Yang Nampak & Yang Tak Nampak

Bukan hantu blao yak… kagak, akika tak bisa melihat hantu dan tak ingin. Dari blogpost Salah Sangka saya jadi kepikiran betapa banyaknya kita salah sangka sama penampakan luar dan disalah sangkain. Halah.

Beberapa hari yang lalu di twitter saya sempet dikatain sok suci sama orang yang saya gak kenal. Yaelah, gue sok suci? Sok suci dilihat dari mane cong?!  Kalau tukang komentar sih iya…tapi kalo sok suci? Yaelah… Tapi ya sudahlah, saya tak ingin membela diri, berbalas twit pembelaan dengan orang yang tak saya kenal di twitter. 140 karakter selalu memberi ruang untuk salah sangka. Hei, saya suka nebak-nebak gak penting, sekarang ada orang yang nebak-nebak pun boleh dong. Nyebelin tapi ya biarin aje.

Modelan saya yang gampang marah, gampang komentar, nyeplos seenaknya dan males banget disuruh basa-basi ini memanglah seringkali jadi bahan salah sangka. Dulu pernah, Neneng Ijreng menampilkan drama satu babak di kantor mengenai Cinderela yang ditindas oleh Ibu Tiri. Tentu saja Cinderela diperankan oleh Neneng Ijreng, sementara saya berperan sebagai Ibu Tiri. Tapi karena orang sekantor sudah paham kelakuan si Cinderela, ya mereka gak kemakan sinetron itu, cuma saya jadi sering diketawain, “main sinetron niii yeee…” :lol: Pas saya dipindahin ke kantor di Jakarta juga begitu, ternyata sebelum kedatangan saya sudah beredar cerita tentang saya. Baik dan buruk saya tak ingin tahu secara detail, biarkan mereka yang menyimpan anggapannya. Hanya saja setelah beberapa lama di Jakarta, salah seorang teman yang kemudian menjadi salah satu kawan akrab saya, berkata, “berarti yang saya dengar tentang kamu waktu itu salah, kamu tidak seperti yang mereka bicarakan”. Eh? Apa pembicaraan tentang saya? Siapa yang membicarakan saya? Saya sangat tergoda untuk ingin tahu waktu itu, baik? Buruk? Tentu saya ingin dibilang baik. Tapi kemudian, saya urungkan niat saya untuk tahu lebih lanjut, saya takut tidak bisa menghadapi kenyataan bahwa saya dianggap malaikat! masuk surga banget deeeeh…. *sok suci ni yeeee…*

Saya merenung cukup lama waktu itu. Saya mengintroseksi *intropeksi cong!*diri… tsaaah banget… Kemudian saya berniat untuk langsung pencitraan, harus lemah lembut, manis dan bertutur kata sopan serta murah hati, tak lupa pandai menabung dan menolong ibu.

Niat, lagi-lagi tinggalah niat. Menit berikutnya, pas disuguhin makanan, lupa deh kalau mau lemah lembut sok gak doyan makan. Kemudian pas ngelihat orang yang empuk banget buat dikomentarin, lhaah… njeblak lagi mulutnye…

Ya sudah. Saya mendapat pelajaran baru saat itu, biarkan orang salah sangka waktu yang akan menjawabnya. Pencitraan pun nantinya lama-lama akan ketahuan pan ye aslinye macam apa. Mau pencitraan seperti Pergiwa-Pergiwati yang lemah lembut, eh ujung-ujungnya the inner raksasi in me ya bakal keluar juga.

Hidup jika tak punya ruang untuk salah sangka mana seru?:mrgreen:

Selamat hari sabtu, jangan salah sangka, jangan nuduh saya pacaran hari ini, kagak cong! Saya mau makan-makan, berburu mie di Jakarta hari indang. Yuk.😆

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s