Misuh Cantik

Gegara posting Jancuk! ngGanteng tenan! Saya jadi berpikir, seandainya si mamah baca blog saya… pasti mulut saya udah dicuci pakai garam karena misuh. Iyah, biar kata saya udah bangkotan, buat orang tua, anak tetaplah anak… teteup dianggep anak kecil yang gak boleh misuh-misuh.

Saya ingat, dulu saya pernah disetrap di pojokan gara-gara main teriak-teriakan sama muridnya si mamah, nah teriak-teriaknya aja udah bikin pusing, yang makin bikin nasteng adalah kata-kata teriakan kami, yaitu: pinCUK! CuCUK!  seingat saya, waktu itu kami tidak ingin misuh: jancuk, cuma tergoda untuk bilang CUK-nya saja… hahahaha… pulang dari tempat itu, saya langsung dihajar sama si mamah, diancam mau dibuang ke kandang babi…😆Padahal sewaktu saya lebih kecil dari itu, si mamah hanya ketawa waktu saya mengikuti umpatan dari mamah Hwa: dobol jaran. Jangan tanya, kenapa kok misuhnya begitu… Dan karena saya masih cadel, maka yang keluar adalah: hobong hayan. Resmi sudah, si dobol jaran berubah jadi hobong hayan. Ini pisuhan yang cantik, halal untuk diucapkan. Malah jadi bahan keketawaan. Padahal asalnya ya dari pisuhan.

Meskipun untuk sebagian besar warga Jatim ‘jancuk’ juga memiliki makna sekedar kata seru atau malah sapaan akrab, di daerah kami si ‘jancuk’ memiliki kasta paling tinggi dalam makian, dosa berat kalau ngomong ‘jancuk’. Tapi ya namanya juga anak-anak… makin dilarang, ya makin cari akal untuk misuh. Kawan-kawan saya punya banyak varian untuk pisuhan. Ada jasik, diamput, damput, diasik. Artinya? Embuh. Yang lebih badung, akan lebih berani mengumpat: babi, anjing, monyet. Saya yang sudah kapok misuh karena diancam mau dibuang ke kandang babi sama si mamah, merasa hebat dengan mempunyai umpatan rahasia: gajah! Menurut saya, dosa umpatan ‘gajah!’ tidak ada artinya dibandingkan dosa mengumpat ‘babi!’ ‘anjing!’ dan ‘monyet!’ apalagi jika dibandingkan umpatan yang lebih canggih  lainnya.

Beranjak dewasa, ketika saya mulai menganut paham bahwa kata-kata tidak memiliki arti karena kata-kata hanya memicu makna, saya lebih toleran dengan umpatan. Dengan mudah saya bisa berseru, “anjriiiit! Luncaaaang ya bok!” atau… “jancuk! ngGanteng!” Misuh yang sebenernya bukan misuh karena tidak ada kemarahan meledak-ledak yang diekspresikan dalam seruan itu.

Saya jadi membayangkan orang yang karena terbiasa bertutur kata baik dan sopan, tidak biasa mengucap makian, jika mereka marah, bagaimana ya mereka akan mengumpat? Mungkin ngikutin Smurf, mereka akan berteriak penuh kemarahan, “SMURF! SMURF!”

Paling dekat mungkin binatang ya yang akan jadi sasaran. Ngomong-ngomong soal nama binatang yang jadi kata makian, si bencong Debbie cerita kalau dia pernah berantem sama kenek metromini di dekat terminal Lebak Bulus.

Kenek: “Anjing lo!”

Debbie: “Monyet lo!”

K: “Babi lo!”

D: “Elo tainya!”

Emang sih, gak ada yg lebih hina daripada tai babi. Hahahahaha….

Selamat Jum’at sore, Jakarta… selamat menikmati kemacetan… boleh misuh-misuh, asal misuh cantik *lipenan*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s