Cerita Cinta Enrico, kisah sang kekasih

Ini adalah kisah Enrico yang diceritakan kembali melalui tulisan oleh kekasihnya, A. Penulisan ini adalah sebuah proses yang membantu Enrico menerima mengapa sang Ibu tak sanggup melihat kebaikannya.

Ini adalah kisah yang sangat romantis, bagi saya. Bukan cerita menye-menye soal kekasih yang mengambil bulan untuk dipersembahkan di hari Valentine tapi hal apalagi yang bisa lebih romantis daripada mendapat kado, sebuah novel tentang kisah hidup yang ditulis oleh sang kekasih?

Dalam kata penutupnya, Ayu Utami menuliskan bahwa sebagai penulis kreatif ia juga menambahkan di sana-sini. Novel ini berdasarkan kisah Enrico, berdasarkan penuturannya akan ingatan masa kanak-kanak , masa remaja hingga saat dewasa, namun terjadi perubahan waktu yang disengaja, termasuk untuk kelancaran cerita ada setting yang digabungkan.

Tak apa, tetap saja, romantis.Dibagi ke dalam 3 bagian, yaitu: Cinta Pertama, Patah Hati dan Cinta Terakhir. Masing-masing bagian terdiri dari beberapa bab. Cerita mengalir dengan ringan dan lebih santai jika dibandingkan dengan novel-novel Ayu Utami terdahulu. Setelah Saman, ini adalah novel yang paling membuat saya terharu.

Banyak bagian-bagian cerita yang mengingatkan saya akan Bilangan Fu, terutama pada bagian Enrico yang pertama kali mengenal panjat tebing. Ah… cinta memang sangat menginspirasi.

Jangan salah, meskipun saya berkali-kali mengatakan ini adalah novel yang romantis, dalam novel ini tidak ada ungkapan cinta berlebihan dari Enrico kepada A dan sebaliknya. Malah seingat saya tidak ada pernyataan cinta. Yang ada, A ingin memperjuangkan hubungannya dengan Enrico karena tidak terdapat kesalahan ontologis padanya. Dan rambut Enrico berubah jadi kelabu dalam sebulan ketika hubungan mereka bermasalah.

Hal lain yang menarik, dalam novel ini diceritakan juga mengapa akhirnya A mengusulkan untuk menikah. Yah… banyak yang tahu, bahwa Ayu Utami pernah mengeluarkan pernyataan bahwa ia tidak ingin menikah, maka ketika ia menikah dengan kekasihnya banyak yang mencela. Tapi saya belum pernah menemukan pembelaannya. Di sini, ia menceritakan alasannya. Apakah itu pembelaan? Bukan juga menurut saya. Ia hanya menceritakan, memberitahu pembaca mengenai alasannya. Hal ini membuat saya salut, di situ ia mengatakan telah salah mengerti. Tidak mudah mengakui kita telah salah mengerti, yaaaa… itu saya sih, saya kan gengsian :mgreen: tapi Ayu mengakui salah mengertinya itu dan merevisi pendapatnya tentang pernikahan, meski tetap baginya, menikah atau tidak menikah sama saja.

Selain soal pernikahan, yang menarik lagi adalah, disebutnya nama Dhyta Caturani. Saya langsung ngerasa gimana gitu karena kenal sama si bencong satu itu *tsaaah*. Yang bikin nyess, cerita soal Dhyta berkaitan dengan peristiwa Dhyta ditembak pas era reformasi dulu. Saya mengenal Dhyta jauh setelah peristiwa itu dan ketika akhirnya kami berteman, saya sangat bersyukur Dhyta melalui masa itu dengan selamat. Jika tidak, saya tidak akan mengenalnya, saya tidak punya satu kawan lagi untuk berbagi gosip… *ih…kok jadi menye-menye gini sih gue cong…* terimakasih Enrico sudah menolong Dhyta.

Ah…jadi, kesimpulannya, buku ini layak dibeli tak? Ya layak benjeut. Buruan gih beli, saya kemarin pre-order lewat Gramedia Online Shop, dapet diskon & tanda tangan dari Ayu Utami dengan nomer 4, sekarang sih kayanya udah masuk toko buku. Langsung deh… capcus.

One thought on “Cerita Cinta Enrico, kisah sang kekasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s