teteup aja ngerasa teriris-iris, bok! Kan kalau film ada kembangannya, yang Daw Suu main piano-lah, trus nelpon suaminya… helaan nafas… tarikan bibir, gerakan tangan… aduuh… sedih😦

Saya pas baca wikipedia Daw Suu aja berasa miris, ya ampuuun… kasian banget terpisah gitu dari suami dan anak-anaknya; ngebayangin perasaan anak dan suaminya… Eh, ya kejadian di film ini… Digambarkan bagaimana ekspresi suami ketika mendengar berita tentang Daw Suu, ekspresi anak-anaknya ketika ayah mereka sakit… Kegalauan hati suami yang terpisah dari istri. Kekaguman sang suami kepada istrinya, dukungannya. Cinta sebesar apa yang bisa merelakan sang istri untuk berjuang bagi orang lain; cinta yang egois tapi memikirkan orang lain. Lho rak mbulet. Gitu deh. Menye-menye banget pokonya ngebayangin keluarga itu.

Selain itu, sepanjang film saya teriris-iris juga inget sama Indonesia… Ya kan muka orang-orangnya gak jauh beda tuh, trus kayanya kan tetangga deket ya… kurleb sama dah… Sebagian hati saya pengen bilang ke Daw Suu, udahlah Daw Suu… hidup lebih mudah kalau Daw Suu balik ke Oxford, berjuang dari sana. Mungkin kalau saya yang dihadapkan dengan pilihan berat, keluarga atau negara? Ya mungkin saya memilih keluarga. Tapi susah juga, karena seluruh rakyat Burma kan keluarga Daw Suu juga… Sama halnya, misalnya saya disuruh pindah ke luar Indonesia, misalnya ke Eropa yang semuanya sudah teratur gituu, berat juga ma meeeeen… Kalau saya sih, karena semua keluarga saya di sini, jadi pilihannya mudah, tetap tinggal di negara saya. Lagian, ntar kalo pindah ke Eropa, malem-malem laper mesti masak sendiri, gak ada nasi goreng tek-tek, nah kan jadi ngelatur😆 tapi iya kan? Ah, pokoknya saya jadi terbetot sana-sini dah saat menonton film ini. Iiiih… terbetot, senar gitar bass kaleee dibetot.

Michele Yeoh juga apik banget memainkan perannya sebagai Daw Suu. Berkali-kali saya ikut menangis saat melihat Michele Yeoh mengedutkan sudut mata, seolah-olah menangis dalam hati… yaoliiiii…

Sementara itu, dari segi artistik gimana? Ya cantik sih… ada beberapa scene yang biasa banget tapi nggak ganggu sama sekali. Musiknya pun cantik, bikin makin teriris-iris. Pemainnya juga oke semua. Yah… valid atau tidak penilaian saya, entahlah. Saya pecinta film drama, jadi yaaa emang film ini buat orang-orang modelan saya:mrgreen:

Si mbak karcis benar, film ini nangis-nangis… ah, tapi saya suka.

2 thoughts on “The Lady, The Love

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s