Revolusi Berbahasa

Sehubungan dengan pekerjaan, beberapa hari terakhir ini saya berusaha menghapalkan huruf Korea. Ya sukur-sukur selain bisa baca juga fasih ngomong dan ngerti artinya. Tapi rasanya sulit sebab, membaca saja aku tak bisa *opo sih?*

Ya belajar bahasa baru memang menyenangkan. Dulu saya pernah belajar bahasa Perancis, karena sangat terinspirasi oleh N.H. Dini, yah nggak banget ya alasannya😀. Sebenarnya sebelum memutuskan belajar bahasa Perancis, saya sempat mempertimbangkan untuk belajar bahasa Jepang, karena terinspirasi oleh buku Memoirs of Geisha *lebih nggak banget*. Tapi kemudian lebih memilih Perancis karena saya lebih dulu menginginkannya dan hurufnya latin, saya pikir akan lebih mudah untuk mempelajarinya. Lalu, apakah saya kemudian jadi jago bahasa Perancis? Ah… Lebih baik tak usah saya ceritakan 
Saya kemudian menyalahkan bahasa ibu saya, yang membuat lidah saya tebal dan tidak bisa meliuk-liuk dalam melafalkan bahasa yang mendayu merayu tersebut. Saya selalu bilang, orang dengan bahasa ibu bahasa Sunda lebih mudah belajar bahasa Perancis daripada orang Jawa Timur. Alesan.
Meskipun bahasa pertama saya adalah bahasa Indonesia dan saya berpikir menggunakan bahasa tersebut, logat dan tekanan intonasi saya sangatlah medok Jawa Timur bagian Nganjuk, peer banget deh kalau misalnya mau bilang, “bonjour, comment allez-vouz? Ca va?”
Padahal dulu si mamah mati-matian berusaha supaya saya mempunyai logat yang netral dan mampu berbahasa Indonesia dengan baik, beliau bahkan melarang saya untuk berbahasa Jawa di rumah, kecuali jika saya menggunakan krama inggil. Wah, angel tenan.
Makin saya beranjak dewasa, makin rusaklah tata wicara saya akibat tidak disiplin berbahasa. Mulai campur-campur antara bahasa Indonesia dan bahasa Jawa, kemudian ditambah bahasa Inggris. Bukan berarti saya mampu berbicara dengan baik dalam tiga bahasa itu, justru karena pengetahuan saya dangkal, mau full in English tapi ora ngerti kata-katanya, so I campur-campur. Mixed up gitu deh.

Ya malu nggak malu sih…malu sama diri sendiri karena itu salah (menurut saya). Tapi nggak malu juga karena banyak temennya. Suatu ketika, saya pernah bertemu seorang ibu, yang berkata, “kakak…sit kakak… Ayo eat yang manis” ke anaknya. Oalah, anakmu asu po?  tapi ya biarlah, ah yo wis, ora po-po. Banyak temennya.

Nah…nah…dengan bertambahnya satu lagi bahasa yang saya pelajari, apakah kekacauan saya dalam berbahasa akan bertambah? Semoga tintaaaa yeeeee….pokonya akika mawar menulis blog dalam bahasa Indonesia yang baharudin daaan benar. Kalau mau enggres, ya enggres yang baharudin ye cong… Yeuk meri!

Rasanya, berbahasa Indonesia yang baik dan benar bisa menjadi resolusi 2012 saya deh *teori*

Sutralah, selamat menikmati akhir pekan kawan-kawan…

Bonus Posting lama:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s